Sebelum Anda membaca artikel kali ini, perlu diketahui pembaca, bahwa penulis bukanlah sexist dan tidak memihak. Artikel ini juga tidak mutlak berlaku untuk semua kasus (stereotype) dan pembaca disarankan untuk berpikiran terbuka dan bijak dalam menyikapi kondisi setiap murid yang berbeda (per kasus).
“Men are from Mars, and Women are from Venus.”Begitulah ujar penulis dan psikolog Amerika, John Grey, Ph.D. Pria dan wanita berasal dari planet yang berbeda. Tidak heran, bagaimana pria dan wanita mempunya pola pikir dan pendekatan yang berbeda dalam menanggapi stress dan masalah. Pria dan wanita merupakan dua makhluk yang berbeda, oleh karena itu tidak heran mengajar murid laki-laki membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan murid perempuan, baik secara fisiologis maupun psikologis.
KESULITAN MENGAJAR MURID LAKI-LAKI
Walau tidak selalu, namun umumnya mengajar anak laki-laki bisa menjadi lebih menantang daripada mengajar anak perempuan. Apalagi jika mereka baru memulai belajar piano dalam usia remaja. Remaja bekerja dengan kecepatan serat optik, mengambil sampel informasi tiga kali lebih cepat daripada orang dewasa. Sayangnya kemampuan bermain musik jangka panjang tidak berfungsi dengan kabel digital otak seorang anak laki-laki secara alami. Sedangkan belajar piano ibarat lari marathon.
Tanpa terasa sudah akhir tahun lagi. Siapa sih yang nggak butuh liburan? Semua orang membutuhkan break; dari rutinitas, tekanan, dan stress. Yay! Liburan memang menyenangkan. Namun apakah pada saat liburan, bermain piano nya juga ikutan libur? Walau sedang liburan, konsep liburan tanpa bermain piano sebetulnya tidak ideal.
Mungkin berlatih piano di musim liburan tidaklah sama dengan berlatih sewaktu anak bersekolah. Bentuknya bisa saja berbeda. Namun musik seharusnya tetap menjadi hal yang disukai oleh murid, sesuatu yang familiar, dan menyenangkan. Sehingga tidak ada drama tujuh babak, atau kata “HARUS”, “WAJIB”, atau “TERPAKSA”. Begitu juga dengan penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu MALAS! Andai ada vaksin untuk virus MALAS, pasti vaksin ini akan laku keras.
Sangat disayangkan jika di titik persimpangan momentum yang krusial untuk maju, justru murid beralih kearah yang berlawanan – tidak jarang ke titik nol, atau bahkan minus. Semua investasi waktu selama ini menjadi sia-sia. Sebetulnya ini adalah masalah bagi orang tua dan guru. Di momen seperti ini biasanya guru akan kehilangan muridnya dan kemungkinan besar tidak akan melanjutkan pendidikan musiknya lagi.
Boro-boro memainkan satu lagu, disentuh saja pianonya tidak, sampai berdebu. Jadi bagaimana memotivasi anak agar tetap bisa mempraktekkan musik selama musim liburan? Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua dan guru? Simak tips-tips nya pada artikel kali ini!
An important part of the television series Dexter is the music. Without it to set each appropriate mood, fans would be watching something not nearly as captivating as it has been for the past eight seasons. Various artists lend their music to the show to be used and with no doubt, the original score is truly amazing and worthy of the franchise. Thanks to Daniel Licht and Rolfe Kent.
DEXTER MUSIC THEME
This
is the theme best associated with the opening title sequence. The theme
music for the Showtime series DEXTER was composed and recorded
in August 2006. An interesting task, as it was to be both sly and witty
yet dark and with a hint of Miami about it. So it features guiro, latin
percussion, and also Turkish saz and a vaguely reggae beat. It was all
timed to match the opening title sequence.
Kent's widely praised
opening theme utilizes an eclectic selection of European and Asian
instruments, including ukulele, piano, bouzouki, trumpets, pizzicato strings, electric piano, saz, and tambour,
set to an Afro-Cuban beat.
"For The First Time In Forever"(with Kristen Bell) [Anna:]
The window is open, so's that door
I didn't know they did that anymore
Who knew we owned eight thousand salad plates?
