Sunday, August 19, 2012

Artikel Audio Pro (Agustus 2012) "Kawai Factory Tour"

KAWAI FACTORY TOUR
“THE ULTIMATE DIGITAL PIANO”
Artikel AUDIOPRO, edisi Agustus 2012
Oleh: Michael Gunadi Widjaja
source: Audiopro



Piano digital sangat berbeda dengan piano elektrik. Piano digital adalah sebuah imitasi dari piano akustik sejati dalam sebuah sistem digital. Ada beberapa merek dan pabrik piano digital. Salah satu yang sudah mendapatkan pengakuan kelas dunia adalah Kawai digital piano.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melakukan Kawai Factory Tour atas undangan pihak manajemen PT KAWAI INDONESIA. Dalam Factory Tour ini saya bersama dengan Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu, seorang music educator dan pianis alumnus Jerman. Selama tur, kami didampingi jajaran manajemen Kawai Indonesia, yakni Bapak Suyono (Manager Quality Control) dan Bapak Oki Hermawan Anggawinata (Manager Marketing). Juga Bapak Gunawan dari jajaran manajemen Kawai elektrik dan direktur utama Kawai Indonesia Mr. Hiroshi Ushio dan executive director Mr. Ichiro Matsuda.

 

Pabrik Kawai digital piano adalah sebuah assembly industry yang terletak di Cikampek. Nama resmi dari pabrikan piano digital ini adalah Kawai Electronic Musical Instrument, dan berada dalam unit produksi Kawai Plant 3. Seluruh proses assembly dikerjakan dengan sarana produksi canggih dan pengawasan kualitas yang prima.

Kawai mengeluarkan berbagai tipe dan seri piano digital, dan terbagi dalam empat kategori:
  • Concert Performance series (CP)
  • Concert Artist series (CA)
  • Portable Digital  (ES & EP)
  • Custom series  (CL & CN)
Tiap seri memiliki keunggulan dan fitur untuk berbagai keperluan. Seri CP misalnya, adalah sebuah masterpiece dengan keakuratan bunyi sangat presisi mendekati bunyi Grand Acoustic Piano.

Yang menjadikan Kawai digital piano berbeda dan unggul dibanding piano digital lainnya adalah bahwa Kawai digital piano memiliki area sanpling yang luas, juga sampling rate yang tinggi. Dan modus sampling ini diambil dari Shigeru Kawai, salah satu grand piano terbaik di dunia. Selain itu, mekanisme touch dari Kawai digital piano juga sangat luar biasa. Hammer action menggunakan compound material, yakni wooden dan bahan composit. Sehingga touch dari Kawai digital piano bukan saja mendekati piano sejati, melainkan sudah sangat persis. Touch respond dan sensitivitasnya sangat akurat, hammer action-nya juga memungkinkan untuk mengeksplorasi tone color.

 
 

Dalam pabrik, Miss Jelia sempat mencoba Kawai digital piano seri CP. Dan ternyata seri CP ini sangat mampu mengakomodasi kebutuhan pianis handal seperti Jelia, terutama ketika dilakukan tes dengan fast repeated hammering technique. Mekanisme hammer Kawai sangat mampu mengakomodasi teknik ini, yang di piano digital merek lain amatlah tidak mungkin.

Piano Kawai termasuk salah satu produk piano terbaik di dunia. Bersama Fazioli, Boessendorfer, dan Steinway & Sons. Nama besar Kawai dan ketenarannya merupakan fusi dari kerja keras, visi yang tajam, keterampilan, keuletan, dan yang terpenting penjiwaan slogan bahwa Kawai akan menjadi “The Future of the Piano”

KAWAI DIGITAL PIANO
“Sounds like playing on a real acoustic piano with responsive sensitive keys”

Tur dialokasikan pada Kawai piano factory plant 1, yakni unit perakitan untuk piano akustik dan grand piano. Sesampainya di Kawai plant 1, rombongan disambut Mr. Hiroshi Ushio (Presdir PT Kawai Indonesia) dan Mr. Ichiro Matsuda (Direktur pelaksana). Sebelum melakukan kunjungan ke pabrik, dilakukan presentasi oleh Bapak Rudi seputar Kawai Indonesia dan product knowledge. Menjadi menarik manakala menelisik sejenak hal-hal penting dalam presentasi tsb, agar setidaknya dapat dijadikan inspiratif tentang filosofi dan etos kerja sebuah pabrik piano terbaik di dunia dalam kiprahnya di tanah air.

