Wednesday, February 8, 2012

Artikel Profile & Review Majalah Staccato - Edisi Februari 2012

ARTIKEL PROFILE & REVIEW
Majalah STACCATO - Edisi Februari 2012


JELIA MEGAWATI HERU
"Saya Ingin Menjadi Music Educator"
 
 Karena kecintaannya pada music education dan ingin membagikan ilmu yang diraihnya dengan predikat cum laude di Fachhochschule Osnabrueck Konservatorium
  - Institut fuer Musikpaedagogik, Jerman, Jelia Megawati Heru mengambil bidang musik pendidikan dengan mayor piano memutuskan untuk kembali ke tanah air 
dan menerapkan konsep pemikirannya dalam musik pendidikan.

Pernah menjadi Dekan di Institut Musik Daya Indonesia di Jakarta,
sekarang Jelia menjadi konsultan kurikulum untuk Duta Nada Music School di Jakarta.

November 2011 yang lalu ia menggelar Konser Golden Fingers Piano Ensemble di Istituto Italiano, Jakarta. Dalam konser yang menampilkan format 4 tangan, 6 tangan, 8 tangan ini, 
guru dan murid melebur jadi satu tampil bersama menyajikan musik dari berbagai aliran.


Halo Bu Jelia apa kabar? Sepertinya sudah agak lega setelah Konser Golden Fingers November  lalu.
Kabar baik, terima kasih. Ya, betul sekali. Sangat lega, Pak Anton ^_^

Bisa ceritakan konsep Konser Golden Fingers tersebut?

Tentu saja, Pak Anton. Seperti yang Anda tahu, MUSIK adalah bahasa universal, musik merupakan aspek yang penting dalam kehidupan manusia dan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimana musik mempunyai berbagai fungsi, seperti: entertainment, relaxation, terapi, self expression (media pengekspresian diri), media untuk menemukan jati diri hingga self fulfillment/self satisfaction (kepuasan bathin) – yang mewakili esensi, hasrat terdalam manusia, yang tidak dapat diungkapkan oleh kata-kata.

“Music expresses that which cannot be said 
and on which it is impossible to be silent.”
- Victor Hugo -
 
Bisa dijelaskan lebih dalam?
MUSIK dapat membantu mengendalikan mood, suasana hati, pikiran, emosi, dan juga perilaku kita. Musik dapat menyentuh emosi terdalam jiwa seseorang. Musik juga membuat Anda melihat hidup lebih positif, membantu performa kerja yang lebih baik, menjadi manusia yang lebih baik dan menyenangkan – richer, fuller & meaningful.

Tapi berapa banyak dari kita yang mengetahui hal ini? Sungguh sangat disayangkan dan memprihatinkan, bahwa musik hanya ditempatkan sebagai hiburan (entertainment) saja dan musisi (terutama Musik Klasik) kurang dihargai. Apalagi melihat iklim persaingan yang tidak sehat diantara sesama musisi. Oleh karena itu saya ingin mengedepankan konsep bermain musik “Music for Life” – dimana bermain dan mempelajari musik merupakan bagian dari memaknai suatu kehidupan dan pengalaman belajar tentang diri kita sendiri dan orang lain. 

Salah satu caranya adalah dengan bermusik bersama dalam format grup/ensemble. Dalam ensemble, setiap pemain mempunyai andil dan kontribusi untuk menciptakan musik. Disini terletak keunikan bermain dalam ensemble, yaitu: unsur sosial/interaksi yang sangat tinggi dengan pemain yang lain, bahkan juga dengan penonton. 


Apakah untuk ikut konser tersebut Ibu menyeleksi mereka terlebih dahulu?
YA dan TIDAK. Tidak bisa dikategorikan sebagai seleksi berdasarkan kemampuan seseorang baik atau buruk. Pemilihan pemain yang dapat mengikuti proyek ini adalah pemain yang mempunyai motivasi ingin maju, berkembang, belajar, dibimbing, saling bekerja sama untuk menghasilkan musik yang baik.

