Wednesday, December 14, 2011

SEKILAS INFO: Suzuki Piano Teacher's Training (March 28 - April, 1, 2012)

Suzuki Piano Teacher's Training 
(March 28 - April 1, 2012)

 

Dear Piano Teachers and Music Lovers,
Berikut ini info pelatihan metode Suzuki bagi guru piano. 
Mudah-mudahan informasi ini berguna dan membantu....


SUZUKI PIANO TEACHER TRAINING COURSE LEVEL 1

Learn to teach piano using the Suzuki Method. Experience the benefits of teaching closely with parents and colleagues using the positive strategies 
and steps of this world famous method.

March 28- April 1, 2012
Community Music Center Lippo Village, Karawaci
Time: 9-5:00 Daily (Total 40 hours training)
Suzuki Piano Trainer: Prof. Carmencita G. Arambulo


This course is for experienced pianists and piano teachers who are interested in the Suzuki Method.  Prof. Arambulo is internationally known as a pianist and a leader in Suzuki piano teacher training methods.  She is the President of the Suzuki Association of the Philippines. 

How to Join:
  1. Participants need to be a Grade 8 ABRSM level or the equivalent.  Please prepare Mozart Sonata Mozart's Sonata in A major, K. 331 1st movement - for a performance audition the first day of the training course.  This need not be memorized however all participants should memorize and polish one piece of choice to perform for the class during the training 
  2. Course Materials to be purchased and prepared before Training:  Mozart Sonata in A major K.331 1st movement, read "Nurtured by Love"  by Shinichi Suzuki, memorize Suzuki Book 1 songs/ listen to CD (new International Edition), and begin to learn Book 2 songs/ listen to CD (new International Edition) 
  3. COST of TRAINING to be paid by bank transfer 
    (Suzuki Music Association of Indonesia account numbers on membership form)

    1. MEMBERSHIP Rp. 350,000 annually is required for all Indonesian citizens/ residents to take the training course.

    2. Rp. 4,500,000. 
    (Includes registration, tuition for 40 hours coursework, lunch, and coffee break, certificate of participation). 

    3. A Rp. 1,000,000. Scholarship is given to all applicants who are SMAI members. 
    ASA members (not residents of Indonesia) pay Rp. 4,500,000.

    4. Course materials (Suzuki Piano Vol. 1+ CD, Nurtured by Love, copy of Mozart Sonata) Rp. 365,000 

    5. Downpayment Rp. 1,000,000 

    6. Remaining tuition due March 28, 2012 Rp. 2,500,000

    DUE January 1:  
    Rp. 350,000 (SMAI Membership) + Rp. 365,000 (Materials) + Rp. 1,000,000 (Downpayment Tuition) = TOTAL= Rp. 1, 715,000

    SMAI (Suzuki Music Association of Indonesia)
    BCA Kemang 1 Account 286- 3017564
    Message: Piano TT DP + Name of Participant
Maximum participants is 15 and the priority will be given to first registrants (Rp. 1,750,000 paid). SMAI also reserves the right to cancel the training if the minimum of 8 participants is not reached.

Please return your proof of payment, SMAI membership form by email/attachment, including your mailing address for the materials.

Please briefly outline your piano performance and teaching experience by reply to this email. 

--
Suzuki Music Association of Indonesia (SMAI)                                                              Puri Matari 3rd floor, Jl HR Rasuna Said Kav H1-2; Jakarta 12920
Phone: 021- 3766- 8808 and 021- 525 2636    
Fax: 021-525-1223

VISION: The Suzuki Music Association of Indonesia seeks to advance the future generations of Indonesia through Suzuki Education.  We aim to develop citizens of character through the learning of classical music.