SEJARAH KAWAI
(dari ki-ka) Koichi Kawai - Shigeru Kawai - Hirotaka Kawai

Kawai Corp. Didirikan oleh Koichi Kawai. Saat ia memasuki usia remaja, Koichi bekerja di industri piano. Dia adalah anggota kunci tim penelitian dan pengembangan dimana untuk pertama kalinya piano diperkenalkan ke Jepang. Seorang penemu berbakat, Koichi Kawai adalah yang pertama kali merancang dan membangun sebuah aksi piano di Jepang. Ia memegang banyak paten untuk penemuannya dan desain. Perbedaan visi menjadikan seorang Koichi Kawai mendirikan sebuah perusahaan piano sendiri. Pada tahun 1927, Koichi Kawai mendirikan laboratorium penelitian instrumen musik Kawai, dan mempekerjakan tujuh orang kerabat lainnya. Sebagai perusahaan muda, satu-satunya yang mendukung mereka adalah semangat untuk musik dan keinginan untuk memproduksi piano unggul. Prinsip-prinsip dasar Koichi dipusatkan pada kualitasm apresiasi musik, dan pencarian keunggulan.


Impian Koichi Kawai diwujudkan oleh Shigeru Kawaithe successor, anak Koichi Kawai – dalam memperluas fasilitas produksi dan mendirikan sejumlah organisasi untuk mempromosikan nilai musik. Pada 9 Agustus 1927 di Hanamatsu, Jepang, didirikanlah pabrik Kawai yang pertama. Hirotaka Kawai, presiden yang ditunjuk pada tahun 1989, tetap berkomitmen untuk menjalankan tradisi yang ditanamkan oleh ayah dan kakeknya. Dalam menegaskan filsafat mereka, ia menyatakan “At Kawai, th quest for perfection is not just an ideal, but a duty”. Di bawah bimbingan Hirotaka, perusahaan memulai sebuah program yang menginvestasikan puluhan juta dollar untuk mengintegrasikan teknologi robotika ke dalam proses manufaktur. Dia juga memimpin pendirian fasilitas manufaktur Kawai di seluruh dunia. Dengan demikian, tradisi kepemimpinan keluarga di Kawai hidup dari generasi ke generasi.

Kawai Indonesia berdiri tahun 2001, memiliki tiga unit produksi. Kawai plant 1 di Tangerang dan Kawai plant 2 & 3 di Cikampek. Akan segera terealisasi Kawai plant 4. Jika Kawai plant 4 terealisasi, maka akan didapat produk piano yang memproduksi semua produk bahan baku piano yang murni buatan Indonesia. Kegiatan utama unit produksi Kawai adalah perakitan piano dengan jumlah produksi 1000 set per bulan untuk piano akustik dan 6000 set per bulan untuk piano digital. Khusus untuk piano akustik, 40% kegiatan produksinya dikerjakan secara manual, sebagai komitmen Kawai akan hand crafted and precision untuk menghasilkan piano terbaik di dunia.

 Master Piano Artisan (MPA)

Semua produksi Kawai ada dibawah pengawasan sangat ketat dari Master Piano Artisan (MPA). Tingkat tertinggi dari MPA ini baru dapat diperoleh setelah 20 tahun mengenyam pendidikan dan tes, termasuk di Eropa.

ABS-CARBON
“The New Composit for Piano Action Millenium”

Masterpiece piano akustik Kawai adalah Shigeru Kawai grand piano. Menggunakan bahan komposit millenium serat karbon yang disebut sebagai ABS-Carbon (ABS: Acrylonitrile Butadiene Styrene). ABS adalah salah satu bahan yang paling dikenal dari semua komposit modern dalam semua aspek kehidupan, seperti telepon, komputer, peralatan rumah, mobil, sepeda, mobil balap Formula One, instrumen gesek, dan pesawat komersial.

