Showing posts with label music history. Show all posts
Showing posts with label music history. Show all posts

Saturday, March 1, 2025

Claude Debussy: "Komposer yang Bersyair" | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, March 2025

CLAUDE DEBUSSY:
"KOMPOSER YANG BERSYAIR"
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, March 2025


Claude Debussy adalah seorang komposer Perancis yang berpengaruh dan mendominasi dalam Musik periode Romantik pada akhir abad ke-19. Dia mengembangkan sistem harmoni dan struktur musik yang sangat orisinal yang dalam banyak hal mengekspresikan cita-cita yang dicita-citakan oleh para pelukis dan penulis Impresionis dan Simbolis pada masanya. Karya utamanya meliputi Clair de lune (“Moonlight,” dalam Suite Bergamasque, 1890–1905), Prélude à l'après-midi d'un faune (1894; Prelude to the Afternoon of a Faun), Opera Pelléas et Mélisande (1902), dan La Mer (1905; “Laut”). 

 

Debussy menunjukkan bakatnya sebagai pianis pada usia sembilan tahun. Dia didorong oleh Madame Mauté de Fleurville, yang berhubungan dengan komposer Polandia Frédéric Chopin, dan pada tahun 1873 dia memasuki Konservatorium Paris, di mana dia belajar piano dan komposisi, akhirnya memenangkan Grand Prix de Rome pada tahun 1884.



CLAIRE DE LUNE: PUISI DALAM MUSIK

Clair de lune mungkin merupakan karya Debussy yang paling ikonik dan merupakan bagian ketiga dari karya empat gerakan Suite Bergamasque.

 

Debussy sebenarnya menulis tiga 'Clair De Lunes'. Asal-usulnya kompleks dan menarik, menggabungkan pengaruh puisi dan Impresionisme. Idenya bermula dari puisi penyair aliran Simbolisme Paul Verlaine pada tahun 1869 dalam koleksinya yang berjudul Fêtes Galantes, yang terinspirasi dari lukisan Jean-Antoine Watteau (1684-1721). Puisi tersebut berbicara tentang tenangnya cahaya bulan yang sedih nan indah.



Judul asli Clair de Lune sebenarnya adalah Promenade sentimentale (Sentimental Stroll), diambil dari puisi Verlaine yang berbeda dari koleksi tahun 1866 berjudul Paysages tristes (Sad Landscape). Puisi ini kemungkinan besar menjadi inspirasi musiknya. Puisi itu dimulai: “Le couchant dardait ses rayons suprêmes et le vent berçait les nénuphars blêmes”. Matahari terbenam memancarkan sinar terakhirnya dan angin sepoi-sepoi yang mengguncang bunga lili air.

Wednesday, May 1, 2024

Chopin Piano Concerto | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, May 2024

CHOPIN PIANO CONCERTO
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, May 2024

 


Dua konserto piano karya Frédéric Chopin adalah karya masa mudanya sebelum umur 20 tahun. Piano Concerto No. 2 secara teknis adalah Piano Concerto No. 1. Meskipun Piano Concerto No. 1 diterbitkan pertama kali, Chopin menggubah Piano Concerto No. 2 setahun sebelum dia menggubah apa yang sekarang kita kenal sebagai “Concerto No.1.”

 

Konser Piano Chopin pertama kali muncul sekitar tahun 1829-1830 dan dengan demikian mewakili puncak dan tahun akhir studinya sebagai mahasiswa di Warsawa. Kedua konserto tersebut merupakan mahakarya awal yang digunakan Chopin untuk merayakan kemenangan dalam tur konser luar negeri pertamanya, dan hingga hari ini popularitas mereka tetap tidak pudar. 

 

Seperti komposer-pianis lainnya, konserto dari Chopin adalah karya dalam tradisi grand virtuoso, yang dimaksudkan untuk konser komposernya sendiri, dimana bagian pianonya dimainkan oleh Chopin sendiri sebelum meninggalkan Warsawa dan mendapat sorotan yang lebih terang daripada konserto pada umumnya yang sepenuhnya seimbang. Chopin mendapat bantuan dari – Ignacy Feliks Dobrzyński (1807-1867) dan Tomasz Nidecki (1807-1852), diyakini telah membantu bagian orkestrasinya.

Sunday, March 31, 2024

Piano Concerto | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, April 2024

PIANO CONCERTO
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, April 2024



APA ITU CONCERTO?

