Friday, August 29, 2014

Margie Segers "The Lady of Jazz"

MARGIE SEGERS


PROFILE OF MARGIE SEGERS

Ask any Jazz musician in Indonesia about the history of Jazz in their country and the name Margie Segers will surely come into the conversation. Widely acknowledged as the songstress who started the Indonesian Jazz trend during the '70s.

Those with an ear for Jazz have compared Segers with Eva Cassidy and Dinah Washington. That being said, Segers is actually in a league of her own. Her original compositions and interpretations of familiar Pop songs or dynamic Jazz tunes has enraptured Jazz lovers across generations.

"SEMUA BISA BILANG"
(Tribute to Jack Lesmana)

Wednesday, August 27, 2014

Chaka Priambudi "Lantun Orchestra" (2014)

CHAKA PRIAMBUDI
"LANTUN ORCHESTRA"


PROFILE OF CHAKA PRIAMBUDI

Chaka Priambudi Wicaksono is a Double Bass player from Jakarta, Indonesia. He studied music at Institute Music Daya Indonesia from 2006-2010, majoring in double bass with Donny Sundjoyo and Piano as a minor instrument with Jelia Megawati Heru.

Currently Chaka is emerging as the current generation of young bassist potential. He began to frequently appear everywhere, supports many musicians and bands. Among others, he appeared with Robert MR, ranging from the guitarist's solo album, Gratitude, in 2012 he also supports group Monica Tahalea & The Nightingales, from the album Songs of Praise in 2013.

Tuesday, August 26, 2014

Julian Abraham Marantika "The Beginning of an End" (2014)

 JULIAN ABRAHAM MARANTIKA
"THE BEGINNING OF AN END"


PROFILE OF JULIAN ABRAHAM MARANTIKA

Julian Abraham Marantika, or Joy started by learning classical piano when he was 14 years old by studied from Getih Indra Sunaryo, but then got his encounter with Jazz when he learned it from Benny Likumahuwa for Music Theory and Saxophone. He then took his number one Jazz Piano lesson from Riza Arshad and Krishna Balagita.

In 2004 he enrolled to the Institut Musik Daya Degree program under Tjut Nyak Deviana Daudsjah, Ivonne Atmojo, Aksan Sjuman, Masako Hamamura, Mark Isaac, and Jelia Megawati Heru. Julian graduated in 2007 holding Bachelor of Music in Performance.

PIANO RECITAL [PLAY] - MEDIA PUBLICATION (2014)

 PIANO RECITAL [PLAY] 
MEDIA PUBLICATION (2014)

http://jeliaedu.blogspot.com/2014/08/piano-recital-play-erasmus-huis-27th.html
 MORE:

Tuesday, August 12, 2014

Piano Recital [PLAY] @ Erasmus Huis, 27th September 2014

[PLAY]
A Piano Recital

"To play a wrong note is insignificant;
To play without passion is inexcusable."
- Ludwig van Beethoven -


Monday, August 11, 2014

"I WILL SURVIVE!": Menyikapi Ujian Musik - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, August 2014)

"I WILL SURVIVE!"
MENYIKAPI UJIAN MUSIK
by: Jelia Megawati Heru
Staccato Article (August 2014)


“Miss, kapan anak saya ikut ujian piano?”
(lho!? padahal belum genap empat kali pertemuan)

Jawaban dari pertanyaan di atas yang jelas, bukan “setiap tahun” atau “setiap bulan September.” Banyak orang yang berpendapat, bahwa ujian musik harus dilakukan setiap tahun, bahkan apabila memungkinkan, orang tua akan memacu anak untuk melewati beberapa level sekaligus. Fenomena ini sangat marak terjadi di Asia, khususnya Indonesia. Banyak orang tua yang menjadi sangat terobsesi dan gelap mata dengan terminologi ujian “internasional.” Mereka berlomba-lomba supaya anaknya mendapatkan nilai terbaik demi meraih rekor kandidat termuda. Musik diperlakukan ibarat kontes kecantikan dan anak mereka diperlakukan bak beruang sirkus. Ide mendorong anak untuk mengikuti ujian dan kompetisi setiap tahun, itu terkadang merupakan penyiksaan dan horor bagi murid dan guru. IMPOSSIBLE? Disini sepertinya kata itu berubah menjadi “I’M POSSIBLE!”