"Do You Want to Build a Snowman?" is a song from the 2013 Disney animated film Frozen. It is sung by Anna. The composers are Kristen Anderson-Lopez and Robert Lopez.
LYRICS
5-Year-Old Anna:
Elsa? (knocks)
Do you want to build a snowman? Come on, let's go and play! I never see you anymore Come out the door It's like you've gone away
Jenny von Loeben (Hannah Herzsprung) is young but her
life is over. She has been locked up in a women's prison for killing someone,
and she would do it again. Buried beneath her impenetrable facade, however,
Jenny has an invaluable musical talent. When a 80-year-old piano teacher Traude Krueger (Monica Bleibtreu) discovers
the girl's terrible secret, her raging brutality and her dreams, she makes it
her mission to retransform Jenny into the musical wunderkind she once was.
Pusat Kebudayaan Amerika @america,
yang terletak di Pacific Place lantai 3, Minggu 19 Mei 2013. Menjelang senja
sekitar jam dua siang, mendadak penuh sesak dan dipadati baik tua, muda hingga anak-anak.
Petugas keamanan @america sampai kewalahan dan keringetan. Sementara site
managernya nampak panik dan kebingungan menyaksikan begitu banyak kerumunan
massa yang mencapai jumlah lebih dari 400 orang.
Hari itu adalah pelaksanaan
konser DISNEY PIANOLICIOUS dengan
direksi Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu.Media
koran mencatat bahwa konser ini termasuk yang luar biasa mengundang minat
pengunjung dalam sejarah konser musik seni di tanah air. Disney Pianolicious
adalah konser dari para siswa Jelia dan juga kolega Jelia, yakni para pemusik
profesional. Musik yang disajikan adalah musik yang mengusung tema dari soundtrack
film karya Walt Disney dan juga film Amerika - dalam bentuk solo piano, ensemble
perkusi, vocal, ensemble vocal, gitar dan duo piano (piano four hands dan two
pianos)
Dalam sambutannya, Jelia Megawati
Heru mengatakan bahwa Walt Disney adalah pelopor musik seni dalam dunia perfilman.
Dan Walt Disney adalah ikon yang menjadikan musik sebagai bagian tak
terpisahkan dalam film. Dan film Disney bukan semata film anak-anak. Film
Disney adalah sebuah cerita tentang kehidupan dalam ranah yang sangat dekat
dengan kehidupan kesehariaan kita. Ranah itulah yang diapresiasi oleh para
siswa Jelia dan koleganya. Para siswa tidak hanya warga negara Indonesia, melainkan
banyak juga warga negara asing yang belajar pada Jelia. Konser dilengkapi juga
dengan dekorasi video screen berukuran raksasa dan terang, sehingga pengunjung
makin terpukau.
Alice Herz Sommer is a 109-yr old pianist (oldest living pianist)
and oldest living Holocaust survivor!
Music saved her life!
Alice Herz-Sommer also known as Alice Sommer, (born 26 November 1903) is a Jewish pianist and music teacher from Bohemia, and a survivor of the Theresienstadt concentration camp. Herz-Sommer has lived in North London, United Kingdom since 1986, and is the world’s oldest known Holocaust survivor.
At age 108, Holocaust survivor Alice Herz Sommer still practices piano
for three hours every day. At age 104, she had a book written about her
life: "A Garden Of Eden In Hell."
Gitaris Indonesia kelahiran Tegal, Michael Gunadi Widjaja, Minggu (19/5), tampil dalam konser tunggal di Pusat Kebudayaan Amerika di Jakarta. Penampilan pria ini memantapkan posisinya sebagai gitaris papan atas di Tanah Air. Hal itu dibuktikan, dengan membludaknya jumlah pengunjung.
Gedung berkapasitas 300 penonton, ternyata didatangi lebih dari 500 orang. Sehingga membuat pihak manajemen dan sekuritas Pusat Kebudayaan Amerika pun kewalahan. Boleh jadi pertama kali sebuah pertunjukan seni musik, mendapatkan antusias publik yang luar biasa. Disamping disaksikan sejumlah warga Amerika, yang kebetulan tinggal di Indonesia. Tak ketinggalan, konser tersebut dihadiri pencinta musik dari ibukota. Termasuk para pencinta musik dari sejumlah daerah.
