TREND UJIAN PIANO
Bagi banyak orang, belajar piano hampir identik dengan 'mengikuti ujian piano', sebuah ritual yang sudah mengakar, dan merupakan tolok ukur yang digunakan guru, siswa, dan orang tua untuk merencanakan dan menetapkan target, menentukan isi pelajaran, memilih repertoar, dan mengevaluasi kemajuan.
Kualifikasi ‘amatir’ ujian piano ini memiliki dampak yang sangat besar pada kualitas pendidikan piano. Dengan perubahan signifikan pada silabus ujian piano yang baru dalam beberapa tahun terakhir, wajar jika orang tua dan guru sangat tertarik. Namun di sisi lain, orang tua seringkali tampak bingung mengapa ujian piano sekarang telah banyak berubah, dan ekspektasi saat ini tampaknya jauh lebih rendah daripada 'dulu'.
Mereka bertanya-tanya apakah ujian piano ini masih menawarkan tolok ukur yang andal dan bermakna? Musisi dari negara-negara lain yang merasa ujian piano ini kurang penting mengamati dengan agak bingung oleh obsesi khas Inggris ini. Bagi mereka ini hanya gimmick dan trik dagang saja. Banyak pertanyaan muncul: Apakah ujian ini bermanfaat atau ini hanya merupakan jebakan batman saja? Lalu kenapa orang berbondong-bondong ikut ujian piano ini?
Apakah persiapan ujian piano benar-benar bisa memotivasi siswa? Apakah silabus piano bisa menawarkan pendekatan yang menyeluruh dan terstruktur? Apakah standar menurun karena konten yang lebih mudah? Apakah kualifikasi profesional kita yang ditempuh lewat jalur universitas masih dihormati dan memiliki nilai?
APAKAH UJIAN PIANO BISA MENUMBUHKAN MOTIVASI?
Apakah ujian tersebut penting bagi progres musik anak, atau malah mengalihkan perhatian dari tujuan yang lebih penting? Apakah ujian tersebut merupakan penanda kesuksesan, atau justru membuat beberapa siswa enggan memainkan alat musik sama sekali?
Sebagian besar guru akan menyadari bahwa bagi sebagian siswa, mengikuti ujian tingkatan tampaknya mendorong mereka untuk maju, sementara bagi yang lain, ujian tersebut bisa menjadi hal yang negatif. Ada pro dan kontra disini yang bisa dieksplorasi dari berbagai sudut pandang dan perspektif. Kompleks, yes?!
Walau banyak orang tua yang “exam-minded” atau “exam-orientied”, nyatanya ada banyak siswa yang meskipun sudah mengikuti kurikulum dan materi berjenjang yang memilih untuk TIDAK mengikuti ujian. Saya berharap artikel ini akan membantu pembaca untuk memutuskan jalur mana yang akan ditempuh sesuai dengan kebutuhan dan tujuan individu anak, baik memilih untuk mengikuti ujian piano atau tidak.
SISI POSITIF UJIAN PIANO
Di sisi yang satu: ya, ujian dapat memotivasi. Ujian piano bisa memberikan tujuan yang jelas dan spesifik. Tujuan dapat membantu siswa dalam mengukur progres mereka dari waktu ke waktu. Tenggat waktu (deadline) dapat menumbuhkan rasa disiplin, urgensi, dan fokus untuk berlatih.
Ketika orang tua meminta anak untuk mengikuti ujian piano, mereka percaya dan berharap ujian piano ini akan memotivasi anak mereka untuk berlatih dan membuat kemajuan yang lebih baik. Mereka ingin melihat DISIPLIN diri anak mereka berkembang. Dengan asumsi ujian berjalan dengan baik dan SUKSES, motivasi yang diperoleh dapat bertahan lama. Hasil yang sukses meningkatkan KEPERCAYAAN DIRI, dan memberikan rasa pencapaian yang signifikan, tonggak nyata yang dapat dirayakan, memperkuat perasaan positif terhadap pembelajaran musik.
KUALIFIKASI FORMAL dapat memberikan validitas pada tingkat keterampilan seorang pelajar di mata mereka sendiri, dan meningkatkan dukungan, serta minat dalam pengembangan musik mereka yang mereka terima dari orang lain. Keluarga dan teman mungkin tidak memiliki pengetahuan musik, tetapi kita semua memahami bahwa mendapatkan sertifikat adalah alasan untuk memberikan semangat.
