Friday, July 3, 2026

PERILAKU TOXIC DI THREADS (Part 1) | by: Jelia Megawati Heru | July 2026

“PERILAKU TOXIC DI THREADS”
By: Jelia Megawati Heru
July 2026


Belakangan ini marak guru piano yang curhat tentang muridnya yang ajaib, tuntutan dan cita-cita orang tua yang setinggi harapan mertua, membanding-bandingkan guru, saling menjatukan, kompetisi tidak sehat, dan buka-bukaan soal tarif mengajar di aplikasi Threads. Begitu juga dengan keluh kesah para orang tua dan netizen yang toxic, mulai dari komplain anaknya tidak bisa juara 1 di kompetisi piano, menyalahkan gurunya kebanyakan ngomong di kelas yang bernada kebencian, memaki-maki, menghina dengan kata-kata nggak masuk nurul dan nggak punya akhlak. Apa itu etika? Nggak pernah denger. Di Threads mereka bebas merdeka ngata-ngatain orang tanpa filter. Makin dibaca komen-komennya, makin toxicJadi piye iki? Kenapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana kita menyikapinya?

 

Banyak orang menganggap media sosial sebagai tempat santai dan bebas dari konsekuensi, tetapi hukum dan institusi semakin melihat tindakan online sebagai tindakan nyata. Sebuah komentar yang ditulis dalam beberapa detik dapat membawa konsekuensi hukum, finansial, maupun pribadi dalam jangka panjang. Ada pasal hukum dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik) yang dapat digunakan untuk menjerat tindakan pencemaran nama baik, penghinaan, dan cyberbullying di media sosial seperti Threads, Instagram, X, TikTok, atau platform lainnya, yang dapat dikenakan pidana, ancaman hukuman penjara, dan denda ratusan juta rupiah. Be smart dan kenali aturan mainnya!

 

APA ITU THREADS?

Threads adalah platform medsos berbasis percakapan teks yang dirancang untuk interaksi cepat dan opini publik yang dibuat oleh Meta, perusahaan yang juga memiliki Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Threads diluncurkan pada tahun 2023 sebagai platform untuk berbagi opini, berdiskusi, membuat update singkat, dan berinteraksi lewat postingan teks. Banyak orang menganggap Threads sebagai pesaing X (Twitter) karena tampilannya dan cara penggunaannya mirip. Biasanya Threads digunakan oleh para konten kreator, publik figur, brand, mahasiswa, komunitas online, pengguna yang menyukai diskusi atau topik yang lagi trending.


Fungsi Medsos

Media sosial memungkinkan orang menemukan komunitas, bertemu orang dengan minat sama,

merasa tidak sendirian. Bagi sebagian orang yang terisolasi, ini bisa sangat membantu secara emosional. Medsos juga merupakan tempat untuk mengekspresikan diri, dimana orang dapat berbagi karya, menulis opini, menunjukkan kreativitas, membangun identitas. Hal ini bisa meningkatkan rasa percaya diri dan membuat orang memiliki tujuan. Sebagai akses informasi dan edukasi medsos juga bisa menjadi sumber pembelajaran, motivasi, edukasi kesehatan mental, dukungan emosional, peluang karier dan juga bisnis.

 

Fungsi utama Threads

Di Threads, pengguna bisa menulis teks, membalas komentar, repost postingan, menyukai posting, membagikan foto/video, dan follow akun lain. Posting di Threads disebut “thread” dalam bentuk percakapan. Akun Threads biasanya langsung terhubung dengan akun Instagram, dan followers Instagram bisa ikut tersambung secara otomatis. Karena itu banyak pengguna Instagram langsung masuk ke Threads saat platform ini diluncurkan. Platform ini bisa menjadi tempat berbagi ide, membangun koneksi, mencari hiburan, tetapi juga bisa menjadi tempat drama, konflik, dan perilaku toxic, tergantung bagaimana penggunanya berinteraksi.

 

Ciri khas Threads

Fokus pada percakapan cepat, threads lebih fokus pada opini, diskusi, humor, komentar real-time, dibanding foto estetik seperti Instagram. Konten di Threads berubah cepat dan sangat dipengaruhi algoritma. Posting yang ramai komentar biasanya lebih mudah muncul dan viral di Instagram. Karena berbasis teks, budaya beropini sangat kental. Orang lebih sering berdebat, curhat, berbagi pendapat. Ini membuat Threads terasa lebih “aktif,” tetapi juga kadang lebih toxic dibanding platform visual.



MENGAPA THREADS BISA MENJADI TOXIC?

Ide awalnya Threads itu untuk membangun komunitas, menghubungkan orang, berbagi ide, diskusi, dan personal branding. Potensi viral cukup besar. Tetapi kekurangannya Threads itu mudah memicu debat dan konflik, banyak komentar impulsif, algoritma kadang memunculkan konten provokatif, informasi bisa menyebar sangat cepat tanpa verifikasi, komen-komen pedas bisa sangat melelahkan mental dan menjadi toxic, jika terlalu sering diikuti.