Konser ini mendapat sambutan hangat dari penonton. Bahkan dari situs jejaring sosial, Twitter. Sebagian besar pengunjung memuji penampilan Gunadi. Dalam konser "Disney Pianolicious", dengan direksi Jelia Megawati Heru, sore itu mendapat animo luar biasa dari Pusat Kebudayaan Amerika di Jakarta. Sambutan dari segenap penonton, disampaikan bahkan hingga selesainya acara.
Gitaris asal Tegal, Michael Gunadi Widjaja
tampil memikat dengan nomor lagu "Asturias" dari Isaac Albeniz
Dalam kesempatan itu, Gunadi membawakan nomor lagu berjudul "Asturias" karya Isaac Abeniz dari Spanyol (1860-1909). Lagu itu merupakan soundtrack dari film "The Mirrors". Saat lagu tsb dihadirkan, membuat hadirin tercekam, yang membawanya dalam suasana horor bernuansa Flamenco Spanyol yang menakjubkan. Untuk nomor kedua, Gunadi yang juga alumnus Perth Conservatory of Music, Australia (1988-1990), membawakan sebuah transkripsi dari "Cello Suite No. 1 - Prelude" karya komponis asal Jerman, Johann Sebastian Bach. Lagu karya JS. Bach sebagai tema film "The Master and Commander". Dalam lagu ini pengunjung seperti dibuat larut dalam romantisme.
watch Isaac Albeniz"Asturias"
(OST. The Mirrors)
Menurut pemerhati musik, yang hadir menyaksikan penampilan Gunadi mengatakan, bahwa penampilannya sangat fenomenal. Seni Musik piano dan gitar klasik bisa menjadi sangat dialogis dan menampilkan hal-hal yang dekat dengan ranah kehidupan sehari-hari. Dengan penampilannya dalam konser kali ini, Michael Gunadi Widjaja telah mengharumkan nama tanah kelahirannya. (din)
"The Married Life" is undoubtedly one of the most powerful scenes in the movie Pixar's UP. These are real life issues that are being addressed in this film. They tug at your heartstrings and in the same instance this is very much a film that can be appreciated by all ages.
It's among the most memorable -- and moving -- sequences in Pixar's new animated movie "Up": a four-minute, dialogue-free montage early in the film that traces the entire relationship between Carl Fredricksen and his wife, Ellie.
In encapsulating the couple's life together, the flashback sequence -- which Times film critic Kenneth Turan called "a small gem that will stay with you for a lifetime" -- includes a few issues rarely raised in a movie aimed at families, including a miscarriage, the failing health of the elderly, even death and bereavement.
Watch out to not see it in 3D! TOTALLY ruined the 3D effect, as you will suddenly have tears trapped in TWO sets of glasses. That montage alone is one of the most heartwarming scenes ever made and because of it, this movies deserves not just best animated film, but best picture, best original screenplay, best original score. That element really made it hit, how quickly life passes by.
In a world full of both live action and animated shorts, PAPERMAN is sweet and a breath of fresh love. The visuals stun and the cutting edge CGI with animation overlayed on the top with the music make it...well, simply gorgeous. It utilizes both 3D and 2D animation in a bold and beautiful way to tell the story of a guy trying to get the attention of the woman of his dreams. The result is a magical little tale that proves that even in the cold, crushing world of modern New York magic can flourish.
Mr. Bean is a British comedy television programme series of 14 twenty-five-minute episodes written by and starring Rowan Atkinson as the title character. Based on a character originally developed by Atkinson while he was studying for his master's degree at Oxford University, the series follows the exploits of Mr. Bean, described by Atkinson as "a child in a grown man's body", in solving various problems presented by everyday tasks and often causing disruption in the process. Bean rarely speaks, and the largely physical humor of the series is derived from his interactions with other people and his unusual solutions to situations.
