Friday, April 22, 2011

Teknik Bermain Piano Bagi Pemula



Bermain musik yang menyenangkan dapat dimotivasi dari sejak pelajaran pertama dengan menanamkan cara bermain dengan postur dan penguasaan motorik halus yang benar untuk menghasilkan bunyi yang bagus. Murid dapat mempelajari bagaimana cara menekan tuts dan memahami bagaimana jari, tangan dan lengan saling bekerja sama dalam menciptakan bunyi tsb. 

Teknik merupakan salah satu learning field yang menitikberatkan kepada: kontrol badan, tangan dan jari, ketepatan/keakuratan (precise), movement form, koordinasi, a free & relax movement from the body, elastisitas dan teknik menekan tuts/artikulasi.

 DEFINISI TEKNIK BERMAIN
Teknik bermain dapat didefinisikan sebagai “mampu melakukan apa yang ingin dilakukan pada tuts piano”. Disini teknik bukan hanya merupakan sebuah gerakan motorik/fisik, tetapi teknik juga merupakan media yang dapat mengekspresikan musikalitas lagu – disinilah letak sisi artistik dari sebuah teknik.  

 Bunyi yang musikal akan terbentuk ketika terjadi kesinambungan gambaran mental antar gerakan fisik dan bunyi yang diinginkan. Bila gambaran mental itu jelas, maka gerakan yang dilakukan pun menjadi lebih efisien. Jadi dengan adanya gambaran mental tsb., seseorang akan mampu memproduksi bunyi yang diinginkan tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk menguasai suatu permainan teknik dengan tingkat kesulitan tertentu.

Contohnya: bermain dengan tidak bersih (unclean playing) - biasanya ditandai dengan menekan tuts yang salah diantara kedua not yang bersebelahan, seharusnya tuts ditekan pada bagian tengahnya. Hal ini sering terjadi karena tangan sang pemain kaku dan pemain panik dalam menentukan mana tuts yang harus ditekan. Ketika gambaran mental tentang not mana yang harus ditekan menjadi jelas dan gambaran kinestetik tentang bagaimana rasanya menekan tuts sebelum memainkannya pada tuts yang sebenarnya telah terbentuk, maka tangan dan jari akan merespon dan bermain dengan tepat sesuai dengan gambaran mental yang diinginkan. Gambaran mental ini merupakan salah satu bentuk metode latihan mental training yang disebut sebagai visualisasi (visualization), dimana latihan dilakukan didalam pikiran kita (cara berpikir).

Definisi “teknik bermain” yang lain:
  • Kemampuan untuk membentuk bunyi melalui realisasi gerakan bermain tertentu pada suatu instrumen musik 
  • Produk yang dihasilkan dari inteligensi dan ketekunan 
  • Terletak tidak pada kekuatan, stamina, kecepatan dan fingering, melainkan pada cara berpikir, misalnya: menangkap ide musikalis dari lagu, inner hearing, bagaimana cara menghasilkan bunyi/nuansa tertentu 
  • Pemahaman mekanisme jari dan *teknik berekspresi (menurut Margit Varro) *teknik berekspresi: penguasaan dinamika lagu, pattern/phrase lagu, kontrol dari berat lengan, badan, tangan dan jari, serta inner rhythm


Murid tingkat pemula (beginner) dan basic/elementary belajar menggunakan tubuh mereka dalam mengembangkan:
  • Postur yang benar dan nyaman 
  • Kontrol badan, tangan dan jari yang akurat/tepat (precise) 
  • Gerakan tangan dan posisi jari yang natural, bebas (elastis) dan rileks (tidak kaku) 
  • Gerakan seluruh bagian lengan (whole-arm motion) 
  • Koordinasi antara jari dan lengan 
  • Koordinasi setiap jari dan gerakan yang independen dari jari 
  • Koordinasi tangan dan gerakan independen tangan 
  • *Bridge yang kuat (*bridge: bagian tulang yang menghubungkan jari dan tangan) 
  • Posisi rileks jari saat berada di udara dan berada dalam posisi tidak bermain/pasif
Kemampuan dari segi teknik yang harus dikembangkan oleh murid tingkat pemula (beginner) dan basic/elementary – target utama (main target) dalam learning field technique adalah: (lebih spesifik dari poin-poin diatas)
  • Produksi bunyi nada (tone) yang indah di berbagai level dinamika 
  • Cara menekan tuts dengan berbagai artikulasi: staccato, legato dan non-legato (portato) 
  • Dua not dengan tanda slur 
  • Keseimbangan cara memainkan melody and accompaniment pada RH dan LH 
  • Pergerakan seluruh bagian lengan (whole-arm motion) dalam memainkan suatu phrase (mempelajari bentuk-bentuk gerakan yang ada) 
  • Perubahan posisi tangan secara halus (termasuk perubahan oktaf) 
  • Kelancaran dalam bermain piano (bermain secara kontinu tanpa terburu-buru) 
  • Perluasan jangkauan jari dalam bermain interval 6th, 7th dan 8ve (tergantung dari ukuran individual tangan murid) 
  • Pergerakan ibu jari yang halus dalam berpindah posisi melalui bagian bawah jari (thumb turns & finger crossings) 
  • Kebiasaan menggunakan penjarian (fingering) yang baik dan benar
Nantinya main target dalam learning field teknik ini akan dibagi dalam tingkat kesulitan yang lebih spesifik pada dua tahun pertama murid level pemula (beginner) dan level basic (elementary) dengan pembagian sbb.:

