AIR MATA DI KELAS PIANO
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, June 2018)

ATAS NAMA CINTA
“Tears in piano lesson” bukanlah karena kelilipan iritasi mata kena
asap rokok atau karena sedih patah hati seperti lagu “Smoke Gets in Your Eyes”.
Dan jelas juga bukan “air mata buaya”. Linangan air mata ini bisa terjadi,
karena luapan emosi anak, ketika ia merasa terpaksa harus bermain piano. Terutama
ketika pertanyaan ini dilontarkan: kenapa kamu belajar piano? Lalu dijawab
dengan “Karena disuruh mama.” dengan nada terpaksa.
Observasilah dan tanyakanlah
kepada diri Anda, apakah anak Anda merasa percaya diri dan merasa bahagia
dengan kelas piano nya? Atau anak selalu merasa depresi, minder, merasa
bersalah, putus asa, panik, ketakutan, trauma, atau menyiratkan kebencian, jika
menyangkut hal yang beraroma piano?
OBSESI ORANG TUA
Sudah jelas, bahwa setiap orang
tua menginginkan hal yang TER-baik dan keberhasilan bagi anak kesayangannya –
pendidikan musik yang TER-baik, guru piano TER-baik, kualitas piano TER-baik,
nilai TER-baik, pokoknya NUMERO UNO! Mayoritas
orang tua Asia masih menggunakan metode “Reward and Punishment”. Demi
mencapai tujuannya, sayangnya beberapa orang rela menempuh hal-hal diluar batas
kelaziman – yang mengarah kepada kekerasan fisik dan pelecehan mental (penghinaan
atau kata-kata makian yang sifatnya mempermalukan) dengan mengatasnamakan CINTA.
“You’ll
thank me later!” ujar seorang tiger
mom.




%2B5%2BErasmus%2B(resize).jpg)
%2B5%2BErasmus.jpg)