Umpan balik dari penguji sangat bermanfaat untuk menyoroti kekuatan dan area yang perlu dikembangkan. Bahkan ketika hasilnya tidak sebaik yang diharapkan, kita dapat menghargai upaya yang telah dilakukan untuk mendapatkan satu nilai, dan terus maju menuju nilai berikutnya. Umpan balik yang bermanfaat dapat memotivasi pelajar untuk berjuang mencapai keunggulan, melampaui hasil 'terbaik pribadi' versi mereka.
Bagi mereka yang mengikuti ujian langsung di sekolah atau pusat, ada motivasi tambahan berupa jadwal ujian piano yang harus dipenuhi, yang diharapkan akan memberikan suasana yang ‘istimewa’. Selain itu, ujian langsung menawarkan kesempatan untuk mengatasi kecemasan yang terkait dengan bermain di depan orang lain, dan mengembangkan kepercayaan diri serta keterampilan pertunjukan dunia nyata yang dibutuhkan saat bermain di hadapan penonton. Dengan mempertimbangkan semua manfaat ini, kita dapat dengan mudah menyimpulkan bahwa ujian piano adalah pengalaman positif yang berlaku untuk semua orang, dan bertanya-tanya mengapa ada orang yang bahkan berpendapat sebaliknya.
SISI NEGATIF UJIAN PIANO
Tetapi bahaya mengintai. Tidak jarang, saya bertemu dengan orang dewasa yang kembali belajar musik setelah masa kecil mereka yang membenci ujian piano sehingga mereka berhenti les. Terlepas dari keuntungannya, ternyata ada banyak cara di mana "mengikuti ujian piano" sebenarnya dapat menurunkan motivasi atau mengecilkan hati siswa. Kita perlu memahami hal ini jika kita ingin mengembangkan sudut pandang yang lebih akurat dan jujur.
Kenapa hal ini bisa terjadi? Pertama, hanya fokus pada persiapan ujian dapat membatasi eksplorasi musik seseorang, menghambat ekspresi pribadi, dan membuat bermain instrumen terasa seperti tugas daripada gairah (passion). Jika silabus tidak sesuai dengan minat pribadi seseorang, hal ini pasti akan menyebabkan frustrasi daripada kenikmatan. Mereka akan merasa tertekan untuk memenuhi harapan yang tidak mencerminkan antusiasme, aspirasi, atau nilai-nilai kreatif musik mereka. Misalnya murid tidak suka Musik Klasik, tetapi dipaksa memainkan karya Bach atau Mozart.
Dengan pertaruhan yang begitu tinggi, ujian juga dapat menyebabkan kecemasan yang signifikan, dan rasa frustrasi dalam bermain musik, terutama jika murid harus menelan pil pahit. Tidak semua siswa bisa menerima kenyataan yang mengecewakan, bahwa mereka tidak lulus ujian atau tidak menang kompetisi piano. Hal ini bisa membuat mereka merasa minder, kecil hati, merasa bodoh, dan berhenti belajar piano.
Tidak semua orang dapat memproses umpan balik yang kritis dari examiner atau juri. Komentar negatif dapat secara signifikan melemahkan motivasi kita untuk melanjutkan aktivitas apapun. Jika kritik yang ditulis secara konstruktif tidak cukup diimbangi dengan penguatan positif, dapat melemahkan kepercayaan diri dan antusiasme. BALANCE adalah KOENTJI.
Kita juga harus menyadari bahwa, meskipun sebagian orang mungkin tampak termotivasi oleh aspek kompetitif dari mengikuti ujian piano, hal itu dapat dengan cepat mengakibatkan persaingan yang tidak sehat. Fokus pada nilai dapat mendorong siswa untuk memprioritaskan hasil, peringkat, dan sertifikat mereka daripada keterlibatan musik yang sesungguhnya. Pengejaran nilai yang terus-menerus dan kejar tayang dapat menyebabkan kebosanan, stres, dan kelelahan bagi sebagian orang, yang menyebabkan mereka kehilangan minat pada musik sama sekali.