  • Satu tahun ajaran pertama
  1. Pianist Seat” –  the correct position of spine, body, hand, arm & finger (Margit Varro)
  2. Development of body sensibility
  3. Orientation of keys on piano
  4. Coordination, rhythm and independent movement of both hands 
  5. Elementary movement study (studi menekan tuts piano dasar) 
  6. Elementary dynamic/expression (phrase, sound/tone character, articulation)
  7. Development of power finger 
  8. Skill to play 5-tone room in different scale 
  9. Introduction of Interval
  • Dua tahun ajaran pertama
  1. Blind-Play practice (*blind-play merupakan kemampuan untuk membaca notasi balok dan memainkannya pada instrumen musik tanpa melihat posisi jari)
  2. Double grips without legato (e.g. Terz) 
  3. Broken chords 
  4. Scales: one hand (regularly, keep the same tempo), two hands (similar & contrary motion) and major & minor keys 
  5. Elementary Spring hands practice 
  6. Mute/silent finger change 
  7. Legato - staccato 
  8. Dynamic & Tempo Improvement cresc./decresc. & acc./rit. 
  9. Melody & Accompaniment Contrast  
  10. Etude/Rudiments (Technique Exercises)
 
Latihan-latihan untuk murid tingkat pemula (beginner) dan basic/elementary mencakup:
  • Variasi pattern lima jari 
  • Permainan akor trinada secara bersamaan (blocked triads) dan secara terpisah (arpeggio/broken triads) 
  • Kadens I – IV, I – V dan I – IV – V (blocked  & broken triads) 
  • Thumb turns & finger crossings 
  • Tangga nada sederhana (scale passages) 
  • Not yang diulang dengan penjarian yang berbeda 
  • Teknik dasar bermain pedal 
  • Staccato vs. legato & vice versa (di tangan yang berbeda) – untuk melatih koordinasi jari dan tangan yang independen 
  • Permainan RH dan LH secara parallel dan berlawanan (parallel & contrary motion between RH - LH)
Teknik bermain merupakan kemampuan lain yang harus dilatih pada awal masa KBM dan merupakan salah satu learning field yang paling penting dalam pembentukan dan perkembangan ritmik dan kemampuan membaca notasi balok yang kuat.

Teknik bermain yang solid akan memfasilitasi murid untuk memproduksi kualitas bunyi yang diinginkan, bermain secara nyaman (comfortable) dan terlihat seperti ‘tanpa usaha’ (effortless), mengkoordinasi badan, lengan, tangan dan jari dengan rileks dan cara yang paling natural serta memainkan musik di berbagai tingkat studi. Teknik bermain yang benar harus ditanamkan dan dilatih dengan rajin serta teliti sejak jam pelajaran yang pertama pada anak supaya terbentuk menjadi kebiasaan yang baik.  
 Oleh: Jelia Megawati Heru

Wednesday, April 20, 2011

Kapan Anak Saya Bisa Start Belajar Instrumen?

"Apakah anak saya siap untuk mempelajari instrumen?"
"Sebenarnya umur berapakah anak bisa mulai bermain instrumen?"

Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan pertanyaan yang umumnya sering diajukan oleh setiap orang tua, ketika mereka ingin memasukkan anak mereka ke lembaga formal/kursus musik.

CHILD-LED
Semuanya tergantung dari sang anak

Tidak ada umur yang pasti yang bisa ditentukan, apakah anak Anda siap untuk mempelajari instrumen. Semuanya tergantung dari perkembangan, minat, dan bakat sang anak. 

Mempelajari instrumen 'terlalu dini' (*anak belum siap) dikhawatirkan akan  membuat anak putus/berhenti untuk bermain instrumen di tengah jalan, karena mereka memulai pelajaran formal terlalu awal pada usia dua dan tiga tahun. Umumnya anak akan mengalami kesulitan untuk menangkap materi  yang diberikan, karena materi terlalu sulit dimengerti bagi anak usia dini. 

Mulailah pelajaran bermusik untuknya lebih awal hanya jika Anda mempunyai waktu dan energi untuk berlatih bersamanya setiap hari, dan pengamatan yang jelas untuk menghentikan kegiatan bila motivasinya menurun. Belajar membaca adalah pekerjaan yang berat; demikian pula belajar untuk memainkan alat musik. Melakukan keduanya sekaligus tidak menyisakan banyak waktu untuk bersenang-senang, relaksasi, atau menguasai ketrampilan sosial.