Bagaimana pengaruh terhadap siswa dengan mengikuti konser ini?
Sangat positif. Yang penting disini bukan konsernya, tetapi proses latihannya – dimana mereka dapat memaknai esensi musik dalam kehidupan mereka. Ketika anak berhasil menyelesaikan suatu tugas melalui bermain musik, maka kepercayaan dirinya akan meningkat. Begitu pula dengan pengekspresian diri, dimana musik dapat menjadi sebuah media yang menghubungkan diri mereka dengan lingkungan di sekitarnya. Mereka bisa belajar tentang diri mereka sendiri (kelebihan & kelemahan), belajar tidak egois, memahami orang lain (mendengar, berempati, bekerja sama di dalam kelompok/teamwork), menghadapi kesulitan/masalah/konflik, kemampuan berkomunikasi, menyikapi permasalahan dengan positif, dan mencari solusi (problem-solving). Intinya, belajar hidup bersosialisasi. Ini merupakan pelajaran yang sangat berharga dan akan dibawa sampai sepanjang hidupnya. 


Dalam piano ensembles yang menuntut kerjasama yang baik, harusnya tiada lagi keegoisan ingin "tampil" sebagai soloist, tetapi lebih sebagai ketergantungan antar pemainnya satu sama lain dan bagaimana satu sama lain saling mendukung. Mereka harus tahu dimana porsi mereka untuk menjadi solist atau sebagai accompaniment. Mereka juga sangat termotivasi untuk bermain music for life, mereka berlatih, dan bermain musik karena mereka cinta musik – bukan karena suatu keharusan atau terpaksa. 


Dalam sebuah konser, apakah menurut Ibu jumlah penonton bisa menjadi ukuran sukses atau tidaknya sebuah konser?
Tidak selalu. Menurut saya pribadi, berapa pun penonton yang datang, jika mereka bisa mengapresiasi performa yang ditampilkan dalam sebuah konser dan esensi dari music from passion & music for life; serta setiap pemain bekerja sama dan menikmati bermain musik bersama – it’s more than enough! Audience itu jujur, ketika mereka dapat menikmati musik dan mengapresiasinya, itu merupakan kesuksesan dan kepuasan bathin yang tidak ternilai. Berapa pun jumlah penonton yang hadir akan menjadi latihan yang baik untuk setiap musisi dalam mengatasi demam panggung, merasakan energi penonton, belajar tampil di depan publik, dan berkembang menjadi musisi yang lebih baik. 


Bagi ibu sendiri, bagaimana pengaruh konser ini buat Ibu sebagai pengajar?
Konser kali ini betul-betul sangat istimewa untuk Saya pribadi, karena disini Saya mempelajari banyak hal dan mendapatkan pengalaman yang tidak ternilai di dalam kehidupan. Tentu saja sebagai seorang guru, Saya bertanggung jawab dalam mempersiapkan murid Saya sebaik mungkin dalam menghadapi sebuah konser. Tetapi kali ini berbeda, karena Saya tidak hanya mempersiapkan anak hanya sekedar menghasilkan bunyi dengan teknik fingering yang tepat, tapi juga bagaimana Saya belajar memahami karakter, potensi, kapasitas masing-masing individu, mendukung, dan menyatukan semua perbedaan yang ada menjadi sebuah grup yang menghasilkan musik yang sama – inspite of our problems in life.  
Jujur saja, capeknya bukan main, tetapi ada kepuasan dan kenikmatan tersendiri dalam bermain musik bersama, bereksperimen dengan musik, tampil bersama dengan orang-orang yang kita sayangi, dan menjadi bagian dalam sebuah grup – yang akan tinggal sebagai kenangan manis yang tidak akan terlupakan di sepanjang hayat kita. It’s worth it!


Ibu mulai belajar piano sejak usia berapa? 
Sejak umur 5 tahun.

Boleh ceritakan pengalaman Ibu dalam belajar piano?
Mempelajari musik terutama piano adalah hal yang sangat sangat sulit....

