Béla Bartók (1881–1945) adalah seorang komposer, pianis, dan etnomusikolog asal Hungaria. Ia merupakan salah satu musisi terpenting dan berpengaruh di abad ke-20. Salah satu kontribusinya adalah memadukan Musik Klasik Barat (seperti fuga dan sonata) dengan tradisi Musik Rakyat (Folksong) Eropa Timur yang sarat akan ritme yang kompleks dan perkusif, yang penuh petualangan dalam harmoni (dissonant, modes, bitonal, atonal, whole tone scale) dan time signature yang asimetris. Musiknya sangat menantang, tetapi juga sangat ekspresif dan fisik. Ia mengubah cara pandang musisi dalam mendekati teknik dan warna.
Bartók merupakan inovator ritme, harmoni, dan bentuk. Ia banyak memperkenalkan banyak inovasi radikal, a.l. ritme polimeter dan tidak teratur (misalnya, ritme Tari Bulgaria seperti 4+2+3), penggunaan disonansi dan akor tanpa mengabaikan tonalitas – sambil tetap memadupadankan struktur formal seperti bentuk lengkung (ABCBA). Musiknya terdengar modern bahkan hingga saat ini, namun berakar kuat pada ritme manusia yang mirip tarian.
JEMBATAN ANTARA TRADISI DAN MODERNISME
Bartók adalah salah satu komposer pertama yang mendokumentasikan dan melestarikan musik tradisional secara ilmiah. Ia merekam ribuan lagu daerah menggunakan fonograf awal, lalu menyalin dan menganalisisnya.
Bartók memadukan musik rakyat dengan teknik klasik kontemporer. Bersama Zoltán Kodály, Bartók mengumpulkan dan menyalin ribuan lagu daerah dari Hungaria, Bulgaria, Rumania, Slowakia, dan berbagai wilayah Eropa Timur lainnya. Ia adalah pelopor dalam bidang etnomusikologi dan membantu melestarikan serta melegitimasi tradisi daerah.
Claude Debussy adalah seorang komposer Perancis yang berpengaruh dan mendominasi dalam Musik periode Romantik pada akhir abad ke-19. Dia mengembangkan sistem harmoni dan struktur musik yang sangat orisinal yang dalam banyak hal mengekspresikan cita-cita yang dicita-citakan oleh para pelukis dan penulis Impresionis dan Simbolis pada masanya. Karya utamanya meliputi Clair de lune (“Moonlight,” dalam Suite Bergamasque, 1890–1905), Prélude à l'après-midi d'un faune (1894; Prelude to the Afternoon of a Faun), Opera Pelléas et Mélisande (1902), dan La Mer (1905; “Laut”).
Debussy menunjukkan bakatnya sebagai pianis pada usia sembilan tahun. Dia didorong oleh Madame Mauté de Fleurville, yang berhubungan dengan komposer Polandia Frédéric Chopin, dan pada tahun 1873 dia memasuki Konservatorium Paris, di mana dia belajar piano dan komposisi, akhirnya memenangkan Grand Prix de Rome pada tahun 1884.
CLAIRE DE LUNE: PUISI DALAM MUSIK
Clair de lune mungkin merupakan karya Debussy yang paling ikonik dan merupakan bagian ketiga dari karya empat gerakan Suite Bergamasque.
Debussy sebenarnya menulis tiga 'Clair De Lunes'. Asal-usulnya kompleks dan menarik, menggabungkan pengaruh puisi dan Impresionisme. Idenya bermula dari puisi penyair aliran Simbolisme Paul Verlaine pada tahun 1869 dalam koleksinya yang berjudul Fêtes Galantes, yang terinspirasi dari lukisan Jean-Antoine Watteau (1684-1721). Puisi tersebut berbicara tentang tenangnya cahaya bulan yang sedih nan indah.
Judul asli Clair de Lune sebenarnya adalah Promenade sentimentale (Sentimental Stroll), diambil dari puisi Verlaine yang berbeda dari koleksi tahun 1866 berjudul Paysages tristes (Sad Landscape). Puisi ini kemungkinan besar menjadi inspirasi musiknya. Puisi itu dimulai: “Le couchant dardait ses rayons suprêmes et le vent berçait les nénuphars blêmes”. Matahari terbenam memancarkan sinar terakhirnya dan angin sepoi-sepoi yang mengguncang bunga lili air.
