Monday, November 1, 2021

Tipe-Tipe Murid di Kelas Musik Online | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, November 2021

TIPE-TIPE MURID DI KELAS MUSIK ONLINE
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, November 2021


Tanpa terasa sudah hampir dua tahun kita menjalani kelas musik online. Anda pikir Anda mengenal murid Anda dengan baik melalui kelas tatap muka. Ternyata di kelas musik online, Anda harus belajar lebih banyak tentang karakter murid Anda yang sesungguhnya. Siapakah mereka? Selamat datang di dunia virtual tanpa filter! 


1. STAR STUDENT
Murid ini merupakan murid yang selalu tepat waktu dan bahkan selalu hadir 10 menit lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan lengkap dengan virtual backgroundnya dan stand tripod untuk handphonenya. Murid ini selalu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik, rajin berlatih, dan selalu ingin menjadi yang terbaik di kelasnya. Pokoknya super niat. 

Umumnya murid tipe ini antusias, motivated, kritis, banyak bertanya, dan mempunyai inisiatif sendiri. Semua buku, peralatan tulis, dan instrumen musiknya selalu disiapkan dengan baik. Pendek kata, murid teladan dengan niat belajar yang sangat tinggi. Murid idaman para pendidik musik yang tidak bikin gurunya darah tinggi, bohwat, dan stress.


2. BERANTAKAN (MESSY)
Jam sudah menunjukkan waktu dimulainya kelas musik. Murid ini selalu tidak siap dan lagi-lagi selalu telat bergabung dalam kelas online nya, padahal selalu diingatkan tentang jadwal kelasnya. Lima menit berlalu, guru sudah mengirimkan pesan via WA ke murid ybs dan bahkan mamanya. Murid baru bangun dan masih belum siap juga untuk bergabung dalam Zoom. 

Sepuluh menit kemudian, murid bergabung dalam Zoom masih sambil menggosok gigi, lalu cepat-cepat menyeruput teh dan menggigit roti, sambil mencari buku PR, buku musik, pensil, penghapus, dan menyiapkan instrumen musiknya. Serba last minute. Seolah itu semuanya belum cukup, masih teriak “Mbakkkk Maaaaa buku piano saya dimanaaaaa?” dan ternyata baterai handphone nya low batt.


3. SUKA MENUNDA
Dua kata untuk mendiskripsikan murid ini adalah MA-LAS. Murid tipe ini selalu saja punya alasan mengapa tidak latihan dan tidak membuat PR. Ia selalu memiliki sejuta alasan dan kambing hitam. Umumnya murid ini selalu memiliki komplain dan komen tentang banyak hal dan biasanya hal-hal yang tidak penting. Ia adalah drama queen, hidupnya isinya sepertinya problem melulu – harus bangun pagi, tugas yang banyak, banyak ulangan, tidak punya waktu (siap, Pak Presiden!), sakit kepala, badan pegal, koneksi internet buruk, capek, kondisi rumah yang tidak kondusif, berisik. 

Lalu alasannya mulai agak lebay, seperti bukunya digigit anjingnya, bukunya hilang entah kemana. Ya, ya, ya… Lalu kapan latihannya dan majunya dong? Sudah janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan akan membuat PR, tetapi setiap minggunya hal sama pun terulang kembali bagai mimpi buruk.


4. CUEK
Murid yang cuek biasanya tidak mempunyai filter atau kontrol atas perilakunya di depan kamera, yang mengabaikan aturan sosial yang membatasi kebebasan individu mereka. Salah satunya apabila mereka menggunakan “seragam” yang salah di waktu yang salah, seperti mengenakan kaos kutang, celana pendek, dan piyama. Ada juga yang suka ngupil, ngaca, kaki diangkat tinggi-tinggi, dan segudang perilakunya yang tidak terkontrol.


5. TRAVELLER & INTERUPTOR
Murid yang suka mondar-mandir – mulai dari mencari buku yang tidak ketemu-ketemu, ijin untuk minum, ijin untuk mengambil pensilnya di lantai 2 rumahnya, ijin ke kamar kecil, menunjukkan kucing/anjingnya, merasa tidak cocok dengan lingkungan/area tertentu, sehingga harus mencari spot lain, sampai akhirnya mirip seperti tur di rumahnya (karena kamera dan audio nya menyala). Biasanya murid tipe ini akan sangat sulit berkonsentrasi, suka menginterupsi dengan topik-topik di luar kelas, dan cenderung membuang-buang waktu.


6. MR. BAD CONNECTION
Murid yang sering mengalami masalah teknis karena koneksi internet yang buruk dan gangguan audio. Ada juga murid yang pura-pura mengalami koneksi internet yang buruk, sehingga berakting seperti layarnya membeku (freeze), meskipun murid ybs jelas berkedip beberapa kali. 


7. GAPTEK
Murid yang mengalami kesulitan teknis dalam kelas online. Bisa jadi karena kendala gadget, tidak memahami bagaimana menyalakan/mematikan kamera dan mikrofonnya. Tidak tahu bagaimana menggunakan komputer, tombol apa yang harus ditekan, salah pencet share screen atau leave the meeting, dsb. Hal ini bisa cukup mengganggu jalannya kelas, karena latar belakang noisenya bisa menjadi feedback apabila mikrofonnya tidak dimatikan dan di ruangan yang sama ada suara bayi menangis atau orang lain yang sedang melakukan Zoom juga.

Apalagi kalau murid menggunakan headphone dan merupakan seorang heavy breather, sehingga semua orang bisa mendengar napas beratnya ke mikrofon dan melihat semua aktivitasnya dengan kamera menyala. Menyalakan/mematikan kamera dan mikrofon merupakan hal yang krusial dalam kelas online untuk menjaga ketertiban kelas dan menjaga beberapa hal yang sifatnya privasi. Oleh karena itu ada baiknya seorang guru bisa mempunyai akses untuk mematikan dan menyalakan kamera dan mikrofon.