Dibutuhkan tekad, motivasi, passion, bakat, kerja keras, dan disiplin yang sangat tinggi dalam jangka waktu yang lama. Bakat saja atau keinginan saja tidak cukup. Instrumen piano pun terbilang sangat mahal dan mengambil kursus pun tidak murah. Belum lagi mencari guru yang tepat, bisa mengenali potensi anak, mampu memotivasi, menanamkan rasa cinta terhadap musik, mengembangkan potensi anak tsb.

Dukungan orang tua pun sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan karakter anak.
Oleh karena itu, Saya sangat berterima kasih terhadap orang tua Saya yang telah mendukung Saya, walau pengetahuan mereka tentang musik amat terbatas, tetapi mereka mencintai musik.

Selama Ibu studi di Jerman, perbedaan apa yang paling dirasakan dalam iklim bermusik di sana dan di Indonesia?

Apresiasi yang sangat tinggi terhadap musik dan bidang seni lainnya.
Di Jerman, musik sudah merupakan kultur, passion dan bagian yang penting dan tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Mengapresiasi, mendengarkan, bermain musik, menonton konser sudah menjadi hal yang penting dalam agenda kehidupan mereka. 

Tidak perlu menjadi seorang musisi untuk mendengarkan Beethoven’s Symphony No. 5, bahkan seorang pekerja kantoran pun akan mendengarkan Beethoven di dalam mobil menuju ke kantor setiap harinya. Bahkan mereka akan menyediakan waktu luang untuk menonton konser dan festival musik. Seniman/musisi dipandang sebagai profesi yang sederajat dengan kedokteran, dan ilmu/bidang lainnya.

Ibu tidak ingin berkarir di Jerman setelah selesai studi di sana?

Awalnya ada pemikiran untuk melanjutkan studi sampai jenjang S3 dan berkarir disana. Tetapi Saya selalu ‘homesick’ dengan Indonesia, kangen dengan keluarga, teman-teman, dan makanan khas Indonesia. Selain itu, ilmu yang didapatkan disana sangat banyak “overload” – maklum studi yang seharusnya ditempuh dalam kurun waktu lima tahun bagi mahasiswa asing, Saya selesaikan dalam waktu tiga tahun. Oleh karena itu, Saya merasa perlu untuk menerapkan dan mempraktekkan ilmu yang selama ini Saya pelajari. Sampai saat ini pun, Saya merasa banyak sekali ilmu yang belum Saya bagikan kepada murid-murid Saya dan Saya masih terus menjadi mahasiswa abadi dalam kehidupan yang sesungguhnya.

Boleh ceritakan juga pengalaman mengajar Ibu Jelia?

Hampir semua pengalaman mengajar berkesan buat saya pribadi. Mulai dari mengajar anak spesial (autism, ADHD, down syndrome, dll) sampai beginner adult dari berbagai disiplin ilmu, umur, budaya, kultur, latar belakang, dan bahasa.

Mungkin yang spesial buat Saya adalah mengajar anak dengan kombinasi autis dan ADHD, waktu awal-awal mengajar dia suka tiba-tiba menangis karena berhalusinasi jarinya hilang, matanya tidak bisa fokus, sangat sensitif terhadap bunyi bising, sensitif terhadap sentuhan, belum lagi hiperaktif-nya, tidak bisa konsentrasi dan duduk diam. 

Waktu konser yang pertama kalinya, orang tuanya sangat khawatir apakah dia bisa bermain piano dalam kondisi seperti itu, sampai menanyakan hal ini berkali-kali ke Saya “bisa tidak Miss, beneran nih?” Ternyata konser berjalan dengan sangat baik, setelah konser anak itu berkata “aku suka main piano... aku sayang Miss Jelia” lalu dia spontan mencium pipi Saya. Murid autis-ADHD pertama Saya... pengalaman itu tidak akan terlupakan seumur hidup Saya. Sekarang dia mengenyam pendidikan sekolah umum swasta dan masuk 10 besar di sekolahnya.

Menurut Ibu berapa usia anak yang disarankan untuk mulai belajar piano?
Tidak ada umur yang pasti yang bisa ditentukan, apakah anak Anda siap untuk mempelajari instrumen. Semuanya tergantung dari perkembangan, minat, dan bakat sang anak. Tetapi berdasarkan perkembangan kemampuan anak secara umum, umur yang ideal dalam mempelajari instrumen piano adalah 6-8 tahun.

