Wednesday, June 6, 2012

Artikel Majalah STACCATO (Juni 2012) - "MUSIC is in our GENES!"

"MUSIC IS IN OUR GENES!"
Artikel Majalah STACCATO (Juni 2012) 
 by: Jelia Megawati Heru
 


"MUSIC IS IN OUR GENES!"

Dear music lovers, 
Apakah Anda pernah mendengar kalimat seperti:
"Saya tidak dapat mendengarkan nada!", alias "buta nada"
"Saya tidak musikal!", "Saya memang tidak berbakat!"???

Good news, people! Ternyata setiap orang dilahirkan dengan kapasitas untuk bermusik: kita memiliki insting dan kemampuan bermusik. Bahkan bayi menyerap musik sebelum mereka dilahirkan, dan kita secara genetik mampu menghasilkan musik. Karena musik benar-benar ada di dalam gen kita dan di dalam diri kita memang terdapat perintah untuk membuat musik. Yang kita butuhkan hanyalah sedikit dorongan dan semangat!


EAR TRAINING

Para bayi mempunyai kemampuan musik yang sangat hebat, mereka memiliki tingkat sensitivitas yang tinggi terhadap nada, ritme yang berbeda, serta memiliki kemampuan membedakan berbagai timbre (warna suara). Pada awalnya, bayi mengekspresikan diri secara musikal. Umumnya mereka bergumam dengan menggunakan nada naik dan turun, lewat berbagai intensitas, intonasi, ritme - untuk memberikan maksud dari gumaman mereka itu. Hal inilah yang merupakan elemen inti dari musik. Penggunaan nada suara musikal dalam berbicara dapat mengungkapkan maksud pembicara yang sesungguhnya. Musik adalah media yang digunakan dalam memperoleh kemampuan awal dalam berbahasa.

Segera setelah dilahirkan, seorang bayi secara refleks akan mencari arah sumber suara sang ibu. Pada umur satu minggu, umumnya banyak bayi sudah mampu membedakan suara ibu mereka dari sekian banyak suara lain yang mereka dengar di dalam satu ruangan. Bahkan pada usia tiga bulan, mereka telah belajar secara fisik untuk berbalik, menghadap ke sumber suara,  dan dengan cepat menerjemahkan isi pembicaraan yang mengandung emosi, serta membedakan bahasa ibu mereka dari bahasa lain dengan mengenali  pola ritmik, kontur tinggi nada, dan melodi suatu suku kata. Oleh karena itu, sensitivitas terhadap ritmik pada bayi bisa menjadi faktor penentu penguasaan dari bahasa. 

Pada usia 10 bulan, mereka mulai memahami bahwa nama mereka sebenarnya berkaitan dengan diri mereka - bayi dilahirkan dengan kemampuan membedakan 150 komponen vokal yang menjadi unsur penyusun setiap bahasa manusia di dunia. "Isn't it amazing?" Ternyata bayi telah dilahirkan dengan kemampuan membedakan pitch yang sempurna, atau "absolute pitch". Absolute pitch merupakan kemampuan mengingat nada musik secara akurat. "What a great musician!"

Hasil penelitian menunjukkan bahwa musisi yang memiliki absolute pitch ini umumnya mulai mempelajari instrumen musik sebelum usia tujuh tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa kemampuan ini dipertahankan pada saat otak masih berada di titik perkembangan yang relatif fleksibel. Setelah usia tujuh tahun, umumnya absolute pitch ini sangat sulit untuk diajarkan dan kemampuan ini secara perlahan-lahan memudar seiring bertambahnya usia, karena sistem kerja otak yang berkembang pun berbeda - kecuali tetap dipertahankan dan dilatih sedini mungkin. 

RHYTHM

Tentunya kita harus dilahirkan dengan kemampuan membedakan ritmik yang akurat, sehingga memungkinkan kita untuk merekam tempo, sinyal dan ritmik dalam memori kita dan mengulang kembali pola ini dengan akurat. Bermain musik memungkinkan anak mengembangkan konsistensi ritmik yang akurat. Menjaga kestabilan tempo dan memori sebuah pola ritmik merupakan kemampuan krusial bagi musisi manapun.

Tubuh kita juga diperlengkapi dengan suatu sistem yang berhubungan dengan waktu, atau "jam tubuh" ("internal metronome") - disinilah tubuh kita akan memberikan sinyal-sinyal, kesadaran ritmik tentang struktur waktu dan urutan kejadian dalam kehidupan kita sehari-hari. Jam tubuh ini mengatur semua hal, seperti: menentukan kecepatan berjalan, detak jantung, pernafasan, berapa lama kita tidur. Yang menariknya disini adalah ternyata jam tubuh kita sangat mirip, contohnya: orang dewasa berjalan dengan kecepatan rata-rata 110-117 langkah per menit, atau andante yang diartikan sebagai "langkah orang berjalan". Mungkin panjang langkahnya berbeda-beda antara pria dan wanita, tetapi jumlah rata-rata langkahnya identik.

MULTISENSORI

Otak bayi memiliki hubungan yang kuat antara wilayah yang memproses informasi audio visual. Warna, musik, cahaya, dan suara dihubungkan dan diproses bersama-sama dengan cara diluar pemahaman kita. 

Richard Cytowic dalam bukunya "The Man Who Tasted Shapes" menulis, bahwa bayi mengalami dan memahami segala sesuatu secara multisensori. Setiap stimulasi yang diterima akan menciptakan pengalaman di setiap indera mereka. Ketika kita dewasa, sensasi-sensasi ini akan lebih dapat dibedakan, kita tidak dapat mengalami sensasi di setiap bagian otak pada saat yang bersamaan, alias "overload". Lain halnya dengan bayi, ketika seorang bayi mendengarkan musik, ia tidak hanya mendengarnya, melainkan ia menyentuhnya, melihatnya, mencicipinya, bahkan menciumnya! Karena kehebatan sistem indera pada bayi inilah, maka musik dapat menciptakan sensasi yang sangat kaya dan kuat pada anak-anak berusia di bawah 7 tahun. Para musisi yang berkemampuan tinggi bisa memperoleh kemampuan ini kembali. Mereka yang memiliki kondisi ini mampu mendengar musik dalam asosiasi warna maupun tekstur tertentu.
 