Tuesday, November 1, 2011

PELANGI TITIAN JEMARI EMAS

PELANGI TITIAN JEMARI EMAS
by: Michael Gunadi Widjaya
 



Pelangi senantiasa memberi nuansa berbeda setelah hujan. Untuk sebagian orang, pelangi dapat menorehkan berbagai kisaran makna. Untuk sebagian orang lainnya, pelangi hanyalah sebuah fenomena alam biasa. Apapun persepsinya, pelangi telah memberi kontribusi nyata, setidaknya turut memberi nuansa pada kehidupan itu sendiri. Setelah mendung, hujan, tersemburat warna pelangi. 


Menjadi sebuah sorotan yang agak berbeda manakala kita mencoba mengais makna fenomena pelangi ke blantika seni musik. Iklim seni musik di Indonesia sempat mengalami mendung. Akibat kurikulum pendidikannya yang masih carut marut. Juga mengalami hujan yang meskipun sedikit sejuk namun juga menyisakan dingin basah yang kurang nyaman, akibat sebagian guru musik masih berparadigma kolot dan terbuai oleh kemapanan semu. Saat sekarang, iklim pendidikan musik di Indonesia telah mulai menuai semburat warna pelangi. Dengan hadirnya sosok MUSIC EDUCATOR. Tentu kita tak bisa membuat generalisasi bahwa seorang music educator adalah “dewa” dalam setiap hal dalam pendidikan musik. Namun yang utama, music educator ini adalah pelangi. Menyemburatkan warna, nuansa dan asa baru bagi pendidikan musik di Indonesia untuk masa mendatang.



Profesi music educator masih terbilang langka di Indonesia. Salah satunya adalah sosok seorang JELIA MEGAWATI HERU. Alumnus Jerman dengan spesialisasi pendidikan musik (music education) dengan major piano. Karir musiknya dapat dikatakan cemerlang. Di usia 24 tahun telah menjadi Dekan pada sebuah Institut Musik di Tanah Air. Menjadi  menarik saat menelisik konsep pemikiran dan apa yang telah dilakukan Jelia dalam kesekitaran  perkembangan pendidikan piano di tanah air.

Sejarah mencatat bahwa peradaban manusia ditandai oleh beberapa tonggak penting. Tak terkecuali dalam pendidikan musik khususnya musik piano. Orang mengenal Haydn sebagai guru yang sangat ke-bapa-an dan amat sangat menjaga perasaan hati muridnya. Orang juga mengenal Carl Czerny yang berhasil mencetak seorang Franz Liszt menjadi maha pianis dengan cara dua tahun penuh hanya memainkan latihan finger dexterity. Juga academia di Rusia yang secara militant dan Spartan menggembleng para musisi muda. Juga Franz Liszt yang obral ilmu. Leila Fletcher, dan juga pasangan Nancy dan Randall Faber yang mencoba mengedepankan konsep yang “ modern”.


Seorang Jelia bukanlah jiplakan dari mentor dan anchestornya. Jelia memiliki originalitasnya sendiri. Memiliki konsep pemikirannya sendiri dan dipadukan dengan profesionalismenya yang siap dan mumpuni. Jejak langkahnya dapat ditelisik di blog pribadinya http://www.jeliaedu.blogspot.com, dan juga kanal youtube-nya. Di dua situs itu nampak jelas konsep pemikiran edukatif seorang Jelia. Untuk metodologi misalnya. Seorang Jelia berpendapat bahwa tiap individu memiliki kesulitannya tersendiri. Maka untuk tiap siswanya, Jelia senantiasa mengetrapkan metodologi yang khas berdasarkan status personal siswanya. Penerapan metodologi ini disertai dengan encouragement dan inspiration yang dilakukan secara professional dan pas. Hal tersebut dapat diamati dengan jelas pada video tampilan siswanya, yang kesemuanya merasakan musik sebagai sebuah nilai bagi kehidupan, bukan sekedar barang hiburan.