ABS-Carbon merupakan bahan yang sangat kokoh dan kaku, dipergunakan untuk membuat bagian-bagian piano action yang berkenaan dengan:
  • Kekuatan - Lima puluh kali lebih kuat dari bahan kayu, sehingga memiliki daya tahan yang kuat dari perubahan suhu/cuaca 
  • Konsistensi dimensi - Secara signifikan lebih konsisten dalam ukuran dan bentuk dari bahan kayu, sehingga memungkinkan produksi nada yang lebih jernih dan presisi
  • Ketahanan terhadap pembengkakan - Tiga puluh kali lebih tahan daripada bahan kayu, sehingga posisi sekrup pada piano action tetap ketat dan hammer tidak mengalami perubahan, memungkinkan untuk melakukan sentuhan (touch), serta produksi kualitas tone yang konsisten
  • Daya tahan (longevity) dalam rentan waktu yang panjang
Desain ringan membuat piano action millenium III ini sangat cepat dan memudahkan pemainnya dalam melakukan pengulangan (repeated hammer action), dan respons bunyi yang luar biasa. Infus serat karbon ke ABS meningkatkan kekuatan material hingga 90%. Dengan ABS-Carbon, piano action dibuat lebih cepat dan ringan. Sekitar 16% lebih cepat dari bahan konvensional pada umumnya, dan tidak terpengaruh oleh kelembaban udara, sehingga hammer mechanism tidak macet seperti jika memakai bahan dari kayu. Dan pemain mempunyai kemampuan kontrol jari yang tidak tertandingi untuk bermain pianissimo. Selain itu Kawai juga dilengkapi dengan agraffes utillity pada bridge agar posisi dawai tidak mudah bergeser.

Friday, August 17, 2012

Review Movie "Amadeus" (1984)

 REVIEW MOVIE "AMADEUS" (1984)


AMADEUS adalah sebuah film drama periode (period/costume drama) pada tahun 1984 yang disutradarai oleh Miloš Forman dan ditulis oleh Peter Shaffer. Diadaptasi dari cerita sandiwara (stage play) Shaffer pada tahun 1979, cerita ini merupakan variasi dari sandiwara Alexandr Pushkin yang berjudul Mozart i Salieri, di mana komposer Antonio Salieri mengakui kejeniusan dari Wolfgang Amadeus Mozart dan mengisahkan bagaimana Salieri begitu iri terhadap Mozart. Kisah ini berlokasi di Wina, Austria, pada akhir abad ke-18.

Film ini dinominasikan untuk 53 penghargaan, termasuk delapan Academy Awards (termasuk Best Picture), empat BAFTA Awards, empat Golden Globe, dan Penghargaan DGA
(Directors Guild of America). Pada tahun 1998, American Film Institute memberikan peringkat ke-53 pada 100 Years ... 100 Movies.

 

Cerita dimulai pada tahun 1823 yang mengisahkan upaya bunuh diri Salieri dan permintaan ampunnya karena telah membunuh Mozart pada 1791. Salieri ditempatkan di rumah sakit jiwa akibat tindakannya tsb dan ia dikunjungi oleh seorang pendeta muda, dimana Salieri menceritakan "pengakuan" panjang tentang kisah hidupnya dan hubungannya dengan Mozart. Bagaimana ia berjanji kepada Tuhan untuk hidup selibat dan mengabdikan hidupnya untuk musik.

Dalam pengakuannya, Salieri menceritakan karirnya sebagai komposer bagi kekaisaran romawi Joseph II sebagai bentuk kesuksesan dan imbalan karena ketaatannya kepada Tuhan. Tetapi sejak pertemuannya dengan Mozart di Wina dengan patronnya Count Hieronymus von Colloredo, Pangeran Uskup Agung Salzburg; Salieri selalu mengamati perilaku Mozart yang tidak pantas dan sangat iri pada bakat dan kejeniusan Mozart. Secara bertahap, iman Salieri terguncang dan menjadi marah kepada Tuhan karena ia menganggap bahwa Tuhan tidak adil dan kejam terhadapnya. Bagaimana Tuhan bisa memilih seorang anak kecil yang tidak sopan, cabul, kekanak-kanakan untuk menyuarakan suaraNYA? 


Di luar perilaku Mozart yang kekanak-kanakan dan tidak pantas di luar panggung dan kehidupan sehari-harinya, Salieri mengakui bakat besar dan kejeniusan seorang Mozart. Ada satu adegan yang sangat menarik yaitu pada 1781, ketika Mozart bertemu Kaisar, dan memainkan karya Salieri "March of Welcome" yang diciptakan dengan penuh kerja keras, hanya dalam sekali dengar berdasarkan memorinya, lalu mengkritiknya, bahkan mengimprovisasinya menjadi sebuah variasi dan menggunakan temanya dalam karya Mozart "Non piu andrai" pada operanya “The Marriage of Figaro” (1786). Sejak saat itu pula lah, Salieri percaya bahwa Tuhan melalui kejeniusan Mozart adalah sosok yang kejam, tidak adil, dan menertawakan musiknya yang “biasa-biasa” saja.