 

" In the rhythm of life we sometime find ourselves out of tune.  
But as long as there are friends to provide the melody, the music plays on" 
- Anonymous -

KITA PUNYA "JIWA" MUSIK

Mempunyai jiwa musik bukan hanya tentang mampu memainkan istrumen, tetapi bagaimana kita bereaksi terhadap suatu karya musik. Kita semua mampu bermusik jauh lebih baik daripada apa yang kita pikirkan. Mungkin Anda tidak yakin akan kepekaan mengenali ritmik dan nada Anda, tetapi mungkin Anda hanya belum mempelajari cara menghubungkan arti verbal dan melodis pada musik saja. 

Kita menggunakan musik untuk menyemangati diri dalam menghadapi suatu momen khusus: merayu pasangan, menghibur diri, menyentuh hati orang lain, menangkan diri, merayakan ulang tahun, bahkan untuk menandai berakhirnya kehidupan seseorang. Musik selalu menjadi wadah untuk berekspresi dan berkomunikasi.

HAL YANG MENGHALANGI KITA BEREKSPERIMEN DENGAN MUSIK

Do you know? Ternyata kita hanya membutuhkan sebuah komentar negatif tentang kekurangan diri kita dari teman, orang lain, maupun orang tua untuk meruntuhkan rasa pe-de akan kemampuan diri kita sendiri. Biasanya kita akan lebih mengingat komentar-komentar negatif ini dibandingkan komentar positif mengenai diri kita, apalagi apabila komentar ini dilontarkan pada saat kita masih kecil, biasanya pada saat kita berlatih menyanyi (fals) dan  dalam bidang sport (misalnya: belajar naik sepeda atau berenang).

Ironisnya, efeknya sangat besar bagi kehidupan kita di kemudian hari. Hal ini dapat memperkuat anggapan, bahwa Anda memang tidak berbakat dalam musik atau sport, buta nada, dll. Seringkali akhirnya kita menerima hal-hal ini sebagai kenyataan absolut bahwa itulah diri kita yang sesungguhnya - tidak berbakat. Well, tentunya wajar ketika manusia punya kekurangan dan kekurangan itu diungkapkan. Tentunya ada juga orang yang belum sedikitpun mengeksplorasi potensi musik mereka, tetapi hal itu tidak membuat mereka "tidak berbakat", bukan? Menurut Saya pribadi, mereka hanya belum melihat sedikit pun adanya "musisi" dalam diri mereka. Apakah Anda salah satu dari mereka?

LIBATKAN DIRI ANDA!

Ketakutan utama bagi orang dewasa dalam melibatkan dirinya secara aktif  pada suatu aktivitas musik adalah mereka akan terlihat bodoh atau takut salah - "it's human and normal, I've been there too...". Tetapi cobalah untuk keluar dari zona nyaman Anda. Kali ini adalah waktu Anda, dimana Anda bebas untuk melakukan apa saja dan kreatif seperti saat Anda masih kecil. Sangat menyenangkan, berada dalam situasi dimana kita bebas berekspresi dan bereksplorasi, dimana biasanya kita sangat penuh perhitungan, profesional dalam pekerjaan kita. 

Bangkitkan perasaan dan kesadaran bahwa Anda juga memiliki kemampuan bermusik, menghasilkan musik itu sangat menyenangkan, dan jangan lupa musik itu sudah ada di dalam gen kita. Kita dilahirkan untuk mengekspresikan diri melalui aktivitas bermusik. 

Saya percaya bahwa setiap orang membutuhkan musik dan setiap orang mempunyai kebutuhan untuk membuat musik. Mendengarkan radio, memutar CD, pergi ke konser menawarkan kepuasan Anda secara cepat, tetapi hasil yang didapatkan tidaklah sebesar ketika kita aktif membuat musik. Oleh karena itu, terimalah bahwa Anda dapat bermusik! Jangan terlalu cemas atau khawatir dengan penampilan Anda. Setiap musisi hebat juga awalnya seorang pemula juga. Toh Anda tidak perlu menjadi pianis maestro, bukan? "Do it for yourself, just have fun and have some quality "me" time!"

Menemukan potensi musik dalam diri Anda adalah suatu faktor penting dalam proses pengajaran untuk anak Anda. Bagaimana Anda bisa membuat anak antusias dalam musik/menginspirasi anak Anda, apabila Anda sendiri "trauma" dan tidak mencintai musik? "So, again: Just be yourself, explore the music and have fun with it!"

by: Jelia Megawati Heru

SAAT ANGKLUNG MENEBAR RASA DAMAI YANG MEMBUMI

SAAT ANGKLUNG 
MENEBAR RASA DAMAI YANG MEMBUMI
Oleh: Michael Gunadi Widjaja 


Nama MANG UDJO identik dengan alat musik angklung dan seni musik angklung. Dalam kurun waktu perjalanan yang sangat panjang, seorang Udjo Ngalagena memelihara ide sebuah distrik semacam kampung seni yang menjadi sentra angklung. Sebuah sentra tentang seni musik dan seni kerajinan angklung yang menyatu dengan alam. Sentra tersebut dikenal sebagai SAUNG UDJO atau lazim juga disebut SAUNG ANGKLUNG atau malahan jika ingin lengkap, orang menyebutnya SAUNG ANGKLUNG MANG UDJO. Saung angklung terletak di Jalan Padasuka No. 118, Bandung. Banyak hal yang menginspirasi sekaligus menarik untuk disimak dan ditelaah saat kita berkunjung ke saung angklung.

Salah satu hal yang paling menarik adalah Angklung Concert Performance. Dalam pagelaran setiap sore tersebut, bukan saja tersaji pertunjukan musik angklung, namun juga pembelajaran angklung bagi semua yang hadir.


