Monday, May 4, 2015

"KESALAHAN BERLATIH MENJELANG KONSER" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, May 2015)

"KESALAHAN BERLATIH MENJELANG KONSER"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, May 2015


P-A-N-I-K, lima huruf itulah yang dirasakan setiap performer sesaat sebelum konser, ketika melihat panggung, sebuah piano, dan ratusan penonton. Apakah itu hormon adrenalin, demam panggung, atau pikiran buruk yang selalu menghantui Anda, ah entahlah? “Bagaimana jika nanti salah? Bagaimana jika saya lupa? Bagaimana jika saya berhenti bermain dan terdiam mematung di tengah-tengah konser?” Well, there’s a lot of IF there.

Hal-hal seperti ini lah yang membuat pianis, terutama yang bermain solo selalu merasa kurang latihan dan tetap berlatih hingga detik-detik terakhir menjelang konser. Sayangnya latihan menjelang konser yang terburu-buru dan berantakan karena stress maupun panic attack, justru akan berdampak fatal terhadap rutinitas latihan Anda. Alih-alih bermain secara sempurna, Anda justru bisa melakukan lebih banyak kesalahan yang mungkin sebelumnya tidak pernah Anda lakukan dan mengakibatkan cidera serius. Kesalahan berlatih apa yang harus Anda hindari pada detik-detik menjelang konser?

Sunday, April 5, 2015

"MENGAJAR MUSIK BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, April 2015)

"MENGAJAR MUSIK BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, April 2015


Menurut Jurnal JAMA Pediatrics, statistik menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sebesar 24 persen pada penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dalam lima tahun terakhir. Penderita ADHD mengalami ketidakseimbangan aktivitas neurotransmiter di area otak yang membuat mereka sulit berkonsentrasi. Statistik juga menunjukkan, bahwa satu dari lima anak mengalami kesulitan dalam bahasa dan disleksia.[1] Apa yang harus dilakukan, bila Anda menemukan bahwa murid Anda menunjukkan gejala ADHD atau disleksia? Apa yang harus diperhatikan, apabila Anda mengajar musik bagi murid berkebutuhan khusus - dalam hal ini ADHD dan disleksia?

Thursday, March 26, 2015

LAVENDER'S BLUE (DILLY, DILLY) - Music Sheets & Lyrics (OST. Cinderella)

"LAVENDER'S BLUE (DILLY, DILLY)"
MUSIC SHEETS & LYRICS
OST. CINDERELLA


"Lavender's Blue," (perhaps sometimes called "Lavender Blue,") is an English folk song and nursery rhyme dating to the 17th century, which has been recorded in various forms since the 20th century.

A hit version of the song, sung by Burl Ives, was featured in the Walt Disneymovie, So Dear to My Heart (1948) and was nominated for an Academy Award for Best Original Song. It was Ives' first hit song and renewed the song's popularity in the 20th century. Other hit versions of the song were recorded by Sammy Kaye and Dinah Shore. In 1955, Jazz pianist Jack Pleis recorded it for his album, Music from Disneyland.

Source: 

Thursday, March 5, 2015

"STRESS in AURAL TEST" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, March 2015)

"STRESS IN AURAL TEST"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, March 2015


Memiliki telinga yang musikal merupakan salah satu aset yang krusial dalam bermain musik. Ibarat seorang chef yang mengandalkan lidahnya dalam merasakan dan menghasilkan masakan yang lezat. Karena sejatinya musik dihasilkan bukan dari instrumen musik. Namun musik dihasilkan dari tubuh kita sendiri, bahkan sebelum musik itu dimainkan pada instrumen musik atau dinyanyikan. Kepekaan telinga dalam mendengar musik dapat berkembang seiring berjalannya waktu melalui latihan. Beberapa orang terlahir dengan telinga musikal hanya dengan “feel it.”

Namun tidak jarang beberapa orang mungkin tidak akan pernah menguasai hal ini. Terutama pada orang yang buta nada (tone deaf,) dimana telinga mereka mengalami kesulitan dalam mengenali nada. Mereka tidak mempunyai kepekaan dalam mengetahui tinggi rendah nada, apakah nada yang dihasilkan benar atau salah. Sehingga mereka akan selalu membuat banyak kesalahan dalam memainkan instrumen atau menyanyi. Oleh sebab itu, aural test ini menjadi momok bagi banyak orang, khususnya dalam konteks ujian. Apa itu aural test dan bagaimana cara mengatasi stress dalam aural test? Simak pertanyaan-pertanyaan umum seputar aural test!

Tuesday, March 3, 2015

PROFILE OF YOSEPH SITOMPUL & HIS ALBUM "MENUNGGUMU" (2014)

PROFILE OF YOSEPH SITOMPUL

Source: MostlyJazzJKT

Yoseph Sitompul learned Electone organ at the age of 6 in a wide variety of music courses (JVC, Kawai and Yamaha). At the age of 9, he has started playing music in church in genres Pop, Rock, R 'n B, and Gospel. He worked as an architect after graduating from Parahyangan Architecture Bandung in 2003.

Four years later (2007) after worked as an architect, he decided to pursue his passion in music especially in Jazz. He studied at Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) for two years. He got his first classical piano lessons at IMDI with Jelia Megawati Heru. ​​He participated in a lot of workshops, especially Porch Jazz at the GoetheHaus.

