Saturday, May 7, 2016

PIANO FOR BUSY TEENS: "DUET VS DUEL" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, May 2016)

PIANO FOR BUSY TEENS:
"DUET VS DUEL"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, May 2016

Mengajar piano tidak pernah mudah. Mengajar piano untuk remaja? Oh oh, here comes double trouble! Bisa menjadi mimpi buruk bagi kebanyakan guru piano atau justru bisa menjadi tantangan tersendiri. Belajar piano pada usia remaja dibagi menjadi dua kategori, yaitu: remaja yang telah memulai pelajaran pianonya sejak dini dan remaja yang baru saja memulai pelajaran pianonya (late beginner). Masalah terjadi khususnya pada kategori remaja pemula (late beginner teens) yang masih menggunakan metode piano dalam awal kelas pianonya. Dimana pelajaran piano rawan dihinggapi virus kebosanan – lagunya itu-itu saja, so childish! Yang menuai banyak komplain/protes dalam berlatih. Belum lagi 1001 alasan yang membuat mereka hampir tidak pernah mengerjakan PR. “SIBUK,” katanya. (well, who doesn’t?)

Dunia seolah berputar hanya untuk mereka. Semua harus ‘waltzing’ dengan kondisi mood mereka yang berubah-ubah. Hari ini mungkin mereka suka lagu Pop, minggu depannya mereka ingin berhenti main piano? Arggghh! Perilaku murid remaja memang kontroversial, sulit diatur, dan membuat pusing tujuh keliling. Murid remaja bisa mengubah kelas piano menjadi sebuah “DUEL”. Siapa yang akan menang? Jadi apa yang sebaiknya dilakukan ketika buku metode tidak lagi berhasil? Saatnya untuk menjadi kreatif!

Monday, April 11, 2016

RESENSI BUKU PENGETAHUAN DASAR MUSIK TEORI (2016) - by: Jelia Megawati Heru

"RANAH TEORITIK 
DALAM SENI MUSIK"

RESENSI BUKU
"PENGETAHUAN DASAR MUSIK TEORI" 

Penulis : Jelia Megawati Heru
Resensi oleh: Michael Gunadi Widjaja

FRONT COVER

Judul Buku: PENGETAHUAN DASAR MUSIK TEORI
Jumlah halaman: 340 + ilustrasi (flashcards DIY)
Format: A5, HVS, SOFTCOVER, hitam putih
Penerbit: Pustaka Muda
ISBN: 978-602-6850-17-1
Tahun penerbitan: 2016, cetakan kedua
(LIMITED & REVISED EDITION) 
https://www.bukuqu.com/product/pianolicious/ 

Di tengah sangat langkanya buku referensi tentang musik dalam Bahasa Indonesia dan oleh orang Indonesia, buku karya Jelia Megawati Heru layak untuk disambut gembira dan tentunya diapresiasi - oleh semua kalangan yang berkutat dalam musik juga oleh siapa saja yang ingin menyapa dan menggeluti musik sampai pada esensinya yang dalam.

Judul buku adalah “Pengetahuan Dasar Musik Teori untuk Semua Instrumen”. Yang menarik adalah ,judul tidak menyebut TEORI MUSIK melainkan MUSIK TEORI. Dengan demikian, buku ini bukanlah sebuah paparan teori tentang musik, melainkan lebih dari itu. Buku ini adalah buku musik dalam ranah teoritiknya. Yang tentu saja sebagai konsekuensi logisnya, merupakan ranah teoretik bagi seni musik. Karena dapat diterapkan untuk segala instrumen musik.

Sebuah catatan penting layak diberikan dalam resensi ini. Bahwa buku ini adalah EDISI REVISI, yakni penyempurnaan dari edisi yang diterbitkan dan diedarkan oleh KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH (tahun 2010), sebagai buku pegangan wajib bagi semua strata pendidikan luar sekolah - termasuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah umum.
 

Tuesday, April 5, 2016

PENGANTAR PIANO JAZZ: "TIDAK SEKEDAR HITAM PUTIH" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, April 2016)

"TIDAK SEKEDAR HITAM PUTIH"
PENGANTAR PIANO JAZZ
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, April 2016


“Wow mainnya piano nya keren banget, bro!
Chord nya miring-miring gitu, kedengeran Jazzy!”

