Saturday, July 4, 2015

MILESTONE: "BATU LOMPATAN DALAM PENDIDIKAN MUSIK" (Staccato, July 2015)

MILESTONE: 
"BATU LOMPATAN DALAM PENDIDIKAN MUSIK
 & BERBAGI PENGALAMAN ESTETIS"
Liputan Konser Tim Staccato
Staccato, Juli 2015


Konser berjudul "MILESTONE" telah digelar pada 17 Mei 2015. Bertempat di TEATER KECIL, TAMAN ISMAIL MARZUKI JAKARTA. Konser tersebut adalah sebuah kolaborasi budaya antara PUSAT KESENIAN JAKARTA TAMAN ISMAIL MARZUKI (PKJ-TIM,) DEWAN KESENIAN KOTA TEGAL, dan JELIA MUSIC PLAYGROUND. Konser berlangsung sejak jam 3 sore hari hingga jam 6 petang. Konser Milestone dipadati oleh pengunjung dari berbagai usia. Termasuk beberapa Duta Besar Negara sahabat dan beberapa perwakilan Diplomatik. Yang menarik dalam konser Milestone adalah hadirnya sebuah kelompok ensembles Gamelan Jawa "CANANGAN," yang menawarkan format dan pendekatan gramatik baru akan Musik Gamelan.

Thursday, July 2, 2015

"BERMAIN PIANO TANPA RASA NYERI" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, July 2015)

"BERMAIN PIANO 
TANPA RASA NYERI"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, July 2015


“Ow, sakit!” Itulah yang sering dirasakan para pianis ketika berlatih berlebihan. Tahukah Anda 65-80% musisi ternyata sering mengalami cidera otot dalam berlatih? Dan 70% diantaranya adalah wanita. Umumnya hanya wanita yang melaporkan keluhan rasa sakit/nyeri ini ke dokter dan mereka baru akan mencari bantuan setelah kondisi mereka kronis. Cidera pada pianis ini bukan isapan jempol belaka. Pianis dunia pun tidak luput dari kasus cidera yang fatalmulai dari Artur Schnabel, Alexander Scriabin, Sergei Rachmaninoff, Robert Schumann, Glenn Gould, hingga Keith Jarret. Cidera tsb mungkin tidak mengakhiri karier mereka secara langsung, tapi membuat mereka tidak dapat berlatih dalam durasi yang lama, memaksa mereka untuk membatasi repertoire konser, dan bahkan membatalkan konser.

Thursday, June 4, 2015

"CONCERT CHECKLIST" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, Juni 2015)

"CONCERT CHECKLIST"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, June 2015


Konser dan resital merupakan salah satu ajang yang positif bagi setiap murid yang mempelajari instrumen musik. Selain memberikan tujuan untuk berlatih, konser dan resital juga dapat meningkatkan motivasi anak dan mendapatkan pengalaman serta kesempatan untuk tampil di ruang publik. Oleh karena itu konser atau resital diadakan serutin mungkin, minimal satu tahun sekali. 

Namun mempersiapkan konser bagi murid merupakan hal yang tidak mudah dan tidak bisa dianggap sepele. Disini guru musik bertindak bukan hanya sebagai guru yang mempersiapkan muridnya untuk tampil di panggung, namun guru juga bertindak sebagai Event Organizer (EO). Ini adalah dua hal yang sangat berbeda. Sebagai EO, Anda dituntut untuk mempersiapkan segala sesuatunya: PLANNING dari A-Z, pelaksanaan/eksekusi pada hari H, dan mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga.

Walau Anda bukan EO, ada baiknya Anda sebagai seorang praktisi musik mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan konser/resital. Hal apa saja yang harus dipertimbangkan dalam mengadakan konser/resital? Simak concert checklist berikut ini!

Sunday, May 31, 2015

PUBLICATION OF MILESTONE Piano Recital & Music Concert (2015)

PUBLICATION OF MILESTONE
Piano Recital & Music Concert
17th May 2015, at Teater Kecil TIM


Tuesday, May 26, 2015

ULASAN MILESTONE di KOMPAS, 15 Mei 2015

ULASAN MILESTONE 
KOMPAS, 15 Mei 2015

Sumber
Harian KOMPAS, Jumat, 15 Mei 2015
Hal. 26, kolom Metropolitan

MUSIK DAN TEATER

Bagi Anda yang ingin pilihan acara lain di luar mode dan kuliner, tak perlu khawatir. Di Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, sepanjang akhir pekan ini ada berbagai pilihan acara musik dan teater...

Sementara pada Minggu (17/5) di Teater Kecil TIM akan digelar Resital Piano dan Konser Musik Milestone. Para penampil, seperti Michael Gunadi Widjaja (gitar), Nathan's Male Acapella, Yoseph Sitompul Jazz Trio, Julian Abraham Marantika, Canangan Javanese Gamelan Ensemble, dan student of Jelia's Music Playground, akan unjuk kepiawaian dalam konser yang akan berlangsung pukul 15.00 - 17.00. (B12/PIN)


Monday, May 4, 2015

"KESALAHAN BERLATIH MENJELANG KONSER" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, May 2015)

"KESALAHAN BERLATIH MENJELANG KONSER"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, May 2015


P-A-N-I-K, lima huruf itulah yang dirasakan setiap performer sesaat sebelum konser, ketika melihat panggung, sebuah piano, dan ratusan penonton. Apakah itu hormon adrenalin, demam panggung, atau pikiran buruk yang selalu menghantui Anda, ah entahlah? “Bagaimana jika nanti salah? Bagaimana jika saya lupa? Bagaimana jika saya berhenti bermain dan terdiam mematung di tengah-tengah konser?” Well, there’s a lot of IF there.