 Berikut cuplikan video "AMADEUS"

Dalam film ini, diceritakan perjuangan Salieri dalam mempertahankan keyakinannya terhadap Tuhan dan diselingi dengan kisah hidup Mozart yang penuh penderitaan dalam mempertahankan idealisme dan menampilkan musiknya; kisah cintanya dengan Constanze yang kemudian menjadi istrinya, kehidupannya yang bahagia dengan anaknya Karl, kesedihannya atas kematian ayahnya Leopold Mozart, dan keputusasaannya karena kesulitan keuangan dari peningkatan biaya keluarganya dan penurunan komisi dari kekaisaran Austria.

Ketika Salieri menyadari kesulitan keuangan Mozart, ia melihat kesempatan untuk membalaskan dendamnya, dengan memperalat "Kekasih Allah" (arti dari "Amadeus"). Salieri merencanakan sebuah plot untuk meraih kemenangan tertinggi atas Mozart dan Tuhan. Dia menyamar dalam topeng dan kostum mirip dengan yang ia lihat ketika Leopold Mozart memakainya di sebuah pesta, dan memberikan komisi yang besar bagi Mozart untuk menuliskan sebuah misa requiem, Salieri memberinya uang muka dan menjanjikan sejumlah besar dana setelah ia menyelesaikannya. Mozart mulai menuliskan “Requiem Mass in D minor, tanpa menyadari identitas sebenarnya dari tamu misterius tsb dan tidak menyadari niat pembunuhan yang ditujukan kepadanya. Sambil membayangkan setiap rincian bagaimana ia akan melakukan pembunuhan tersebut, Salieri berkhayal bagaimana ia mendapatkan kekaguman dari teman-teman aristokratnya, ketika mereka memuji kemegahan requiem tsb di saat dia mengklaim dirinya sebagai komposer karya tsb. Hanya Salieri dan Tuhan yang tahu kebenarannya, bahwa Mozart sendiri yang menuliskan requiem mass itu dan ketika saat itu tiba, Tuhan hanya bisa menonton Salieri dalam menerima ketenaran dan kemasyhuran yang menurutnya pantas ia dapatkan.


Situasi keuangan Mozart yang semakin memburuk dan tuntutan komposisi dari Requiem dan opera The Magic Flute mengantarkan Mozart ke puncak titik kelelahan saat ia harus bekerja secara terus menerus. Akhirnya Constanze pun meninggalkannya dan membawa anaknya pergi bersamanya. Kesehatan Mozart pun memburuk dan dia ambruk selama pemutaran perdana The Magic Flute. Salieri mengambil alih rumah Mozart dan meyakinkan dia untuk tetap bekerja pada requiem nya. Mozart mendiktekan nada demi nada, sementara Salieri mentranskripsikannya sepanjang malam. Ketika kembali Constanze di pagi hari, ia meminta Salieri untuk pergi, dan menyimpan partitur karya Mozart yang telah ditranskripsi tsb. Pada saat Constanze ingin membangunkan suaminya, Mozart sudah meninggal. Requiem yang tersisa belum selesai, dan Salieri merasa tidak berdaya ketika tubuh Mozart diangkut keluar dari Wina untuk dimakamkan di kuburan massal orang miskin.

Pada akhir film, Salieri telah menceritakan semua kisahnya pada pendeta muda itu dan menyimpulkan bahwa Tuhan lebih memilih untuk membunuh Mozart daripada membiarkan Salieri turut ambil bagian dari kemuliaan-Nya.

Di samping beberapa keganjilan yang terdapat di dalam film ini, Amadeus adalah salah satu film yang paling indah dan membutuhkan biaya sangat besar untuk menyorot sisi lain dari kehidupan Mozart dan juga musiknya pada jaman itu dengan cara yang menarik dan dramatis, dibandingkan dengan sebuah film dokumenter/biografi yang membosankan.

THE FACTS

Did Salieri kills Mozart?