Hal-hal yang dibutuhkan dalam mempelajari instrumen tahap awal:
  • Kesiapan perkembangan otot motorik halus: kontrol & koordinasi jari-jari dan tangan
-Mampu mengangkat masing-masing jari tangan tanpa rasa sakit dan cukup kuat untuk menekan tuts atau memetik senar
-Jari-jari mempunyai ukuran yang cukup besar untuk membentuk posisi bermain instrumen. Misalnya: pada instrumen piano - jari-jari sudah berada dalam posisi lima jari, dimana setiap jari sudah berada tepat di masing-masing tuts piano (C D E F G) 
-Pada instrumen tiup, sebaiknya anak memulai mempelajari instrumen ini, apabila anak mempunyai gigi tetap (karena tekanan udara dari meniup), badan yang cukup besar/kuat untuk menopang instrumen, mulut yang kuat, perkembangan otot bibir yang baik, dan kemampuan meniup yang baik pula
-Pada pelajaran vokal, lebih baik dimulai apabila anak telah mengalami perubahan suara (setelah proses puber). Karena  setelah perubahan suara tsb., otot-otot yang diperlukan dalam bernyanyi telah berkembang dengan sempurna dan siap untuk dilatih. Apabila latihan vokal tidak dilakukan dengan benar, maka dikhawatirkan pita suara dapat menjadi rusak. Sampai saatnya tiba, fokuskan anak untuk mempelajari instrumen lain yang akan mendukung pembelajaran vokal di masa yang akan datang.
  • Daya tangkap, perhatian, dan konsentrasi (minimal sekitar 10-15 menit) 

  • Kesiapan kognitif (*Kognitif: mencakup semua hal yang berhubungan dengan penerimaan serta pemahaman informasi, yaitu pengetahuan, pengertian, pemahaman - logika & assosiasi)
  • Pengetahuan dasar berhitung (1234), membaca (ABCDEFG), dan menulis

  • Kesiapan sosial: mampu berinteraksi dengan orang lain, mampu menerima keberadaan orang lain, dan mengekspresikan dirinya (kontak mata, menjawab pertanyaan, mampu menerima instruksi, pujian, toleransi, menghadapi tantangan, dll.)

Setiap anak mempunyai perkembangan yang berbeda-beda - ada anak yang mempunyai perkembangan motorik halus yang luar biasa cepat pada usia 4 tahun; ada pula anak yang baru mempunyai perkembangan motorik halus yang baik pada usia 8-9 tahun. Perkembangan setiap anak sangat bervariasi, oleh karena itu sudah merupakan tanggung jawab orang tua untuk mengobservasi perkembangan anak dan menentukan apakah anak Anda siap untuk mempelajari instrumen.

Apabila anak belum mempunyai otot motorik halus yang cukup kuat, lebih baik tundalah dulu pelajaran instrumen anak untuk setahun ke depan. Karena apabila dipaksakan, maka otot motorik halus anak dapat mengalami cidera, yang berujung pada posisi bermain yang salah. Kebiasaan yang buruk ini akan sulit diubah, karena telah berakar kuat dalam diri anak.

Berikut ini beberapa tips untuk mengetahui apakah anak Anda siap mempelajari instrumen atau tidak.