“Concerto” berasal dari Bahasa Italia yang berarti “konser”. Namun pada sebuah concerto, konser ini mengacu kepada pertunjukkan virtuoso seorang solois dengan bagian musik yang membutuhkan teknik tingkat lanjut yang diiringi oleh orkestra. Soloist concerto atau solois konserto tidak melulu hanya pianis, tetapi bisa juga untuk instrumen lainnya, seperti: biolin, biola, cello, oboe, clarinet, terompet, dan bahkan vokal (sopran). Violin concerto misalnya, memiliki format violin sebagai solist dan diiringi oleh orkes. Cello concerto berarti memiliki format cello sebagai solist dan diiringi oleh orkes, dst.

 

Yang membuat sebuah concerto berbeda dengan pertunjukkan/konser pada umumnya adalah instrumen solonya berada dalam semacam sebuah dialog/percakapan dengan orkestra. Konserto sering kali merupakan acara berskala besar. Mereka populer di kalangan penonton karena biasanya melibatkan solois terkenal. Soloist sering kali menjadi sorotan konser malam itu. Mereka mungkin seorang profesional keliling, anggota orkestra,“artis muda” atau pemenang kompetisi atau “artist in residence”.

Thursday, February 29, 2024

Karya Piano Chopin (Part 2) | Impromptu, Scherzo, Barcarolle, Fantaisie & Piano Sonata | Staccato, March 2024

KARYA PIANO CHOPIN (Part 2)
IMPROMPTU, SCHERZO, BARCAROLLE, FANTAISIE & PIANO SONATA
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, March 2024


IMPROMPTU

Impromptu merupakan komposisi piano solo pada abad ke-19 (Era Romantik) yang lahir dari improvisasi secara spontan. Oleh karena itu impromptu tidak memiliki struktur baku yang formal. Komposisi independen ini dibuat “in promptu” yaitu segera, tanpa persiapan. Bentuknya lebih panjang dari Nocturne, namun lebih pendek dari Ballade, Scherzo, atau Sonata. Hampir mirip dengan Fantasy. 

 

Walau impromptu ditulis secara improvisatoris, impromptu cenderung memiliki struktur ternary (A-B-A) dan mengeksplorasi individualisme, kemampuan virtuoso pianistik, dan kedalaman emosi dari performernya. Beberapa komposer lain yang juga menulis impromptu adalah Franz Schubert dan Robert Schumann. Chopin menulis empat impromptu: Op. 29, Op. 36, Op. 51, dan Op. posth. 66.

 


Impromptu yang pertama ditulis pada tahun 1837 didedikasikan untuk la Comtesse de Lobau, dua lainnya disusun selama hubungan Chopin dengan penulis George Sand, di kediamannya di Nohant: op. 36 tahun 1839, op. 51 tiga tahun kemudian. Nomor karya Fantaisie Impromptu, Op.posth. 66 telah ditulis pada tahun 1834 dan didedikasikan untuk teman dekatnya, Julian Fontana yang merupakan pianis, komposer, dan asisten Chopin. Opus posthumous (after composer’s death) merupakan sebutan yang digunakan sebagai pengganti nomor opus untuk menunjukkan bahwa sebuah karya diterbitkan setelah kematian penciptanya.

Thursday, February 1, 2024

Chopin Ballade | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, February 2024

CHOPIN BALLADE
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, February 2024


DEFINISI BALLADE

[baˈlad] dalam Bahasa Perancis atau [baˈlaːdə] dalam bahasa Jerman Balada sudah muncul dalam sastra dan musik Renaisans Italia yang berisi tiga bait utama, masing-masing dengan skema rima yang sama, ditambah bait penutup yang lebih pendek, dimana keempat bait memiliki baris refrain akhir yang identik.

 

Ballade atau Balada juga merupakan bentuk utama musik dan puisi di Perancis pada abad ke-14 dan ke-15, namun sejak akhir abad ke-18, Ballade mengacu pada latar sastra, puisi naratif, dalam tradisi musik Klasik ‘Lied’, atau karya instrumental satu gerakan dengan kualitas naratif liris dan dramatis dengan latar piano.

 

Dalam sastra Jerman akhir abad ke-18, istilah balada digunakan untuk menggambarkan puisi naratif rakyat (mengikuti Johann Gottfried Herder), beberapa di antaranya diiringi musik oleh komposer seperti Johann Friedrich Reichardt, Carl Friedrich Zelter, dan Johann Rudolf Zumsteeg. Komposer lain yang menulis Ballade di abad ke-19 a.l. Franz Liszt, Johannes Brahms, Robert Schumann, dan Carl Loewe.