Pembelajaran angklung memakai sistem notasi solmisasi .Dan uniknya, semua yang hadir dapat dengan mudah dan gembira mengikuti dan melaksanakan petunjuk pembelajaran. Sebetulnya, teknik panduan pembelajarannya menggunakan metode hand signs dari Zoltán Kodály - seorang music educator asal Hungaria. Dengan mengikuti gerakan tangan seorang pemandu acara, hadirin membunyikan angklung sesuai nada yang tertala pada angklung yang dipegang masing-masing. Memang dalam hal ini, Mang Udjo yang sekarang, banyak melakukan modifikasi terhadap hand signs dari Zoltán Kodály. Tentu salah satunya adalah agar secara virtual hadirin lebih mudah mengikutinya. Dengan metode pembelajarannya ini, Mang Udjo telah menjadi duta bangsa dan menggelar permainan angklung instan dengan pemain ribuan orang! Bahkan beberapa bulan mendatang, Mang Udjo akan membuat world record di Amerika Serikat dengan menggelar pertunjukan angklung untuk 15 ribu orang!!!

Sebetulnya saat orang mengikuti angklung crash course versi Mang Udjo, banyak semburat music education yang diterima - bahwa musik dapat dimainkan dengan fun, tanpa barus berpikir rumit. Juga bahwa musik dapat dilakukan secara bersama, yang berarti ada rasa kebersamaan dalam bingkai estetisnya. Juga secara tidak langsung memupuk rasa egality untuk saling menghargai. Karena dalam permainan musik secara bersama tiap individu harus patuh pada porsinya sendiri tanpa mencampuri porsi orang lain. Ini semua sebetulnya adalah perwujudan konsepsi MUSIC FROM PASSION. Hal yang sangat penting dalam pendidikan musik. Hal yang lebih unik lagi adalah bahwa dengan menggunakan peragaan tangan Zoltán Kodály sebagai petunjuk, hadirin diajak untuk bermain polyphony meski hanya dalam bentuk dua jalur. Hal ini secara tak langsung juga menyiratkan inspirasi akan sebuah keselarasan - sebuah harmonisasi yang membumi.

Sebagai sebuah seni pertunjukan, angklung pun telah sampai pada taraf virtuositas tinggi bagi sebuah ensemble musik tradisi. Angklung dapat dengan luwes mengorkestrasi score rumit semacam "BOHEMIAN RHAPSODY" dari Queen. Berbeda dengan gamelan, laras angklung adalah diatonis dalam sistem well-tempered musik barat. Hal ini merupakan nilai lebih dari angklung, karena dengan demikian angklung dapat lebih leluasa berkomunikasi dalam ranah tatanan musik barat. Hasilnya adalah sebuah interpretasi musik barat dengan nuansa Asiatik yang meng-Indonesia. Hal ini sangat membantu persepsi publik Eropa agar tidak menganggap seni tradisi nusantara sebagai makhluk asing yang menyajikan konsep estetis secara aneh.

Bohemian Rhapsody (Queen)
by Saung Angklung Udjo, Bandung


Untuk masa depan memang banyak hal yang harus senantiasa diuntai seputar angklung dan musiknya. Ada semacam fenomena yang aneh diseputar perkembangan angklung. Di satu sisi ada sentra angklung yang sudah mendunia seperti Saung Angklung Mang Udjo, namun di sisi lain ada tudingan bahwa kita kurang memasyarakatkan angklung sehingga negara tetangga kemudian meng klaim bahwa angklung adalah seni musik khas mereka. Dikotomidan fragmentasi semacam ini mestinya segara disambut dengan upaya nyata. Minimal menjadikan musik angklung sebagai sebuah zona seni yang institusional dalam kerangka telaah ilmiah. Ini belum banyak dilakukan dan nampaknya upaya semacam ini penting sebagai imbangan saat kening kita agak pusing mengkaji dan menelaah musik klasik Eropa.

Tuesday, June 5, 2012

Seni Tradisional Mengasah Kepekaan Sosial Anak

SENI TRADISIONAL 
Mengasah Kepekaan Sosial Anak


Mempelajari dan melestarikan seni tradisional tidak melulu berurusan dengan rasa kebanggaan terhadap budaya bangsa. Apresiasi anak terhadap kesenian tradisional tergantung stimulasi yang diberikan orangtua sejak kecil.

Anak-anak dan remaja zaman sekarang memang cenderung menggandrungi seni modern daripada seni tradisional. Di pihak lain banyak orangtua berharap anak-anaknya mau ikut melestarikan budaya dan seni tradisional.

Mempelajari seni apapun bentuknya, berarti memberikan anak kesempatan untuk memperkaya wawasan mereka mengenai seni dan budaya. "Selain itu, secara psikologis, dengan mempelajari seni maka anak bisa mengasah emosinya menjadi lebih halus, tenang, namun tetap ekspresif, terutama dalam mengungkapkan perasaannya dalam berkesenian." ujarnya.

Sejak lahir, anak sebenarnya memiliki lima potensi yang harus dikembangkan untuk menjadikannya manusia yang "pintar" seutuhnya. "Mempelajari seni berarti memberikan kesempatan pada anak untuk mencerdaskan emosi mereka, mengasah kepekaan pada keindahan, keseimbangan, harmonisasi, gradasi, kecantikan, dan lain sebagainya", ujarnya.

Karena itu, pengembangan potensi emosional juga harus memiliki porsi yang sama besar dengan potensi spiritual, intelektual, sosial dan jasmaninya. "Keseimbangan pengembangan kelima potensi tsb sangat penting utuk diperhatikan oleh orangtua karena sangat dibutuhkan anak dalam kehidupannya kelak."

Sejak 40 tahun terakhir, kalau diperhatikan, seni tradisional memang makin terpinggirkan. Sejak tahun 70-an, muncul teknologi yang perlahan namun pasti menyingkirkan seni tradisional. Setelah munculnya teknologi layar tancep, yang memang lebih murah, lebih modern, persiapannya lebih sederhana, maka orang mulai melupakan Lenong di Jakarta. Begitu juga ketika ada bentuk seni hiburan yang lebih baru lagi, maka seni tradisional makin tidak dilirik masyarakat. Dan itu terus berjalan sampai sekarang.

Pola migrasi tiap etnik yang berbeda-beda juga turut menyebabkan terjadinya masalah ini. Dulu di Jakarta masih banyak kantong-kantong etnis yang memungkinkan seni tradisional masih bisa terus terpelihara. Tapi, setelah mereka juga makin terpinggirkan oleh masyarakat urban, maka seni tradisional pun makin kehilangan pendukung dan eksistensinya. Perubahan orientasi dan paradigma bangsa kita juga mempengaruhi makin hilangnya seni tradisional dari kehidupan bangsa.