The title character, played by Rowan Atkinson, is a childish and self-centered buffoon who brings various unusual schemes and contrivances to everyday tasks. He lives alone in his small flat in Highbury, and is almost always seen in his trademark tweed jacket and a skinny red tie. He also usually wears a digital calculator watch. Mr. Bean rarely speaks, and when he does, it is generally only a few mumbled words which are in a comically low-pitched voice. His first name (he names himself "Bean" to others) and profession, if any, are never mentioned. In the first film adaptation, "Mr." appears on his passport in the "first name" field, and he is shown employed as a guard at London's National Gallery. In Mr. Bean's Holiday, however, his name is listed on his passport as "Rowan", the actor's first name.
Mr. Bean often seems unaware of basic aspects of the way the world works, and the programme usually features his attempts at what would normally be considered simple tasks, such as going swimming, using a television set, redecorating or going to church. The humor largely comes from his original (and often absurd) solutions to problems and his total disregard for others when solving them, his pettiness, and occasional malevolence.
Mr. Bean "Piano Player"
ORIGINAL SERIES
The first episode of the original Mr. Bean series starring Rowan Atkinson was first broadcast on 1st January 1990. Since then Mr. Bean has become known all over the world. Created by Rowan Atkinson, Richard Curtis and Robin Driscoll, there were only 14 episodes ever made.
The original series emerged from Rowan Atkinson's stage revues of the 1980's which featured the silent odd-ball. Rowan Atkinson's comic acting genius has created a highly original work for television. The Mr. Bean series has been sold to 190 territories worldwide and has won anInternational Emmy and the Golden Rose of Montreux.
ANIMATED SERIES
In 2002 the character was transformed into an animated series of 26 half hour episodes. The series remains entirely faithful to the original Mr. Bean, with the character still living very much in the real world. Rowan Atkinson provides all of Mr. Bean's vocal sounds.
The Animated Series has heralded a new era for one of the UK's most successful characters of all time. Rowan Atkinson worked on the transformation to animated character and acted out every episode in front of the cameras so that the animators could capture the unique movement of Britain's most infamous character.
Characters from the original live action series included Mr. Bean, Irma Gobb, Teddy, and the mysterious driver of the Reliant Supervan, with the new addition of Mrs. Wicket, Bean's landlady, and her evil cat Scrapper.
The series again featured little actual dialogue, with most being either little sound bites or mumbling and mild slapstick. Rowan Atkinson provided the voice for Bean; additionally, all of the animated Bean actions are taken from Atkinson himself.
ORIGINAL VS ANIMATED SERIES
Like the live action series, there isn't much talking. But I think it's wonderful that Rowan Atkinson supplies what mumblings there is for Mr. Bean. And you've got to love his horrid landlady Mrs.Wicket when she yells "BEAN" at the top of her lungs. (She makes him do all the house and yard work and her grocery shopping; does she give him a break on the rent?!) The plots are terrific.
The animation style is brilliant. Very refreshing. Kind of a retro style with regards to the simplified backgrounds. Really nice colors. The trees are like the ones in Looney Tunes or Pink Panther cartoons. The characters are superbly drawn, capturing the rubbery facial expressions of Rowan Atkinson. I like the heavy outlines on the characters to set them off from the backgrounds, and I find it amusing that their feet aren't attached to their legs, lol.
Mr. Bean "Learn How To Play Piano"
Mr. Bean "Having a Piano Lesson"
There are some clear differences between live action and animated "Mr. Bean" material, which is not a bad thing. "Mr. Bean: The Animated Series" has less of the realistic sitcom style that the original series has, and sometimes has more of a fantasy touch to it, an example being the episodes involving Bean having encounters with animals, definitely cartoon-style animals. Since this is a cartoon, it makes sense that it has more cartoon-style qualities. The show also has different theme music (piano music instead of choir music this time). The two also have their similarities. Like before, the humor here is pretty visual. The animated Mr. Bean does make more sounds and mumble more than the original live action version of the character does, but it's still mostly about the visual humor, and as a fan of the original series, it's a must watch series!
THE MUSIC
Mr. Bean features a choral theme tune written by Howard Goodall and performed by the Choir of Southwark Cathedral (later Christ Church Cathedral, Oxford).