 



 

Slideshow Jelia's Profile "Music from Passion"
by: Mr Denny Turner


Menelisik jejak langkah seorang Jelia Megawati Heru membawa kita pada relung pemikiran yang berbeda. Di Blog pribadinya, Jelia acapkali memuat tulisan pencerahan di seputar pendidikan musik. Dan tentu dengan telaah dan bahasa yang relative mudah dicerna. Konser bagi siswa pun diadakan dalam nuansa edukasi yang kental. Adegan teatrikal di panggung, kostum dan juga pemilihan repertoire. Seperti misalnya karya Leroy Anderson "The Typewriter" tentang mesin ketik dan piano.

Leroy Anderson "The Typewriter"
Typewriter: Aldhi Mahardika
Piano: Jelia Megawati Heru

Randall Compton "CS Theme & Variation"

"Scarlet Cape"

Setidaknya Jelia mengupayakan bahwa musik serius bukan hanya pengisi bathin sebagai santapan jiwa, namun tetap ada unsur pencerahan yang dapat sangat menghibur dan menginspirasi.




Di bulan November ini, Jelia akan menggelar konser ensemble piano. Melibatkan bukan saja siswanya melainkan juga para guru yang masih muda-muda. Konser ini bertajuk "THE GOLDEN FINGERS PIANO ENSEMBLES". Untuk event ini, Jelia membuat satu blog tersendiri dan mendokumentasikan hampir semua kegiatan yang berkenaan dengan piano ensembles tersebut: http://www.piano-ensembles.blogspot.com Yang menarik adalah, sepertinya ini adalah sebuah upaya untuk menjadikan piano ensembles bukan sekedar permainan musik bersama. Namun sebuah sublimasi nyata komunikasi dalam kehidupan para pelakunya. Menghidupkan musik dan memusikkan kehidupan.



Tentu untuk ke depan masih banyak tantangan dan juga hambatan sekaligus peluang bagi music educator seperti Jelia. Namun, sosok dan pemikiran serta kreatifitasnya dalam menjadikan musik sebagai wahana yang mengedukasi banyak orang, dapatlah dikatakan sang pelangi telah menarikan tariannya untuk menghasilkan the golden fingers yang tak kan pernah pudar...

Tuesday, October 11, 2011

PIANO ENSEMBLE "GOLDEN FINGERS"

PIANO ENSEMBLE "GOLDEN FINGERS"



ABOUT PIANO ENSEMBLE
“I paint alone - MY picture, MY interpretation of the sky. MY poem, MY novel.
But in music - ensemble music, not soloism - WE share.
No altruism this, for we receive tenfold what we give”

Piano Ensemble merupakan permainan musik piano dengan menampilakan performer lebih dari satu orang dengan format yang sangat bervariasi mulai dari satu piano/empat tangan, satu piano/enam tangan, dua piano sampai dua piano/delapan tangan.

Piano ensemble memberikan wadah dan kesempatan bagi semua pianis dari anak-anak sampai orang orang dewasa sekalipun yang ingin merasakan pengalaman bermain musik di dalam suatu grup – seperti di dalam orkestra, band, atau jazz combo.

Setiap pemain mempunyai andil dalam memberikan kontribusi untuk menciptakan musik. Disini terletak keunikan bermain dalam sebuah piano ensemble, yaitu: unsur sosial/interaksi yang sangat tinggi dengan pemain yang lain, bahkan juga dengan penonton.

Event piano ensemble ini akan memberikan kesempatan untuk bermain piano di semua kemungkinan konfigurasi yang tidak bisa terbayangkan sebelumnya, dimana permainan piano klasik yang sebelumnya identik dengan “monoton”, “tidak bisa dimengerti”, “boring” akan menjadi sangat interaktif, kreatif, humoris, menarik, menyegarkan, energetik, dan sangat memberikan inspirasi bagi pendengar “awam” sekalipun.