Orang mulai menganggap seni tradisional itu kuno, ketinggalan jaman. Dan hal ini ukan hanya terjadi pada masyarakat Jakarta saja. Masyarakat daerah pun juga selalu berkiblat pada Jakarta. Apa yang sedang tren di Jakarta, maka akan diikuti oleh masyarakat daerah. Akhirnya masyarakat daerah pun melupakan seni tradisional daerahnya sendiri. Yang merasakan dampaknya adalah para seniman tradisionalnya. Mereka kehilangan pemasukan, sementara mereka harus tetap bertahan hidup. Jadilah mereka kemudian membawa seni tradisional ke jalanan sehingga seniman semakin dipandang rendah oleh masyarakat.

Kenyataan ini ditambah dengan makin banyaknya urbanisasi yang terjadi dan memberikan kehidupan yang lebih mapan pada para pelakunya, sehingga mereka makin enggan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Sementara selera kesenian mereka pun bergeser ke arah kesenian yang dianggap lebih modern, namun itu pun belum sepenuhnya bisa dinikmati. Efek sampingnya adalah makin berkembangnya kesenian yang memadukan antara seni tradisional dengan seni modern, misalnya campur sari.


JAUH DARI HARAPAN

Banyak hal yang juga turut mempengaruhi makin terpinggirkannya seni tradisional di mata bangsa sendiri. Peran media massa juga cukup besar dalam hal ini. Publikasi besar-besaran terhadap seni modern, makin seragamnya trend seni yang diterapkan dalam keseharian, kurang mampu mengekspos dan mengeksplorasi seni tradisional, dan ketidakmampuan dalam mengubah paradigma masyarakat, merupakan beberapa bukti partisipasi media massa dalam hal ini. Belum lagi teknologi yang kian hari kian maju dengan pesat dan hampir sulit diikuti apalagi diimbangi oleh seni tradisional.


Walaupun terdapat perkembangan seni tradisional akhir-akhir ini untuk mengangkat seni tradisional Indonesia - seperti Gamelan dan Wayang, yang dinobatkan sebagai salah satu World Heritage dan usaha pemerintah untuk memasukkan kesenian dalam kurikulum pendidikan sekolah, tetapi penerapannya masih jauh dari harapan karena hanya bersifat politis dan provinsial saja.

MENGASAH KEPEKAAN

Seni tradisional bermanfaat untuk mengubah kepribadian seseorang menjadi lebih peka terhadap lingkungan. Umumnya anak-anak di kota-kota besar sangat pintar, tetapi mereka berkembang menjadi manusia-manusia yang individualis, arogan, kurang bisa menghargai sesama dan tidak tanggap terhadap sikon lingkungan.

Kondisi yang memprihatinkan ini memacu beberapa sekolah swasta untuk menerapkan sebuah peraturan baru, bahwa semua murid di sekolah tsb harus mempelajari seni musik gamelan dan mereka tidak bisa lulus tanpa memainkan gamelan dengan baik. Dengan adanya "peraturan" ini, maka murid-murid diharapkan untuk lebih bisa menghargai orang lain, menikmati kebersamaan, menyadari bahwa mereka butuh orang lain sebagai makhluk sosial, dan memahami harmonisasi dalam sebuah kebersamaan, Semua itu adalah inti dari permainan musik gamelan. Kita tidak bisa memainkan gamelan apabila kita tidak bisa menghargai orang lain atau bermain seorang diri.

Hal yang sama telah dibuktikan oleh pemerintah Inggris. Di hampir semua penjara di Inggris mengharuskan tahanannya untuk mempelajari musik gamelan. Dan hasilnya... Manusia yang tadinya "buas", senang menyakiti orang lain, tidak menghargai sesama, individualis berubah menjadi lebih tenang, menghargai kebersamaan dan harmonisasi.


NILAI-NILAI LUHUR BUDAYA BANGSA

Ada nilai-nilai luhur budaya bangsa yang bisa diturunkan dan dirasakan manfaatnya dalam mempelajari seni tradisional. Pada dasarnya seni tradisional itu mengajarkan manusia menjadi lebih menghargai kebersamaan, gotong royong, tepo seliro, harmonisasi, keindahan, musyawarah, keseimbangan antara duniawi dengan akhirat, kesopanan, dsb.

Seni wayang kulit dalam budaya Jawa, misalnya. Tidak semata-mata hanya menceritakan pahit-manis kisah peperangan keluarga Pandawa-Kurawa, tetapi lebih dari itu menjadi sebuah alat bertutur antargenerasi untuk menularkan nilai-nilai budaya. Demikian juga seni pantun dalam kebudayaan Melayu Riau, menjadi sarana menyatukan perangai luhur adat Melayu dengan agama (Islam).


HARUS BELAJAR LAGI

Manfaat-manfaat inilah yang harus disadari masyarakat, khususnya para orangtua sehingga mereka bisa mengapresiasi kesenian tradisional dan kemudian menurun pada anak-anaknya. Orangtua terlebih dahulu harus bisa menghargai kesenian tradisional, baru kemudian bisa menularkannya pada anak.

Anak hanya akan menikmati dan menghargai apa saja yang tersedia di depannya dan relevan dengan zamannya. Jadi, kalau seni modern lebih mereka gandrungi, itu karena faktor kemudahan dan ketersediannya serta relevansi pada zaman dimana mereka hidup. Oleh karena itu apabila kesenian tradisional ingin dihargai secara seimbang, maka hal yang sama juga harus diterapkan pada kesenian tradisional. Misalnya, lebih mudah dan murah untuk dinikmati karena ada dimana-mana, serta dikemas dengan lebih menarik sehingga bisa relevan dengan zaman sekarang.

Selain itu, nilai kepraktisan juga menjadi pertimbangan bagi anak-anak dalam memilih sebuah kegiatan, termasuk kesenian. Seni modern cenderung lebih praktis dan tidak terlalu sulit dipelajari dan dinikmati, sedangkan kesenian tradisional lebih rumit, kurang fleksibel, dan terasa membebani mereka.