The words sung during the title sequences are in Latin:
Ecce homo qui est faba – "Behold the man who is a bean" (sung at beginning)
Finis partis primae – "End of part one" (sung before the advertisement break)
Pars secunda – "Part two" (sung after the advertisement break)
Vale homo qui est faba – "Farewell, man who is a bean" (sung at end)
Watch "Ecce Homo Qui Est Faba"
The theme was later released on Goodall's album Choral Works. Goodall also wrote an accompanying music track for many episodes. The first episode of Mr. Bean did not feature the choral theme tune, but instead an up-beat instrumental piece, also composed by Howard Goodall, which was more an incidental tune than a theme. It was used while Bean drove between locations intimidating the blue Reliant, and as such, was sometimes heard in later episodes whenever Bean's nemesis is seen.
Mr. Bean "Chariots of Fire" with London Symphony Orchestra
(Opening Ceremony of London 2012 Olympics)
Mr Bean featured in the opening ceremony of the London 2012 Olympics playing the Chariots of Fire theme (by Vangelis) with the London Sympony Orchestra. The arrangement for the event was by Howard Goodall.
Download the piano sheet of Mr Bean's Theme (animated series) Page 1& Page 2
Download the MP3 of Mr Bean's Theme (animated series) HERE
"MISTY MOUNTAINS" (OST. THE HOBBIT: Unexpected Journey) - Song of the Lonely Mountain -
PIANO SHEETS & LYRICS
"Far Over the Misty Mountains Cold" is a poem found within the chapter "An Unexpected Party" of The Hobbit.
The song is called “Misty Mountains (Cold)” composed by Howard Shore, written by J. R. R. Tolkien. A song of returning to Erebor is sung by Thorin Oakenshield - the Heirs of Durin (Richard Armitage) & the dwarves during the Unexpected Party at Bag End. Neil Finn also sings a variation of the song entitled "Song of the Lonely Mountain" in the ending credits of the film.
Thorin Oakenshield
Thorin's harp... was a beautiful golden harp, and when Thorin struck it the music began all at once, so sudden and sweet that Bilbo forgot everything else, and was swept away into dark lands under strange moons, far over The Water and very far from his hobbit-hole under The Hill....
The dark filled all the room, and the fire died down, and the shadows were lost, and still they played on. And suddenly first one and then another began to sing as they played, deep-throated singing of the dwarves in the deep places of their ancient homes....
watch the video here:
LYRICS of "MISTY MOUNTAINS" Far over the Misty Mountains cold, To dungeons deep and caverns old, We must away, ere break of day, To seek our pale enchanted gold.
The dwarves of yore made mighty spells, While hammers fell like ringing bells, In places deep, where dark things sleep, In hollow halls beneath the fells.
For ancient king and elvish lord There many a gleaming golden hoard They shaped and wrought, and light they caught, To hide in gems on hilt of sword.
On silver necklaces they strung The flowering stars, on crowns they hung The dragon-fire, on twisted wire They meshed the light of moon and sun.
Far over the Misty Mountains cold, To dungeons deep and caverns old, We must away, ere break of day, To claim our long-forgotten gold.
Goblets they carved there for themselves, And harps of gold, where no man delves There lay they long, and many a song Was sung unheard by men or elves.
The pines were roaring on the heights, The wind was moaning in the night, The fire was red, it flaming spread, The trees like torches blazed with light.
The bells were ringing in the dale, And men looked up with faces pale. The dragon's ire, more fierce than fire, Laid low their towers and houses frail.
The mountain smoked beneath the moon. The dwarves, they heard the tramp of doom. They fled the hall to dying fall Beneath his feet, beneath the moon.
Far over the Misty Mountains grim, To dungeons deep and caverns dim, We must away, ere break of day, To win our harps and gold from him!
The wind was on the withered heath, But in the forest stirred no leaf: There shadows lay be night or day, And dark things silent crept beneath.
The wind came down from mountains cold, And like a tide it roared and rolled. The branches groaned, the forest moaned, And leaves were laid upon the mould.
The wind went on from West to East; All movement in the forest ceased. But shrill and harsh across the marsh, Its whistling voices were released.
The grasses hissed, their tassels bent, The reeds were rattling--on it went. O'er shaken pool under heavens cool, Where racing clouds were torn and rent.
It passed the Lonely Mountain bare, And swept above the dragon's lair: There black and dark lay boulders stark, And flying smoke was in the air.
It left the world and took its flight Over the wide seas of the night. The moon set sale upon the gale, And stars were fanned to leaping light.
