Thursday, June 6, 2019

THE GRIT - Liputan Konser Jelia's Piano Studio, @RCSC, May 5, 2019

“THE GRIT”
Liputan Konser Jelia's Piano Studio
@RCSC, 5 Mei 2019


Jika ditanya, apa sebetulnya ukuran kesuksesan sebuah konser siswa? Jawabannya sederhana saja. Yakni bahwa setiap siswa yang berkesempatan tampil, memperoleh ruang untuk menyatakan rasa dan gairah akan seni bunyi, secara pas. Pas dalam batasan:  tempat pertunjukan, nuansa, tata etika, dan pengorganisasian acara. Itulah yang sudah dihadirkan JELIA’S PIANO STUDIO dengan direksi Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu. Untuk ke-17 kalinya, menggelar Annual Concert/Recital, bertempat di PUSAT KEBUDAYAAN RUSIA, Menteng, Jakarta.


Dalam sambutan pembukaannya, Jelia mengemukakan konsep pentingnya “THE GRIT”. Jika dibahasa Indonesiakan, GRIT bisa diartikan sebagai kombinasi antara gairah, ketahanan, tekad, dan fokus, kualitas seseorang untuk mempertahankan disiplin dan optimisme untuk bertahan dalam mencapai tujuan mereka. Bahkan dalam menghadapi ketidaknyamanan, penolakan, kemajuan yang tidak terlihat selama bertahun-tahun.

Wednesday, June 5, 2019

VIVID IMAGERY | Kelvin Andreas' New Album

“CITRA BENING”
VIVID IMAGERY 
Kelvin Andreas' New Album

KELVIN ANDREAS, drummer & composer
(foto: kremolens)

Sebuah citra, semestinya terbebas dari segala cacat cela. Sebuah citra semestinya jernih, bening dengan makna nyaris tak berbatas. Sebuah citra kadang lugas membahasakan dirinya. Itulah yang diusung oleh Kelvin Andreas. Seorang Drummer dan Composer lulusan Berklee, Boston, USA, dalam album perdana nya “VIVID IMAGERY”. Album ini dirilis dan di launching pada April 2019. Judul Album menyiratkan makna sebuah Citra yang VIVID. Bening, tegas, lugas, nyaris telanjang dan apa adanya. Cover Album dikerjakan oleh Meilissa Johana dalam sebuah sketsa dengan guratan kuat menyirat makna.


Dapat dikatakan, Kelvin Andreas sangat serius menggarap album perdananya. Musisi yang digandengnya berasal dari latar belakang kultur yang beragam. Nathan See pada Alto Sax, Takeru Saito pada Piano, Ioseb ‘Soso’ Gelovani pada Bass, dan Kelvin Andreas sendiri pada Drums.

Tuesday, April 30, 2019

LATIHAN JARI ALA BURGMÜLLER - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, May 2019)

“LATIHAN JARI 
ALA BURGMÜLLER”
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, May 2019



Jika Anda mempelajari piano klasik dengan rezim tradisi latihan jari ala Czerny, Hanon, Duvernoy, dan Pischna; pasti nama Burgmüller menjadi tidak asing lagi dalam menu latihan Anda. Walau banyak latihan jari lain yang luar biasa selain Burgmüller, karya-karyanya seperti: Studi Op. 68, 76, 97, 100, dan 105, telah menjadi andalan dan referensi repertoar étude dasar bagi banyak generasi dalam bentuk miniatur – bahkan hingga detik ini. Pada artikel kali ini akan dibahas latihan jari ala Burgmüller dan beberapa repertoar nya yang melegenda.


Burgmüller ditulis oleh pianis dan komposer asal Jerman, yakni Johann Friedrich Franz Burgmüller (1806-1874). Ia lahir dan besar di kalangan keluarga musisi. Ayahnya Johann August Franz Burgmüller adalah seorang organis dan konduktor di Teater Weimar, Jerman (1766-1824) dan kakak laki-lakinya Norbert Burgmüller adalah seorang komposer dan pianis Jerman (1810-1836). 