8. THE HACKER
Murid yang memiliki trik untuk membuat gurunya keluar dari Zoom dan memasukkan video dirinya yang seakan-akan seperti sedang belajar, berkonsentrasi, menulis pada handphone yang diarahkan ke kamera zoom. Otomatis gurunya akan berpikir bahwa murid ini sedang mengikuti kelas online dengan khusyuk. Padahal pada kenyataannya, murid ini sedang tidur, nonton Netflix, atau bahkan main game. Mungkin hal ini bisa terjadi pada kelas teori musik. 

Tipe-tipe murid di kelas online bisa menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru, apalagi jika dilakukan di dalam grup besar. Sangat sulit untuk melakukan kelas online mengingat banyaknya hambatan yang sudah menanti, apalagi jika murid berumur dibawah 10 tahun. Siswa “dipaksa” untuk keluar dari zona nyaman mereka dan termotivasi. 


APA YANG DIBUTUHKAN DALAM KELAS ONLINE?

1. DISIPLIN DIRI & MOTIVASI DIRI
Kelas tradisional memiliki instruktur dan teman sebaya untuk meminta mereka bertanggung jawab atas pekerjaan, siswa online harus mengandalkan keterampilan dan disiplin organisasi mereka sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Ini biasanya mencakup mengatur waktu belajar ekstra dan penjadwalan setiap hari secara mandiri. Dalam lingkungan belajar online, disiplin diri dan motivasi diri adalah komponen penting untuk sukses. Jika siswa tidak memiliki karakter ini, siswa akan mengalami kesulitan untuk berhasil dalam kelas online.

2. MELEK TEKNOLOGI
Anda tidak harus menjadi ahli teknologi untuk berhasil dalam pembelajaran online, tetapi tingkat kompetensi dasar dengan komputer dan teknologi akan sangat berguna. Jika siswa menyelesaikan tugas di rumah juga tidak akan banyak membantu, kecuali siswa memiliki anggota keluarga yang lebih paham teknologi untuk membantunya.

3. FOKUS
Pembelajaran online adalah pilihan yang masuk akal, apabila siswa bisa fokus dan mempunyai kinerja yang baik pada tugas dan PR. Bagi siswa yang tidak bisa duduk diam konsentrasi dalam jangka waktu yang panjang dan mudah teralihkan, kelas online akan menjadi sangat sulit.

4. USIA REMAJA
Siswa dengan usia 12 tahun keatas akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dalam kelas online dibandingkan dengan siswa yang berumur lebih muda. Karena mereka memiliki stamina, kecakapan dalam hal teknologi, fokus, dan dapat dituntut untuk memiliki tanggung jawab bagi diri mereka sendiri. Siswa dibawah usia 12 tahun, masih membutuhkan bantuan dan bimbingan dari orang tua dalam kelas online.


HAL YANG MEMBUAT KELAS ONLINE TIDAK BERHASIL

1. PENUNDAAN
Penundaan merupakan sesuatu yang tidak terelakkan dan menjadi masalah utama dalam kelas online. Mengapa? Karena siswa tidak memiliki instruktur untuk mengingatkan tentang tanggung jawab, tenggat waktu, dan jadwalnya. Siswa di kelas online harus menyulap faktor eksternal, seperti keluarga, pekerjaan dan berbagai tanggung jawab sehari-hari lainnya, selain sekolah. Harus menyisihkan waktu untuk menyelesaikan tugas bisa menjadi perjuangan yang berat. Konsekuensi dari penundaan bisa mengakibatkan siswa tidak berhasil. Secara konsisten menyerahkan tugas terlambat atau tidak belajar untuk ujian dapat menyebabkan siswa gagal dalam kelasnya. Disiplin diri merupakan hal yang sangat penting.

2. DISCONNECTED
Siswa online cenderung merasa terputus karena tidak ada koneksi tatap muka dengan orang atau teman. Siswa dipaksa untuk proaktif dalam menjangkau satu sama lain dengan menggunakan opsi obrolan online dalam kursus atau membentuk grup siswa online.

3. GAPTEK
Pelajar online diharuskan untuk memiliki komputer terkini dan alat teknologi lainnya untuk menyelesaikan tugas. Selain itu, siswa harus memiliki pengetahuan teknis tingkat dasar. Banyak siswa memasuki kelas online tanpa kemampuan teknis dasar, dan ini menempatkan mereka pada posisi yang kurang menguntungkan. Jika siswa kesulitan menggunakan Internet, maka siswa tidak akan dapat mengakses tugas atau berkomunikasi dengan instruktur. Keterampilan teknis dalam menggunakan teknologi merupakan kemampuan yang sangat penting untuk sukses dalam lingkungan online.

Ketika dunia akan dibuka kembali, banyak orang mungkin bergulat dengan bagaimana menyeimbangkan tantangan baru yang dibawa oleh pandemi di samping kembalinya bekerja dan ritme kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian orang, rumah telah menjadi tempat berlindung yang aman bahkan dalam menghadapi tekanan kesehatan, ekonomi, sosial, dan keluarga. Keluar dari gelembung itu dapat menciptakan ketakutan dan tekanan baru. 

Kenyataannya adalah bahwa untuk kembali normal mungkin membutuhkan waktu dan hal-hal mungkin tidak akan pernah benar-benar kembali seperti sebelum pandemi. Apapun tipe kepribadian Anda, penting untuk menjaga diri sendiri saat Anda menghadapi tantangan baru ke depan. Meluangkan waktu untuk diri sendiri, cukup istirahat, stay safe and healthy!