Anak hanya akan mengapresiasi apa yang bisa mereka nikmati dalam kesehariannya. Semua tergantung stimulasi yang diberikan orangtua sejak kecil di rumah. Kalau sejak kecil di rumah. Kalau sejak kecil mereka sudah dibiasakan dengan kesenian modern, maka jangan langsung mengharapkan mereka bisa mengapresiasi kesenian dan budaya tradisional, yang memang kurang mereka kenal.

Sebaiknya orangtua sejak kecil mulai membiasakan anak-anak mengenal seni dan budaya tradisional daerahnya masing-masing. Misalnya, penggunaan bahasa, mendengarkan musik tradisional di rumah, menonton pertunjukkan seni tradisional, memperkenalkan ritual kedaerahan mereka, dsb. Dan sebaiknya semua itu dilakukan dengan cara yang lebih FUN dan menarik bagi mereka - seperti pada saat liburan, melakukan perjalanan/travel budaya, atau menyaksikan festival seni di daerah asalnya.

Sumber: InspireKids Issue 46/2009

Sunday, June 3, 2012

Musical Horoscopes

MUSICAL HOROSCOPES 

 
FLUTES
If you are a flute player then you're probably smart, strong, out-going, and have a lot of friends. But you might want to watch out for low brass players because some of them may not enjoy your high pitched melodies.
Compatibility: Trumpets, clarinets and saxophone players are OK, but stay clear from tuba players.

CLARINET
If you play the clarinet then you're most likely to be strong, and strong-willed, skilled and talented, smart, and of course, romantic. The future is always in your past and the past is always in your future. As the same for flute players, watch out for the low brass section. 
Compatibility: Flutes, trumpet and French horn players are advised.
 
OBOE
If the oboe is your skill then you are smart, very talented, well rounded, cunning, dexterous, and clever. Beware of clarinets though, because its just genetic for them to dislike you. 
Compatibility: Flutes, French horns, and trumpet players are all right, but steer clear from clarinets.
 
BASSOON
If you play the bassoon, then congratulations, you could probably get a scholarship where-ever you want. The "requirements" of a bassoon player is being smart, flexible durability, expressive, affected, and pulchritude. Your biggest concern is the trombones, because when you are not there, they have to play your cues.
Compatibility: Clarinets, oboes, French horns, trumpets are OK, but reflect the trombones.

BASS CLARINET
If you play this instrument then you are smart, fun, outgoing, "wild", open-minded, and talented. You really don't have any concerns to think about, so have fun! 
Compatibility: Whatever you choose. 

SAXOPHONE
Saxophone players can vary. You can get all different shapes and sizes of saxophones that it's not even funny! Basically, what all saxophone players have in common is they're all gifted. But beware of trumpet players for their music is not always as cool as yours. 
Compatibility: Clarinets, other saxophones, French horns, trombones, and baritones are OK, trumpets are a no, no.
 
TRUMPETS
If the trumpet is your name then flying is your game. Your music can be hard work, but let yourself soar, because intelligence is your strong point and slaking is your weak. I suggest keeping your eye out for everyone because the trumpet position is a well desired spotlight. 
Compatibility: Flutes, clarinets, oboes, bassoons and bass clarinets are A-OK! But saxophones are your nightmare. 
FRENCH HORN
Playing the French horn can be demanding work, but your quiet personality can overcome. Whether its blowing through the mellophone, or triple tonguing your concert solo........ French horns........ our hats off to you. Like the bass clarinets, you have no enemies, so smile, and I hope that made your day.
Compatibility: Who wouldn't love ya?!
 

TROMBONES
Well trombones. I must say you are very determined people. You should hold your head with pride because the trombone is a tricky instrument to master, and if you've played on into high school then you are truly gifted. But I would advise you not to strut too much because the bassoon is not on your side. And another thing, you are most likely not compatible with fellow low brass players, so don't even try.
Compatibility: Saxophones, bass clarinets, and of course, French horns.

BARITONES
If you play the baritone then you are most likely strong, smart, out-going, open-minded and misunderstood. Unfortunately the baritone is the only brass instrument that is not included in a orchestra. For that we're sorry, the baritone has earned its right there. Your enemy is most likely the trombones, they just don't know it. Keep your senses keen! 
Compatibility: Like the trombones, stay away from other low brass. But! Bass clarinets, French horns and saxophones are OK. 


TUBA
If you play this "umpa, umpa" then you are most likely to be like the bass clarinets. Out-going, "wild" and open minded. Congratulations, you've strived to be different in this world. Not only that but if you play this monstrosity of a horn then you are probably in good shape. As far as your enemies I would say it would be the entire woodwind section, because it is your mission and goal in life to over play them in band. But of course the bass clarinets and saxophones love you because you share the same mission.
Compatibility: Well since the low brass isn't advised and the wood winds hate you, all that is left is, saxophones, bass clarinets, French horns, and the trumpets, or percussionist.
 

PERCUSSIONIST
Well what kind I say about percussionist? Heck they are basically from their own planet. Their smart, talented, and well skilled in the art of playing with sticks. The only real enemy of the percussion is the Band Director, so watch your step. And if you happen to be the Band Director's child, then I'm sorry, I can't help you there, I'm only a web page provider. :) Compatibility: Who knows?

Thursday, May 31, 2012

Humorous Musical Quotations

HUMOROUS MUSICAL QUOTATIONS 


JS. BACH
"You want something by Bach? 
Which one, Johann Sebastian or Jacques Offen?"
Victor Borge (b. 1909), Danish-born American musical humorist

"There's no reason we can't be friends. 
We both play Bach. You in your way, I in his."
Wanda  Landawska  (1877-1959),  Polish concert keyboardist, to a rival (attr.)