1. Watch & Learn
  • Observasi minat dan bakat anak dalam bidang musik
  • Apakah anak Anda musikal dan mencintai musik?
  • Apakah anak Anda suka menyanyi?
  • Bagaimana reaksi anak Anda ketika mendengar musik?
  • Apakah anak Anda cepat mengimitasi bunyi dan suara-suara di sekitarnya?
2. Komunikasikan ke anak tentang belajar instrumen!
  • Apakah dia tertarik untuk mempelajari instrumen?
  • Apa manfaat mempelajari instrumen? 
  • Jelaskan dalam mempelajari instrumen dibutuhkan latihan dan komitmen! *Terutama pada anak berumur 7-8 tahun mulai bisa dituntut untuk bertanggung jawab atas pilihannya dan diberikan penjelasan mengenai konsekuensi latihan. Apakah anak bersedia untuk latihan?
  • Alat musik/instrumen manakah yang tertarik ingin dimainkan?
3. Be supportive!
  • Dukunglah anak Anda untuk tetap bermain instrumen hingga kapanpun!
  • Yakinkanlah anak Anda bahwa Anda sebagai orang tua akan selalu mendukungnya!  
  • Jadilah sumber inspirasinya, sehingga dia tetap termotivasi dan ingin terus belajar!
4. Sharing & Praise
  • Tunjukkanlah antusiasme Anda, betapa senangnya dan bangganya Anda sebagai orang tua terhadap anak Anda ketika dia bisa bermain musik dan berlatih!
  • Berikanlah pujian terhadap usahanya dalam berlatih dan ketika dia bisa memainkan lagu yang sederhana sekalipun!
  • Mintalah dia untuk memainkan suatu lagu untuk Anda!
  • Dengarkanlah dia ketika sedang berlatih dan berikanlah masukan yang membangun dan memotivasi anak!
  • Diskusikanlah lagu-lagu yang sedang dimainkannya, bertanya lagu mana yang dia sukai, dan bagikanlah apa yang Anda rasakan tentang lagu itu!
5. Never force your child!
  • Jangan paksa anak Anda untuk melakukan suatu hal yang tidak siap dia lakukan! (*kecuali kalau anak malas dan sama sekali tidak ada interest)
  • Tanamkan bahwa bermain musik itu FUN!
  • Apabila anak Anda tidak menikmati musik, berarti ada sesuatu yang salah disini. Carilah dimana letak permasalahan nya yang membuat bermain musik menjadi tidak menyenangkan untuknya, mencari solusinya, dan mengkomunikasikan hal ini ke anak. Apakah dia merasa terbeban dengan harus berlatih setiap hari? Apakah anak mendapatkan kesulitan dalam hal membaca notasi balok, teknik penjarian, dll.
  • Tekankan bahwa dia tidak perlu menjadi seorang profesional di bidang musik, yang Anda inginkan sebagai orang tua hanyalah mendukungnya sebaik mungkin dan menginginkan yang terbaik untuknya. Anda ingin dia mencintai musik, seperti Anda pun mencintai musik. Anda berharap lewat bermain musik, dia bisa mengekspresikan dirinya dan musik bisa menjadi bagian yang penting dalam hidupnya!
Semoga informasi ini membantu para orang tua dan guru untuk lebih bijak dalam memulai pelajaran instrumen jangka panjang... Play music for life!

Oleh: Jelia Megawati Heru

Sunday, April 17, 2011

"Fit as a Fiddle"

 Pusing sudah latihan teteup saja ngga' bisa-bisa?
Hmmm... kenapa ya? Apakah ada yang salah dengan cara berlatih Saya? 
 

TIPS DALAM BERLATIH INSTRUMEN


Ketika Anda telah bertekad untuk mempelajari dan memainkan instrumen musik, maka langkah berikutnya adalah berkomitmen dalam berlatih. Untuk menguasai instrumen Anda, maka Anda harus berlatih secara teratur, kontinu, dan disiplin. 

Sekilas kita bisa melihat bahwa ada suatu persamaan antara atlet dan musisi. Bermain instrumen musik melibatkan gerakan-gerakan fisik yang kompleks, detail, dan harus dilakukan dengan seakurat mungkin. Sama seperti layaknya seorang atlet, bermain musik membutuhkan kekuatan, stamina, kefleksibelan anggota tubuh tertentu, dan body awareness. Bahkan sebuah sesi kecil dari latihan dapat melibatkan pengulangan gerakan tertentu. Oleh karena itu sebelum kita mempelajari instrumen musik, sebaiknya kita mengetahui betapa pentingnya kita menjaga kondisi tubuh kita seperti layaknya seorang atlet yang menghargai tubuhnya - supaya nantinya tubuh kita dapat memberikan respon yang baik terhadap tuntutan fisik yang kita inginkan.


Di setiap sesi pembelajaran, seorang guru yang baik akan memberikan dukungan untuk menciptakan kebiasaan bermain yang baik dan posisi bermain yang seimbang (well balanced). 


Masalah-masalah koordinasi dalam bermain musik umumnya terjadi karena postur/posisi tubuh yang salah, dimana bisa berdampak kepada permainan instrumen yang kurang baik - memang tidak selalu karena postur/posisi yang salah, tetapi hal ini bisa menjadi salah satu faktor yang cukup mengganggu performa kita.

Posisi yang kurang baik dapat menyebabkan nyeri pada otot, sendi, urat syaraf, dan berisiko menjadi cidera yang serius, seperti perubahan susunan tulang/sendi kita: sakit punggung dan Repetitive Strain Injuries atau sering disebut sebagai RSI, yaitu: cidera yang disebabkan oleh gerakan yang dilakukan secara berulang-ulang. Sebaliknya, postur/posisi yang sempurna dan seimbang, dimana otot dan sendi selalu berada dalam posisi netral, sehingga memungkinkan musisi untuk melakukan gerakan secara bebas dan tidak mudah kelelahan.