Monday, June 5, 2023

Frei aber Froh (Free but Happy) - Understanding Brahms | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, June 2023

“FREI ABER FROH” 
(BEBAS TAPI BAHAGIA)
UNDERSTANDING BRAHMS
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, June 2023


THE THREE B’s

Robert Schumann memproklamasikannya sebagai MESIAS dalam Musik ketika dia baru berusia 20 tahun. Ungkapan "tiga B" (Bach, Beethoven, dan Brahms) diciptakan setelah simfoni pertama Brahms ketika dia belum berusia genap 40 tahun. 

 

Komposer dan pianis asal Jerman periode Romantis ini menulis simfoni, konser, musik kamar, karya piano, komposisi paduan suara, dan lebih dari 200 pieces. Brahms adalah ahli gaya simfoni dan sonata yang hebat pada abad ke-19 yang meneruskan tradisi Joseph Haydn, Wolfgang Amadeus Mozart, dan Ludwig van Beethoven. Tapi apa yang membuat komposer ini begitu istimewa? Simak dalam artikel kali ini!

 

MASA KECIL BRAHMS YANG KELAM

Johannes Brahms lahir pada tahun 1833, putra dari Johann Jakob dan Johanna Christiane Brahms. Dia memiliki seorang kakak perempuan, Elisabeth, dan seorang adik laki-laki, Fritz. Kedua orang tua tahu bahwa mereka memiliki anak yang sangat berbakat dan memberi Brahms guru musik dan pendidikan sebanyak yang mereka mampu. 

Saturday, July 2, 2022

"OTENTIK": Menampilkan Musik Klasik yang Otentik | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, July 2022

“OTENTIK”
MENAMPILKAN MUSIK KLASIK YANG OTENTIK
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, July 2022

 

BACH RASA CHOPIN

Konflik bagaimana seharusnya orang memainkan dan menampilkan karya Musik Klasik  yang otentik pada abad ke-21 sudah berlangsung sejak ratusan tahun dan menghasilkan perdebatan yang tidak berujung pangkal. Bagaimana supaya orang tidak salah kaprah atau “lebay” dalam mengintepretasi dan memainkan karya Musik Klasik? Jangan sampai Bach terdengar romantis seperti Chopin! Ibarat orang Jawa yang “medok” berbahasa Inggris atau spagetti ala Italia, namun rasa mie goreng Jawa. Begitu pula dengan “musisi” yang mengklaim dirinya bisa memainkan karya Bach, namun tidak mempunyai rasa Bach. 


Spagetti Sambal Pete

 

AL DENTE

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa memainkan karya Musik Klasik yang otentik dan mempunyai rasa komposer dari zaman tertentu? Bagaimana seorang chef membuat pasta pomodoro e basilica ala Tuscany yang sempurna? Anda belajar dari ahlinya, chef dari Italia – bukan Jawa, lalu mempelajari proses membuat pasta dari tepung dengan tangan Anda sendiri – bukan memakai macaroni dari al f*nte, memakai bahan-bahan dan bumbu terbaik ala Italia – bukan bumbu jadi instan, merebusnya sampai al dente – bukan terlalu matang, menyajikannya ala Italia dengan segelas white wine – bukan teh tarik, dan mungkin menikmatinya perlahan dengan iringan musik four seasons dari Antonio Vivaldi? Oh wow, Bon appétit! 

 

BEING AUTHENTIC

Pertanyaan "keaslian" itu rumit, dan tidak sesederhana yang diyakini sebagian orang. Tidak ada jawaban universal dan abadi untuk pertanyaan mengenai otentik. Penggunaan instrumen yang mirip atau sama dengan instrumen yang biasa digunakan pada saat musik itu ditulis dapat menjadi penting, tetapi begitu juga dengan praktik pertunjukan pada saat musik itu ditulis, serta pertimbangan-pertimbangan tentang apa yang mungkin dimaksudkan komposer ketika dia menulis musiknya. 

Thursday, June 2, 2022

LIMA SONATA BEETHOVEN YANG TERKENAL | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, June 2022

LIMA SONATA BEETHOVEN 
YANG TERKENAL
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, June 2022


Sonata dari Beethoven adalah warisan yang tidak ternilai dalam Musik Klasik bagi komposer setelah Era Beethoven dan bahkan bagi pianis dan insan musik di abad ke-21. Sonata merupakan menu wajib bagi guru dan murid dalam mendalami piano. Mengetahui beberapa fakta kontekstual, menyelami struktur, latar belakang, dan sejarahnya dapat membantu Anda memahaminya. 


