Wednesday, September 1, 2021

Bagaimana Pandemi Mengubah Kita | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, September 2021

BAGAIMANA PANDEMI
MENGUBAH KITA 
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, September 2021


Tidak terasa sudah lebih dari 1 tahun pandemi ini membuat kita terisolasi dari teman, keluarga, kolega kita. Kita TIDAK TERJEBAK, tapi kita AMAN. Itu yang berkali-kali kita katakan kepada diri kita sendiri. Prioritas kita hanya satu, yaitu SELAMAT, SEHAT, dan TETAP WARAS

 

Kita semua memiliki pengalaman kita masing-masing dalam masa lockdown ini. Ada yang mencoba melihatnya sebagai hal yang positif dan mengambil hikmahnya sebagai kesempatan bersantai, hidup sehat, melakukan hobi baru, menonton drakor, bersepeda, gardening, atau menikmati waktu berkualitas bersama-sama dengan anak. 

 

Namun sebagaimana pun positifnya itu, perubahan gaya hidup, perubahan rutinitas, dan stress pun tidak dapat dihindari. Kita berada dalam kabut tebal masa kegelapan. Untuk pertama kalinya orang mengalami yang namanya kesunyian, kesepian, bosan, terjebak bersama pasangan, perasaan terasing, paranoid, insomnia, depresi, kehilangan pekerjaan, jatuh sakit, kehilangan teman/seseorang yang dicintai, keputusasaan, dan ketidakberdayaan ketika sang ajal menjemput. HOROR.

 


Penelitian tentang orang-orang yang terisolasi di lingkungan yang ekstrem. Misalnya, periode yang lama di basis penelitian Antartika dan simulasi perjalanan ke Mars telah dikaitkan dengan efek merugikan yang signifikan pada kesejahteraan, termasuk peningkatan risiko depresi. Walau tidak seekstrem dingin dan gelapnya Antartika, situasi pandemi ini akan memicu sejumlah perubahan perilaku, emosi, dan kepribadian kita. 



MAKHLUK SOSIAL

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendiri dan memerlukan interaksi sosial. Bagi si ektrovert mungkin media sosial dan teknologi komunikasi dapat mengakomodasinya untuk bersosialisasi secara virtual. Walaupun sebagaimana hebatnya pun teknologi tetap saja tidak dapat menggantikan face-to-face experience ketika berkumpul bersama orang terkasih. Namun saat ini justru ketika kita di rumah, justru disitulah kita peduli terhadap diri kita dan orang yang kita kasihi.


Patung David karya Michaelangelo

EFEK MICHAELANGELO

Michelangelo dikatakan telah melihat proses pemahatan sebagai pengungkapan sosok megah yang tersembunyi di dalam batu, seperti patung David dan Pietà. Cara kita berkomunikasi yang positif ternyata dapat mengeluarkan sisi ideal dan terbaik dari seseorang. Ini berkaitan dengan seberapa baik kita merayakan orang lain, bagaimana cara kita menanggapi kabar baik/buruk dari pasangan, rekan kerja, dan keluargalah yang menentukan kualitas hubungan kita. Bagaimana respon kita dapat memberikan kepuasan hidup yang lebih besar, koneksi yang lebih baik, atau justru sebaliknya menghancurkan hubungan Anda.

 

Hubungan yang baik melibatkan banyak bahan, tetapi bahan dasar utamanya adalah terbuka tanpa takut dikritik, saling merayakan, mendukung, mendorong untuk berperilaku sesuai dengan aspirasi kita – mirip dengan seorang pematung yang membantu mengungkapkan sisi ideal karyanya. Sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk tumbuh, lebih dekat, dan memperdalam ikatan mereka. 

 

Kitalah yang menentukan kualitas hubungan kita sendiri. Ketika ada kabar baik, maka respons antusias akan cenderung berkembang menjadi tipe ideal dan menunjukkan sisi terbaik dari orang tsb. Ya, agak sulit kalau dilakukan satu sisi saja di masa seperti ini. Namun tidak ada salahnya PRACTICING GRATITUDE. Bersyukur karena masih hidup, menikmati sinar matahari, makan, belanja kebutuhan sehari-hari dan sekolah online, orang yang dikasihi dalam keadaan sehat, dan dan dan…



EFEK PANDEMI & ISOLASI SECARA EMOSIONAL

Bagi orang-orang dengan pasangan yang mendukung, maka periode penguncian yang intens mungkin menawarkan peluang yang disambut baik untuk pertumbuhan pribadi. Sebaliknya, bagi orang-orang yang terjebak di dalam rumah selama berbulan-bulan dengan pasangan yang tidak akur, maka mereka semakin terpuruk. Hubungan mereka tidak bahagia atau bahkan lebih parah lagi, mereka merasa dilecehkan dan tersiksa oleh anak-anak mereka di rumah. Efeknya pada kepribadian mereka negatif. Terisolasi di rumah dapat memicu kecemasan, kerentanan, kesedihan, dan kemarahan. 