Januari 1900, Moskow. Sergei Rachmaninoff, 24 tahun, berbaring di sofa sambil mengulangi mantra positif: “Anda akan mulai menulis konser Anda. Anda akan bekerja dengan sangat mudah. Konsernya akan memiliki kualitas yang sangat baik.”
Setelah pemutaran perdana Simfoni No. 1 yang membawa bencana pada tahun 1897, Rachmaninoff menderita gangguan psikologis dan depresi yang menghalanginya untuk menulis komposisi selama tiga tahun. Dia mengadopsi gaya hidup peminum berat untuk melupakan masalahnya. Depresi menguasainya.
Rachmaninoff berobat kepada seorang ahli saraf yang berspesialisasi dalam hipnoterapi Nikolai Dahl, yang dia kunjungi setiap hari secara gratis dari Januari hingga April 1900. Dahl terlibat dalam percakapan panjang lebar seputar musik dengan Rachmaninoff, dan akan mengulangi perkataan saat komposer setengah tertidur.Rachmaninoff mendedikasikan Piano Concerto No. 2 nya untuk Dahl karena berhasil merawatnya dengan memulihkan kesehatannya dan kepercayaan dirinya sebagai seorang komposer saat ia mengambil langkah pertamanya menuju cahaya.
Prélude adalah komposisi pendek yang biasanya digunakan sebagai pendahuluan atau pengantar untuk gerakan musik yang lebih kompleks. Namun pada pertengahan tahun 1800-an, prélude —yang dulu dipahami sebagai karya pengantar untuk karya yang lebih panjang—telah berevolusi menjadi karya pendek yang berdiri sendiri, yang masih ditujukan untuk karya piano solo.
Johann Sebastian Bach telah membangun praktik menulis sejumlah lagu yang masing-masing menggunakan kunci yang berbeda untuk mengeksplorasi potensi aural dari kunci yang berbeda. The Well-Tempered Clavier (WTC) karya Johann Sebastian Bach adalah salah satu karya terpenting sepanjang masa. WTC terdiri dari dua jilid buku, dimana masing-masing jilid terdiri dari sepasang prélude dan fugue yang berjumlah dua puluh empat kunci dengan pola mayor-minor. Kedua buku tersebut mengikuti urutan 12 kunci secara kromatis: dimulai dengan C major dan minor parallel (C minor), lalu C-sharp major dan C-sharp minor, dst hingga ke-24 kunci tercover.
WTC ini berpengaruh besar terhadap komposer-komposer berikutnya, seperti Frédéric Chopin, Alexander Scriabin, dan Sergei Rachmaninoff. Chopin melanjutkan tradisi Bach WTC dengan menulis 24 Préludes dalam kunci mayor dan minor tapi tidak dipadukan dengan fugue. Organisasi struktur kuncinya juga berbeda dari Bach: Prélude No. 1 di C mayor, Prélude No. 2 di A minor; menggunakan pola major-minor searah jarum jam (circle of fifth). Prélude ala Chopin adalah potongan karakter pendek berdasarkan motif kecil. Pianis biasanya memainkan Chopin Prélude baik secara individu yang berdiri sendiri atau sebagai satu set yang lengkap dalam sebuah konser.
Pada abad ke-19, komposer Rusia seperti Scriabin dan Rachmaninoff menjawab tantangan dan mengikuti jejak Chopin dalam mengkomposisi prélude sebagai karya miniatur piano yang independen dan mandiri dalam berbagai karakter dan mood. Seperti halnya Chopin, Scriabin juga menulis 24 Préludes yang mencakup semua kunci mayor dan minor yang menampilkan ciri khas dan tekstur harmoninya yang unik.
IMPROMPTU, SCHERZO, BARCAROLLE, FANTAISIE & PIANO SONATA
By: Jelia Megawati Heru
Staccato, March 2024
IMPROMPTU
Impromptu merupakan komposisi piano solo pada abad ke-19 (Era Romantik) yang lahir dari improvisasi secara spontan. Oleh karena itu impromptu tidak memiliki struktur baku yang formal. Komposisi independen ini dibuat “in promptu” yaitu segera, tanpa persiapan. Bentuknya lebih panjang dari Nocturne, namun lebih pendek dari Ballade, Scherzo, atau Sonata. Hampir mirip dengan Fantasy.