Penyebab sakit/nyeri pada punggung/tulang belakang (spine
dapat disebabkan oleh:
  1. Tegang
  2. Gerakan terus menerus yang berlebihan pada satu bagian tubuh
  3. Kekurangan gerak (kaku)
  4. Gerak otot yang tidak sinergis (non  balance)
  5. Kesalahan gerak
  6. Unsur psikologis (misalnya: stress, demam panggung, takut)
  7. Perubahan struktur pada tulang belakang
  8. kelebihan berat badan
Kesulitan yang spesifik dimiliki oleh para musisi
  1. Gerakan satu arah yang berlebihan dalam waktu yang  cukup lama (duration) → non balance musculature, kesalahan bergerak
  2. Tuntutan pekerjaan yang spesifik, misalnya: pada jari telunjuk, wajah dan mulut
  3. Pentingnya kualitas musik yang dihasilkan secara teknik, artistik,  serta estetika (membutuhkan faktor kontrol pendengaran yang baik)
  4. Tuntutan psikis yang berlebihan (efek perubahan psikis/fisik yang cepat)

10 TIPS JITU dalam BERLATIH

 1. Don't skip warming up!

Hayo, siapa yang suka komplain kalau disuruh untuk pemanasan? Bawaannya pengen buru-buru main lagu aja? 

Pemanasan akan membuat tangan dan jari-jari menjadi lebih fleksibel, serta berfungsi mencegah terjadinya risiko cidera. Seorang pelari maraton tidak akan berlari terlebih dahulu tanpa melakukan stretching (peregangan otot) terlebih dahulu bukan? Prinsip yang sama juga diaplikasikan dalam berlatih instrumen. 
  • Lakukan pemanasan sebagai rutinitas sebelum berlatih (kira-kira 5 sampai 10 menit)
  • Terapkan proses latihan yang baik: warming up - repertoire rehearsal - cooling down
Contoh proses latihan yang terencana dengan baik:
  1. Warm-up / Preliminary Exercises
    1. Stretching, relaxation techniques
    2. Finger exercises:scales, arpeggios, block chords with inversion
    3. Etudes and Technical Exercises
    4. Sight reading
  2. Repertoire Rehearsal
    1. Memory work
    2. Slow metronome work, increase speed on difficult technical passages
    3. Run-throughs of entire pieces (possibly record performance for evalutation)
    4. Evaluate your performance based on:
      1. Pitches (correct notes and fingerings)
      2. Rhythm (correct rhythms, appropriate tempi, effective timing)
      3. Dynamics (loud and quiet, shape, gesture, RH vs LH, Melody vs Accompaniment)
      4. Timbre (tone color, pedaling, melodic prominence, shading, soft pedal, exploiting register)
      5. Style (appropriateness to genre and composer, pedal, articulation, dynamic range, tone)
  3. Cooling down
  4. Review / Planning / Fun
    1. Play through old repertoire, and/or rehearse difficult technical passages in old repertoire.
    2. Record what you accomplished during this rehearsal in your practice journal
    3. Write down a plan and goals for the next rehearsal in your journal
    4. If you have time left, reward yourself by playing something you enjoy (and/or something easy)

2. Minum air putih

Minumlah segelas air sebelum dan sesudah latihan. Meminum air putih ternyata dapat meningkatkan konsentrasi dan stamina dalam berlatih. Sedangkan dehidrasi dapat menurunkan kinerja/performa atlet sampai 30%.

3. Observasi tubuh Anda dan atur posisi badan terhadap instrumen
  • Pastikan Anda duduk, berdiri atau berada dalam posisi yang benar dalam hubungannya terhadap instrumen musik Anda
  • Posisi yang benar tidak saja dapat mencegah risiko terjadinya nyeri dan cidera, tapi juga dapat meningkatkan stamina, bermain dengan lebih efisien, serta mendukung kualitas permainan yang lebih baik
4. Suasana latihan yang kondusif
  • Cahaya/penerangan yang cukup
  • Suhu ruangan yang nyaman (tidak terlalu panas/dingin)
  • Electronic OFF please! (no TV, radio, handphone, ipod, etc.)
  • Get your instrument ready! (metronome, sheet music, music stand)
5. Jeda/istirahat secara berkala
  • Hindari latihan dalam jangka waktu yang lama tanpa henti!
  • Latihan dengan jangka waktu yang lama dan dalam tempo yang cepat tidak akan efisien. Karena stamina kita akan semakin menurun, otot-otot juga tidak mempunyai kesempatan untuk pulih ke kondisinya semula (rileks), sehingga konsentrasi serta kualitas latihan pun menurun karena badan mudah lelah.
  • Lebih baik berlatih dalam beberapa sesi pendek (20 menit hingga 1 jam - sangat bervariasi, tergantung dari kondisi tubuh setiap musisi) disertai dengan jeda sekitar 10-15 menit. Sehingga tubuh mempunyai waktu untuk pulih dan latihan menjadi lebih berkualitas - konsentrasi tinggi, efektif dan efisien.
  • Hindari latihan terburu-buru  (panik) dengan target yang terlalu tinggi! Berlatihlah secara step-by-step! Hal ini umumnya terjadi apabila musisi sedang berada dalam tekanan, seperti: konser, ujian, big events, deadline, maupun audisi.
  • Hargailah diri kita sendiri & reward yourself! Anda baru mempelajari lagu baru, pusssinnnggg n ribeeeet... So, take a break and get some coffee latte, watch movie, get creambath or some 'ME' time! Yakinkan diri Anda bahwa Anda telah melakukan yang terbaik and feel good about yourself! You deserved it!
 6. Berlatih setiap hari secara teratur 
  •  Aturlah dan sediakanlah waktu untuk berlatih secara teratur! Buatlah latihan sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari, seperti layaknya menyikat gigi... (kalau yang tidak rajin sikat gigi nggak tahu ya??? Berarti contohnya kurang tepat - no judging here...)
  • Latihan yang teratur akan meningkatkan stamina, konsentrasi, dan hasil yang lebih akurat serta signifikan. Berhubung musisi merupakan profesi yang menuntut kedisiplinan tinggi seperti layaknya pada atlet (terampil dan terlatih) atau profesi yang memerlukan skill, maka latihan merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar. Jika kita tidak disiplin dalam berlatih (maintanance), maka kita tidak akan bisa mengontrol tubuh kita sendiri, tidak jarang bahkan kita bisa kembali ke titik semula, atau bahkan minus walaupun kita merupakan musisi profesional kaliber dunia sekalipun.
7. Ambil nafas