The Smiling Beethoven in Bonn, Germany


Pada artikel sebelumnya telah dibahas mengenai eksplorasi Beethoven Sonata, evolusi piano sonata, dan periode piano sonata Beethoven. Pada artikel kali ini, kita akan menjelajahi beberapa sonata Beethoven yang paling terkenal, yaitu: “Pathétique,” ​​“Moonlight,” “Waldstein,” “Appassionata,” dan “Hammerklavier.”



1. Piano Sonata No. 8 in C Minor, “Pathétique” (Op. 13, No. 8)

Sonata ini ditulis pada tahun 1798 ketika sang komposer berusia 27 tahun dan diterbitkan pada tahun 1799. Sonata ini diberi judul “Grande sonate pathétique” atau umumnya dikenal sebagai Pathétique Sonata. Judul ini diberikan oleh sang maestro sendiri untuk menyampaikan kesan emosional, sedih, bahkan tragis. Beethoven mendedikasikan karya itu untuk temannya, Pangeran Karl von Lichnowsky. 

 

Pada akhir periode awal Beethoven pada tahun 1802, Beethoven telah membuktikan dirinya sebagai penerus sejati Haydn dan Mozart di Wina. Musiknya diterbitkan dan dipentaskan di seluruh kota, dan reputasinya menjangkau negara-negara lain di Eropa. Periode awal Beethoven melihat korelasi dan pengaruh paling banyak yang datang langsung dari musik Haydn dan Mozart.

Monday, May 2, 2022

Eksplorasi Beethoven Sonata | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, May 2022

EKSPLORASI BEETHOVEN SONATA
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, May 2022


Ludwig van Beethoven adalah salah satu komposer kelas dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah Musik Klasik. Selain dari sinfoni, karya yang paling penting dan berpengaruh adalah ke-32 piano sonatanya yang menjadi landasan dalam musik piano dan genre musik yang kita nikmati saat ini, termasuk Pop, Rock, dan Jazz. Sonata ini dijuluki "Perjanjian Baru" musik piano untuk menyoroti seberapa pentingnya arti sonata ini. Sedangkan 48 Prelude & Fugue Bach’s Well-Tempered Clavier dianggap sebagai “Perjanjian Lama.”

 

Sebagai seorang pianis, Beethoven mulai menorehkan namanya di Wina, Austria dimana improvisasinya yang luar biasa dengan cepat membangun reputasinya. Meskipun Beethoven bukanlah komposer pertama yang menulis komposisi multi-movement untuk solo piano, namun ia adalah orang pertama yang menunjukkan seberapa besar kekuatan dan variasi ekspresi yang dapat dikembangkan dari sebuah permainan piano. Oleh karena itulah piano sonata nya menjadi sebuah acuan, sebuah STANDAR bagi komposer lain setelah Beethoven pada zaman Romantik, seperti: Johannes Brahms, Gustav Mahler, Franz Schubert, Anton Bruckner, dsb.

Wednesday, December 1, 2021

Chopin's Fantaisie-Impromptu | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, December 2021

CHOPIN’S FANTAISIE-IMPROMPTU
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, Desember 2021


Fantaisie-Impromptu adalah salah satu komposisi dari Frédéric Chopin yang paling terkenal dan paling banyak ditampilkan oleh para pianis dunia. Chopin mendedikasikannya untuk teman dekatnya, Julian Fontana. Fontana adalah seorang pianis, komposer, dan asisten Chopin. 

 

Karya ini adalah karya pertama dari keempat seri Impromptus yang ditulis oleh Chopin. Tiga impromptus lainnya diterbitkan semasa hidupnya, yaitu: Op. 29, Op. 36, dan Op. 51. Fantaisie-Impromptu ini ditulis pada tahun 1834, namun Chopin tidak menerbitkannya. Bahkan, dia secara khusus meminta agar tidak satu pun dari karyanya yang tidak diterbitkan diterbitkan setelah kematiannya – meskipun hal ini diabaikan. 