Banyak opini seputar main piano Jazz. Ada yang bilang susaaah banget seperti Mission Impossible. Sudah belajar piano susah, apalagi ditambah embel-embel Jazz? Hadew, latihan seumur hidup juga nggak bakal cukup deh! Hanya segelintir orang saja yang bisa memainkan piano Jazz dengan tata gramatik dan idiom Musik Jazz sejati. Yaitu pemusik kulit hitam yang terlahir dengan akar budaya Jazz, seperti Art Tatum dan Thelonious Monk. It’s in the blood!

Ada juga yang menggampangkan seolah-olah tidak perlu latihan seperti piano klasik yang super lama plus boring bak obat tidur, tidak perlu baca not balok, tidak perlu teori, cukup pake feeling aja man! Makin ribet dan dissonant chord nya, makin kedengeran kayak Jazz! Benarkah Jazz adalah musik intuitif? Apakah karena bisa memainkan “Autumn Leaves” dan main beberapa chord yang ada 7th nya sudah bisa dibilang Jazz?

 Thelonious Monk

MENGAPA BELAJAR JAZZ?
Sudah tidak lagi zamannya mengkotak-kotakkan musik menjadi Klasik maupun Jazz. Musik itu berakar pada rasa dan rasa itu adalah passion bagi pemusiknya. Dalam esensinya, Jazz dapat dikatakan sebagai musik komunal yang sangat terbuka terhadap dialog dan unsur budaya manapun. Jazz mempunyai satu keistimewaan dibandingkan dengan genre musik yang lain, yaitu dimana pemainnya dapat saling bekerja sama sambil mengolah jati dirinya di saat yang bersamaan. Jazz melatih dan memberikan asupan pada karsa kita. Bagaimana Jazz secara fleksibel dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya tanpa melupakan siapa diri kita dan darimana kita berasal. Musik yang mengedepankan individualitas dan orisinalitas. Belajar Jazz adalah belajar seni kehidupan. Inilah warisan Musik Jazz.

Monday, March 14, 2016

Piano Recital "But First, PIANO TIME!" at Istituto Italiano on Sunday, May 22, 2016 (3 - 5 PM)

Dear Sir/Madam,
I would like to invite you to:

PIANO RECITAL
“But First, PIANO TIME!”


Directed by:

VENUE
Jln. HOS Cokroaminoto 117
Menteng, Jakarta Pusat - 10310
Sunday, 22nd May 2016
3 pm - 5 pm

Thursday, March 10, 2016

RESENSI BUKU PIANOLICIOUS!: "MENCECAP LEZATNYA BURGER RASA PIANO" - by: Michael Gunadi Widjaja

RESENSI BUKU PIANOLICIOUS!
"MENCECAP LEZATNYA BURGER 
RASA PIANO"

  FRONT COVER

Judul Buku: PIANOLICIOUS!
Penulis: JELIA MEGAWATI HERU
 

Jumlah halaman: 227 + ilustrasi (flashcards DIY)
Format: A5, HVS, SOFTCOVER
Penerbit: Pustaka Muda
ISBN: 9786026 850140
Tahun penerbitan: 2016, cetakan pertama
(LIMITED EDITION) 
https://www.bukuqu.com/product/pianolicious/
BUY THE BOOK ONLINE 
via bukuqu.com HERE


https://www.bukuqu.com/product/pianolicious/
  
BUKAN SEKEDAR BUKU REFERENSI
Tidaklah berlebihan kiranya, jika dikatakan bahwa buku PIANOLICIOUS!” karya Jelia Megawati Heru, adalah sebuah VADE MECUM piano yang berbahasa Indonesia. Pianolicious! bukan kamus yang hanya dibuka saat orang kebingungan mencari makna kata atau istilah. Pianolicious! juga bukan sebuah ensiklopedia yang semata secara verbal merangkum dan merangkai makna akan sesuatu hal. Lebih dari itu. Sebagai sebuah vade mecum piano.

Pianolicious! adalah sebuah handbooksebuah buku pegangan. Buku tempat bertumpu dan berpijak, serta mengacu akan segala hal ikhwal piano, dengan tetap segar dan tak bertele-tele. Nampaknya buku Pianolicious! adalah “kelanjutan” dari buku HITAM PUTIH PIANO. Dalam HITAM PUTIH PIANO, seorang Jelia banyak mengupas aplikasi, motivasi, inspirasi, dan tantangan, serta pergulatan piano dan musiknya dalam ranah yang relatif umum. Pianolicious! berbicara lebih menukik secara teknis dan detail, dengan tetap dengan gaya bahasa yang mengalir nikmat.