Beberapa orang telah keliru mengambil kesimpulan bahwa Salieri telah membunuh Mozart. Tanpa adanya mitos ini, film ini tidak akan pernah dibuat. Hal ini menjadi memungkinkan untuk diangkat karena beberapa alasan, seperti kematian Mozart yang tiba-tiba, tidak terduga, dan tidak diketahui penyebabnya. Beberapa isu menyatakan bahwa Mozart meninggal karena racun. Jika Salieri membuat pengakuan dari RS jiwa setelah percobaan bunuh dirinya, itupun belum cukup meyakinkan. Salieri hanyalah seorang kolega dan bukan salah satu teman dekatnya. Bila ada, kemungkinannya pun sangat kecil.

Sejarawan dan dokter modern telah menyimpulkan bahwa Mozart meninggal karena serangan tiba-tiba demam rematik yang ia sering ia derita sejak kecil. Ketika demam itu menyerang Mozart, Mozart mengalami kegagalan jantung.

Pada kenyataannya Mozart tidak jatuh pingsan kelelahan pada malam perdana "The Magic Flute" ataupun diantar oleh Salieri menuju ke tempat tinggal Mozart. Mozart juga tidak meninggal pada hari berikutnya. Mozart berhasil melakukan beberapa pertunjukan "The Magic Flute", bahkan ia masih bekerja selama beberapa bulan walau terbatas di tempat tidurnya sampai pada akhirnya ia meninggal. Mozart juga tidak pernah ditinggalkan sendirian oleh Constanza, istrinya. Constanza, meskipun ia sangat menderita, dia tetap di samping tempat tidur Mozart dengan beberapa anggota keluarganya dan beberapa penyanyi yang sesekali datang untuk menyelesaikan beberapa bagian "Requiem" bagi Mozart.


 


MOZART'S PERSONALITY 

Unsur lain dalam Amadeus adalah perilaku Mozart yang sering digambarkan sebagai orang yang kekanak-kanakan dan tidak layak untuk mendapatkan gelar seorang jenius. Mozart tidak pernah memiliki yang cara tertawa yang cekikikan seperti yang diperankan oleh Tom Hulce. Walau Mozart memiliki sisi yang vulgar, ia hanya akan menunjukkan sisi ini ke keluarga dekat dan teman-temannya, ia tidak akan pernah menunjukkan hal ini kepada para aristokrat dan tentunya tidak pada saingan musiknya.

Pada film, Mozart juga dikisahkan sebagai orang yang tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan publik. Kita tidak boleh lupa bahwa Mozart berkeliling Eropa sejak kecil, mengunjungi pengadilan paling terhormat kerajaan dan aristokrasi. Mozart terlatih untuk bersikap terhormat, tahu tata karma, dan sopan santun pada usia yang sangat belia. Adalah mustahil untuk menganggap bahwa orang yang berpendidikan tinggi seperti ini tiba-tiba bersikap kasar, bodoh, dan sombong seperti yang digambarkan dalam film. Gambaran bahwa musiknya datang secara "alami", tanpa ada usaha apapun dari Mozart juga tidak sepenuhnya betul. Mozart dikenal sangat serius, pekerja keras dalam tenggang waktu yang panjang dan mencapai deadline, serta sangat disiplin, details, dan perfeksionis dalam musiknya.

Akhir kata, walau film ini mempunyai banyak kekurangan dan keganjilan, film ini layak untuk ditonton dan bisa menjadi salah satu referensi dalam menyorot perjuangan, sisi lain kehidupan seorang komposer jenius sepanjang masa, dan mengagumi keajaiban dan keagungan ilahi lewat musik seorang Wolfgang Amadeus Mozart.



Notes:
*This film is for adult only, parental advisory & find the “Director’s Cut” edition.

Wednesday, August 8, 2012

Artikel Majalah Staccato - Agustus 2012 "Susahnya Membaca Notasi Balok"

Artikel STACCATO Agustus 2012
"SUSAHNYA MEMBACA NOTASI BALOK"
Oleh: Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu 



MEMBACA NOTASI BALOK
"kok susah banget sih?"


Membaca notasi balok bagi beberapa orang merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan, bahkan bisa menjadi hal yang traumatis. Mengapa demikian? Apakah karena IQ-nya kurang alias loading-nya lama atau memang tidak bakat sih?