 

Julian adalah orang yang menerbitkannya dengan restu penuh dari kerabat Chopin yang masih hidup pada tahun 1855 setelah kematian Chopin dengan judul Fantaisie-Impromptu in C-sharp minor, Op. posth. 66, yang telah mendapatkan popularitas khusus di kalangan pianis dan pendengar Musik Klasik. Opus posthumous (after composer’s death) merupakan sebutan yang digunakan sebagai pengganti nomor opus untuk menunjukkan bahwa sebuah karya diterbitkan setelah kematian penciptanya.


Friday, October 1, 2021

KETIKA AJAL MENJEMPUT | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, October 2021

KETIKA AJAL MENJEMPUT
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, October 2021


Sejarah Musik Klasik penuh dengan kematian tokoh komposer di usia muda yang terkadang tragis dan mengerikan. Mulai dari kecelakaan yang tidak terelakkan, malapetaka, penyakit yang tidak bisa disembuhkan, hingga kematian yang misterius. Hal terakhir yang dilakukan atau dikatakan seseorang memiliki daya tarik, kepedihan, misteri, pesan, dan makna tersendiri. Musik liar dan luhur yang dituliskan di ranjang kematian mereka. Bagaimana mereka mati begitu muda, apa yang mereka capai dalam hidup mereka, dan dalam keadaan apa mereka mati? Apa peninggalan dan karya musik mereka untuk dunia? 


Death Mask

 

KATA-KATA TERAKHIR

“There is a door I have closed until the end of the world.”, ujar Joseph Hadyn yang tenggelam dalam kepikunan dan tidak kuasa untuk menyelesaikan String Quartet terakhirnya. “More light!”, ujar Johann Wolfgang von Goethe. “Mozart, Mozart!”, ujar Gustav Mahler. "Plaudite, amici, comedia finita est" ("Applaud, my friends, the comedy is over") dan "I shall hear in heaven", ujar Ludwig van Beethoven. Johannes Brahms, menderita kanker hati setelah ia mengubur Clara Schumann, cinta dalam hidupnya, menulis organ pendahuluan “Oh World, I Must Leave Thee” ("Oh Dunia, Aku Harus Meninggalkanmu.").

Tuesday, June 1, 2021

Wanita dalam Musik Klasik | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, June 2021

“WANITA DALAM MUSIK KLASIK”
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, June 2021


PERAN WANITA DALAM MUSIK KLASIK

Meskipun wanita belum memiliki peran dalam orkestra simfoni hingga saat ini dan wanita bisa dibilang belum mencapai kesetaraan dengan pria dalam bidang musik, sebetulnya mayoritas musik lebih banyak dipelajari oleh wanita. Namun, secara proposional, pria mendapatkan pengakuan dan berada di tingkat yang jauh lebih tinggi – baik dalam pertunjukkan instrumental, vokal, pengaba, penelitian ilmiah, maupun komposisi kontemporer.


LARANGAN WANITA UNTUK MENYANYI & TAMPIL

Paus Leo IV (847–855 M) melarang wanita dalam paduan suara untuk bernyanyi di gereja, dan Paus Pius X bahkan melarang wanita untuk menyanyi, karena kaum Hawa dianggap sesat dan makhluk penggoda yang menjerumuskan Adam. Namun wanita juga diperlukan dalam paduan suara untuk register atas. Anton Vivaldi memimpin orkestra khusus perempuan pada tahun 1714 di sebuah sekolah khusus perempuan dan Hildegard von Bingen merupakan wanita pertama yang tercatat secara historis dalam musik abad pertengahan yang menulis lagu religius pada abad ke-12.

 

Pada tahun 1800-an, dianggap pantas bagi seorang wanita muda di masyarakat atas untuk mencapai kemahiran dalam alat musik klasik. Wanita kelas atas sering kali diminta untuk mempelajari alat musik, sering kali harpa, piano, gitar, atau biola, atau belajar menyanyi. Secara historis, wanita diharapkan menguasai instrumen bersama dengan mempelajari dasar-dasar musik, seperti: membaca musik, menulis musik, dan menampilkannya. Namun, hingga abad ke-18, tampil di depan umum dianggap tidak bermoral dan wanita hanya diharapkan untuk bermain di ruang domestik pribadi saja. 