 

Mereka juga cenderung menciptakan lebih banyak stres untuk diri mereka sendiri, misalnya, dengan terlibat dalam konflik dengan orang lain atau dengan menghindari situasi yang mereka anggap mengancam. Sedangkan bagi orang yang terisolasi sendiran selama isoman, hal ini dapat memicu kesepian yang intens, tertutup, dan depresi berat. 

 

Kecemasan yang tumbuh selama pandemi global ini juga dirasakan oleh anak-anak. Anak-anak sangat peka, sensitif, dan responsif terhadap kekhawatiran orang tua/pengasuh mereka. Secara tidak langsung mereka akan menyerap sebagian dari kecemasan ini – apakah itu kekhawatiran tentang penyakit itu sendiri, kehilangan anggota keluarga, atau tekanan isolasi tetap berada dirumah dalam waktu yang panjang.

 


Kebutuhan sosio-emosional anak-anak benar-benar diabaikan saat ini. Jadi meskipun anak-anak telah diberikan banyak materi tentang efek fisik penyakit dan cara menghindari penularan, kampanye kesehatan pemerintah hanya memberikan sedikit panduan tentang cara mengatasi stres. Anak-anak sekarang mungkin malah lebih ahli dalam hal penularan virus dibandingkan orang dewasa, tetapi mereka tidak tahu bagaimana mengendalikan stress, kecemasan, kemarahan, dan menangani kehilangan – seperti bagaimana mengatur perasaan Anda, melatih pengendalian diri, empati, simpati, dan mengelola konflik dengan teman sebayanya/orang lain.

 

Kebenaran lain yang menyedihkan adalah bahwa jumlah pelecehan anak – dan memang semua jenis kekerasan dalam rumah tangga – mungkin akan meningkat selama pandemi. Jika orang terkurung dalam rumah tangga yang penuh sesak dan hidup dalam keadaan kekurangan, ini sudah dikaitkan dengan kemungkinan besar kekerasan dalam rumah tangga. 



GENERASI YANG HILANG

Penutupan sekolah dan sekolah online merupakan hal yang mempengaruhi anak-anak pada generasi ini. Mulai dari kesuksesan akademis mereka hingga keterampilan sosial, intelektual, kognitif, kesehatan mental mereka memburuk. Pandemi adalah krisis bagi anak-anak saat ini dan dampaknya dapat mengikuti mereka sepanjang hidup mereka. Ketika anak-anak dan remaja saat ini tumbuh dewasa, akankah mereka melihat diri mereka sebagai “generasi yang hilang”, yang hidupnya berada dalam bayang-bayang pandemi global.

 

Semua yang mungkin membuat kembali normal adalah TIDAK MUNGKIN bagi kebanyakan anak dalam beberapa tahun ke depan. Dan ketika itu dikombinasikan dengan tekanan lain dari hidup dalam isolasi di bawah karantina, hal ini mungkin akan memiliki beberapa konsekuensi serius, seperti tertundanya perkembangan kognitif, emosional dan sosial mereka. Bagi mereka yang berada di masa remaja paling kritis, bahkan dapat meningkatkan risiko penyakit mental.

 

Oleh karena itu para pemusik, terutama guru musik bersusah payah berjuang agak tidak terjadi “lost generation” dengan melakukan adaptasi pelajaran musik dan konser musik secara virtual, yang sebetulnya adalah sebuah kemustahilan. Namun berbagai upaya dilakukan demi kemajuan sang anak agar bisa tetap bermain musik dan mengapresiasi musik. Bagaimana seorang anak tetap memiliki musik dan bisa meraih sesuatu, walau hanya lewat sebuah video exam. Supaya musik tidak ikut punah tergerus pandemi dan menjadi fosil dalam museum.

 

Anak-anak yang kurang mampu/fakir miskin dan kehilangan anggota keluarga intinya mungkin adalah anak yang paling terpukul oleh semua ini. Penguncian diperkirakan akan memperluas ketidaksetaraan yang ada di seluruh dunia, dengan dampak selama bertahun-tahun yang akan datang. Karena mereka akan tertinggal paling jauh, dan tidak memiliki sumber daya untuk mengejar ketertinggalan mereka setelah ancaman pandemi berlalu. Masa depan hanya tinggal mimpi. Belum lagi ketika mereka berada di lingkungan yang memiliki risiko paling besar terpapar virus COVID-19.