Sunday, February 15, 2015

"DIY MUSIC TERM FLASHCARDS" - by: Jelia Megawati Heru

"DIY MUSIC TERM FLASHCARDS"
by: Jelia Megawati Heru


As a music teacher, you must know, 
how hard to make music students learn 
the performing directions/music terms in foreign language. Right?

So, I came up with the idea to make my own flashcards.
I even made them in different colors and shapes.

At the beginning seems a lot of work and effort.
But it's totally worth it. It helps my students to learn the music terms.
They could bring them anywhere in pocket size.

Here's the DIY tutorial.

Friday, February 6, 2015

"Menghadapi Perilaku Buruk Murid Piano" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, February 2015)

"MENGHADAPI PERILAKU BURUK MURID PIANO"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, February 2015

“Kapan sih kita main pianonya? 
Kok ngomong melulu! Bosen nih.”

“Miss, aku ngga mau main piano hari ini ya! 
Miss ngga usah bilang-bilang ke mama, kan Miss juga dibayar,”
ujar salah satu murid piano dengan melipat tangannya, lalu keluar dari ruangan.

Familiar dengan situasi diatas? Sebagai guru piano, suka atau tidak, cepat atau lambat, kita akan berhadapan perilaku murid yang buruk (disrespectful) atau kurang ajar. Mengapa murid berperilaku buruk? Bagaimana kita menyikapi perilaku buruk murid piano? Dimana batas toleransi guru dalam mengatasi murid berperilaku buruk?

DEFINISI PERILAKU MURID YANG BURUK
Disini perlu dibedakan, murid yang berperilaku buruk adalah bukan murid yang mempunyai masalah konsentrasi seperti anak berumur dibawah lima tahun, atau memiliki kondisi/kebutuhan khusus seperti pada anak ADHD misalnya. Konteksnya adalah lebih kepada murid yang sudah cukup umur (tujuh tahun ke atas misalnya,) mengerti bagaimana harus bersikap dalam ruang publik, tetapi menjadi tidak terkontrol dalam kelas. Perilaku buruk ini bisa menjadi sangat tidak sopan, diluar kendali, dan bahkan mengarah ke arah kekerasan. Sehingga suatu kegiatan belajar mengajar tidak dapat terlaksana secara optimal. Misalnya: tidak kooperatif, kasar, berteriak, memukul, mengucapkan kata-kata yang tidak pantas/kotor terhadap guru, menolak latihan, membantah perkataan/instruksi guru, bahkan mengancam.

Thursday, January 8, 2015

"GURU PIANO YANG KILLER" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, January 2015)

"GURU PIANO YANG KILLER"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato Article, January 2015


"DASAR IDIOT!"
teriak Nadia Boulanger kepada Astor Piazzolla muda (1935)

Adalah Nadia Boulanger, seorang music educator terbaik yang legendaris pada abad ke-20, profesor di Paris Conservatory, conductor, dan komposer yang berperan penting dalam menempatkan Astor Piazzolla, komposer dari Argentina - dalam takdir dan akar jiwa sejatinya, yaitu tango dan bandoneon.

Nadia Boulanger

Hal yang menarik disini adalah walau Nadia Boulanger adalah seorang akademisi, seorang professor di konservatori terkemuka. Hal itu tidak mencegahnya mengucapkan kata-kata kasar, seperti idiot maupun kata-kata makian lainnya. Namun demikian tidak dapat dipungkiri, justru berkat jasa Nadia Boulanger lah justru Piazzolla menemukan esensi dari musiknya.

Biasanya persepsi karakter killer melekat pada dosen universitas yang bisa menekan mahasiswa dengan nilai mata kuliahnya. Sedangkan killer pada guru piano lebih diidentikan dengan kritik yang pedas, hyper-critical, sarkasme, dan sikap arogan. Mengapa guru piano banyak yang ‘killer’ alias super galak? Dimana batasan guru dalam bersikap? Apa efeknya bagi karakter murid? Bagaimana kita harus menyikapinya?      

Tuesday, December 9, 2014

"SISI KELAM CONCERT PIANIST" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato Article, December 2014)

"SISI KELAM CONCERT PIANIST"
Article Staccato, December 2014
by: Jelia Megawati Heru

“Waktunya bangun, sayang. Apakah kakimu sudah menyentuh lantai?
Ayo, sudah waktunya untuk latihan piano lagi,”
ujar seorang Ibu kepada anak semata wayangnya, yang berumur enam tahun.

BERAWAL DARI SEBUAH MIMPI
Fenomena menjadi seorang concert pianist yang bermain pada sebuah grand piano Steinway atau Fazioli di bawah sorot lampu spotlight, memakai tuxedo di gedung konser terkenal, dielu-elukan penonton dengan standing ovation dan teriakan “encore!” - mungkin menjadi hal yang diimpikan banyak orang, bahkan bisa menjadi hal yang universal. Bahkan banyak tiger parents yang ambisius menginginkan anaknya menjadi seorang concert pianist yang tenar, walau anaknya sebetulnya tidak mumpuni atau bahkan belum tentu menginginkan hal yang sama. "I would give anything to do what she does," ujar banyak orang dengan penuh rasa iri, setelah menonton sebuah konser piano. Hmm, really? Benarkah menjadi concert pianist adalah suatu hal yang membahagiakan?