Walau impromptu ditulis secara improvisatoris, impromptu cenderung memiliki struktur ternary (A-B-A) dan mengeksplorasi individualisme, kemampuan virtuoso pianistik, dan kedalaman emosi dari performernya. Beberapa komposer lain yang juga menulis impromptu adalah Franz Schubert dan Robert Schumann. Chopin menulis empat impromptu: Op. 29, Op. 36, Op. 51, dan Op. posth. 66.
Impromptu yang pertama ditulis pada tahun 1837 didedikasikan untuk la Comtesse de Lobau, dua lainnya disusun selama hubungan Chopin dengan penulis George Sand, di kediamannya di Nohant: op. 36 tahun 1839, op. 51 tiga tahun kemudian. Nomor karya Fantaisie Impromptu, Op.posth. 66 telah ditulis pada tahun 1834 dan didedikasikan untuk teman dekatnya, Julian Fontana yang merupakan pianis, komposer, dan asisten Chopin. Opus posthumous (after composer’s death) merupakan sebutan yang digunakan sebagai pengganti nomor opus untuk menunjukkan bahwa sebuah karya diterbitkan setelah kematian penciptanya.
Ludwig van Beethoven adalah salah satu komposer kelas dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah Musik Klasik. Selain dari sinfoni, karya yang paling penting dan berpengaruh adalah ke-32 piano sonatanya yang menjadi landasan dalam musik piano dan genre musik yang kita nikmati saat ini, termasuk Pop, Rock, dan Jazz. Sonata ini dijuluki "Perjanjian Baru" musik piano untuk menyoroti seberapa pentingnya arti sonata ini. Sedangkan 48 Prelude & Fugue Bach’s Well-Tempered Clavier dianggap sebagai “Perjanjian Lama.”
Sebagai seorang pianis, Beethoven mulai menorehkan namanya di Wina, Austria dimana improvisasinya yang luar biasa dengan cepat membangun reputasinya. Meskipun Beethoven bukanlah komposer pertama yang menulis komposisi multi-movement untuk solo piano, namun ia adalah orang pertama yang menunjukkan seberapa besar kekuatan dan variasi ekspresi yang dapat dikembangkan dari sebuah permainan piano. Oleh karena itulah piano sonata nya menjadi sebuah acuan, sebuah STANDAR bagi komposer lain setelah Beethoven pada zaman Romantik, seperti: Johannes Brahms, Gustav Mahler, Franz Schubert, Anton Bruckner, dsb.
Sejarah Musik Klasik penuh dengan kematian tokoh komposer di usia muda yang terkadang tragis dan mengerikan. Mulai dari kecelakaan yang tidak terelakkan, malapetaka, penyakit yang tidak bisa disembuhkan, hingga kematian yang misterius. Hal terakhir yang dilakukan atau dikatakan seseorang memiliki daya tarik, kepedihan, misteri, pesan, dan makna tersendiri. Musik liar dan luhur yang dituliskan di ranjang kematian mereka. Bagaimana mereka mati begitu muda, apa yang mereka capai dalam hidup mereka, dan dalam keadaan apa mereka mati? Apa peninggalan dan karya musik mereka untuk dunia?
Death Mask
KATA-KATA TERAKHIR
“There is a door I have closed until the end of the world.”, ujar Joseph Hadyn yang tenggelam dalam kepikunan dan tidak kuasa untuk menyelesaikan String Quartet terakhirnya. “More light!”, ujar Johann Wolfgang von Goethe. “Mozart, Mozart!”, ujar Gustav Mahler. "Plaudite, amici, comedia finita est"("Applaud, my friends, the comedy is over") dan "I shall hear in heaven", ujar Ludwig van Beethoven. Johannes Brahms, menderita kanker hati setelah ia mengubur Clara Schumann, cinta dalam hidupnya, menulis organ pendahuluan “Oh World, I Must Leave Thee” ("Oh Dunia, Aku Harus Meninggalkanmu.").
Meskipun wanita belum memiliki peran dalam orkestra simfoni hingga saat ini dan wanita bisa dibilang belum mencapai kesetaraan dengan pria dalam bidang musik, sebetulnya mayoritas musik lebih banyak dipelajari oleh wanita. Namun, secara proposional, pria mendapatkan pengakuan dan berada di tingkat yang jauh lebih tinggi – baik dalam pertunjukkan instrumental, vokal, pengaba, penelitian ilmiah, maupun komposisi kontemporer.