Saturday, May 1, 2021

Nadia Boulanger: The Virtuoso Teacher Behind The Greats | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, May 2021

NADIA BOULANGER
“THE VIRTUOSO TEACHER BEHIND THE GREATS”
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, May 2021


NADIA BOULANGER: WANITA PERKASA

Di balik kesuksesan para komposer dan musisi kelas dunia terhebat di abad ke-20, ada sosok guru musik yang hebat pula. Juliette Nadia Boulanger (16 September 1887 - 22 Oktober 1979) adalah salah satu pedagog musik asal Perancis yang terpenting dan terhebat dalam sejarah Musik Klasik pada abad ke-20. Clemency Burton-Hill menyebutnya sebagai “guru yang paling berpengaruh sejak Socrates” Boulanger adalah seorang pendidik, komposer kontemporer, dan wanita pertama yang memimpin banyak orkestra besar di USA dan Eropa. Bagi Boulanger, menjadi perempuan bukanlah penghalang untuk berprestasi.

 

Meskipun Boulanger hanya mengajar di apartemen keluarganya di 36 Rue Ballu, Paris, daftar siswa musik nya seperti Hall of Fame, sebut saja: Leonard Bernstein, Aaron Copland, Quincy Jones, Darius Milhaud, Astor Piazzolla, Philip Glass, hingga Daniel Barenboim dan Lalo Schifrin. Semua para raksasa musik, komposer, soloist, dan para pengaba terkemuka ini terkenal hebat dan inovatif dengan caranya masing-masing. Boulanger memberikan landasan yang kuat dalam analisis musik dan secara akademis untuk membentuk “suara  modern”. 

 

Saturday, March 6, 2021

PIANIS VIRTUOSO | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, April 2021

PIANIS VIRTUOSO
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, April 2021

 


A true virtuoso “must call up scent and blossom, and breathe the breath of life”

 - Franz Liszt

 

Richter, Brendel, Rubenstein, Argerich, Arrau, Rachmaninoff, Liszt, Ashkenazy, Barenboim, Lang Lang, Yuja Wang, Pollini, Gould, Kissin, Uchida, Schiff, Hamelin, Schnabel, Cortot, Horowitz adalah sederet nama pianis virtuoso terbaik di dunia. Bukan hanya sekedar memiliki teknik yang tinggi, kecakapan seni bermain piano yang luar biasa dengan kecepatan tinggi dan jari-jari pianistik yang atletis, namun mereka memiliki semuanya – karisma, stamina, repertoar yang luas, menguasai arena, dan mempesona publik. Seorang pianis virtuoso lazimnya merupakan musisi yang berprestasi dengan pencapaian teknis yang sangat menonjol diatas pianis rata-rata (extraordinary) dan dianggap mampu mencapai kesempurnaan artistik.

 

APA ITU VIRTUOSO?

Virtuoso [virˈtwoːzo] atau [virtuˈoːso] berasal dari dari Bahasa Italia atau dari Bahasa Latin ‘virtuosus’ atau ‘virtus’; "virtue", "excellence" atau "skill" yang artinya pelatihan yang luar biasa, terutama dalam teori. Seorang yang virtuoso adalah merupakan individu yang terampil dalam suatu hal – terutama dalam memainkan suatu alat musik, menyanyi, atau komposisi. Istilah ini digunakan menggambarkan seseorang dengan kemampuan teknis dan musik yang luar biasa.

Tuesday, December 3, 2019

TIPE-TIPE PIANIS | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, December 2019

“TIPE-TIPE PIANIS”
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, December 2019)


Mulai dari Clara Schumann, Martha Argerich, Mitsuko Uchida, sampai Khatia Buniatishvili, dunia dipenuhi dengan begitu banyak pianis yang luar biasa, dan jangan lupa – diantaranya pianis wanita yang menakjubkan dan karismatik. Di tangan mereka musik dengan motif yang paling sederhana, bisa memperoleh makna yang signifikan, artistik, dan inspiratif. Begitu banyak pianis, namun tidak semua pianis adalah pianis yang hebat. Simak beberapa tipe pianis berikut ini!

1. TRADITIONAL
Pianis yang hanya terikat oleh lembaran musik dan tidak dapat memainkan lagu apapun tanpa itu. Umumnya mereka memiliki kemampuan sight reading yang luar biasa. Mereka juga tekun, disiplin, dan memiliki teknik bermain yang sangat baik – akurat sesuai textbook. Tapi kelemahan pianis kategori ini adalah mereka tidak fleksibel dan tidak dapat memainkan lagu apapun tanpa lembaran musik di depannya.