Hal-hal seperti ini lah yang membuat pianis, terutama yang bermain solo selalu merasa kurang latihan dan tetap berlatih hingga detik-detik terakhir menjelang konser. Sayangnya latihan menjelang konser yang terburu-buru dan berantakan karena stress maupun panic attack, justru akan berdampak fatal terhadap rutinitas latihan Anda. Alih-alih bermain secara sempurna, Anda justru bisa melakukan lebih banyak kesalahan yang mungkin sebelumnya tidak pernah Anda lakukan dan mengakibatkan cidera serius. Kesalahan berlatih apa yang harus Anda hindari pada detik-detik menjelang konser?

Sunday, April 5, 2015

"MENGAJAR MUSIK BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, April 2015)

"MENGAJAR MUSIK BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, April 2015


Menurut Jurnal JAMA Pediatrics, statistik menunjukkan bahwa terjadi peningkatan sebesar 24 persen pada penderita ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) dalam lima tahun terakhir. Penderita ADHD mengalami ketidakseimbangan aktivitas neurotransmiter di area otak yang membuat mereka sulit berkonsentrasi. Statistik juga menunjukkan, bahwa satu dari lima anak mengalami kesulitan dalam bahasa dan disleksia.[1] Apa yang harus dilakukan, bila Anda menemukan bahwa murid Anda menunjukkan gejala ADHD atau disleksia? Apa yang harus diperhatikan, apabila Anda mengajar musik bagi murid berkebutuhan khusus - dalam hal ini ADHD dan disleksia?

Thursday, March 26, 2015

LAVENDER'S BLUE (DILLY, DILLY) - Music Sheets & Lyrics (OST. Cinderella)

"LAVENDER'S BLUE (DILLY, DILLY)"
MUSIC SHEETS & LYRICS
OST. CINDERELLA


"Lavender's Blue," (perhaps sometimes called "Lavender Blue,") is an English folk song and nursery rhyme dating to the 17th century, which has been recorded in various forms since the 20th century.

A hit version of the song, sung by Burl Ives, was featured in the Walt Disneymovie, So Dear to My Heart (1948) and was nominated for an Academy Award for Best Original Song. It was Ives' first hit song and renewed the song's popularity in the 20th century. Other hit versions of the song were recorded by Sammy Kaye and Dinah Shore. In 1955, Jazz pianist Jack Pleis recorded it for his album, Music from Disneyland.

Source: 

Thursday, March 5, 2015

"STRESS in AURAL TEST" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, March 2015)

"STRESS IN AURAL TEST"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, March 2015


Memiliki telinga yang musikal merupakan salah satu aset yang krusial dalam bermain musik. Ibarat seorang chef yang mengandalkan lidahnya dalam merasakan dan menghasilkan masakan yang lezat. Karena sejatinya musik dihasilkan bukan dari instrumen musik. Namun musik dihasilkan dari tubuh kita sendiri, bahkan sebelum musik itu dimainkan pada instrumen musik atau dinyanyikan. Kepekaan telinga dalam mendengar musik dapat berkembang seiring berjalannya waktu melalui latihan. Beberapa orang terlahir dengan telinga musikal hanya dengan “feel it.”

Namun tidak jarang beberapa orang mungkin tidak akan pernah menguasai hal ini. Terutama pada orang yang buta nada (tone deaf,) dimana telinga mereka mengalami kesulitan dalam mengenali nada. Mereka tidak mempunyai kepekaan dalam mengetahui tinggi rendah nada, apakah nada yang dihasilkan benar atau salah. Sehingga mereka akan selalu membuat banyak kesalahan dalam memainkan instrumen atau menyanyi. Oleh sebab itu, aural test ini menjadi momok bagi banyak orang, khususnya dalam konteks ujian. Apa itu aural test dan bagaimana cara mengatasi stress dalam aural test? Simak pertanyaan-pertanyaan umum seputar aural test!

Tuesday, March 3, 2015

PROFILE OF YOSEPH SITOMPUL & HIS ALBUM "MENUNGGUMU" (2014)

PROFILE OF YOSEPH SITOMPUL

Source: MostlyJazzJKT

Yoseph Sitompul learned Electone organ at the age of 6 in a wide variety of music courses (JVC, Kawai and Yamaha). At the age of 9, he has started playing music in church in genres Pop, Rock, R 'n B, and Gospel. He worked as an architect after graduating from Parahyangan Architecture Bandung in 2003.

Four years later (2007) after worked as an architect, he decided to pursue his passion in music especially in Jazz. He studied at Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) for two years. He got his first classical piano lessons at IMDI with Jelia Megawati Heru. ​​He participated in a lot of workshops, especially Porch Jazz at the GoetheHaus.