Johann pindah ke Paris pada 1832, saat ia berusia 26 tahun. Dimana ia menjadi guru piano sampai akhir hayatnya, mengadopsi musik Perancis, dan mengembangkan ciri khas nya – gaya bermain yang ringan. 

Monday, April 1, 2019

3 COOL PIECES FOR BOYS - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, April 2019)

“3 COOL PIANO PIECES FOR BOYS”
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, April 2019)


STEREOTYPE ANAK LAKI-LAKI
Belajar piano itu tidak mudah, khususnya bagi anak laki-laki. Memainkan “Minuet in G” di piano mungkin bukan merupakan hal yang bisa mereka banggakan kepada teman-temannya. Malah mungkin ide laki-laki bermain piano adalah hal yang tidak keren. Laki-laki akan terlihat cool, jika memainkan bola basket, sepak bola, dan tenis. Macho, berotot, dan atletis – itulah anggapan banyak orang tentang ide seorang laki-laki yang keren. Image itulah yang ditawarkan banyak iklan.  

Well, oh well… kuno! Wake up! Kita sekarang hidup di abad ke-21, bukan zaman Siti Nurbaya. Stereotype semacam itu sudah tidak berlaku lagi. Anak laki-laki zaman now mungkin lebih suka main games daripada lari-lari keringatan di lapangan atau main basket. Mungkin jadi social media influencer, seperti youtuber atau vlogger malah bisa dibilang cool-erAnd yes, laki-laki bisa menjadi seorang penari. Laki-laki bisa menjadi fashion stylist dan seorang supermodel. Apakah laki-laki bisa jadi seorang pianis? Oh hell, yeah!

Batasan antara laki-laki dan perempuan di abad ke-21 menjadi semakin blur. Apapun yang dilakukan oleh laki-laki bisa juga dilakukan oleh perempuan, dan juga sebaliknya. 

Thursday, March 21, 2019

Piano Recital at RCSC - Sunday, 5th May 2019 | 3-5 pm

Dear Sir/Madam,
We cordially invite you to:

17th ANNUAL
PIANO RECITAL
at Russian Center of Science & Culture


Directed by:

VENUE
RUSSIAN CENTER OF SCIENCE & CULTURE
Pusat Kebudayaan Rusia
Jln. Diponegoro No. 12
Menteng, Central Jakarta

SUNDAY, MAY 5, 2017
3 PM - 5 PM

Friday, March 1, 2019

PIANO FOR BOYS - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, March 2019)

“PIANO FOR BOYS”
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, March 2019)



Sebelum Anda membaca artikel kali ini, perlu diketahui pembaca, bahwa penulis bukanlah sexist dan tidak memihak. Artikel ini juga tidak mutlak berlaku untuk semua kasus (stereotype) dan pembaca disarankan untuk berpikiran terbuka dan bijak dalam menyikapi kondisi setiap murid yang berbeda (per kasus).

“Men are from Mars, and Women are from Venus.” Begitulah ujar penulis dan psikolog Amerika, John GreyPh.D. Pria dan wanita berasal dari planet yang berbeda. Tidak heran, bagaimana pria dan wanita mempunya pola pikir dan pendekatan yang berbeda dalam menanggapi stress dan masalah. Pria dan wanita merupakan dua makhluk yang berbeda, oleh karena itu tidak heran mengajar murid laki-laki membutuhkan pendekatan yang berbeda dengan murid perempuan, baik secara fisiologis maupun psikologis.

KESULITAN MENGAJAR MURID LAKI-LAKI
Walau tidak selalu, namun umumnya mengajar anak laki-laki bisa menjadi lebih menantang daripada mengajar anak perempuan. Apalagi jika mereka baru memulai belajar piano dalam usia remaja. Remaja bekerja dengan kecepatan serat optik, mengambil sampel informasi tiga kali lebih cepat daripada orang dewasa. Sayangnya kemampuan bermain musik jangka panjang tidak berfungsi dengan kabel digital otak seorang anak laki-laki secara alami. Sedangkan belajar piano ibarat lari marathon.