2. PRODIGY
Pianis yang memiliki bakat alami yang luar biasa dan fenomal sejak lahir (gifted). Umumnya mereka bisa memainkan lagu secara sempurna hanya dengan satu kali dengar. Mereka mempunyai absolute hearing. Sesuatu yang tidak bisa diajarkan, tidak lazim, extraordinary, dan tidak bisa dilakukan oleh banyak orang, dibandingkan mereka sudah berlatih selama bertahun-tahun. Salah satu contoh pianis tipe ini adalah: Wolfgang Amadeus Mozart.

Saturday, November 2, 2019

Good Morning, Beethoven! | by: Jelia Megawati Heru (Staccato, November 2019)

“GOOD MORNING, BEETHOVEN!”
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, November 2019)


DARI REVOLUSIONER KE IDOLA 
DUN-DUN-DUN-DUNNNNN! Hanya butuh empat nada untuk mengubah dunia. Ini mungkin adalah lagu yang paling ikonik dari salah satu komposer yang paling berpengaruh dalam sejarah Musik Klasik. Lagu apakah itu? Yup, it’s Herr Beethoven dengan Simfoni No. 5 nya yang menggelegar.



Motif empat nada ini terkenal dengan sebutan 'Fate knocking at the door'. Sang takdir yang mengetuk pintu. Sadisss… Beethoven jelas tahu bagaimana membuat pendengarnya “BANGUN” dan membuat mereka MENDENGARKAN. Hmm… mungkin ini bisa menjadi ide nada dering bangun pagi. #pagipagimintadibullynetizen           


                                                                                                                                                                    
Ludwig van Beethoven (1770-1827) adalah seorang pianis dan komposer dari Jerman yang paling berpengaruh dalam sejarah Musik Klasik, selain JS. Bach dan WA. Mozart. Karya-karya Beethoven menjembatani transisi antara Era Klasik dan Romantik. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan ia menyeret Era Klasik menuju ke Romantik. Ia adalah seorang pelopor, inventor, revolusioner, dan visioner di masanya. Selama 56 tahun hidupnya, ia menulis lebih dari 240 karya – termasuk diantaranya: 9 sinfoni, 32 piano sonata, 5 piano concerto, 1 opera, dan 16 string quartet.

Sunday, September 29, 2019

SCOTT JOPLIN: "THE KING OF RAGTIME" | by: Jelia Megawati Heru | Staccato, October 2019

SCOTT JOPLIN:
“THE KING OF RAGTIME”
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, October 2019)



SCOTT JOPLIN
Siapa yang tidak kenal lagu “The Entertainer”? Seperti judulnya, mendengarkan lagu ini ibarat pagi hari yang cerah, mentari bersinar, dan burung-burung berkicau – sebuah perasaan gembira, a fun time. The Entertainer adalah sebuah ragtime yang paling terkenal dari Scott Joplin. 


Scott Joplin juga dikenal sebagai “King of Ragtime”. Ia menorehkan namanya sebagai pionir dari sebuah era Ragtime (1897 – 1917) dalam sejarah Musik Jazz. Sebuah gaya musik nasional pertama Amerika. Itu merupakan pencapaian yang luar biasa bagi seorang African-American, dimana terjadi diskriminasi rasial bagi komunitas Afrika-Amerika di masa itu. Ragtime adalah media bagi seorang Afrika-Amerika dalam kebebasan berbicara dan menyerukan identitasnya.

Wednesday, July 3, 2019

FIRST LESSON IN BACH | by: Jelia Megawati Heru (Staccato, July 2019)

“FIRST LESSON IN BACH”
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, July 2019

"Study Bach: there you will find everything."
Johannes Brahms



JOHANN SEBASTIAN BACH 
Siapa sih yang tidak mengenal nama besar Johann Sebastian Bach? Komposer asal Jerman ini merupakan salah satu komposer terhebat di perhelatan Musik Klasik, yang membawa gaya musik era Baroque ke tingkat spektakuler – kompleks, virtuoso, indah, dan passionate. 

Sejak orang tuanya meninggal, Johann tinggal bersama saudaranya, seorang organis gereja. Ia memiliki keinginan yang membara untuk memainkan musik. Bagi seorang Johann muda, musik lebih dari sekadar mendengarkan atau berlatih. Itu bisa menghiburnya ketika dia sedih. Musik adalah cara Johann untuk mengekspresikan pikiran dan perasaannya. 