Under the Mountain dark and tall, The King has come unto his hall! His foe is dead, the Worm of Dread, And ever so his foes shall fall!
The sword is sharp, the spear is long, The arrow swift, the Gate is strong. The heart is bold that looks on gold; The dwarves no more shall suffer wrong.
The dwarves of yore made mighty spells, While hammers fell like ringing bells In places deep, where dark things sleep, In hollow halls beneath the fells.
On silver necklaces they strung The light of stars, on crowns they hung The dragon-fire, from twisted wire The melody of harps they wrung.
The mountain throne once more is freed! O! Wandering folk, the summons heed! Come haste! Come haste! Across the waste! The king of freind and kin has need.
Now call we over the mountains cold, 'Come back unto the caverns old!' Here at the gates the king awaits, His hands are rich with gems and gold.
The king has come unto his hall Under the Mountain dark and tall. The Wyrm of Dread is slain and dead, And ever so our foes shall fall!
Farewell we call to hearth and hall! Though wind may blow and rain may fall, We must away, ere break of day Far over the wood and mountain tall.
To Rivendell, where Elves yet dwell In glades beneath the misty fell. Through moor and waste we ride in haste, And whither then we cannot tell.
With foes ahead, behind us dread, Beneath the sky shall be our bed, Until at last our toil be passed, Our journey done, our errand sped.
We must away! We must away! We ride before the break of day!
AMADEUS adalah sebuah filmdrama periode (period/costume drama)pada tahun 1984 yang disutradarai oleh Miloš
Forman dan ditulis oleh Peter
Shaffer. Diadaptasi dari cerita sandiwara (stage play) Shaffer pada tahun 1979, cerita ini merupakan variasi dari sandiwara Alexandr Pushkinyang berjudul“Mozart i Salieri”, di mana komposer Antonio Salieri
mengakui kejeniusan dari Wolfgang Amadeus Mozartdan
mengisahkan bagaimana Salieri begitu iri terhadap Mozart. Kisah
ini berlokasi di Wina, Austria, pada akhir abad ke-18.
Film ini dinominasikan untuk 53 penghargaan, termasuk delapan Academy Awards
(termasuk Best Picture), empat BAFTA Awards, empat Golden Globe, dan Penghargaan DGA
(Directors Guild of America). Pada tahun 1998, American
Film Institute memberikan peringkat ke-53 pada100 Years ... 100 Movies.
Cerita
dimulai pada tahun 1823 yang mengisahkan upaya bunuh diri Salieri dan permintaan ampunnya karena telah membunuh Mozart pada 1791. Salieri ditempatkan di rumah sakit jiwa akibat
tindakannya tsb dan ia dikunjungi oleh seorang pendeta muda, dimana Salieri menceritakan "pengakuan"
panjang tentang kisah hidupnya dan hubungannya dengan Mozart. Bagaimana ia berjanji
kepada Tuhan untuk hidup selibat dan mengabdikan hidupnya untuk musik.
Dalam
pengakuannya, Salieri menceritakan karirnya sebagai komposer bagi kekaisaran
romawi Joseph II sebagai bentuk kesuksesan dan imbalan karena ketaatannya
kepada Tuhan. Tetapi sejak pertemuannya dengan Mozart di Wina dengan patronnya Count Hieronymus von Colloredo,
Pangeran Uskup Agung Salzburg; Salieri selalu mengamati perilaku Mozart yang tidak
pantas dan sangat iri pada bakat dan kejeniusan Mozart. Secara bertahap, iman
Salieri terguncang dan menjadi marah kepada Tuhan karena ia menganggap bahwa
Tuhan tidak adil dan kejam terhadapnya. Bagaimana Tuhan bisa memilih seorang
anak kecil yang tidak sopan, cabul, kekanak-kanakan untuk menyuarakan suaraNYA?
Di
luar perilaku Mozart yang kekanak-kanakan dan tidak pantas di luar panggung dan
kehidupan sehari-harinya, Salieri mengakui bakat besar dan kejeniusan seorang
Mozart. Ada satu adegan yang sangat menarik yaitu pada
1781, ketika Mozart bertemu Kaisar, dan memainkan
karya Salieri"March of Welcome"– yang diciptakan dengan penuh kerja keras, hanya dalam sekali dengar berdasarkan memorinya, lalu mengkritiknya,
bahkan mengimprovisasinya menjadi sebuah variasi dan menggunakan temanya dalam
karya Mozart "Non piu andrai" pada operanya “The Marriage of
Figaro” (1786).