Membaca notasi balok dapat direlasikan seperti mempelajari bahasa asing. Kita harus mempelajari huruf-huruf yang baru, menyusun suku kata dan mengejanya sehingga membentuk suatu kata, frase dan akhirnya menjadi kalimat. Seperti pada proses mempelajari bahasa asing, begitu pula dalam musik terdapat notasi balok yang berbentuk simbol 'luar angkasa*' (*saking susahnya dibaca) - dimana beberapa orang menyebutnya seperti "tauge". Nah dari "tauge" inilah kita akan membentuk melodi, akor dan akhirnya menjadi lagu. Penguasaan kemampuan membaca notasi balok ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar, karena dibutuhkan penguasaan kemampuan lainnya, seperti: musik teori, ritmik dan ear training. Oleh karena itu, sebaiknya kebiasaan membaca notasi balok ini diperkenalkan sedini mungkin dalam pembelajaran instrumen.


KESULITAN MEMBACA NOTASI BALOK YANG KOMPLEKS
  
Walaupun terdapat kesamaan antara membaca huruf dalam bahasa dan notasi balok dalam musik - too bad it's just a metaphor, people! Membaca notasi balok boleh dikatakan lebih sulit oleh karena beberapa faktor di bawah ini:

1.     Variasi simbol yang sangat banyak
Di dalam musik, ada berbagai jenis not dengan durasi yang berbeda-beda, tanda istirahat, kunci, tanda dinamika, tanda birama, dsb. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mengenali simbol-simbol tsb.

Contoh notasi balok dan tanda istirahatnya beserta nilainya:


2.     Kombinasi simbol secara vertikal dan horizontal
Penulisan simbol vertikal melambangkan tinggi rendahnya nada dan simbol horizontal menunjukkan pergerakan nada. Pada instrumen piano, kesulitan menjadi berlipat ganda karena melibatkan dua kunci yang berbeda (kunci G dan kunci F), range instrumen piano yang bisa mencapai nada yang sangat tinggi dan rendah, serta memainkannya dalam waktu bersamaan dengan kedua tangan disertai jari-jari yang spesifik.  


3.     Kemiripan simbol dan bunyi
Misalnya: nada C mempunyai banyak simbol dan bunyi yang berbeda tergantung dari letak oktaf-nya – C1, C2, dst. Not ¼ () akan dimainkan dengan kecepatan yang berbeda sesuai dengan tempo dan jumlah ketukan tergantung dari tanda biramanya.

MENGAPA HARUS MEMBACA NOTASI BALOK?


MENGEMBANGKAN DAYA INGAT/MEMORI
Kemampuan daya ingat merupakan hal yang sangat krusial bagi setiap musisi. Daya ingat merupakan kunci bagi semua pembelajaran. Tujuan utama dari membaca notasi balok dalam masa awal pembelajaran musik adalah: membangun suatu memori yang berisikan berbagai bentuk dan simbol yang nantinya akan dapat dikenali dalam lingkungan yang baru (transfer of knowledge).

Membaca notasi balok dapat menstimulasi perkembangan kemampuan dalam belajar, meningkatkan konsentrasi serta kemampuan belajar kita dalam mempelajari hal-hal yang baru di masa mendatang. Di dalam membaca notasi balok, kita memproses dan menggunakan informasi rumit yang berhubungan dengan melodi, ritme, dan warna suara - yang merupakan elemen inti dari musik (seperti kosa kata dalam bahasa). Proses ini memfasilitasi murid ketika mereka akan memainkan lagu dengan tingkat kesulitan yang sama, sehingga murid tidak membutuhkan waktu yang lama seperti mempelajari lagu sebelumnya. Mereka akan belajar jauh lebih cepat di masa mendatang, apabila mereka bisa membaca notasi balok - logis!

Perlu diperhatikan bahwa membaca notasi balok harus disertai dengan pengalaman bermusik secara aktif serta pengalaman mendengarkan musik itu sendiri. Bila tidak, maka membaca hanya akan menjadi sebuah teori saja. Apabila hal ini dilakukan dengan baik, nantinya dari proses membaca notasi balok dan bermain musik akan menciptakan suatu link, yaitu: koordinasi antara persepsi visual (mata) - persepsi kinetik (tangan, kaki, jari) - persepsi audio (telinga). Inilah yang dinamakan learning via multi-canale, dimana semua indera diaktifkan dalam proses pembelajaran, sehingga hasilnya menjadi lebih cepat dibandingkan metode belajar jadoel dan menciptakan musisi yang multi-tasking.