 

BALLADA SI BUNGSU

Salah satu dampak pandemi yang paling besar juga adalah bagi anak bungsu yang baru memasuki jenjang Taman Bermain atau Taman Kanak-Kanak (TK) dengan babak pembelajaran jarak jauh. Orang tua kewalahan dengan cara belajar new normal dimana anak tidak mempunyai teman yang sesungguhnya, harus duduk didepan komputer, dan segudang kendala belajar online. Ini menjadi masalah yang serius ketika mereka harus berbagi dengan saudara-saudaranya yang lebih tua dan orang tua mereka harus bekerja dari rumah. PRIVASI adalah sebuah kemewahan.

 

Membuat koneksi dunia nyata dan menghabiskan waktu dengan teman sebaya, dan berfokus pada pelajaran, jauh lebih mudah ketika Anda berada di ruangan yang sama dan terlibat didalamnya. Begitu banyak kesempatan belajar yang terlewatkan – untuk memperluas pengetahuan umum dan pemahaman anak tentang dunia, sehingga banyak orang tua memutuskan untuk menunda sekolah bagi anaknya. Tidak ada solusi yang mudah untuk masalah ini.

 

Jumlah anak yang mencapai nilai yang diharapkan dalam membaca dan matematika semakin sedikit. Tingkat dan kualitas kelulusan mengalami penurunan. Kekhawatiran yang lebih serius adalah, ketika sekolah ditutup untuk waktu yang lama, banyak anak akan mulai melupakan apa yang telah mereka ketahui – kemunduran yang akan jauh lebih sulit untuk diperbaiki.


 

APAKAH KITA BISA KEMBALI SEPERTI SEMULA?

Jika kita telah diubah entah bagaimana dengan penguncian lalu ketika pembatasan di seluruh dunia dilonggarkan, pertanyaan alami berikutnya adalah apakah dan bagaimana kita dapat berubah kembali ke “kehidupan normal” tanpa masker dan menggunakan ruang publik atau komunal? Bisakah kita kembali ke diri kita seperti semula? 

 

Kebanyakan orang mungkin akan sulit untuk bersosialisasi dan berinteraksi di tempat umum, bahkan pada jarak yang aman sekalipun. Mungkin kita hanya bersosialisasi dengan teman-teman dekat dalam kelompok yang sangat kecil. Kepercayaan adalah kunci untuk membangun kembali kepercayaan diri seseorang ketika berkumpul di ruang publik, seperti: restoran, pusat kebugaran, dan teater. Orang harus merasa AMAN secara fisik dan percaya bahwa orang lain juga mengikut prokes yang berlaku dan peduli dengan keselamatan diri mereka. 



Di restoran, memulihkan kepercayaan pelanggan berarti dapur terbuka untuk menunjukkan keapada mereka bahwa makanan ditangani dengan standar kebersihan tertinggi, menu digital (scan QR code) untuk memesan, pelanggan harus dicek suhunya, mencuci tangan sebelum masuk ke restoran, dan tetap menggunakan masker.

 

Begitupun dengan sekolah musik dan bermain musik dalam gedung konser yang harus di-fogging, desinfektan secara rutin, mengurangi kapasitas penonton, penyekatan antar pemain di panggung, lift tanpa menyentuh tombol, menjaga jarak aman antar penonton, harus menunjukkan kartu vaksin, hasil swab/PCR, dan dengan segala peraturan prokes yang baru.



Meskipun kita harus mengucapkan selamat tinggal pada restoran, bar, pusat kebugaran, salon, barbershop, klinik, sekolah musik, bioskop, dan tempat yang kita sukai, setidaknya untuk beberapa waktu, kita juga memiliki kesempatan untuk menemukan kembali arti kebersamaan di RUANG YANG BARU.

 

Perubahan akan terjadi secara alami dan bertahap. Sifat dan kepribadian seseorang akan pulih dan orang akan menemukan solusi untuk mengatasi apapun di masa depan, karena survivor dan beradaptasi adalah salah satu sifat dasar yang dimiliki manusia. Tetapi kembali pulih seperti semula dan TETAP WARAS setelah trauma dan kengerian pandemi? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. This too shall pass. Sampai saat itu tiba, STAY SAFE AND HEALTHY!