Mempelajari musik itu bukan hanya sekedar tang ting tung atau dar der dor. Dalam belajar musik, kita perlu memahami pentingnya melatih tiga hal secara holistik, yaitu: musical MIND (understanding), musical BODY(technique), dan musical SOUL (musicianship) secara seimbang. Ketiga elemen ini akan memberikan kita fondasi untuk berlatih, wawasan yang luas untuk mendorong pembelajaran yang menyeluruh dan “mendalam”, serta filosofi pendidikan yang solid. Tiga elemen ini berkaitan dengan sifat intrinsik dan identitas inti kita, dan semuanya sama pentingnya untuk pengembangan diri seorang musisi.
Bisa nggak kita hanya belajar piano dari otodidak tanpa guru dan meniru video YouTube saja? Yaaaa…. Walaupun tidak ada yang melarang, untuk mencapai kemajuan yang signifikan sebagai performer, kita tidak hanya bisa mengandalkan hal itu saja. Pembelajaran semacam itu memiliki keterbatasan. Itu kan mesin, bahkan AI yang canggih saja belum bisa mengajar sebaik guru di kelas piano offline, karena variabelnya terlalu banyak dan kompleks. Yang belajar dengan guru profesional offline saja sulit, apalagi kalau sendiri secara online? Pemahaman yang lebih mendalam tentang konteks dan musik yang dipelajari dari seorang guru profesional tentunya akan dapat menginspirasi, menambah relevansi, dan kualitas proses belajar mengajar yang lebih efektif dan tepat sasaran.
MUSISI, GURU & PENIKMAT MUSIK
Musisi yang baik akan melibatkan pikiran, tubuh, dan jiwa dalam penampilan mereka. Setiap elemen akan bersinergi dan saling mendukung satu dengan yang lain, itulah mengapa pendekatan holistik terhadap pengembangan musik sangat penting. Dengan melibatkan MIND, BODY & SOUL, seseorang dapat menjadi guru, pembelajar, dan musisi yang lebih efektif dan berwawasan luas.
Seorang guru yang baik akan memiliki strategi jangka pendek untuk memperbaiki masalah, dan strategi jangka panjang untuk mendorong pembelajaran yang seimbang. Pelajaran musik yang seimbang melibatkan pikiran, tubuh, dan jiwa yang musikal akan membantu guru untuk mengajar secara lebih holistik. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang struktur dan management kelas, guru akan mampu mengidentifikasi dan mengatasi hambatan dalam pembelajaran dengan lebih akurat, memberikan solusi pembelajaran yang lebih efektif dan personal. Guru yang baik akan dengan cepat menemukan kesenjangan dalam pemahaman, dan dapat membantu siswa mereka mengembangkan, memproses, dan menerapkan pengetahuan mereka.
Contoh kasus misalnya seorang murid kesulitan memainkan tangga nada B-flat Major. Mungkin dia tidak memiliki pemahaman bahwa B-flat Major itu memiliki dua flats (mind). Mungkin dia tidak menggunakan penjarian yang konsisten atau tidak menggunakan teknik fingering yang benar (body). Dia mungkin tidak menyadari bahwa tangga nada tersebut terdengar salah ketika dia memainkannya (soul).
Strategi pembelajaran dengan pendekatan yang melibatkan mind, body & soul:
1. Guru dapat membantu murid dengan mendiagnosis problem, menentukan akar penyebab kesulitannya dan mengatasi problem spesifik yang muncul dalam konteks ini, seperti: interval, circle of fourth, scale (MIND)
2. Pertimbangan penjarian yang digunakan di setiap tangan, menggunakan berbagai strategi latihan fisik, mempelajari teknik bermain yang benar (BODY)
3. Mendengarkan berbagai pola tangga nada, mempelajarinya dengan pendengaran, dan berimprovisasi menggunakan tangga nada baru saat dipelajari. (SOUL)
Sebagai penonton, kita juga memproses musik secara tiga dimensi untuk mengindentifikasikan apa yang kita suka atau tidak suka dalam sebuah pertunjukkan. Bukan hanya berhenti pada teknik yang kurang atau kurang ekspresif, tetapi efeknya lebih mendalam hingga ke relung jiwa kita, sehingga menghasilkan respons tertentu dan penonton bisa mengapreasiasi apa yang ditonton. Mind-body-soul berkontribusi pada aktivitas musik tingkat tinggi seperti memainkan repertoar, solo atau bersama orang lain, menghafal, menampilkan, merekam, dan mengkomunikasikan musik dengan percaya diri.
MUSICAL MIND - UNDERSTANDING
Untuk menjadi pianis ala mind-body-soul, pertama kita perlu memfokuskan diri pada bagaimana cara mengembangkan pikiran musikal kita: yaitu, pemahaman, literasi, kesadaran historis, dan analisis teoretis terhadap musik yang kita mainkan. Sembari memelihara jiwa musikal kita melalui mendengarkan dan mengembangkan tubuh musikal kita melalui latihan dan menjaga kesehatan fisik, kita juga harus memupuk pikiran musikal kita melalui komitmen untuk belajar yang memiliki kedalaman dan keluasan.