Konser ini terbagi menjadi dua sesi:

1. Sesi yang pertama merupakan kombinasi permainan 1 piano/4 hands, 1 piano/6 hands, 2 pianos/8 hands untuk kategori anak-anak usia 6 tahun hingga remaja 16 tahun. (Level: Beginner & Intermediate)

2. Sesi yang kedua merupakan kombinasi permainan 1 piano/4 hands, 1 piano/6 hands, 2 pianos dan 2 pianos/8 hands untuk kategori dewasa (Level: Late Intermediate & Advanced).*

*Sesi yang kedua ini merupakan project independen Ms. Jelia Megawati Heru dalam melatih guru-guru piano untuk saling berkolaborasi dan belajar bersama dalam sebuah piano ensembles. Tujuan nya salah satunya adalah menerapkan iklim belajar, hubungan yang positif diantara sesama guru. Guru-guru piano ini datang dari berbagai sekolah musik, saling belajar, sharing, dan berkembang. Guru-guru ini dilatih oleh Ms. Jelia sendiri secara cuma-cuma (for free), mereka boleh membawa pieces yang diinginkan untuk dilatih, atau repertoire yang dipilihkan dan disediakan untuk mereka. Mereka bebas untuk bertanya apa saja dan saling belajar satu dengan yang lainnya. Dalam project ke depannya, guru-guru ini akan konser bersama secara rutin dalam karya-karya format piano ensembles yang ada. Info tentang seputar piano ensembles, manfaatnya, tips berlatih, pieces, testimony bisa dilihat pada: http://piano-ensembles.blogspot.com/

P R O G R A M
1st SESSION

1. Ruth Ellinger “Baloon Pop Polka” (for 2 pianos, 8 hands)

2. Martha Mier “Agent 003”: moderato (for 1 piano, 6 hands)

3. Robert D. Vandall “Triple Dip” (for 1 piano, 6 hands)

4. Melody Bober "Play It in Peoria" (for 1 piano, 4 hands)

5. Arr. David Carr Glover – “Chopstick, Here and There”:
Traditional (moderately) – Russia (slowly) – France (moderately) – U.S. of A (moving along) (for 1 piano, 4 hands)

6. Randall Compton (1954*) “CS Theme and Variation” : Lento a capriccio – Presto (for 1 piano, 4 hands)

7. Leroy Anderson "The Typewriter" (for 1 piano, 4 hands)

8. Kevin R. Olson “Perpetual Commotion” (for 2 pianos, 8 hands): with nonstop energy

9. William Gillock “Champagne Toccata” (for 2 pianos, 8 hands): Allegro

10. Jazz for Three by Robert D. Vandall. For piano six-hands. Piano Trio (1 Piano, 6 Hands)

 
2nd SESSION

1. Eduard Holst - “Diana Grand Valse de Concert”: Andante, Valse con fuoco (for 2 pianos, 8 hands)

2. Robert D. Vandall “Jubilation! Toccata” (for 1 piano four-hands)

3. Arthur Benjamin "Jamaican Rhumba" (for 1 piano, 4 hands)

4. Darius Milhaud (1892-1974) “Scaramouche Suite for two Pianos” , 3rd Movement – Brazileira, Mov. de Samba

5. PI. Tschaikovsky - “Sleeping Beauty Waltz” op. 66, No. 6 9 (for 2 pianos, 8 hands)

6. Eugene Rocherolle “Jambalaya” (for 2 pianos, 8 hands)

7. Astor Piazzolla (1921-1992) “Libertango” (for two pianos): Allegro giusto

8. Mack Wilberg - “Fantasy on theme from Bizet’s CARMEN” (for 2 pianos, 8 hands)

9. Kevin Olson "A Scott Joplin Rag Rhapsody" (for 2 pianos, 8 hands)


Featuring...
Michael Mamo, Angel Yoeshwono, Lara Yavuzdogan, Agaputra Oepangat, Dioputra Oepangat, Madeline Audrey Wiguna, Aprilia, Dirayati Turner, Mustafa Turner, Patrisia Trisnawati, Clarissa, Amanda Purnama Suci, Christine Paulina, Angelica Liviana, Talitha Theodora and Keniawaty.