Tuesday, July 8, 2014

"KESALAHAN MEMBACA NOTASI BALOK" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, July 2014)

"KESALAHAN 
MEMBACA NOTASI BALOK"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, July 2014


“What is your superpower?”
“I read music notes!”

Membaca notasi balok bagi sebagian orang, mungkin merupakan salah satu hal yang paling horror dan menjadi momok dalam proses belajar musik. Banyak orang yang menganggap membaca notasi balok merupakan salah satu hal yang paling sulit dilakukan dalam hidup. Mungkin mereka lebih memilih untuk mengerjakan hal yang paling mereka benci daripada membaca not. Ironisnya seseorang akan menjadi “an uncomplete musician” dengan memilih menjadi “buta nada.” Tanpa kemampuan membaca notasi balok, seseorang akan melewatkan kesempatan untuk memahami musik lebih dalam -  entah seberapapun berbakatnya mereka. So if you could read notes, thanks to your music teacher!

Thursday, June 5, 2014

"VIVA LA PIANO" - Piano for Adult, by: Jelia Megawati Heru (Staccato, June 2014)

"VIVA LA PIANO"
PIANO FOR ADULT
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, Juni 2014


“Saya harap dulu saya belajar piano waktu kecil...”
“Duh, nyesel! Tahu begini dulu aku nggak berhenti main piano...”

Seberapa sering kedua kalimat itu terucap dengan nada penuh sesal dan kecewa dari keluarga, kerabat, dan teman-teman kita? Banyak orang yang bermimpi untuk bermain piano dan walau usia mereka tidak “muda” lagi, namun gelora itu tidak pernah akan padam. Hal ini menyisakan pertanyaan: apakah sudah terlambat untuk belajar piano sekarang? Dimana letak kesulitan maupun kelebihan seseorang yang baru saja ingin memulai belajar piano di usia yang “matang”? 

KENAPA PIANO?
Umumnya kebanyakan orang akan bermimpi untuk bermain piano dan bukan instrumen lainnya seperti drums dan gitar. Bahkan banyak orang sangat terobsesi dengan piano. Anehnya, walau mereka tidak bisa bermain piano, mereka hobi mengkoleksi piano. Merk dan harga piano nya pun mahalnya tidak tanggung-tanggung. Mengapa fenomena “oh, how I love piano” ini terjadi?

Saturday, May 31, 2014

IS PIANO EXAM REALLY NECESSARY?

"IS PIANO EXAM REALLY NECESSARY?"
by: Jelia Megawati Heru


PREPARING A PIANO EXAM
Studying music is not all about fun. In order to be the complete musician, a pianist has to pass through the challenging studying process: practicing, concert, and EXAMS. Talking about out of the comfort zone. When I was little, I used to think that the piano exam is like the most 'evil' thing in the world. The idea of repeating and practicing the same pieces for 8 months, just makes me tired and hate music.  

The piano exam is definitely not an absolute parameter of a successful pianist. Even though my student got perfect score for music theory and piano practical, doesn't mean that they love what they're doing. But piano exams are, or could be, a useful tool to compare one's technical level or factual knowledge of piano and music to some objective standard - and thus could be helpful in countries which do not have a long established western musical tradition.

Wednesday, May 7, 2014

"BABY, YOU GOT BACH!" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato Mei 2014)

"BABY, YOU GOT BACH!"
by: Jelia Megawati Heru
Article Staccato, May 2014


Dalam dunia Musik Klasik, nama Johann Sebastian Bach (JS. BACH) terdengar tidak asing lagi. Setiap murid yang mempelajari piano, pasti pernah mendengar namanya dan memainkannya. Sebut saja Minuet in G Major, Invention, Well Tempered Klavier, Toccata in D minor - yang merupakan sebagian kecil dari komposisinya yang revolusioner di sepanjang peradaban manusia. 

Mengapa komposisi JS.Bach masih dimainkan hingga sekarang? Untuk apa sih kita memainkan, mendengarkan, dan mempelajari karya JS. Bach pada abad ke-21? Bukankah akan jauh lebih mudah untuk memahami musik, kalau kita memainkan karya komposer masa kini yang jauh lebih relevan? Bagaimana kita seharusnya memainkan karyanya? Simak artikel berikut ini!