Ini termasuk mempelajari: cara membaca notasi balok dan menulis musik dengan lancar, sight reading, pemahaman tentang teori musik dan teknik komposisi, pengetahuan tentang latar belakang sejarah musik, sosial, dan budaya, latar belakang dan asal usul karya itu sendiri, dan pada akhirnya wawasan tentang filosofi komposer, dan tentang pikiran, keterlibatan, dan motivasi kita sendiri.
MUSICAL BODY – TECHNIQUE
Teknik yang sehat memungkinkan kita dalam mewujudkan musik dan mengkomunikasikan kreativitas yang diinginkan tanpa mengalami cedera. Tidak jarang kita menjumpai pemain yang tahu persis bagaimana mereka ingin musik mereka terdengar, tetapi mereka sama sekali tidak dapat menghasilkan musik tersebut saat duduk di depan piano, karena masalah teknis – termasuk kemampuan memainkan tangga nada (scale), kemandirian jari, kontrol nada, kelancaran mekanis, ketepatan, kecepatan, dan presisi/akurat. Dari jari hingga pergelangan tangan, dari siku hingga bahu, dari pinggang hingga postur tubuh dan kaki kita, seluruh bagian tubuh yang digunakan dalam bermain piano, dan cara berlatih.
Kualitas pernapasan kita juga sangat penting. Permainan musik juga bisa dipengaruhi oleh suasana hati, keseimbangan kimia, dan kesehatan umum kita. Untuk performa optimal, tentu saja kita menginginkan tubuh musikal kita sehat, sadar, terkontrol, dan lancar. Inilah sebabnya mengapa latihan peregangan, latihan pernapasan, dan ketenangan akan membantu dalam bermain dan berlatih piano. Setelah mempertimbangkan kesejahteraan umum, cara terpenting untuk melatih tubuh secara musikal adalah dengan mengembangkan mekanisme gerakan dan memori kinestetik untuk mewujudkan niat musikal kita melalui instrumen kita.
MENGEMBANGKAN JIWA MUSIK & MEMILIKI TELINGA MUSIK
Cara paling mendasar untuk memelihara dan mengembangkan jiwa musik kita adalah melalui mendengarkan berbagai musik dengan seksama, seperti di konser. Jangan sampai mendengarkan musik sambil ngepel lantai atau multitasking mengerjakan hal lain, ketika tujuannya memang untuk belajar musik. Nilai pendengaran kita dapat ditingkatkan lebih lanjut melalui pelatihan pendengaran yang cermat dan progresif, serta eksplorasi musik secara menyenangkan dapat menyalakan percikan kreativitas menjadi api.
Beethoven berkata bahwa "bermain tanpa gairah tidak dapat dimaafkan" mengarahkan kita pada pentingnya memelihara jiwa musik kita, yang merupakan dorongan ekspresif dan kreatif di jantung permainan kita. Aktivitas yang termasuk didalamnya contohnya adalah aural test, intepretasi, dan improvisasi.
Orang-orang terkadang menyinggung "telinga batin" seorang musisi, berbicara tentang membiarkan kreativitas dan tentang "in the zone". Improvisasi mungkin merupakan bentuk latihan kreativitas yang paling murni, karena ini hanyalah tentang memainkan ide-ide musik baru dengan kebebasan dan niat, memiliki manfaat besar bagi perkembangan kita secara keseluruhan sebagai seorang musisi. Manfaatnya di sini jauh melampaui sekadar "bermain-main" di piano. Semakin kuat dan terlibat jiwa musikalnya, semakin mudah pemain tersebut dapat mempelajari karya musik dengan pendengaran, meniru dan mengasimilasi frasa musik, mengembangkan ekspresivitas dalam interpretasinya, dan menginspirasi pendengarnya.
Sebagai seorang musisi, guru, dan penikmat musik, kita semua dapat memperoleh manfaat dari penggunaan kerangka kerja holistik tiga dimensi yang sederhana ini untuk membantu memahami pembelajaran piano dan meningkatkan kemampuan bermain piano.
Bukan sulap, bukan sihir, tidak ada trik ajaib yang membuat kita menjadi seorang prodigy atau superhuman. Latihan dengan elemen mind, body & soul ini berkaitan dengan tiga domain sifat intrinsik dan identitas inti kita dengan segala kekuatan dan kelemahannya sebagai alat reflektif yang bermanfaat untuk merespons berbagai pendekatan belajar dan gaya bermain yang berbeda. Dengan begitu setiap individu mengetahui kelebihan dan kekurangannya di dirinya dan menemukan cara belajar yang paling tepat dan efektif untuk dirinya. Selamat berlatih!