 

Banyak pengguna menyadari bahwa percakapan online — terutama di platform seperti Threads — sering kali dengan cepat berubah menjadi agresif, penuh penilaian, atau terlalu kasar. Sebuah opini sederhana tentang musik, fashion, politik, atau kehidupan sehari-hari bisa tiba-tiba mendapat kritik dari orang asing yang tidak kita kenal. 

 

Perilaku toxic di Threads sebenarnya bisa menunjukkan banyak hal tentang budaya internet dan emosi manusia. Meskipun komentar kasar dan negatif terasa menyebalkan, hal itu juga bisa menjadi pelajaran penting tentang komunikasi, rasa insecure, kebutuhan akan perhatian, dan pengendalian emosi.

 

Orang cerdas pun bisa menjadi toxic online karena kecerdasan tidak otomatis membuat seseorang matang secara emosional, empatik, atau bijak dalam berkomunikasi. Di internet, banyak faktor psikologis dan sosial yang bisa membuat bahkan orang pintar bertindak kasar, sombong, atau merendahkan orang lain. Rasa superior bisa berubah menjadi sarkasme, penghinaan halus, dan komentar yang merendahkan.



1. ANONIMITAS & JARAK EMOSIONAL

Salah satu alasan utamanya adalah ANONIMITAS dan JARAK EMOSIONAL. Internet mengurangi empati sosial. Dalam komunikasi online tidak ada ekspresi wajah, tidak ada nada suara, dan orang tidak melihat dampak langsung/reaksi emosional pada lawan bicara. Akibatnya bahkan orang bisa kehilangan sensitivitas sosial dan menjadi lebih dingin atau agresif.

 

Meskipun Threads terhubung dengan profil asli, orang tetap merasa jauh secara emosional dari pengguna lain di internet. Mereka lupa di balik sebuah postingan, ada manusia nyata di balik sebuah postingan. Tidak adanya interaksi tatap muka membuat sebagian orang merasa lebih bebas untuk berkata kasar tanpa merasa bertanggung jawab. Di setiap akun terdapat manusia nyata dengan perasaan, perjuangan, dan pengalaman hidup masing-masing. Candaan atau komentar kasar yang terlihat biasa bagi satu orang bisa sangat menyakitkan bagi orang lain.

 

2. STRESS & PELAMPIASAN EMOSI

Orang yang bahagia dan stabil biasanya tidak menghabiskan waktu menyerang orang asing di internet. Banyak netizen yang stress dan melampiaskan stress kemarahan, rasa iri, atau frustrasi mereka kepada orang asing di internet karena dunia online terasa lebih aman dibanding mengungkapkannya di kehidupan nyata. Komentar jahat sering kali lebih menggambarkan kondisi emosional si pemberi komentar daripada orang yang diserang. 

 

Perilaku toxic justru menunjukkan bahwa si bully ini justru minder dan punya masalah kepercayaan diri. Ia menjatuhkan orang lain untuk merasa lebih unggul, lebih kuat, atau diterima oleh kelompok tertentu. Menghina seseorang di depan publik online kadang menjadi cara untuk mencari pengakuan atau menutupi rasa insecure mereka sendiri.

 

3. TERJEBAK BUDAYA “INGIN MENANG” (KOMPETISI EGO)

Sebagian orang cerdas menikmati debat intelektual. Namun di media sosial, diskusi sering berubah menjadi kompetisi ego. Tujuannya bergeser dari mencari kebenaran dan informasi menjadi ingin terlihat paling pintar, ingin mempermalukan lawan, ingin menang argumen. Kecerdasan bisa dipakai untuk menyerang lebih efektif. Orang cerdas biasanya lebih pandai menyusun kata, lebih tajam dalam menyindir, lebih lihai memanipulasi argumen. Akibatnya toxic behavior mereka kadang terlihat “halus,” “intelektual,” dan dibungkus humor dan logika. Tetapi efeknya tetap bisa melukai. 

 

Sebagian orang pintar mudah frustrasi melihat hoaks, argumen lemah, kesalahan logika, dan informasi yang salah. Karena frustrasi terus-menerus, mereka bisa menjadi sinis, arogan, agresif. – terutama di platform yang penuh debat seperti Threads. Jika seseorang terus berada di lingkungan yang saling merasa paling pintar, suka merendahkan orang awam, memuja debat agresif, lama-lama perilaku toxic terasa normal. Mereka mulai menganggap kasar = kritis, menghina = cerdas, dan sinis = superior. Ketika identitas seseorang terlalu melekat pada “saya pintar,” kritik kecil pun bisa terasa seperti ancaman pribadi. Akibatnya mereka menjadi defensif, menyerang balik, sulit mengakui salah.