A quarter note walks into a bar.
He sees a dotted half note and says to her:
"Baby, you make me whole"

BAD MUSIC
"There is a lot of bad music in every age, 
and there is no reason why this one should be an exception."
 Harold C. Schonberg (b. 1915), American music critic, 
in the New York Times (March 26, 1961)

"Of course the music is a great difficulty. 
You see, if one plays good music, people don't listen, 
and if one plays bad music, people don't talk."
Oscar Wilde (1854-1900), Irish playwright and novelist

"There are more bad musicians than there is bad music."
 Isaac  Stern (b. 1920), Russian-born  American  violinist

ADVICE
"When  a  piece  gets  difficult,  make faces"
Artur  Schnabel (1882-1951),  Austrian  pianist, 

 giving  advice  to  fellow  pianist  Vladimir  Horowitz


 AUDIENCE

"Flint  must  be  an  extremely  wealthy  town:
 I  see  that  each  of  you  bought  two  or  three  seats."
Victor  Borge (b. 1909),  Danish-born  American  musical  humorist,  

speaking  to  a  half-full  house  in  Flint, Michigan.


Furtwangler  was  once told in  Berlin  that  the  people  in  the  back  seats  were  complaining  
that  they  could  not  hear some of   his  soft  passages.
 ''It   does  not  matter,'' He  said, "they  do  not  pay  so  much."
Neville  Cardus,  British  music  critic, in  The  Manchester  Guardian  (1935)



J. BRAHMS
"If   there  is  anyone  here  whom  I  have  not  insulted, I  beg  his  pardon."
Johannes  Brahms (1833-97),  German  composer,  on  leaving  a  party  of  friends.



COMPOSER  & COMPOSING
When  I  was  young,  people  used  to  say  to  me: 

"Wait  until  you're  fifty,  you'll  see.... I  am  fifty. I  haven't  seen  anything."
Erik  Satie  (1866-1925),  French  composer.


"My  music  is  not  modern,  it  is  only  badly  played."
Arnold  Schoenberg  (1874-1951),  Austrian-born  American  composer.


"In  order  to  compose, 
 all  you  need  to  do  is  remember  a  tune  that  nobody  else  has  thought  of."
Robert  Schumann  (1810-1856),  German  composer.


"That's  the  worst  of  my  reputation  as  a  modern  composer. 
Everyone  must  have  thought  I  meant  it." 
Igor  Stravinsky  (1882-1971),  Russian-born  American  composer, 
 on  a  misprint  in  one  of  his  scores.

"Ah,  Mozart!  He  was  happily  married  but  his  wife  wasn't."
 Victor  Borge  (b. 1909),  Danish-born  American  musical  humorist

"Rossini  would  have  been  a  great  composer  ,
if  his  teacher  had  spanked  him  enough  on  his  backside." 
Ludwig  van  Beethoven (1770-1827),  German  composer.

"[Stravinsky's  music  is]  Bach  on  the  wrong  notes."
 Sergei  Prokofiev  (1891-1953),  Russian  composer.



CONDUCTOR  &  CONDUCTING
"Can't  you  read?  
The  score  demands  con  amore,  and  what  are  you  doing? 
You  are  playing  it  like  married  men!"
Arturo Toscanini (1867-1957),  Italian  conductor,  to  an  orchestra.


PIANIST  &  PIANO
" I  always  make  sure  that  the  lid  over  the  keyboard  is  open  before  I  start  to  play."
Artur  Schnabel (1882-1951),  Austrian  pianist,  

asked  the  secret  of  piano  playing.
 

"When  she  started  to  play,  
Steinway  himself  came  down  personally  and  rubbed  his  name  off  the  piano."
Bob  Hope  (b. 1903),  American  comedian



"I  never  practice,  I  always  play."
Wanda  Landawska  (1877-1959),  Polish  concert  pianist.


"I'm  a  concert  pianist. 

That's  a  pretentious  way of  saying:  I'm  unemployed  at  the  moment."
Oscar  Levant  (1906-72),  American  actor, composer  and  pianist,  in  An  American  in  Paris  (1951). 



A PIANIST, SINGER & AUTUMN LEAVES

A pianist and singer are rehearsing "AUTUMN LEAVES"
for a concert and the pianist says:

"OK. We will start in G minor and then on the third bar,
modulate to B major and go into 5/4.
When you get to the bridge,
modulate back down to F# minor
and alternate a 4/4 bar with a 7/4 bar.
On the last A section go into double time
and slowly modulate back to G minor."

The singer says: "Wow, I don't think I can remember all of that."
The pianist says: "Well, that's what you did last time."


FINDING THE RIGHT KEY
Q: "If you were locked in a room with only a piano,
how would you get out?"
A: "Play the piano until you find the right key."

PIANO PLAYER GOT ARRESTED

Q: Why was the piano player arrested?
A: Because he got into treble.




TEACHER
"Time  is  a  great  teacher,  but  unfortunately  it  kills  all  its  pupils."
Hector  Berlioz  (1803-69),  French  composer.



 VIOLIN

"You  see,  our  fingers  are  circumcised, 
which  gives  it  a  very  good  dexterity,  you  know,  particularly  the  pinky."
Itzhak  Perlman (b. 1945),  Israeli  violinist,  

replying  to  a  comment  that  so  many  great  violinists  are  Jewish.

Tuesday, May 29, 2012

Quotes About Practice Art

QUOTES ABOUT PRACTICE ART


The Three D's to Succeed:
Desire, Discipline, Dedication...

To practice any art, no matter how well or badly
Is a way to make your soul grow

"It's okay to make mistake when you've tried
But it's a mistake not to try"

- Lori Jungers -

"We are what we repeatedly do.
Excellence then, is not an act but a habit."

- Aristotle -

Thursday, May 24, 2012

Menumbuhkan Minat Seni Anak

MENUMBUHKAN MINAT SENI ANAK

 
 
Berkesenian adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas, 
 karena seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. 
Seni juga ampuh untuk mengembangkan aspek kognitif, sosial dan emosionalnya. 

Seni dalam pendidikan di Indonesia bagaikan anak tiri. 
Berapa besar porsi pendidikan seni bagi anak yang disediakan di sekolah setiap minggunya? 
Bandingkanlah dengan mata pelajaran lain,
 - seperti matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dsb. 
Bidang-bidang apa sajakah yang mendapat porsi dan penekanan yang lebih besar? 
Jawabannya, pasti bukan seni!


Setidaknya hal itulah yang dilihat oleh Dinastuti, MSi, Psi, pengajar Psikologi Seni di Unika Atma Jaya. 