Ticket (RSVP): VIP Rp 100.000,- Regular Rp 50.000,-

More Information: 021 - 32824999 or 0818 - 918520

Website: http://piano-ensembles.blogspot.com/

Twitter: @trisiakeren or @jeliaedu
 

Friday, October 7, 2011

SEJENAK MENELISIK PELAJARAN GITAR KLASIK

Dear music lovers, salam musikal! 
Here is some great article from Michael Gunadi Widjaja about classical guitar lesson! 
Read and learn! Hope could inspire you all! Enjoy!
 
SEJENAK MENELISIK PELAJARAN GITAR KLASIK

By Michael Gunadi Widjaja


Andres Segovia, sang legenda gitar klasik berujar demikian: “Gitar adalah alat musik yang unik. Bisa dimainkan sambil bersahaja, bisa juga didalami sampai ke tingkat master“. Sebutan gitar “klasik” sendiri, berlaku bagi gitar akustik yang berdawai nylon. Jadi apapun jenis musik yang dimainkan,sejauh dipergunakan gitar akustik berdawai nylon, orang akan rame-rame mengatakan bahwa yang sedang diperdengarkan adalah gitar klasik.

Sejarah gitar klasik itu sendiri tidaklah setenar dan se-glamour piano ataupun biolin. Lama orang menganggap bahwa gitar klasik tak ubahnya piranti pengiring belaka. Terutama di kedai minum.”Pendekar gitar klasik seperti Fernando Sor, Ferdinando Carulli saat itu sudah banyak membuat repertoire gitar klasik dengan virtuositas tinggi. Namun pamor gitar klasik tetap kalah dengan piano dan biolin. Pamor gitar klasik mulai terangkat oleh jasa Andres Segovia. Dengan kemampuan dan keberanian luar biasa, Segovia tampil membawakan transkripsi Chaconne - J.S. Bach untuk biolin, yang dia transkripsikan untuk gitar. Awalnya banyak orang mencemooh, mengejek dan menyangsikan bagaimana mungkin gitar yang kampungan dapat merajut komposisi biolin yang halus. Andres Segovia menjungkir balikkan semua cemoohan tersebut.

Keberhasilan Andres Segovia,tak terlepas dari andil sang guru. Francisco Tarrega - seorang guru dan master yang sangat pendiam dan sama sekali tak narsis. Tarrega lah yang meletakkan sendi utama gitar klasik. Posisi memegang gitar dengan menggunakan tatakan kaki atau footstool. Teknik mano isquierda solo atau bermain dengan tumpuan jari tangan kiri saja tanpa dipetik.Etude-etude singkat dan efektif bagi finger dexterity. Pendek kata, dunia gitar klasik “berhutang budi” pada Tarrega. Dasar sendi yang diletakkan Tarrega lah yang mempengaruhi pelajaran gitar di jaman kita sekarang ini.

Berbeda dengan piano, anak kecil,anak-anak tak lazim belajar gitar. Memang ada gitar berukuran kecil untuk anak-anak,namun hambatan anatomi jari merupakan faktual yang cukup menyulitkan dan merepotkan. Ambil rata-rata,gitar klasik paling lazim diajarkan pada usia mulai 10 tahun.

Jika kita atau anak kita ingin belajar gitar,langkah pertama adalah langsung membeli gitarnya. Berbeda dengan piano yang bisa dibeli setelah 2 atau 3 bulan pelajaran. Gitar mutlak ada sejak pertama menginjakkan kaki di ruang belajar. Karena belajar gitar sejak pertama kali sudah menemukan sebuah “tantangan” fisik berupa adaptasi penyesuaian anatomi jari. Untuk memilih gitar pertama anda,sebaiknya serahkan pada intruktur anda untuk memilihkannya. Memang banyak ditulis tips memilih gitar,namun dalam prakteknya, memilih gitar sulitnya minta ampun. Bagai memilih pasangan hidup..hehehehe.