 ULASAN PIANOLICIOUS DI MAJALAH STACCATO, MEI 2016

MAKNA COVER BUKU
Cover buku berwarna merah cerah. Agaknya dimaksudkan sebagai perlambang sebuah optimisme dan hasrat untuk terus mencecap ilmu. Judul buku dalam warna kuning menyala. Seolah ingin menyemburatkan pemaknaan yang lebih mendalam. Ilustrasi pada cover, cukup menggelitik untuk disimak. Sebuah BURGER. Namun BUKAN HAMBURGER. Melainkan BURGER yang berisi metronome, buku piano, tuner, piano roll pad, dan iPod yang kesemuanya adalah “perkakas” pembelajaran musik piano.  

Dengan ilustrasi yang menggelitik tersebut, ada kesan kuat bahwa seorang Jelia ingin menyajikan sebuah “kelezatan”. Yang bergizi, sebagaimana layaknya BURGER. Namun dengan kelezatan pendidikan piano dan musiknya. Itulah PIANOLICIOUS! atau PIANO YANG DELICIOUS.

Sunday, March 6, 2016

7 PROBLEM YANG HANYA DIMENGERTI OLEH GURU PIANO - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, March 2016)

"7 PROBLEM YANG HANYA 
DIMENGERTI GURU PIANO"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, March 2016


Banyak orang yang menganggap guru piano adalah profesi rendahan: “Ah, cuma guru piano!” Hanya karena tidak menyangkut hidup dan mati nya orang, bukan berarti guru pantas dilihat sebelah mata, tidak dihormati, dan nggak penting-penting amat.  “Kalau mau dihormati dan dianggap penting, jangan jadi guru dong! Jadilah dokter, pengacara, tokoh masyarakat, atau presiden!,” celetuk salah satu orang tua murid. “Hmm, really? Yang guru musik, suara nya mana?” Dalam rangka memperingati profesi seorang guru, maka artikel kali ini akan mengulas permasalahan yang paling sering dihadapi oleh seorang guru piano dalam kesehariannya mengajar.

1. ORANG TUA SELALU MENGANGGAP ANAKNYA NO. 1
Setiap orang tua pastinya selalu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun sayangnya orang tua sering kebablasan – terlampau sering dibutakan oleh ego dan obsesinya sendiri. Mereka bersikeras, bahwa anak mereka berbakat, seorang music prodigy – lebih baik daripada anak-anak yang lain. Pokoknya anak mereka adalah yang terbaik dan harus diprioritaskan dan diperlakukan seperti telur emas. Anak diyakinkan, bahwa ia adalah seorang superior, paling benar, tidak pernah salah, dan anak lain selalu lebih rendah darinya. ("Raising Music Prodigy" - Staccato December 2015)

Friday, February 5, 2016

MENELISIK PIANO REPERTOIRE - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, February 2016)

"MENELISIK PIANO REPERTOIRE"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, February 2016


Di mata orang awam, seorang pianis yang hebat adalah yang bisa memainkan tuts piano dari oktaf yang paling rendah ke paling tinggi. Beberapa orang tua bahkan menuntut anaknya untuk bisa memainkan “Revolutionary Étude” dari Fredéric Chopin,“The Flight of the Bumblebee” dari Rimsky-Korsakov, atau “Hungarian Rhapsody No. 2” dari Franz Liszt.  

Mengapa karya-karya tsb merupakan karya yang banyak mendapatkan sorotan dalam dunia piano? Jawabannya yang jelas bukan karena karya tsb berkecepatan 400 km/h dan memungkinkan gerakan à la akrobat sirkus, sehingga membuat publik bertepuk tangan, minta tanda tangan dan selfie bareng. Lantas apa dong? Karena karya-karya tsb mempunyai tingkat kesulitan yang sangat tinggi dalam segi teknik dan musikalitas, yang dianggap sebagai standard kecakapan seorang pianis bertaraf advanced dan mumpuni. Itulah yang disebut sebagai piano repertoire (baca: piano repatoar).

Dunia piano memiliki repertoire yang paling banyak, luas, dan kompleks dibandingkan dengan repertoire pada instrumen musik lainnya. Nah lho, jika Anda adalah newbie (baca: pemula,) pencinta Musik Klasik, praktisi musik, atau orang tua yang mempunyai anak yang belajar piano, darimana sebaiknya Anda memulai? Jangan khawatir! Artikel kali ini akan membahas asal usul terbentuknya piano repertoire, kategorinya, dan tingkat kesulitannya.  