Sebetulnya mengambil nafas merupakan hal yang tidak perlu dibahas, karena  bernafas merupakan hal yang sangat wajar dilakukan. Tetapi banyak musisi yang tidak menyadari betapa pentingnya mengambil nafas selama mereka bermain dan apa dampaknya bagi performa panggung mereka. Bernafas secara teratur akan meningkatkan kadar oksigen dalam darah kita. Semakin banyak suplai oksigen di dalam darah, maka semakin kecil kemungkinan tubuh kita mengalami keletihan, sehingga stamina meningkat, otot menjadi lebih berenergi dan terkoordinasi dengan baik.
 
8. Latihan mental (mental training)
  
Pikiran mempunyai koneksi yang sangat kuat terhadap tubuh. Setiap hal yang kita pikirkan selalu akan mendapatkan reaksi dari tubuh kita - terlepas dari apakah hal itu real atau dibayangkan.


Contoh yang sangat sederhana adalah apabila kita mengalami mimpi buruk. Umumnya ketika mengalami mimpi buruk, kita akan terbangun secara tiba-tiba, detak jantung meningkat, badan berkeringat dingin - padahal kita hanya sedang tidur. Tetapi ada sesuatu hal buruk yang terjadi dalam pikiran kita dan badan kita bereaksi terhadap hal itu.

Contoh lainnya, jika Anda di rumah sendirian dan Anda mendengar 'suara'. Apabila Anda mengintepretasikan 'suara' itu sebagai angin saja, maka Anda akan baik-baik saja; tetapi apabila Anda mengintepretasikan 'suara' itu sebagai ancaman (misalnya: ada pencuri), maka tubuh Anda akan berada dalam posisi terjaga atau ketakutan secara refleks, jantung menjadi berdebar-debar, pupil mata membesar, dan berkeringat dingin. 
Itu hanya beberapa contoh yang membuktikan betapa kuatnya koneksi antara pikiran dan tubuh kita. Oleh karena itu kita mengetahui betapa pentingnya untuk melatih tidak hanya tubuh saja, tetapi seorang musisi juga harus melatih keduanya: pikiran dan juga tubuh.
 
"Sports is 90-95% mental."  
Para atlet dan pelatih akan mengatakan hal yang sama. Tetapi berapa orang dari antara mereka yang melakukan sesuatu tentang hal ini? Hal ini memang merupakan pengetahuan umum, tetapi hal ini bukan merupakan hal umum yang selalu diterapkan dalam prakteknya. Mungkin mereka tidak mempunyai waktu untuk ini, mungkin mereka tidak punya nara sumbernya, atau sesungguhnya mereka tidak mempercayai hal ini. Apapun alasannya kenyataannya tetap tidak berubah, mereka tidak menggunakan hal yang paling kuat, yaitu: pikiran. Umumnya banyak atlet yang mengalami keletihan luar biasa secara mental daripada secara fisik, karena kondisi pikiran mereka tidak sebaik kondisi tubuh mereka. Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, musisi juga merupakan atlet seni. Anda harus kuat dan fit - baik secara teknik, maupun mental. 


Arti latihan mental dalam musik sendiri adalah berlatih tanpa instrumen musik untuk mengembangkan suara/musik di dalam tubuh kita dan imajinasi. Teknik  bermain yang dilatih berdasarkan cara berpikir (main set). 
  • Cobalah untuk lebih rileks, tenangkan pikiran Anda, dan rasakan musik di dalam tubuh kita lewat semua indera yang ada!  
  • Try to hear the inner sounds & feel your own movements!
  • Play/sing in your inner tempo!  
  • Ambillah waktu untuk diri Anda sendiri untuk mengedukasi diri Anda secara musikal, daripada mengulang satu bagian yang sama 20 kali tanpa mengalami perubahan yang berarti!

