Orangtua memiliki pengaruh yang signifikan terhadap bagaimana cara anak melihat diri sendiri, melihat orang lain, dan menafsirkan dunia. Karakter atau sifat anak ditentukan dari bagaimana ia dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtua. Sangat disayangkan justru banyak orang tua yang tidak sadar bahwa dirinya menerapkan pola asuh yang toxic. Toxic parenting adalah penerapan pola asuh orangtua yang mengacu pada perilaku yang tidak baik dan berdampak buruk bagi diri sendiri, dan orang lain (anak), baik secara mental maupun fisik.
NARSISTIK
Salah satu pola pengasuhan toxic adalah narcissistic personality disorder (NPD). Orang tua dengan gangguan kepribadian narsistik ditandai dengan sikapnya yang lebih mementingkan diri sendiri menganggap bahwa ia adalah center of the universe.
Gangguan ini dinamai berdasarkan tokoh mitologi Yunani, Narcissus, yang jatuh cinta pada bayangannya sendiri. Pemuda tampan itu secara tak sengaja bertemu dengan bayangannya sendiri di genangan air, yang memicu obsesi tragis terhadap dirinya sendiri yang berujung pada kematiannya yang prematur. Menurut Sigmund Freud, narsisisme adalah tahap normal dalam perkembangan anak, tetapi dianggap sebagai gangguan ketika terjadi setelah pubertas.
Adanya trauma di masa kecil akibat pola pengasuhan yang buruk diduga menjadi pemicu orang tua mengembangkan perilaku yang toxic. Orang tua toxic masih membawa luka lamanya, sehingga memiliki pola asuh toxic parenting dan memperlakukan anak dengan buruk, sama seperti yang dialaminya dulu.
Orang tua yang narsistik cenderung terlalu kritis, mengontrol, dan manipulatif secara emosional, seringkali memprioritaskan kebutuhan mereka sendiri di atas kesejahteraan anak-anak mereka. Mereka takut kehilangan kendali dan menggunakan cara mempermalukan atau menghina anak-anak mereka untuk mempertahankan dominasi.


















