Sunday, December 2, 2018

Liputan Konser Jelia's Piano Studio di JDC: "Memupuk Hasrat Bermusik di Era Digital" (Staccato, December 2018)

“MEMUPUK HASRAT BERMUSIK
DI ERA DIGITAL”
LIPUTAN THE 16th PIANO RECITAL JELIA’S PIANO STUDIO
(Staccato, December 2018)

Photo by: Wira Kemala Teng

Di era digital seperti sekarang ini, banyak orang menjadi gagap beradaptasi dengan semua yang terdigitalisasi. Tak terkecuali dalam ranah musik. Dalam keadaan semacam itu, penyelenggaraan resital dan/atau konser menjadi sesuatu yang tetap layak diapresiasi dan diberi nilai lebih. Karena setidaknya, publik diasup oleh sajian musik yang nyata, yang bukan maya. Itulah yang dilakukan JELIA’S PIANO STUDIO dengan direksi JELIA MEGAWATI HERU, M.Mus.Edu. Minggu, 18 November 2018, di JAKARTA DESIGN CENTRE (JDC), Kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta.

STACCATO, December 2018

 

Resital kali ini adalah yang ke-16 kalinya. Ada dua Baby Grand Piano di panggung. Uniknya, kedua piano tidak di-setting seperti resital Piano Duo konvensional. Jelia memakai setting untuk dua baby grand piano sebagaimana sebuah masterclass piano. Nampaknya setting semacam ini sudah melekatkan kesan bahwa ini adalah sebuah EDUCATIONAL RECITAL atau konser/resital bernuansa pendidikan.



Dalam sambutannya, Jelia mengatakan bahwa sengaja memilih venue yang semi formal. Agar siswa baru dan berusia di bawah tujuh tahun tidak mengalami stage paranoia, dan siswa advanced tetap mendapat staging figuration yang layak. Ada banyak repertoire yang tersaji, mulai dari Klasik, Pop, Rock, sampai Jazz. Dan tak seperti beberapa konser sebelumnya, resital ke-16 ini dibagi menjadi dua sesi.


Sesi pertama khusus bagi penampilan siswa yang masih anak-anak. Dibuka dengan piano duo oleh Nicholas Wiranata, membawakan “Song of the Dunes” karya Christopher Norton dan “The Gambler” dari Nikki Iles. Meski masih anak-anak, Nicholas sudah menunjukkan kemampuan yang layak disejajarkan dengan siswa intermediate dan bahkan early advanced

Photo by: Ferry Zulfrizer

Sebagai intermezzo, tampil Antea Putri Turk yang menyanyikan “Don’t Stop Believing” (OST. Glee) diiringi kakaknya, Andrea Putri Turk. Penampilan kakak beradik ini cukup mampu membuat suasana resital kian menghangat.

Sebelum sesi dua, saat intermission, ditampilkan video clip dari Andrea Putri Turk. Andrea adalah siswa Jelia’s Piano Studio yang berulang kali mendapat Distinction dan bahkan High Scorer ABRSM EXAMINATION. Berbagai masterclass dan course sudah diikutinya, termasuk di New York, USA. Setelah tayangan clip video, Andrea pun tampil membawakan “Fix You” karya Coldplay dalam format vokal dan piano, serta lagu karyanya sendiri, “WHO WE ARE”. Andrea memang tengah merintis karir sebagai artis musik profesional.



Sesi dua memang adalah ajang para siswa advanced. Ada Tiara Himawan yang menjadikan resital ini sebagai portofolio kelulusan sekolah formalnya. Juga ada Abraham Guan, siswa dengan hasil ujian teori 100 (baca: nilai sempurna) untuk grade 5 ABRSM. 



Puncak sesi ke-2 ditutup oleh penampilan Madeline Audrey Wiguna yang membawakan “Love Story” yang mengaduk-aduk emosi dan sebuah nomor Blues “Road to Prairie” dari Pete Churchill. 



Di sesi dua ini terdapat kesan dan pesan dari parents. Kali ini diwakili oleh Budiono Wiguna, parents dari Madeline Audrey Wiguna dan Hansel Nathanael Wiguna. Pak Budi, demikian beliau biasa disapa, mengisahkan nostalgia bagaimana kiprah seorang Jelia Megawati Heru yang sangat inovatif dalam menggelar konser. Two pianos eight hands. Theatrical piano performance. Tampilan berbagai alat musik termasuk typewriter. Menanggapi hal ini, Jelia menambahkan bahwa saat ini eranya sudah berubah. Semua digital. Guru musik mendapat tantangan baru karena para siswa sudah terpatri dengan gadget dan utilitas digital.


Dari yang disampaikan seorang Budiono Wiguna dan tanggapan Jelia Megawati Heru, kita bisa menarik benang merah. Bahwa musik, di era digital sekarang ini adalah hasrat yang dihadapkan pada banyak sekali tantangan. Hasrat bermusik adalah sebuah willingness, tak sekedar gifted dan ability.