 

4. CAPER DEMI KONTEN & HAUS VALIDASI

Interaksi toxic menunjukkan betapa kuatnya keinginan manusia untuk MENDAPATKAN PERHATIAN dan HAUS VALIDASI di media sosial, biasanya termasuk kategori Classic NPD (Narcissistic Personal Disorder) atau gangguan kepribadian Narsistik. Banyak orang membentuk identitasnya berdasarkan validasi. Mereka mengukur nilai dirinya dari jumlah followers, likes, views, dan komentar. Ketika respons online turun, mereka merasa tidak berharga, tidak menarik, GAGAL! 

 

Media sosial memberi panggung dan penghargaan pada interaksi, engangement, komentar tajam, roasting“mic drop moment,” dan debat viral. Algoritma sering mempromosikan konflik, kontroversi, outrage. Akibatnya orang lebih mudah marah, sinis, defensif, terpecah secara sosial.

Orang yang haus validasi bisa terdorong menjadi semakin agresif demi perhatian dan pengakuan. Postingan yang mengandung konflik, kontroversi, atau opini yang kuat sering kali mendapatkan lebih banyak likes, repost, dan komentar. Akibatnya, beberapa orang SENGAJA bersikap kasar atau provokatif karena komentar negatif dapat menarik perhatian dan meningkatkan popularitas mereka. Dalam budaya online, sikap sarkastik atau “terlalu jujur” kadang dianggap menghibur, meskipun sebenarnya menyakiti orang lain.

 

5. REAKSI IMPULSIF TANPA PIKIR PANJANG

Orang dapat bereaksi secara instan tanpa berpikir panjang. Respons emosional yang muncul sesaat bisa langsung dipublikasikan dalam hitungan detik. Tidak seperti percakapan tatap muka, hampir tidak ada waktu untuk berhenti dan merenung sebelum berbicara. Akibatnya, kesalahpahaman dan reaksi berlebihan lebih mudah menyebar.

 

6. KESENJANGAN SOSIAL & INSECURE

Medsos terus memperlihatkan gaya hidup, pencapaian, dan opini orang lain yang tampak sempurna. Banyak orang yang Fear of Missing Out (FOMO). Melihat orang lain nongkrong, sukses, traveling, punya hubungan bahagia, bisa membuat seseorang merasa tertinggal, sehingga muncul kecemasan mengapa orang lain bisa LEBIH BAIK, LEBIH BAHAGIA daripada dirinya. Padahal apa yang dilihat dilayar HP belum tentu sesuai dengan kondisi aslinya. Jangan tertipu, say! Semua orang pasti ingin selalu terlihat bagus dan estetik, tapi dibalik itu siapa yang tahu?

 

Melihat orang lain sukses atau mendapat perhatian dapat memunculkan rasa iri, frustrasi, atau rendah diri. Kadang-kadang, orang melampiaskan stres dan ketidakpuasan mereka kepada orang asing di medsos. Komentar kasar sering kali lebih mencerminkan kondisi emosional si pemberi komentar dibandingkan orang yang mereka kritik.



7. TROLL INTERNET

“Troll internet” adalah orang yang sengaja memancing emosi, keributan, atau konflik di dunia online demi hiburan, perhatian, atau kepuasan pribadi. Mereka biasanya tidak benar-benar ingin berdiskusi secara sehat. Mereka sengaja menggunakan hinaan, sindiran, komentar provokatif, tuduhan berlebihan untuk membuat orang marah, tersinggung, defensif, dan kehilangan kontrol emosi. Walaupun diberi penjelasan baik-baik, trollbiasanya memelintir ucapan, mengganti topik, terus menyerang, dan mencari celah baru untuk memancing emosi. Tujuan mereka adalah reaksi emosional. 

 

Mereka lebih menikmati konflik daripada solusi. Bagi mereka banyak reply, orang marah, perang komentar, adalah bentuk hiburan dan validasi. Ketika berbicara dengan mereka, orang akan merasakan kelelahan mental – frustrasi, kesal, lelah, bingung, karena percakapannya seperti “tidak ada ujung.” Walau tidak semua troll anonim, tetapi banyak yang memakai akun palsu (fake account), identitas samar, foto profil random, dan akun baru. Anonimitas membuat mereka merasa aman dari konsekuensi sosial.

 

8. MENTALITAS PERILAKU MENYERANG “BERKELOMPOK”

Selain itu, komunitas online sering mendorong perilaku berkelompok. Ketika satu komentar negatif muncul, orang lain ikut bergabung agar merasa diterima atau mendapatkan dukungan sosial. Mentalitas “ikut menyerang bersama” ini dapat membuat kritik menjadi jauh lebih intens dibandingkan jika dilakukan secara individu. Banyak orang merasa lebih aman menyerang seseorang ketika mereka tidak sendirian.