Setelah kita membeli “my first guitar”,kita perlu tahu,apa yang akan kita dapat selama belajar gitar. Dengan kata lain,saatnyalah kita menelisik metode pelajaran gitar klasik. 

Saya lebih suka membagi jenis metode pelajaran gitar klasik sebagai berikut :

ANCIENT METHOD

Yang paling terkenal adalah metode dari Mateo Carcassi, Fernando Sor, Ferdinando Carulli. Ada pula Dionisio Aguado.

Mateo Carcassi memulai pelajaran gitar dengan manipulasi ibu jari tangan kanan (bagi yg non left handed tentu saja). Dimulai dengan dawai besar terlebih dahulu. Metode Carcassi bagus sebagai landasan awal. Kelemahannya adalah membosankan.dan Metode Carcassi tak berkesinambungan. Hanya sampai intermediate.

Sor, Carulli, Aguado, metodenya mirip-mirip. Dimulai dari scale (nada yang bertangga..ooopss…tangga nada). Kemudian arpeggio pada posisi p (pulgar/ibu jari) untuk dawai 4,5,6.i (indice/telunjuk) dawai 3.m (medio/jari tengah) dawai 2 dan a (anular/jari manis) pada dawai 1 paling bawah. Pola arpeggio menggunakan progresi chord mayor dan minor dari tangga nada yang bersangkutan dengan tingkat teknis I, IV, V. Baru kemudian diperkenalkan etuda-etuda sederhana. Meningkat pada eksplorasi finger dexterity. Metode ini berkesinambungan sampai tingkat master. Hanya saja, agak njlimet untuk dipelajari dan menuntut detail serta ketekunan extra.


MODERN METHOD

Banyak sekali macamnya.Saya hanya ingin memperkenalkan tiga saja.

Metode Eythor Thorlaksson. Mirip dengan ancient method. Hanya saja, untuk menghindari kebosanan, pengenalan nada sudah dirangkai menjadi lagu. Meskipun lagunya, karena keterbatasan ruang demi tuntutan metodik, menjadi sangat tidak familiar.


Yamaha Classical Guitar Method. Bagi saya, ini yang paling pas untuk orang Asia, termasuk Indonesia.Yamaha memulai metode gitar klasiknya dengan sebuah fundamental. Yakni sebuah buku yang berisi mixed, klasik, pop dan flamenco.Ini penting. Karena, terutama di Indonesia, gitar sangat berbeda perlakuannya dengan piano misalnya. Saat lingkungannya tahu bahwa si A kursus gitar, pastilah si A di daulat untuk “menggitari” lagu pop atau dangdut. Siswa piano jelas tak akan pernah mengalami begini. Jika siswa mempelajari metode ancient ataupun Eropa, tentulah dia takkan sanggup memenuhi “tuntutan” lingkungannya. Karena si siswa tak diajari konsep chord dan cara mengiringi pop atau dangdut. Yamaha sadar betul akan hal ini.

Metode buatan Indonesia

Yang menurut saya layak dikedepankan adalah metode dari Iwan Irawan dan Iqbal Thahir.

Iwan Irawan sebetulnya melakukan “perombakan” pada metode Yamaha. Urutan lagu pada buku Yamaha diubah agar lebih pas dengan kemampuan belajar siswa Indonesia. Ada tambahan repertoire dari kumpulan dalam buku John Mills, gitaris Inggris. Sedangkan Iqbal Thahir membuka peluang bagi tiap individu untuk bertarung memecahkan kesulitan teknisnya. Bagi Iqbal, kesulitan teknis adalah khas bagi tiap individu. Metode Iqbal Thahir lebih menjanjikan hasil yang “baik”. Mengingat konsepnya yang sangat terbuka bagi pengembangan individual.yang adalah hal esensial bagi pengejawantahan seni.