The movement training, that could be trained through Mental Training:
  1. observe/watch one movement (optic)
  2. inner thinking about the movement performance consciously
  3. verbalize the movement
  4. difference the imagination of sounds
  5. analyze thinking of complicated passage
  6. memorized playing
9. Jangan selalu memulai dari awal lagi!
  • Rancanglah waktu latihan dan rencana latihan Anda - apa saja yang perlu dikerjakan dan dilatih step-by-step, sedikit demi sedikit
  • Observasilah hasil latihan Anda, apa yang perlu direvisi, bagian mana yang perlu diulang dan dilatih. Jangan selalu mengulang bagian yang sama yang sudah dikuasai dan mengulang lagu dari awal apabila terjadi kesalahan!
10. Use prime time!
  • Gunakanlah waktu terbaik Anda untuk mempelajari sesuatu yang baru - yaitu 20 menit pertama dari latihan sesi pertama Anda di hari itu! Banyak musisi yang menggunakan sesi ini untuk memainkan lagu favorit mereka, sampai akhirnya mereka terlanjur kelelahan ketika harus mempelajari sesuatu yang baru.
  • Anda lah guru terbaik bagi diri Anda sendiri, oleh karena itu temukanlah waktu terbaik Anda untuk berlatih! Berlatih dengan usaha yang minimal untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mengurangi stress.
Nah, mudah-mudahan tips ini cukup membantu menginspirasi murid, guru, musisi dan pencinta musik yang mengalami dilema dalam berlatih. Selamat mempraktekkan, semoga berhasil, dan tetap semangat! Never give up on yourself! Kalau hari ini belum berhasil, masih ada hari esok... Kesusahan sehari cukup untuk sehari saja, namanya juga belajar ya ngga'? Wish you have a great weekend then.... ^_^

Oleh: Jelia Megawati Heru

Thursday, April 7, 2011

Bermain Musik vs Pendidikan Musik



Pendidikan musik mempunyai kelebihan dalam segi kapasitasnya dibandingkan dengan pendidikan dalam bidang yang lain. Sebuah pengalaman musikal mampu mengubah hidup seseorang. Apakah hal yang sama dapat dikatakan dalam mempelajari rumus aljabar, mengarang dalam bahasa asing, maupun hukum fisika?

APA SAJA YANG DIPELAJARI DALAM MUSIK?

Dalam musik, seseorang dituntut untuk mempelajari matematika: bagaimana cara menghitung, menjaga kestabilan tempo,  dan menentukan panjang setiap nada yang dimainkan dalam waktu yang bersamaan, maupun waktu yang berbeda-beda. Ilmu pasti (science) juga sangat dibutuhkan untuk memahami hukum Pythagoras "overtone series" - bagaimana musik diproduksi melalui getaran (vibration). 

Kita mempelajari koordinasi gerak yang luar biasa melalui musik - seperti layaknya atlet, dimana kemampuan motorik besar (gross motor skills) dan kemampuan motorik halus (fine motor skills) digunakan untuk memainkan instrumen. Seorang penyanyi dan pemain alat tiup harus belajar untuk mampu mengontrol pernafasan mereka dan tetap berada dalam kondisi yang prima selama performance berlangsung.

Seorang pemain musik juga mempelajari tentang seni (fine art). Seorang musisi akan mempelajari tentang komposernya, lagunya, karakter, hubungannya dengan bidang seni yang lain, dan style musik ybs. Oleh karena itu menjadi seorang musisi dapat dikatakan sama seperti menjadi layaknya seorang atlet seni. 

Seperti yang kita lihat, musik merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan kita. Musik dapat menggambarkan karakter dan suasana apapun -  untuk itu dibutuhkan seorang musisi yang spesial dengan interest serta passion untuk menghasilkan good quality of music. Namun terkadang musik sering diremehkan dan dipandang sebagai suatu hal yang mudah atau hanya merupakan permainan semata saja. Memang betul, bermain musik merupakan hal yang sangat menyenangkan, karena memang musik memang FUN (tetapi tidak mudah!). 

Musik merupakan hal yang sangat penting bagi pendidikan anak. Pendidikan musik akan meningkatkan cara berpikir anak, yang memungkinkan mereka untuk berpikir pola-pola musik yang kompleks - bagaimana caranya untuk membuat suatu bagian (passage) dalam sebuah lagu menjadi terdengar lebih baik, apa perubahan kecil yang bisa dibuat untuk menyesuaikan nada/intonasi, bagaimana musik dan bagian-bagian yang terdapat di dalamnya bisa membentuk suatu harmoni yang selaras? 