Sejak saat itu pula lah, Salieri percaya bahwa Tuhan melalui kejeniusan Mozart
adalah sosok yang kejam, tidak adil, dan menertawakan musiknya yang “biasa-biasa”
saja.
Berikut cuplikan video "AMADEUS"
Dalam
film ini, diceritakan perjuangan Salieri dalam mempertahankan keyakinannya
terhadap Tuhan dan diselingi dengan kisah hidup Mozart yang penuh penderitaan
dalam mempertahankan idealisme dan menampilkan musiknya; kisah cintanya dengan Constanze yang kemudian menjadi
istrinya, kehidupannya yang bahagia dengan anaknya Karl, kesedihannya atas kematian ayahnya Leopold Mozart, dan keputusasaannya karena kesulitan keuangan dari
peningkatan biaya keluarganya dan penurunan komisi dari kekaisaran Austria.
Ketika
Salieri menyadarikesulitan keuangan Mozart, ia melihat kesempatan untuk membalaskan
dendamnya, dengan memperalat "Kekasih Allah" (arti dari "Amadeus"). Salieri merencanakan sebuah plotuntuk meraih kemenangan
tertinggi atas Mozart dan Tuhan. Dia menyamar dalam topeng dan kostum mirip dengan yang ia lihat ketika Leopold Mozart memakainya di sebuah pesta, dan memberikan
komisi yang besar bagi Mozart untuk menuliskan
sebuah misa requiem, Salieri memberinya uang muka dan menjanjikan
sejumlah besar dana setelah ia
menyelesaikannya. Mozart mulai menuliskan “Requiem Mass in D minor”, tanpa menyadari identitas sebenarnya
dari tamu misterius tsb
dan tidak menyadari niat pembunuhan yang
ditujukan kepadanya. Sambil
membayangkan setiap rincian bagaimana ia akan
melakukan pembunuhan tersebut, Salieri berkhayal bagaimana iamendapatkan
kekaguman dari teman-teman
aristokratnya, ketika mereka memuji kemegahan requiem tsb di saat dia mengklaim dirinya sebagai komposer karya
tsb. Hanya Salieri dan Tuhan yang
tahu kebenarannya, bahwa Mozart sendiri yang
menuliskan requiem mass
itu dan ketika saat itu tiba,
Tuhan hanya bisa menonton
Salieri dalam menerima ketenaran dan kemasyhuran yang menurutnya pantas
ia dapatkan.
Situasi keuangan Mozart yang semakin memburuk dan tuntutan komposisi dari Requiem dan
opera“The
Magic Flute” mengantarkan Mozart ke
puncak titik kelelahan saat ia harus
bekerja secara terus menerus. Akhirnya
Constanze pun meninggalkannya
dan membawa anaknya pergi bersamanya. Kesehatan Mozart pun memburuk dan dia ambruk selama pemutaran
perdana “The Magic Flute”. Salieri mengambil alih rumah Mozart dan meyakinkan dia untuk tetap
bekerja pada requiem nya. Mozart mendiktekan nada demi nada, sementara Salieri
mentranskripsikannya sepanjang malam. Ketika
kembali Constanze di pagi hari, ia meminta Salieri untuk pergi, dan menyimpanpartitur
karya Mozart yang telah ditranskripsi tsb. Pada saat Constanze ingin membangunkan suaminya, Mozart sudah meninggal. Requiem yang tersisa belum selesai, dan Salieri merasa
tidak berdaya ketika tubuh Mozartdiangkut keluar dari Wina
untuk dimakamkan di kuburan massal orang miskin.
Pada akhir film, Salieri telah menceritakan semua kisahnya pada pendeta muda itu
dan menyimpulkan bahwa Tuhan lebih memilih
untuk membunuh Mozart daripada membiarkan Salieri turut ambil bagian dari kemuliaan-Nya.