Mempelajari instrumen 'terlalu dini' (*anak belum siap) dikhawatirkan akan membuat anak putus/berhenti untuk bermain instrumen di tengah jalan, karena mereka memulai pelajaran formal terlalu awal pada usia dua dan tiga tahun. Umumnya anak akan mengalami kesulitan untuk menangkap materi yang diberikan, karena materi terlalu sulit dimengerti bagi anak usia dini.

Setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda-beda - ada anak yang mempunyai perkembangan motorik halus yang luar biasa cepat pada usia 4 tahun; ada pula anak yang baru mempunyai perkembangan motorik halus yang baik pada usia 8-9 tahun. Perkembangan setiap anak sangat bervariasi, oleh karena itu sudah merupakan tanggung jawab orang tua untuk mengobservasi perkembangan anak dan menentukan apakah anak Anda siap untuk mempelajari instrumen.

Apabila anak belum mempunyai otot motorik halus yang cukup kuat, lebih baik tundalah dulu pelajaran instrumen anak untuk setahun ke depan. Karena apabila dipaksakan, maka otot motorik halus anak dapat mengalami cidera, yang berujung pada posisi bermain yang salah. Kebiasaan yang buruk ini akan sulit diubah, karena telah berakar kuat dalam diri anak.

Menurut Ibu apakah bakat musikal itu sudah ada sejak lahir atau terbentuk selama pertumbuhan si anak?
Sudah ada sejak lahir. Setiap orang dilahirkan dengan kapasitas untuk bermusik. Kita memiliki insting dan kemampuan bermusik. Bahkan bayi menyerap musik sebelum mereka dilahirkan, dan kita secara genetik mampu menghasilkan musik. Karena musik benar-benar ada di dalam gen kita. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa musisi yang memiliki absolute pitch ini umumnya mulai mempelajari instrumen musik sebelum usia tujuh tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan ini dipertahankan pada saat otak masih berada di titik perkembangan yang relatif fleksibel. Setelah usia tujuh tahun, umumnya absolute pitch ini sangat sulit untuk diajarkan dan kemampuan ini secara perlahan-lahan memudar seiring bertambahnya usia, karena sistem kerja otak yang berkembang pun berbeda - kecuali tetap dipertahankan dan dilatih sedini mungkin.

Apa visi Ibu Jelia dalam mengembangkan musik piano di Indonesia?

Musik Piano harus bisa dinikmati dan diterima oleh kalangan yang lebih luas, oleh karena itu repertoire yang ada harus luas pula, bukan hanya dalam format Musik Klasik, tetapi juga Musik Pop, Jazz, bahkan musik tradisional dan Dangdut seperti yang akan Saya tampilkan dalam konser Golden Fingers Piano Ensembles berikutnya. Sekali lagi tanpa mengurangi esensi dari pendidikan musik itu sendiri.

Bagaimana menurut Ibu perkembangan dan minat belajar piano pada anak-anak yang sedang belajar sekarang dibanding dengan waktu Ibu awal mengajar dulu?
Zaman sudah berubah. Anak-anak sekarang sangat berbeda dengan anak-anak pada 20 yang tahun lalu. Menarik minat dan memotivasi anak sekarang ini sangatlah sulit, apalagi musik klasik dan piano merupakan kombinasi maut – yang rawan dihinggapi penyakit kebosanan. Selain itu faktor kurikulum sekolah yang semakin berat yang mengharuskan anak harus mengambil banyak kursus diluar sekolah, belum lagi dengan mengerjakan PR, belajar untuk ulangan, dsb. Oleh karena itu, seorang guru musik harus terus meng-update dirinya dengan repertoire dan metode-metode belajar yang baru, variatif, inovatif, menarik, fleksibel, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan individual anak. 


Apakah Ibu selalu mengarahkan murid-murid Ibu untuk menjadi pianis profesional?