BERMAIN MUSIK vs PENDIDIKAN MUSIK

Walau masih banyak orang yang berpikir skeptis tentang besarnya dampak pendidikan musik di sekolah, hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa pendidikan musik merupakan hal yang sangat krusial dan sama krusialnya dengan menemukan guru musik yang betul-betul mempunyai kredibilitas, kompetensi, serta dedikasi yang tinggi dalam mengajar. 

Di universitas, mahasiswa musik mempunyai bahan-bahan yang sangat banyak untuk dipelajari - an awful lot! Pendidikan musik merupakan salah satu bidang yang mempunyai program yang sangat padat, mata kuliah terbanyak, serta jam terbang yang banyak. Para calon guru musik harus mempelajari materi umum mengajar, psikologi, sejarah musik, teori musik, komposisi, aransemen, metode-didaktik mengajar, conducting, praktek kerja, mengenal semua jenis repertoire yang ada, teknik mengajar, sekaligus mampu memainkan instrumen, dan masih banyak lagi. 

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa musik mempunyai kekuatan yang luar biasa bagi kehidupan seseorang. Bagaimana musik ini bisa berdampak terhadap seseorang merupakan tantangan yang besar bagi seorang guru, karena pengalaman bermain musik tidak bisa menggantikan pendidikan musik itu sendiri. Pendidikan merupakan pertemuan beberapa bidang, dimana musik disini dipelajari seperti bahasa, secara terus-menerus, kontinu, berkesinambungan melalui mendengarkan, analisa dan latihan-latihan.


Pendidikan musik harus diciptakan dan diimplementasikan dengan cara holistik dan mempunyai perkembangan rute serta fase pembelajaran yang fleksibel sebagai suatu struktur yang komplit/utuh dan saling berintegrasi. Seorang guru musik sebaiknya selalu menginvestigasi sikon dalam kelas, baik one-to-one, maupun grup (classroom work small group), serta memahami dan mengimplementasikan metode pembelajaran yang tepat & program yang bervariasi dalam pembelajaran instrumen, menyanyi, kegiatan musikal lainnya dalam jangka waktu tertentu.

Selama proses ini berjalan, seorang guru juga harus mencari jawaban-jawaban dalam perkembangan kegiatan belajar mengajar instrumen, seperti: seberapa sukses kah pembelajaran instrumental sebagai dasar bagi perkembangan musik anak di masa depan? Bagaimana guru bisa me-manage perkembangan musikal murid yang sangat bervariasi? Bagaimana guru harus menilai berbagai kategori musik yang ada di dalam pembelajaran musikal murid? Hal ini perlu dipertimbangkan untuk menghindari terjadinya ekspektasi yang terlalu tinggi bagi murid. 
Mengajar seharusnya tidak hanya menjadi sebuah pekerjaan maupun profesi - melainkan passion, human service, visi dan misi. 
Seorang guru musik yang baik tidak terlalu memfokuskan diri mereka terhadap "standar umum" atau tes/ujian, tetapi memfokuskan diri mereka pada hal yang benar-benar penting yaitu: “learning about music itself!”. Tidak semua anak mempunyai kapasitas untuk menjadi seorang musisi dunia dan menempuh jenjang karir internasional dalam bidang musik, namun musik akan selalu menjadi bagian yang penting dalam hidupnya - untuk mengapresiasi dan mengekspresikan dirinya, memenuhi kebutuhan mereka selama masa-masa remaja, dan melengkapi hidup di saat mereka menjadi dewasa.

Mempertimbangkan kesibukan anak di sekolah dengan segala aktivitas ekstrakurikulernya, maka orang tua harus mempertimbangkan jumlah waktu yang akan digunakan untuk berlatih. Tidak cukup hanya berlatih di sela-sela waktu dimana anak tidak mempunyai kesibukan di sekolah. Untuk menghasilkan perkembangan yang signifikan dalam pembelajaran instrumen, maka anak harus menginvestasikan waktunya untuk berlatih instrumen. Beberapa guru mempunyai kuota tersendiri bagi muridnya, umumnya berkisar antara 20 menit sampai 1 jam dalam sehari, tergantung level muridnya dan kesulitan lagunya. Pada awalnya 20 menit sampai 1 jam ini akan terasa sangat banyak dan lama, tetapi jika Anda bandingkan dengan kegiatan olahraga kompetitif anak di luar sekolah (termasuk transport dan menunggu permainan dalam kompetisi), bermain instrumen ternyata tidak terlalu menghabiskan banyak waktu sama sekali.

Beberapa orang tua, walaupun mereka mengklaim ketidaktahuan mereka dalam bidang musik, tetap dapat mengapresiasi musik dan perkembangan anak mereka dengan mengamati pelajaran musik yang diterima oleh si anak dan mendengarkan latihan harian anak mereka. 
"If you want to convince your child that musical education is important, start by being convinced of it yourself."
Ingin mendukung pendidikan musik anak anda? Silahkan baca pada artikel berikut ini:  http://jeliaedu.blogspot.com/2011/03/apakah-anda-orang-tua-yang-supportif.html