Saat kita mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan negatif ini, menjadi lebih jelas bahwa meskipun ujian dapat memiliki peran yang sangat positif dalam perjalanan belajar kita, keputusan dalam mengikuti ujian piano harus dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan kebutuhan setiap individu, daripada dipaksakan sebagai harapan standar semu bagi anak yang sedang belajar piano. Karena sayangnya semua hal itu tidak bisa digeneralisasi dan dipukul sama rata.
MOTIVASI INTRINSIK & EKSTRINSIK
Ada perbedaan yang mendasar antara motivasi ekstrinsik yang berbasis penghargaan dan intrinsik yang berasal dari dalam diri seseorang. Ini adalah konsep penting, karena tujuan sebagian besar orang tua dan guru adalah membantu anak mengembangkan kecintaannya terhadap musik dan bermain piano untuk jangka waktu yang lama.
Ujian piano dapat menjadi motivator ekstrinsik, yang dipicu oleh penghargaan. Motivator ekstrinsik lainnya termasuk penghargaan dari guru dan orang tua, acara pertunjukan, penilaian atau komen yang positif. Tidak ada yang meragukan bahwa semua ini memiliki tempat yang penting, atau bahwa mereka dapat menjadi yang positif yang menyalakan api motivasi intrinsik. Tetapi kehati-hatian diperlukan. Sekali anak gagal, bisa menjadi bumerang dan membuatnya berhenti bermain piano.
Motivasi ekstrinsik yang diberikan oleh ujian piano harus digunakan secara hemat, dan jangan sampai menjadi fokus utama kita. Kita perlu memberi siswa alasan positif untuk mempelajari sesuatu, dengan manfaat intrinsik bagi mereka. Dengan begitu mereka kemudian akan jauh lebih termotivasi daripada “hanya untuk ujian”.
Jadi apakah ujian piano itu memotivasi? Tergantung. Bisa ya dan tidak. Setelah membaca topik diatas, ada alasan baik dan buruk mengikuti ujian piano. Setelah mengetahui baik buruknya secara lebih mendalam, ada baiknya kita dapat mempertimbangkan apakah, kapan, dan mengapa kita ingin mengikuti ujian piano dan menyeimbangkannya dengan tujuan musik kita yang lain.
Menurut hemat saya, ujian piano itu bermanfaat dan mempunyai nilai nyata, selagi digunakan dengan bijak, dengan proporsi yang tidak berlebihan dan seimbang. Dengan mengambil pendekatan belajar yang holistik, luas, dan seimbang, kita dapat mengembangkan motivasi dan kecintaan anak terhadap musik yang berkelanjutan. Pastikan agar anak memiliki fondasi yang kuat, teknik yang baik, pemahaman akan musik, repertoar yang luas, dan merasakan pengalaman belajar yang positif, serta kenikmatan dalam bermusik – intinya bukan hanya “belajar untuk ujian” saja.
Tren “belajar untuk ujian” ini sayangnya masih begitu mengakar dalam budaya kita. Sebetulnya ini merupakan pembodohan masyarakat. Siapa yang salah? Examination Board nya? Sayang sekali kita tidak bisa hanya menyalahkan “mereka”, tetapi sebagai praktisi, akademisi, guru piano, dan orang tua, kita harus lebih kritis, jangan latah, salah sendiri kenapa mau dibodohi?
Untuk apa mengumpulkan ijazah, tapi setelah itu anaknya berhenti. Sibuk mengejar deadline ujian terus menerus tanpa tujuan yang jelas dapat menyebabkan anak kelelahan, stress, bosan, dan merusak antusiasme anak untuk bermain piano. Kita tidak bisa membiarkan diri kita didikte oleh “mereka” dan ikutan nyungsep dalam perlombaan menuju titik terendah yang membuat kita semakin bodoh dan mengurangi nilai belajar memainkan musik yang sesungguhnya.
Alih-alih melempar tanggung jawab, kita harus mengingat misi dan tujuan akhir kita sejatinya apa? Kembali ke pemikiran strategis dan musikal yang lebih tinggi dengan standar kurikulum yang tinggi dan berkesinambungan. Ketika kita mendapatkan ijazah dan piala, itu hanya bonus. Jadilah bijaksana, pertimbangkanlah baik-baik sebelum Anda memutuskan.