“Pendidikan seni yang bisa memajukan kreativitas, ekstra kurikuler yang bisa membuat anak berpikir berbeda, kritis, dan unik, sama sekali tidak ditekankan,”

Hal itu menurutnya bisa dilihat dari kurikulum sekolah yang sedari dulu penekanannya adalah pada mata pelajaran eksakta, bahasa dan lainnya yang dianggap lebih penting.

Penekanan pada mata pelajaran tertentu di sekolah juga mempengaruhi kegiatan anak di luar sekolah. Les anak yag notabene lepas dengan kegiatan sekolah, sebagian besar pun berupa pelajaran tambahan yang sifatnya mendukung pelajaran di sekolah, seperti les matematika dan Bahasa Inggris. ”Itu semua bagus, tetapi tidak diimbangi dengan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi hal-hal yang bersifat seni,” katanya.

Namun Dinastuti tidak memungkiri, ada juga orangtua yang sudah berpikiran untuk mengarahkan anaknya kursus di bidang seni, misalnya kursus melukis, menari, memainkan alat musik, dsb. Tapi sayangnya, minat untuk menyalurkan anak untuk berkesenian itu kerap berbenturan dengan biaya, mengingat harga yang dibanderol tempat kursus biasanya relatif mahal. Belum lagi peralatannya yang umumnya harus disediakan sendiri. “Seberapa banyak sih yang punya uang atau bisa memberikan fasilitas itu pada anaknya?“ kata Dinastuti mempertanyakan. Padahal, seni memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi anak, tak hanya dari bagi kreativitas juga sisi kognitif, emosi dan sosial.


MAKANAN OTAK
 
Pakar kreativitas dari pusat pengembangan kreativitas, Qurius, Kayee Man memaparkan, seni sangat bermanfaat untuk mengaktifkan otak kanan anak. Mengutip pendapat Edwards, Kayee menjelaskan bahwa otak kiri manusia tidak menyukai aktivitas yang tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata, karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk diproses. Atau dengan kata lain, otak kiri membenci aktivitas yang ada hubungannya dengan seni.

Berbeda dengan otak kanan yang bekerja kebalikannya. Seperti diindikasikan oleh Hausner dan Scholsberg, Kayee mengutip, banyak ilmuwan yang setuju bahwa seni adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas karena melaluinya seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. 

KREATIVITAS:
bagaimana menemukan ide baru yang efektif dan etis?

Untuk menjadi kreatif seseorang harus berpikiran terbuka, mau berimajinasi dan mengambil risiko terhadap hal-hal baru. “Akan lebih mudah bagi seseorang untuk kreatif jika dia berada dalam lingkungan yang mendukungnya untuk menjadi kreatif yaitu lingkungan yang mendukungnya untuk berimajinasi, terbuka terhadap hal baru, dan ide-ide yang tidak biasa tanpa takut melakukan kesalahan,” urai Kayee.


Dengan membuat karya seni, tambahnya, anak dapat mengembangkan imajinasi, mencoba berbagai cara baru, dan menentukan ide-ide apa yang harus digunakan dan tidak perlu digunakan. 

“Seni membuka berbagai kemungkinan untuk munculnya kreativitas,”

Kemampuan untuk berpikir dan berimajinasi inilah yang kemudian akan menyebar ke area lain dalam otak/pikiran anak sehingga anak akan mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah, memahami bacaan, dan berpikir analitis.

Selain itu dari segi kognitif, Kayee berpendapat aktivitas seni baik untuk mengembangkan aspek kognitif anak karena sifatnya yang multidisiplin. Kayee mencontohkan, melalui aktivitas seni membuat bentuk menggunakan tanah liat, anak dapat belajar bahwa beberapa objek dapat mengapung atau tenggelam di dalam air. Mereka dapat bereksperimen bagaimana bentuk dan berat suatu objek dapat mempengaruhi hal tersebut. Dengan demikian, “Seni dapat digunakan untuk mengeksplorasi disiplin ilmu lain, memperoleh suatu pengetahuan baru ataupun memperdalam suatu hal yang sudah diketahui,” terang peraih gelar master studi kreativitas dari International Center of Creative Studies di Buffalo State University , New York ini.

Menurut Kayee, seni juga dapat menjadi media yang sangat baik untuk anak belajar mengasosiasikan sesuatu secara bebas dan tidak biasa. Misalnya, dalam aktivitas seni dengan tema “Metamorfosis”, anak tak hanya bisa belajar pengetahuan dasar tentang proses metamorfosis, tetapi juga ditantang untuk menciptakan karya seni yang ada kaitannya dengan proses tersebut. Anak bisa saja membuat pensil ‘berubah’ menjadi dompet yang tak hanya hasil dari sebuah karya seni tetapi juga mendorong mereka untuk memiliki pemahaman yang berbeda tentang konsep metamorfosis. “Di sinilah seni mampu menyatukan berbagai disiplin ilmu menjadi sebuah media yang efektif untuk melatih anak membuat asosiasi yang tidak biasa, yang sebenarnya merupakan elemen kunci dari berpikir kreatif,” jelas Kayee lagi.

Kemampuan observasi anak pun bisa dikembangkan melalui seni. Sebagai contoh, tambah Kayee, dalam sebuah aktivitas seni yang menggunakan daun, anak dapat diminta untuk mengekplorasi bentuk, bau, tekstur, dan struktur dari berbagai macam daun. Kemudian anak dapat diminta untuk mengelompokkan daun-daun tersebut berdasarkan kategori tertentu dan membuat sebuah kreasi seni yang berkaitan dengan hal tersebut. Hasilnya, anak mungkin dapat mengasosiasiasikan bau daun dan membentuknya menjadi bunga. Atau, mengasosiasikan bentuk daun untuk membuat karya seni berbentuk kucing.


MAKANAN JIWA

Dinastuti menambahkan, ketika seseorang berkesenian, berarti dia sedang mengekspresikan dirinya. Ia tak hanya mengekpresikan dirinya tetapi juga bagian-bagian dari dirinya, apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan. 

“Ketika mengekspresikan dirinya, 
anak harus tahu dulu apa sebenarnya yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Anak pun jadi belajar untuk mengenal dirinya sendiri,”

Anak yang bisa mengenal dirinya sendiri, menurut Dinastuti tahu siapa dirinya, tahu apa yang disukainya, dan apa yang tidak disukainya.