Tidak. Setiap orang dikaruniai kemampuan yang berbeda-beda. Tidak semua orang yang mempelajari musik harus menjadi musisi profesional. Fokus dan esensi dari pendidikan musik menurut Saya adalah konsep “Music from Passion & Music for Life”, dimana profesionalitas bukan menjadi hal yang utama dalam bermain musik, melainkan bagaimana musik dapat menjadi bagian dari kehidupan anak didik Saya.

Menurut Ibu apakah setiap murid yang belajar piano harus punya piano? Bagaimana kalau menggunakan piano elektrik?

Masing-masing instrumen mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Piano digital mempunyai banyak kelebihan dari segi efektifitas, portabilitas, dan juga dari sudut ekonomis (tidak perlu di-stem secara berkala). Kekurangannya adalah tidak memungkinkannya eksporasi tone color dan rentang dinamika yang ekstrem. Seiring dengan kemajuan teknologi, piano digital masa kini dirancang peka terhadap kualitas sentuhan pemainnya dan mempunyai tiga pedal, sehingga memungkinkan permainan yang menyerupai piano akustik. 

Tapi semua itu sifatnya sangat situasional, tergantung situasi kondisi murid. Apabila kondisinya memungkinkan, tentu saja lebih baik disarankan untuk menggunakan piano akustik. Tetapi apabila tidak memungkinkan, murid tetap mempunyai alternatif lain dalam tetap berlatih dan bermain musik – tanpa mengurangi esensi dari proses belajar-mengajar itu sendiri, dalam hal ini kualitas guru dalam mengajar mempunyai peranan yang jauh lebih penting daripada instrumen itu sendiri.

Boleh ceritakan apa aktivitas Ibu selain mengajar?

Memberikan seminar, kolaborasi konser yang berhubungan dengan edukasi, menjadi konsultan/advisor untuk sekolah musik, dan menulis blog tentang pendidikan musik: www.jeliaedu.blogspot.com dan www.piano-ensembles.blogspot.com

Blog yang pertama saya dedikasikan untuk para praktisi, pencinta musik, guru musik, dan orang tua yang mengulas artikel-artikel seputar pertanyaan-pertanyaan seperti yang Anda ajukan seperti orang tua lain pada umumnya – seperti: kapan anak saya siap belajar untuk memainkan instrumen, tips membaca not balok, teknik dasar mengajar piano bagi pemula, manfaat musik bagi kesehatan, dll. 

Pada blog yang kedua, disana mendokumentasikan setiap momen yang berkesan dalam proses berlatih piano ensemble bersama murid dan guru-guru sampai pada hari konser. Ada artikel tentang apa arti bermain ensemble, testimoni, tips-tips, dll yang bisa menjadi inspirasi bagi pembacanya.

Apa program yang akan Ibu laksanakan dalam waktu dekat ini?

Music education seminar bersama DIKNAS dan konser Golden Fingers Piano Ensembel di Taman Budaya Tegal pada tanggal 25 Februari 2012 nanti dalam berbagai format serta genre yang lebih luas, interaktif, menarik, dan inovatif.

Apa pesan Ibu untuk siswa-siswa yang sedang belajar piano?
Never never give up bagi murid, guru, dan orang tua!
 
Find the meaning & enjoyment of music in your life 
and you will keep playing the music on! 
Music from passion and your soul...

“Music isn't just learning notes and playing them. 
You learn notes to play to the music of your soul.” 
Katie Greenwood

Life is like a piano...
"The white keys represent happiness and the black keys represent sadness. 
But as you go through life's journey, remember that the black keys make the music too"

Life is like playing piano...
"First, you must play by the rules. 
Then, you must forget the rules and learn to play with your heart”
 
Terimakasih Bu Jelia, selamat berkarya, semoga sukses selalu.
Terima kasih juga, Pak Anton. Sukses selalu untuk majalah STACCATO dalam mendukung pendidikan musik dan iklim bermusik yang positif. Semoga kedepannya semakin banyak musisi-musisi yang berkualitas dan guru-guru yang berdedikasi tinggi. Salam musikal!