Friday, February 1, 2019

TEMPO RUBATO: "The Art of Playing Stolen Time" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, February 2019)

TEMPO RUBATO
“THE ART OF PLAYING STOLEN TIME”
By: Jelia Megawati Heru
(Staccato, February 2019)


“The most necessary, most difficult and important thing in music, that is the TIME.
The music is not in the notes, but in the silence between.”
Wolfgang Amadeus Mozart

Rubato adalah beruang yang sulit dijinakkan! Rubato itu direncanakan, tapi harus tampak spontan. Rubato itu halus, tapi juga harus terdengar nyata (not fake!). Rubato itu tak menentu, tapi harus bisa diprediksi. Sepertinya perlu lebih dari satu artikel untuk menjinakkan rubato, tapi namanya juga usaha. Are you ready?


A TEMPO 
Dalam Musik Klasik, WAKTU adalah hal yang paling penting, paling sulit, dan mendasar dalam musik. Mozart selalu bangga terhadap fakta, bahwa ia selalu bermain dengan tempo yang akurat dan sesuai dengan tanda dinamika yang tercatat pada partitur musik dengan sempurna (TEXT BOOK). Seseorang yang tidak bisa menjaga kestabilan tempo akan dianggap sebagai musisi yang buruk. Bahkan Schumann sebagai komposer di zaman Romantik, juga memprotes praktek virtuosi di zamannya, yang menurutnya seperti orang mabuk. Ia selalu disiplin bermain di tempo yang ketat.

Keteraturan dan menjaga kestabilan tempo merupakan hal yang MUTLAK dan tidak bisa ditawar. Tetapi jika sebuah frase “diserbu” bertubi-tubi dengan cara yang sama, maka suasana bisa menjadi monoton, membosankan, dan so predictable bagi para pendengarnya. Tidak menarik! Ironis, bagaimana sebuah kesempurnaan justru bisa “membunuh” jiwa sebuah lagu. Bagaimana sebuah perasaan yang menggelora di dada digambarkan dengan irama baris-berbaris, allegro, dan satu lusin ritardando? Ya ora isa!

Di momen seperti inilah kita harus terbuka pada ide teknik berekspresi yang lebih advanced. Untuk mengakomodir rasa dan perwujudan estase antara cinta dan benci – kelembutan sentimennya (bukan lebay), rasa manis yang ekstrim, sentuhan memohon-mohon, seperti pada komposisi Chopin.

Tuesday, January 1, 2019

LISZTOMANIA: Fenomena Idola - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, January 2019)

“LISZTOMANIA”
FENOMENA IDOLA
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, January 2019)


Pernah kagum atau nge-fans berat dengan seseorang? Ketika berbicara tentang bintang idola atau superstar, terbersit nama Elvis Presley dan The Beatles. Tapi pelopor superstar sejati justru muncul dari dunia Musik Klasik pada abad ke-19, yaitu Franz Liszt, seorang komposer dan piano virtuoso asal Hungaria.

Fenomena kekaguman terhadap Liszt ini mempunyai istilah yang dikenal sebagai ‘Lisztomania’. Istilah “mania” sendiri pada abad ke-18 saat itu bukan hanya merujuk pada sesuatu yang ringan, seperti trending topic atau mode baru yang menggila. Namun pada saat itu Lisztomania atau demam Liszt dianggap para kritikus sebagai suatu kondisi medis yang bisa “menular” disetiap kota yang didatangi oleh Liszt. Sehingga diperlukan “obat” untuk menyembuhkan kondisi tsb.



Penyebab demam Liszt tidak diketahui. Apakah karena daya tarik magnet seksual Liszt? Aura nya, kharisma nya, wajah tampannya, atau senyum mautnya? Hal ini masih menjadi misteri. Tetapi yang jelas, jika seseorang terjangkit virus Liszt, maka disitu pasti ada wanita yang terkena “mantra” hingga pingsan. Bisa dibayangkan betapa penampilannya pada saat itu sangat dinanti-nantikan dan betapa orang sangat ingin bertemu dengan Liszt. 

Andai ada Instagram pada saat itu, mungkin semua orang sudah sibuk memasukkan swafoto nya dengan Liszt dan video konsernya dalam insta-story mereka. Suatu kehebohan yang tidak pernah terjadi dalam sejarah Musik Klasik sebelumnya, dimana seorang komposer bisa menjadi seorang idola/selebriti.