Di samping beberapa keganjilan yang terdapat di dalam film ini, Amadeusadalahsalah satu filmyang palingindahdan
membutuhkan biaya sangat besar untuk menyorot sisi lain dari kehidupanMozart dan juga musiknya pada jaman itudengan cara yang menarik dan dramatis, dibandingkan dengan sebuah film dokumenter/biografi
yang membosankan.
THE FACTS
Did Salieri kills Mozart?
Beberapa orang telah
keliru mengambil kesimpulan bahwa Salieri telah membunuh Mozart. Tanpa adanya
mitos ini, film ini tidak akan pernah dibuat. Hal ini menjadi memungkinkan
untuk diangkat karena beberapa alasan, seperti kematian Mozart yang tiba-tiba,
tidak terduga, dan tidak diketahui penyebabnya. Beberapa isu menyatakan bahwa
Mozart meninggal karena racun. Jika Salieri membuat pengakuan dari RS jiwa
setelah percobaan bunuh dirinya, itupun belum cukup meyakinkan. Salieri
hanyalah seorang kolega dan bukan salah satu teman dekatnya. Bila ada,
kemungkinannya pun sangat kecil.
Sejarawan dan dokter modern telah menyimpulkan
bahwa Mozart meninggal karena serangan tiba-tiba demam rematik yang ia sering ia
derita sejak kecil. Ketika demam itu menyerang Mozart, Mozart mengalami
kegagalan jantung.
Pada kenyataannya Mozart tidak jatuh pingsan
kelelahan pada malam perdana "The
Magic Flute" ataupun diantar oleh Salieri menuju ke tempat tinggal
Mozart. Mozart juga tidak meninggal pada hari berikutnya. Mozart berhasil
melakukan beberapa pertunjukan "The
Magic Flute", bahkan ia masih bekerja selama beberapa bulan walau
terbatas di tempat tidurnya sampai pada akhirnya ia meninggal. Mozart juga
tidak pernah ditinggalkan sendirian oleh Constanza, istrinya. Constanza,
meskipun ia sangat menderita, dia tetap di samping tempat tidur Mozart dengan
beberapa anggota keluarganya dan beberapa penyanyi yang sesekali datang untuk
menyelesaikan beberapa bagian "Requiem"
bagi Mozart.
MOZART'S PERSONALITY
Unsur lain dalam Amadeus adalah perilaku Mozart
yang sering digambarkan sebagai orang yang kekanak-kanakan dan tidak layak untuk
mendapatkan gelar seorang jenius. Mozart tidak pernah memiliki yang cara
tertawa yang cekikikan seperti yang diperankan oleh Tom Hulce. Walau Mozart memiliki
sisi yang vulgar, ia hanya akan menunjukkan sisi ini ke keluarga dekat dan
teman-temannya, ia tidak akan pernah menunjukkan hal ini kepada para aristokrat dan tentunya tidak pada saingan
musiknya.
Pada film, Mozart juga dikisahkan sebagai orang
yang tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan publik. Kita tidak boleh lupa
bahwa Mozart berkeliling Eropa sejak kecil, mengunjungi pengadilan paling
terhormat kerajaan dan aristokrasi. Mozart terlatih untuk bersikap terhormat,
tahu tata karma, dan sopan santun pada usia yang sangat belia. Adalah mustahil
untuk menganggap bahwa orang yang berpendidikan tinggi seperti ini tiba-tiba
bersikap kasar, bodoh, dan sombong seperti yang digambarkan dalam film.
Gambaran bahwa musiknya datang secara "alami", tanpa ada usaha apapun
dari Mozart juga tidak sepenuhnya betul. Mozart dikenal sangat serius, pekerja
keras dalam tenggang waktu yang panjang dan mencapai deadline, serta sangat
disiplin, details, dan perfeksionis dalam musiknya.
Akhir kata, walau film ini mempunyai banyak
kekurangan dan keganjilan, film ini layak untuk ditonton dan bisa menjadi salah
satu referensi dalam menyorot perjuangan, sisi lain kehidupan seorang komposer
jenius sepanjang masa, dan mengagumi keajaiban dan keagungan ilahi lewat musik
seorang Wolfgang Amadeus Mozart.
Notes:
*This film is for adult only, parental advisory
& find the “Director’s Cut” edition.