BACH & HIS FAMILY

Kecintaan Johann terhadap musik dan dedikasi untuk berlatih sangat tinggi. Pada usia tujuh belas tahun, ia mendapatkan pekerjaan pertamanya sebagai organis gereja. Konon saking berbakatnya Bach, ia memenangkan kontes organ bahkan sebelum ia bertanding. "Tapi aku bahkan belum memainkan satu nada pun! Bagaimana aku bisa menang?", tanya Johann. "Orang Perancis itu (Louis Marchand) mendengar bakatmu yang luar biasa dan dia memutuskan lebih baik untuk tidak bertanding,” ujar para juri. 

Friday, February 1, 2019

TEMPO RUBATO: "The Art of Playing Stolen Time" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, February 2019)

TEMPO RUBATO
“THE ART OF PLAYING STOLEN TIME”
By: Jelia Megawati Heru
(Staccato, February 2019)


“The most necessary, most difficult and important thing in music, that is the TIME.
The music is not in the notes, but in the silence between.”
Wolfgang Amadeus Mozart

Rubato adalah beruang yang sulit dijinakkan! Rubato itu direncanakan, tapi harus tampak spontan. Rubato itu halus, tapi juga harus terdengar nyata (not fake!). Rubato itu tak menentu, tapi harus bisa diprediksi. Sepertinya perlu lebih dari satu artikel untuk menjinakkan rubato, tapi namanya juga usaha. Are you ready?


A TEMPO 
Dalam Musik Klasik, WAKTU adalah hal yang paling penting, paling sulit, dan mendasar dalam musik. Mozart selalu bangga terhadap fakta, bahwa ia selalu bermain dengan tempo yang akurat dan sesuai dengan tanda dinamika yang tercatat pada partitur musik dengan sempurna (TEXT BOOK). Seseorang yang tidak bisa menjaga kestabilan tempo akan dianggap sebagai musisi yang buruk. Bahkan Schumann sebagai komposer di zaman Romantik, juga memprotes praktek virtuosi di zamannya, yang menurutnya seperti orang mabuk. Ia selalu disiplin bermain di tempo yang ketat.

Keteraturan dan menjaga kestabilan tempo merupakan hal yang MUTLAK dan tidak bisa ditawar. Tetapi jika sebuah frase “diserbu” bertubi-tubi dengan cara yang sama, maka suasana bisa menjadi monoton, membosankan, dan so predictable bagi para pendengarnya. Tidak menarik! Ironis, bagaimana sebuah kesempurnaan justru bisa “membunuh” jiwa sebuah lagu. Bagaimana sebuah perasaan yang menggelora di dada digambarkan dengan irama baris-berbaris, allegro, dan satu lusin ritardando? Ya ora isa!

Di momen seperti inilah kita harus terbuka pada ide teknik berekspresi yang lebih advanced. Untuk mengakomodir rasa dan perwujudan estase antara cinta dan benci – kelembutan sentimennya (bukan lebay), rasa manis yang ekstrim, sentuhan memohon-mohon, seperti pada komposisi Chopin.

Monday, October 1, 2018

I LOVE CHOPIN - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, October 2018)

“I LOVE CHOPIN”
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, October 2018)


“Bach is an astronomer, discovering the most marvelous stars.
Beethoven challenges the universe. 
I only try to express the soul and the heart of man.” 
― Frédéric Chopin

RENDEZVOUS WITH CHOPIN
Para pianis cilik yang telah mencapai grade 5 atau grade 6 (late intermediate), cepat atau lambat pasti akan mendengar nama Frédéric Chopin dalam menu wajib repertoar mereka. Mungkin mereka pernah ‘bertemu’ Chopin dalam sebuah konser, dari youtube, atau dari sebuah lantunan melodi CD lagu yang dimainkan oleh orang tua mereka di malam hari sebelum tidur. Bisa juga dari soundtrack film “The Pianist”atau “The Secret”. Bisa juga dari materi ujian piano atau guru piano yang mengajarkan cara pelafalan nama Chopin yang benar dalam kelas sejarah musik.

THE PIANIST (2002)

Nah, bicara tentang Musik Chopin pasti tidak terlepas dari PIANO. Terbersit perpaduan kelincahan jari jemari yang super cepat, dibalut lantunan melodi yang melankolis nan puitis dan ekpresif, yang dapat membuat orang menitikkan air mata dan bikin orang baper. Lebay? Maybe yes, maybe no. Sisi romantisme Musik Klasik pada abad ke-19 memang tidak pernah terlepas dari tema tentang CINTA dan KEINDAHAN. “Apalah artinya cinta, kalau hanya di bibir saja?” Begitulah lirik lagu “Semua Bisa Bilang” dari Margie Segers.