So, siapa bilang jadi musisi itu gampang dan tidak perlu pakai otak, just feel it, man? So not true! Justru musisi perlu memproses banyak sekali informasi. Pada tingkat profesional, musisi berhadapan dengan sejumlah besar informasi: melodi, frase, harmoni, akor, nada, ritme,  posisi tangan, posisi duduk yang benar, mengatur nafas, produksi tone yang baik, plus "baca notasi balok ke depan" jika menggunakan partitur - semua harus diorganisasikan dengan baik dan dilakukan secara bersamaan, alias multi-tasker abiesss... belum lagi kalau habis berantem, mana mic feed-back lagi, tetapi show must go on (ini hanya contoh, bukan curhat ya...). Intinya orang tidak akan menyangka, ternyata musisi memproses banyak sekali informasi dalam suatu performa musik. 

APAKAH MUNGKIN BISA MEMAINKAN MUSIK
TANPA MEMILIKI KEMAMPUAN MEMBACA NOTASI BALOK?

 

YES and NO... 
Pada dasarnya, seseorang mungkin bisa saja memainkan musik tanpa harus memiliki kemampuan membaca notasi balok - sama halnya seperti seseorang berbicara tanpa harus memiliki kemampuan menulis atau membaca. Namun, seseorang yang tidak bisa membaca atau maaf: "buta huruf", akan melewatkan kesempatan menulis atau memperkaya pengetahuan mereka lewat membaca buku-buku filosofi, sejarah, dll. Mereka akan melewatkan kesempatan untuk berkomunikasi dan memahami segala sesuatu dengan lebih baik. Untuk berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari ya bisa, tetapi kalau dalam memahami berita di koran? Yah,  ibaratnya bayangkan saja di era seperti ini, orang tidak bisa menggunakan internet, padahal dengan mengetik satu kata saja di search engine google, kita bisa mendapatkan semuanya. Dan orang yang bersangkutan memilih untuk tidak mempelajari bagaimana cara menggunakan komputer. Misalnya. Siapa yang rugi? Silahkan pikirkan dan memilih.

Membaca notasi balok tidak terlepas dari musik teori. Sehingga ketika seseorang mempelajari bagaimana cara membaca notasi balok, maka pengetahuan musik teorinya pun akan berkembang seiring dengan perkembangannya dalam membaca. Hal ini akan memungkinkannya untuk bermain musik lebih baik, bahkan musik yang belum pernah ia dengar sekalipun, serta memungkinkan terjadinya komunikasi yang lebih baik tentang berbagi dan bertukar pikiran tentang ide, konsep musik dengan orang lain. Oleh karena begitu pentingnya hal ini, maka membaca notasi balok merupakan kemampuan dasar yang harus dipelajari oleh setiap murid sedini mungkin. Semoga artikel ini membantu, tetap semangat belajar ya... jangan menyerah! 

Bagi orang tua, jangan takut anak-anaknya akan kesulitan dalam proses belajar musik. Hal terbaik yang bisa diberikan untuk anak sebagai orang tua adalah dukungan/support. Bagaimana menjadi orang tua yang supportif?  

Silahkan dibaca di artikel "Apakah Anda Orang Tua yang Supportif?" di  
http://jeliaedu.blogspot.com/2011/03/apakah-anda-orang-tua-yang-supportif.html

Tuesday, July 31, 2012

UNCUT Seminar @ FMDS, Jakarta - July, 20th, 2012

UNCUT Seminar @ FMDS
with Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu


First Media Design School
"SHARE TIMES"
- August 2012

UNCUT Session with Jelia Megawati Heru
"MUSIC & DESIGN ARE ONE UNITY"

Uncut Session kembali diadakan di FMDS pada hari Jumat, 20 Juli 2012. Pembicara kali ini adalah Jelia Megawati Heru, ia adalah seorang pianis dan juga music educator yang pernah mengenyam pendidikan di Jerman.

It is very exciting for student design mengenai bagaimana musik bisa memberikan huge impact kepada kreativitas di dunia design. Seperti yang Jelia jelaskan bahwa musik bisa meningkatkan kemampuan otak anak, terutama musik klasik karena dapat menstimulasi daya khayal dan kreativitas.

Sebagai student design tentunya mereka cukup amazed dengan penjelasan Jelia dan pastinya ingin tahu lebih banyak tentang musik klasik, agar daya kreativitas mereka juga bisa meningkat.

Students FMDS sangat antusias bertanya tentang musik kepada Jelia, karena topik kali ini sangatlah menarik untuk students.