Friday, January 22, 2016

RESENSI BUKU HITAM PUTIH PIANO: WARNA ITU TERNYATA HITAM DAN PUTIH (2016)

"WARNA ITU TERNYATA 
HITAM DAN PUTIH"

FRONT COVER

Judul buku: HITAM PUTIH PIANO
Penulis: JELIA MEGAWATI HERU

Jumlah halaman: 197 halaman
Format: A5, HVS, SOFTCOVER
No. ISBN 978-602-6850-11-9
Penerbit: Pustaka Muda
Tahun Penerbitan: 2016, cetakan pertama
(Limited edition) 

BUY THE BOOK ONLINE 
via bukuqu.com HERE


RESENSI BUKU 
HITAM PUTIH PIANO (2016)

Silahkan saja jika orang berujar bahwa kehidupan tak sekedar hitam putih. Sah dan baik saja jika banyak orang berharap bahwa kehidupannya penuh rona warna dan bukan hanya hitam dan putih. Pun elok jika masih ada yang berpendapat bahwa hal-hal prinsip dalam kehidupan, selalu memunculkan “sisi abu-abu” dan tak bisa hanya dinilai sebagai hitam dan putih. Semua ungkapan tersebut nampak benar dalam kesekitaran kenyataan kehidupan yang dialami. Namun, jika kita menukik lebih dalam kepada nurani, dan membiarkan rasa ini menunggah kata, dalam bingkai dan ranah seni, dalam balutan nada, maka ada sebersit terang, bahwa warna itu ternyata adalah HITAM DAN PUTIH.

Thursday, January 7, 2016

"GOOD BYE, MISS J!" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, January 2016)

"GOOD BYE, MISS J!"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, January 2016


Tahukah Anda, 
70 persen dari murid yang belajar piano akan berhenti 
dari pelajaran piano nya dalam 1-2 tahun? 

Hal ini rawan terjadi di kalangan murid pemula yang berumur 6-8 tahun. Prosentase ini menjadi semakin tinggi pada murid piano dalam tahun pembelajaran ke-3 nya dan pada kasus murid yang usianya masih terlalu muda. Karena pada tahun ke-3, pelajaran piano menjadi lebih sulit daripada 2 tahun pertamanya. Ketika pelajaran menjadi sulit, umumnya mereka akan memilih untuk menyerah dan berhenti.

Sebagai guru musik, suka atau tidak, kita harus menerima kenyataan, bahwa murid tidak akan bertahan selamanya. Bagaimanapun cocoknya dan sayangnya Anda terhadap murid Anda, suatu saat mereka akan meninggalkan Anda.

“Even a doctor loses a patient now and again. 
You couldn’t save everybody. That’s life!”

Setiap murid mempunyai masa kritisnya sendiri, dimana mereka berada dalam titik jenuh dan ingin berhenti. Terkadang kita bisa melihat tanda-tandanya, tapi terkadang hal ini juga tidak dapat diprediksi. Banyak alasan mengapa murid berhenti dari pelajaran musiknya. Namun pertanyaannya adalah bukan apa alasan murid berhenti, tapi bagaimana suatu hubungan guru-murid itu diakhiri? Secara sepihak, baik-baik, atau tiba-tiba menghilang ditelan angin? Sedih, kecewa, marah? Sudah pasti! Tapi bagaimana kita harus menyikapinya? Lalu apa efek penghentian pelajaran musik bagi murid?

"DENTANG RAHMAT DESEMBER" - Liputan Home Concert "Blessed December"

"DENTANG RAHMAT DESEMBER"
Liputan Home Concert "Blessed December"
oleh: Tim Liputan Staccato

 Photo by:  
Wilson Hidajat

Sebuah konser piano bertajuk “BLESSED DECEMBER” pada 13 Desember 2015 telah digelar. Bertempat di Agape Chapel, Reformed Millennium Center Indonesia (RMCI), Kemayoran, Jakarta. Sebagai penyelenggara adalah JELIA’S PIANO STUDIO. Konser tsb sebetulnya adalah sebuah HOME CONCERT bagi para siswa Jelia’s Piano Studio. Namun banyak sekali sisi menarik yang dapat kita petik, permenungan, dan terapkan dalam ranah pendidikan musik yang cocok bagi keadaan anak “zaman sekarang”.

Dalam sambutannya, Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu selaku direktris mengemukakan, bahwa konser ini adalah sebuah ungkapan syukur atas hasil yang dicapai para siswa selama setahun belajar piano dan musik. Konser tsb sama sekali bukan ajang unjuk keterampilan (show-off,) namun lebih mengkerucut pada ungkapan estetis para siswa akan rasa syukur dalam keberhasilannya menempuh pelajaran selama tahun 2015.