Hal yang perlu dikemukakan adalah: metode apapun yang nantinya dipakai, JANGAN BERHARAP kita bisa main greatest hits musik klasik. Jangan berharap dengan selesai metode dalam tingkat tertentu kita bisa main Fuer Elise atau Maiden's Prayer on guitar. Why? Because….guitar it’s a guitar and let it still be the guitar.

Saturday, September 17, 2011

Free Presentation/Workshop on the Suzuki Method

FREE Presentation/ Workshop on the Suzuki Method

 
Date:  Saturday Oct. 9, 2010

Time: 10:30 Registration/ Observe Group Lesson
          11:00 Presentation
          12:00 Refreshment/ Discussion
          12:30 Finished

Location: 
Suzuki Music Center in Sekolah Pelita Harapan- Kemang Village Room 202
Jl. Pangeran Antasari No. 36, Jakarta Selatan 12730
 
Contact for More Information: 
Ibu Yanty 021-943-335-14 (Bahasa Indonesia), Ibu Frida (English) 0817153627

This presentation will provide an overview of the Suzuki philosophy and method and will give information on teacher training and lessons in the Suzuki Method in Indonesia.

This presentation is of special interest to all music teachers and highly recommended for piano teachers interested in  Suzuki Piano Teacher Training Level 1 with Professor Arambulo Carmencita Nov. 26-30.




--

Suzuki Music Association of Indonesia (SMAI)                                                                                                                                  

Head Office: Sekolah Pelita Harapan - Kemang Village 

Jl. Pangeran Antasari No. 36 Room 202,  Jakarta Selatan 12730

Phone: 021- 943-335-14    



Email:



Website:



VISION: The Suzuki Music Association of Indonesia seeks to advance the future generations of Indonesia through Suzuki Education.

Thursday, September 8, 2011

Sunday, September 4, 2011

Training/Courses at SMAI (Suzuki Music Association of Indonesia)

INFORMATION ABOUT SMAI

Suzuki Music Association of Indonesia's Mission is to advance the future generations of Indonesia through Suzuki Education and develop citizens of character through the learning of classical music.

 
MEMBERSHIP

The SMAI provides programs and benefits to members throughout Indonesia. With the International Suzuki Association (ISA) Asian Suzuki Association (ASA), the SMAI promotes and supports the spread of Dr. Suzuki’s teachings and philosophy.

Membership Levels


Active Members: Individual Rp. 350,000/ year


Any student/ individual shall be eligible for Individual membership if enrolled for tuition with a teacher member or shows interest in furthering the purposes and objectives of SMAI.

Active Members: Family Rp. 500,000/ year


A family shall be eligible for Family Membership when at least one child is enrolled for tuition with a teacher member.

Active Members: Teachers Rp. 350,000/ year


SMAI Teacher members are those who are pursuing to beaccredited as a Suzuki Teacher and have the appropriate qualifications and background.

Benefits of Membership


Teacher Development Program


Short Courses, Workshops, Guest Teachers, Mentoring and Support for Teacher Members

Registry Program


Register of Teachers and Members that allows for Suzuki Association members to network anywhere in Indonesia

Workshops, Conferences and Gatherings

Members only program of events

Scholarship Program


Subsidies for teacher training and students based on need and merit

Organizational Support


Support for teacher training and advice for developing Suzuki programs in schools and studios

SMAI Journal


Email updates of events, opportunities and articles on parent education.

Graduations


Graduations can be a great source of anticipation, motivation and inspiration for parents and students when well prepared. All qualifying students are given the opportunity to join a Graduation Concert to be held at least once a year. Instrument committees organize these concerts with the assistance of parent committees. Students need to audition by presenting pieces from the book they wish to ‘graduate’ from in an audition video (preferred) or a recording submitted to the SMAI Head Office. The lead teacher of instrument being studied will assess the recording with a minimum of one other member teacher from the instrument committee and decide on the readiness of the student to participate in an upcoming Graduation Concert. Successful ‘graduates’ will receive a certificate from SMAI and their graduation will be registered in their membership file.