Sunday, December 2, 2018

Liputan Konser Jelia's Piano Studio di JDC: "Memupuk Hasrat Bermusik di Era Digital" (Staccato, December 2018)

“MEMUPUK HASRAT BERMUSIK
DI ERA DIGITAL”
LIPUTAN THE 16th PIANO RECITAL JELIA’S PIANO STUDIO
(Staccato, December 2018)

Photo by: Wira Kemala Teng

Di era digital seperti sekarang ini, banyak orang menjadi gagap beradaptasi dengan semua yang terdigitalisasi. Tak terkecuali dalam ranah musik. Dalam keadaan semacam itu, penyelenggaraan resital dan/atau konser menjadi sesuatu yang tetap layak diapresiasi dan diberi nilai lebih. Karena setidaknya, publik diasup oleh sajian musik yang nyata, yang bukan maya. Itulah yang dilakukan JELIA’S PIANO STUDIO dengan direksi JELIA MEGAWATI HERU, M.Mus.Edu. Minggu, 18 November 2018, di JAKARTA DESIGN CENTRE (JDC), Kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

STACCATO, December 2018

 

Resital kali ini adalah yang ke-16 kalinya. Ada dua Baby Grand Piano di panggung. Uniknya, kedua piano tidak di-setting seperti resital Piano Duo konvensional. Jelia memakai setting untuk dua baby grand piano sebagaimana sebuah masterclass piano. Nampaknya setting semacam ini sudah melekatkan kesan bahwa ini adalah sebuah EDUCATIONAL RECITAL atau konser/resital bernuansa pendidikan.



Dalam sambutannya, Jelia mengatakan bahwa sengaja memilih venue yang semi formal. Agar siswa baru dan berusia di bawah tujuh tahun tidak mengalami stage paranoia, dan siswa advanced tetap mendapat staging figuration yang layak. Ada banyak repertoire yang tersaji, mulai dari Klasik, Pop, Rock, sampai Jazz. Dan tak seperti beberapa konser sebelumnya, resital ke-16 ini dibagi menjadi dua sesi.

Saturday, December 1, 2018

HOLIDAY MUSIC IDEAS: "Ide Musik Inspiratif Selama Liburan" - by: Jelia M. Heru (Staccato, December 2018)

“HOLIDAY MUSIC IDEAS”
IDE MUSIK INSPIRATIF SELAMA LIBURAN
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, December 2018)



Tanpa terasa sudah akhir tahun lagi. Siapa sih yang nggak butuh liburan? Semua orang membutuhkan break; dari rutinitas, tekanan, dan stress. Yay! Liburan memang menyenangkan. Namun apakah pada saat liburan, bermain piano nya juga ikutan libur? Walau sedang liburan, konsep liburan tanpa bermain piano sebetulnya tidak ideal. 

Mungkin berlatih piano di musim liburan tidaklah sama dengan berlatih sewaktu anak bersekolah. Bentuknya bisa saja berbeda. Namun musik seharusnya tetap menjadi hal yang disukai oleh murid, sesuatu yang familiar, dan menyenangkan. Sehingga tidak ada drama tujuh babak, atau kata “HARUS”, “WAJIB”, atau “TERPAKSA”. Begitu juga dengan penyakit yang tidak ada obatnya, yaitu MALAS! Andai ada vaksin untuk virus MALAS, pasti vaksin ini akan laku keras.



Sangat disayangkan jika di titik persimpangan momentum yang krusial untuk maju, justru murid beralih kearah yang berlawanan – tidak jarang ke titik nol, atau bahkan minus. Semua investasi waktu selama ini menjadi sia-sia. Sebetulnya ini adalah masalah bagi orang tua dan guru. Di momen seperti ini biasanya guru akan kehilangan muridnya dan kemungkinan besar tidak akan melanjutkan pendidikan musiknya lagi.

Boro-boro memainkan satu lagu, disentuh saja pianonya tidak, sampai berdebu. Jadi bagaimana memotivasi anak agar tetap bisa mempraktekkan musik selama musim liburan? Apa yang bisa dilakukan oleh orang tua dan guru? Simak tips-tips nya pada artikel kali ini!