 

Walau tidak semua pengguna Threads bersikap kasar dan toxic, namun interaksi negatif biasanya lebih mudah diingat oleh manusia. Satu komentar jahat sering terasa lebih kuat dibandingkan puluhan komentar baik. Mempersulit hidup orang lain terkadang merupakan healing untuk sebagian orang. Untuk menciptakan ruang online yang lebih sehat, pengguna membutuhkan lebih banyak EMPATI DIGITAL dan KESADARAN DIRI. 

 

Meluangkan waktu sebelum membalas komentar, menghormati perbedaan pendapat, dan mengingat bahwa setiap akun adalah manusia nyata dapat membantu membuat media sosial menjadi tempat yang lebih baik. Platform mungkin akan terus berkembang, tetapi tanggung jawab untuk bersikap baik tetap berada di tangan para penggunanya. 

 

PENUTUP

Medsos bisa memberi manfaat besar, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan mental manusia secara mendalam — baik positif maupun negatif. Efeknya bergantung padacara penggunaan, durasi, jenis konten yang dikonsumsi, kondisi psikologis pengguna, dan lingkungan online yang diikuti. Media sosial adalah alat. Ia bisa menghubungkan, menginspirasi, mendidik, tetapi ia juga bisa menguras, memecah, dan memengaruhi psikologi manusia jika digunakan tanpa batas dan kesadaran.

 

Menghadapi komentar kasar bukan tentang “memenangkan” perdebatan, melainkan tentang menjaga kesehatan emosional. Media sosial akan selalu memiliki sisi negatif, tetapi setiap orang bisa memilih seberapa besar pengaruh negatif tersebut terhadap hidup mereka. Perilaku yang sehat di dunia online penting karena kata-kata di internet dapat memengaruhi emosi, hubungan, dan reputasi di kehidupan nyata.

 

Setiap warga online sebaiknya berkomunikasi dengan rasa hormat. Tidak setuju dengan seseorang adalah hal yang normal, tetapi perbedaan pendapat tidak harus disertai hinaan, mempermalukan orang lain, atau serangan pribadi. Percakapan yang sopan memungkinkan berbagai opini tetap ada tanpa mengubah setiap diskusi menjadi konflik.

 

Jangan jadi orang pintar! Jadilah orang yang bijaksana! Orang yang benar-benar bijak biasanya justru lebih tenang, lebih rendah hati, tidak merasa perlu merendahkan orang, mampu menjelaskan tanpa mempermalukan. Karena semakin matang seseorang, biasanya semakin sadar bahwa menjadi benar tidak harus membuat orang lain merasa kecil. Anda boleh menjadi pintar dengan mengetahui banyak hal, tetapi dengan menjadi bijaksana, Anda tahu bagaimana memperlakukan manusia. 

 

Perilaku toxic di medsos mencerminkan sisi baik dan buruk manusia. Medsos dapat memperbesar emosi dengan cepat, tetapi Anda mempunyai pilihan: apakah Anda ikut menyebarkan kebencian atau membantu menciptakan percakapan yang lebih sehat? Tantangan terbesar kita adalah belajar berkomunikasi secara bertanggung jawab di dunia di mana kata-kata dapat menyebar lebih cepat daripada sebelumnya. Mulutmu, harimaumu!

 

Daripada bersikap toxic, sebaiknya Anda lebih sering mendukung konten positif, kreatif, edukatif, inspiratif, informatif, dan bermanfaat bagi komunitas online. Kurasi feed Anda! Follow akun yang edukatif, sehat, inspiratif, dan unfollow akun yang membuat stres. Jangan ukur nilai diri dari engagement, sebab angka di medsos bukan ukuran nilai manusia! 

 

Jika pengguna membawa kesabaran, empati, kejujuran, dan rasa hormat ke dalam percakapan, platform tsb akan menjadi tempat yang lebih menyenangkan bagi semua orang untuk berbicara, mendengarkan, dan memahami orang lain. Menjadi orisinil dan tidak fake juga penting. Orang sebaiknya tidak berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya hanya demi validasi atau popularitas. Komunikasi yang jujur menciptakan interaksi yang lebih kuat dan bermakna dibanding mencari perhatian melalui kontroversi.

 

Terakhir, Anda perlu mengingat bahwa jejak digital dapat bertahan SELAMANYA, atau jika dihapus pun akan meninggalkan jejak sangat lamaaa. Sebuah postingan ceroboh yang dibuat saat marah bisa memengaruhi pertemanan, karier, atau reputasi di masa depan. Bersikap bertanggung jawab di internet adalah bagian dari bersikap bertanggung jawab dalam kehidupan nyata. Fokus pada kehidupan nyata dan hubungan yang nyata. Stay healthy & stay sane!