Sependapat dengan Dinastuti, Kayee mengatakan, seni dapat menjadi suatu medium yang baik bagi anak-anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Bahkan untuk anak yang belum bisa menggambar dengan bagus pun bisa menceritakan apa yang coba disampaikannya melalui gambar dengan memancingnya melalui pertanyaan. Kayee mencontohkan anak 5 tahun yang menggambar gadis kecil dengan plester di bagian dagu karena ingin menceritakan bahwa dia baru saja jatuh. 

 “Anak dapat menunjukkan hal penting yang terjadi pada dirinya 
melalui sebuah karya seni,”

Menurut Dinastuti, ketika anak belajar seni, sebenarnya ia tengah mengasah sisi sensitivitasnya. Anak jadi lebih peka terhadap pemikirannya sendiri, perasaannya sendiri. Hal itulah yang menurut Dinastuti dapat membantu anak untuk juga memahami perasaan dan pemikiran orang lain. 

“Orang-orang yang belajar seni biasanya lebih peka, 
lebih sensitif, lebih bisa merasakan perasaan dan ekspresi orang lain, ”

Dari sisi sosial, menurut Kayee, seni juga dapat menjadi medium yang sangat baik bagi anak untuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan orang lain, mulai dari merencanakan suatu proyek, membagi tugas dan tanggung jawab dan menjadi bagian dari tim untuk menyelesaikan keseluruhan proyek dengan baik. Misalnya, sekelompok anak yang mendapat tugas untuk membuat drama singkat tentang dongeng Putri Salju. Anak belajar untuk merencanakan penampilan, berbagi tugas dan tanggung jawab serta menjalankan setiap perannya sebaik-baiknya.

Selain itu, buat anak-anak, menciptakan suatu hasil karya seni yang orisinil dapat memperoduksi kepuasan bagi jiwanya, yang tentunya sangat baik untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.


CARA MENUMBUHKAN MINAT ANAK TERHADAP SENI
  • Ajak anak menonton pertunjukan, atau pameran hasil karya seni sambil mendiskusikan apa yang dilihat dan menanyakan padanya hal apa yang menurutnya menarik dan membuatnya tertarik.

  • Anda pun dituntut untuk juga menjadi seorang penggemar seni, agar si kecil tertarik dengan seni. Salah satu cara untuk menunjukkannya pada anak adalah dengan menjadikan seni sebagai bahan obrolan atau topik pembicaraan sehari-hari. Anda bisa menceritakan lukisan yang digantung di rumah dan alasan mengapa Anda menyukainya, film yang Anda tonton, karya seni yang dibuat si kecil, alunan musik yang didengar dalam perjalanan di mobil dan lain sebagainya.

  • Stimulasi si kecil dengan seni yang bagus dan bermutu tinggi, apapun itu. Cobalah untuk memajang lukisan bagus, patung-patung artistik atau memperdengarkan musik-musik indah. Selain dapat menjadi elemen dekoratif yang indah, karya-karya tersebut juga dapat menjadi rangsangan yang baik bagi si kecil.

  • Sediakan sarana dan peralatan seni yang sederhana yang mudah didapat dan tanpa perlu menguras kantong. Untuk anak batita misalnya, Anda dapat menyediakan peralatan dasar yang seperti finger paint, lilin mainan dan krayon. Untuk anak pra sekolah, Anda bisa menambahkannya dengan lem, selotip, gunting dan kuas. Makin besar anak dan makin eksploratif dia, Anda mungkin dapat menambahkannya dengan berbagai peralatan lain.

  • Biarkan si kecil berekspresi dengan bebas. Jangan batasi kebebasan anak dengan mendikte bagaimana seharusnya suatu objek dibentuk dan diberi warna. Jika si kecil membuat suatu hal yang tidak biasa menurut Anda, cobalah untuk merangsangnya mengungkapkan cerita di balik hasil karyanya.

  • Daripada melarang anak mencorat-coret tembok, lebih baik lapisi dinding rumah Anda dengan kertas atau memberinya pojok khusus untuk berekspresi dengan seni tanpa harus dimarahi. Memarahi anak yang tengah berekspresi, menurut Dinastuti dapat membuat anak berhenti berekspresi, karena menganggap apa yang dilakukannya dinilai salah oleh orang lain.

  • Buatlah karya seni bersama si kecil. “Anda tak harus menjadi seorang seniman untuk bisa menggambar ,” kata Kayee. Ambil saja pensil, gambarlah sesuatu dan berceritalah tentangnya. Si kecil pasti akan terpancing untuk juga melakukannya.

  • Doronglah si kecil untuk berekspresi dengan media yang berbeda-beda. Jika selama ini media yang digunakan adalah media yang konvensional, ajaklah si kecil untuk mencoba menemukan cara baru dalam menggunakan suatu media.

  • Dorong si kecil untuk kreatif. Hal ini dapat Anda lakukan salah satunya dengan membacakan sebuah awal cerita, kemudian mintalah si kecil untuk membuat gambar yang menceritakan bagaimana akhir dari cerita tersebut nantinya. Atau, dengan membuat sedikit coretan di kertas, mintalah si kecil mengembangkannya menjadi bentuk yang ia inginkan.

  • Jangan takut kotor. Dengan bermain kotor si kecil bebas berekspresi tanpa harus dibatasi oleh larangan dan omelan dari orangtuanya yang tak ingin baju, tangan dan wajah si kecil kotor. Yang penting, si kecil membersihkan tubuh sesudahnya dan pastikan kotoran tersebut tidak masuk ke dalam mulutnya.

  • Jangan hanya memasukkan si kecil ke tempat kursus tanpa mendukungnya dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk si kecil berekspresi juga di rumah. Misalnya, jika si kecil mengambil kursus piano, sediakanlah juga CD musik yang bagus untuk diperdengarkan atau coba dimainkan.

  • Pajang dan dokumentasikanlah hasil karya seninya agar si kecil bertambah rasa pencaya dirinya dan makin terpacu untuk lebih ekspresif dan eksploratif lagi dengan seni.
Sumber: 
http://ibudanbalita.com/pojokcerdas/menumbuhkan-minat-seni-anak
Inspired Kids Magazine Issue 46/March 2009