Join or Renew TODAY!


To join the SMAI or to renew your membership download the SMAI Membership Form to mail or fax or scan/ email in with a copy of the bank transfer slip. Membership is not considered complete until a copy of the bank transfer slip is received. Annual membership renewal notices will be issued based on the date of transfer/ payment of fees.

Advantages of being a Suzuki Teacher


Once a music teacher really understands and experiences the philosophy of the Suzuki Method there is no turning back! Some of the rewards of being a Suzuki Teacher include:

  1. Being a member of the worldwide Suzuki community of fellow teachers and learners
  2. Professional Development opportunities
  3. Life long learning in music
  4. Registration and promotion of your studio on the SMAI website
  5. Secured income as a certified and qualified Suzuki teacher
  6. Opportunities for performance, taking part in regional, international conferences and workshop

Suzuki Teacher Training in Indonesia


Teacher training courses provide the following content: (page 3 of publication: ASA Teacher Training and Assessment Guide)

  • Intensive Study of Suzuki philosophy
  • Intensive individual study of the instrument, focusing on the technique, tone production and sound needed to teach young children. Candidates should have the ability to play competently outside the repertoire.
  • Step-by-step mastery of teaching points in the repertoire and of the psychology of teaching.
  • Structure of individual and group lessons.
  • Observation of group and individual lessons given by recognized Suzuki teachers.
  • Supervised teaching of children.
  • Lectures and discussions on child development, with particular regard to the parent/child relationship.
  • Solo performance
  • Discussions

Five day Short Courses by Asia Suzuki Association


Approved ASA training programs will be offered twice a year for violin, cello and piano as long as there are sufficient trainees. ONE book is one 5 day course.  The Book violin course will be offered at the Suzuki Institute (June) only and has additional hours of lecture and observation. 


Requirements:

    1. Candidates must audition as required by ASA Trainer
    2. Minimum 15 hours of lecture and 8 hours of observation (Book 1= 23 hours lecture and 15 hours of observation)
    3. Additional hours of observation recommended
    4. Trainees may not miss any hours of lecture or observation
    5. An essay assignment will be required for each level. This essay may be in Bahasa Indonesia.
    6. Teachers who successfully pass the ASA examination for a short course will have their coursework registered with SMAI and the completed course will be on the SMAI teacher register page of the website.

Audition Requirements to participate in ASA Training Book 1 Level:

Violin
Book 2: Handel, Chorus from Judas Maccabaeus
Book 3: Dvorak, Humoresque
Book 4: Vivaldi Concerto in A minor either 1st or 3rd movement

Cello
Book 6: Breval Sonata in C major, 1st movement

Piano
Book 7: Mozart's Sonata in A major, K. 331 1st movement


On completion of a course ASA trainers will consult with the trainees individually and assess trainee’s performance of the book being studied.  A certificate will be issued after all aspects of the course have been completed. 

2011-12 Five Day Training Course Dates:

Nov 25-29           Piano Teacher Training Level 3 at SMAI Kemang
Feb 2012             Feb 8-15 Violin & Cello Teacher Training at SPH/ISI Jogya
March 28-April 1   Piano Teacher Training Level 1 at SMAI Kemang
June 17-22          Violin & Cello Teacher at SPH
June 18-22          Suzuki Student Camp at SPH

Key points of Suzuki Method in Christmas Tree


SUZUKI METHOD

  Love
Praise
Repetition
Small Steps
Group Contact
Ear before Eye
Early Beginnings
Delayed Reading
Everyone has Ability
One Lesson - One Point
Success builds on 'Success'
Learning through Listening
Desire for Learning Created
Children absorb or 'catch' Music
'Mother Tongue' Approach to Learning
Environment created for successful Learning
THEY LEARN WITH LOVE