Thursday, February 4, 2016

LIPUTAN KODALY WORKSHOP (7-18 Desember 2015) - Staccato, February 2016

LIPUTAN KODALY WORKSHOP
Staccato, February 2016

 


Selama sepuluh hari (7-18 Desember 2015,) dua puluh tujuh peserta berkumpul di Jakarta untuk bermusik, mempelajari ilmu pedagogi, paduan suara, dan piano. Sebagian besar peserta adalah guru musik dari berbagai instrumen, baik privat maupun sekolah musik, dan pengaba dari Indonesia. Ada juga beberapa peserta dari negara-negara tetangga Malaysia dan Singapura.

Di bawah bimbingan Dr James Cuskelly, Presiden dari International Kodaly Society dan Profesor Gilbert de Greeve, Presiden International Kodaly Society sebelumnya, para peserta diperkenalkan dengan visi, filosofi, dan pendekatan metode Kodaly dalam mengajar musik.

Ada dua macam studi yang ditawarkan. Yang pertama adalah kelas tingkat dasar I (primary level 1) yang dibawah bimbingan Dr James Cuskelly. Studi ini terdiri dari tiga level yang berjenjang dan terakreditasi oleh Kodaly Music Education Institute of Australia (KMEIA). Sertifikat dari studi ini dapat digunakan sebagai akreditasi perkuliahan pasca sarjana di beberapa universitas musik.

Friday, January 22, 2016

RESENSI BUKU HITAM PUTIH PIANO: WARNA ITU TERNYATA HITAM DAN PUTIH (2016)

"WARNA ITU TERNYATA 
HITAM DAN PUTIH"

FRONT COVER

Judul buku: HITAM PUTIH PIANO
Penulis: JELIA MEGAWATI HERU

Jumlah halaman: 197 halaman
Format: A5, HVS, SOFTCOVER
No. ISBN 978-602-6850-11-9
Penerbit: Pustaka Muda
Tahun Penerbitan: 2016, cetakan pertama
(Limited edition) 

BUY THE BOOK ONLINE 
via bukuqu.com HERE


RESENSI BUKU 
HITAM PUTIH PIANO (2016)

Silahkan saja jika orang berujar bahwa kehidupan tak sekedar hitam putih. Sah dan baik saja jika banyak orang berharap bahwa kehidupannya penuh rona warna dan bukan hanya hitam dan putih. Pun elok jika masih ada yang berpendapat bahwa hal-hal prinsip dalam kehidupan, selalu memunculkan “sisi abu-abu” dan tak bisa hanya dinilai sebagai hitam dan putih. Semua ungkapan tersebut nampak benar dalam kesekitaran kenyataan kehidupan yang dialami. Namun, jika kita menukik lebih dalam kepada nurani, dan membiarkan rasa ini menunggah kata, dalam bingkai dan ranah seni, dalam balutan nada, maka ada sebersit terang, bahwa warna itu ternyata adalah HITAM DAN PUTIH.

Thursday, January 7, 2016

"GOOD BYE, MISS J!" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, January 2016)

"GOOD BYE, MISS J!"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, January 2016


Tahukah Anda, 
70 persen dari murid yang belajar piano akan berhenti 
dari pelajaran piano nya dalam 1-2 tahun? 

Hal ini rawan terjadi di kalangan murid pemula yang berumur 6-8 tahun. Prosentase ini menjadi semakin tinggi pada murid piano dalam tahun pembelajaran ke-3 nya dan pada kasus murid yang usianya masih terlalu muda. Karena pada tahun ke-3, pelajaran piano menjadi lebih sulit daripada 2 tahun pertamanya. Ketika pelajaran menjadi sulit, umumnya mereka akan memilih untuk menyerah dan berhenti.

Sebagai guru musik, suka atau tidak, kita harus menerima kenyataan, bahwa murid tidak akan bertahan selamanya. Bagaimanapun cocoknya dan sayangnya Anda terhadap murid Anda, suatu saat mereka akan meninggalkan Anda.

“Even a doctor loses a patient now and again. 
You couldn’t save everybody. That’s life!”

Setiap murid mempunyai masa kritisnya sendiri, dimana mereka berada dalam titik jenuh dan ingin berhenti. Terkadang kita bisa melihat tanda-tandanya, tapi terkadang hal ini juga tidak dapat diprediksi. Banyak alasan mengapa murid berhenti dari pelajaran musiknya. Namun pertanyaannya adalah bukan apa alasan murid berhenti, tapi bagaimana suatu hubungan guru-murid itu diakhiri? Secara sepihak, baik-baik, atau tiba-tiba menghilang ditelan angin? Sedih, kecewa, marah? Sudah pasti! Tapi bagaimana kita harus menyikapinya? Lalu apa efek penghentian pelajaran musik bagi murid?