LARANGAN WANITA UNTUK MENYANYI & TAMPIL
Paus Leo IV (847–855 M) melarang wanita dalam paduan suara untuk bernyanyi di gereja, dan Paus Pius X bahkan melarang wanita untuk menyanyi, karena kaum Hawa dianggap sesat dan makhluk penggoda yang menjerumuskan Adam. Namun wanita juga diperlukan dalam paduan suara untuk register atas. Anton Vivaldi memimpin orkestra khusus perempuan pada tahun 1714 di sebuah sekolah khusus perempuan dan Hildegard von Bingen merupakan wanita pertama yang tercatat secara historis dalam musik abad pertengahan yang menulis lagu religius pada abad ke-12.
Pada tahun 1800-an, dianggap pantas bagi seorang wanita muda di masyarakat atas untuk mencapai kemahiran dalam alat musik klasik. Wanita kelas atas sering kali diminta untuk mempelajari alat musik, sering kali harpa, piano, gitar, atau biola, atau belajar menyanyi. Secara historis, wanita diharapkan menguasai instrumen bersama dengan mempelajari dasar-dasar musik, seperti: membaca musik, menulis musik, dan menampilkannya. Namun, hingga abad ke-18, tampil di depan umum dianggap tidak bermoral dan wanita hanya diharapkan untuk bermain di ruang domestik pribadi saja.
Di balik kesuksesan para komposer dan musisi kelas dunia terhebat di abad ke-20, ada sosok guru musik yang hebat pula. JulietteNadia Boulanger (16 September 1887 - 22 Oktober 1979) adalah salah satu pedagog musik asal Perancis yang terpenting dan terhebat dalam sejarah Musik Klasik pada abad ke-20. Clemency Burton-Hill menyebutnya sebagai “guru yang paling berpengaruh sejak Socrates” Boulanger adalah seorang pendidik, komposer kontemporer, dan wanita pertama yang memimpin banyak orkestra besar di USA dan Eropa. Bagi Boulanger, menjadi perempuan bukanlah penghalang untuk berprestasi.
Meskipun Boulanger hanya mengajar di apartemen keluarganya di 36 Rue Ballu, Paris, daftar siswa musik nya seperti Hall of Fame, sebut saja: Leonard Bernstein, Aaron Copland, Quincy Jones, Darius Milhaud, Astor Piazzolla, Philip Glass, hingga Daniel Barenboim dan Lalo Schifrin. Semua para raksasa musik, komposer, soloist, dan para pengaba terkemuka ini terkenal hebat dan inovatif dengan caranya masing-masing. Boulanger memberikan landasan yang kuat dalam analisis musik dan secara akademis untuk membentuk “suara modern”.
A true virtuoso “must call up scent and blossom, and breathe the breath of life”
- Franz Liszt
Richter, Brendel, Rubenstein, Argerich, Arrau, Rachmaninoff, Liszt, Ashkenazy, Barenboim, Lang Lang, Yuja Wang, Pollini, Gould, Kissin, Uchida, Schiff, Hamelin, Schnabel, Cortot, Horowitz adalah sederet nama pianis virtuoso terbaik di dunia. Bukan hanya sekedar memiliki teknik yang tinggi, kecakapan seni bermain piano yang luar biasa dengan kecepatan tinggi dan jari-jari pianistik yang atletis, namun mereka memiliki semuanya – karisma, stamina, repertoar yang luas, menguasai arena, dan mempesona publik. Seorang pianis virtuoso lazimnya merupakan musisi yang berprestasi dengan pencapaian teknis yang sangat menonjol diatas pianis rata-rata (extraordinary) dan dianggap mampu mencapai kesempurnaan artistik.
APA ITU VIRTUOSO?
Virtuoso [virˈtwoːzo] atau [virtuˈoːso] berasal dari dari Bahasa Italia atau dari Bahasa Latin ‘virtuosus’ atau ‘virtus’; "virtue", "excellence" atau "skill" yang artinya pelatihan yang luar biasa, terutama dalam teori. Seorang yang virtuoso adalah merupakan individu yang terampil dalam suatu hal – terutama dalam memainkan suatu alat musik, menyanyi, atau komposisi. Istilah ini digunakan menggambarkan seseorang dengan kemampuan teknis dan musik yang luar biasa.
Siapa yang tidak kenal lagu “The Entertainer”? Seperti judulnya, mendengarkan lagu ini ibarat pagi hari yang cerah, mentari bersinar, dan burung-burung berkicau – sebuah perasaan gembira, a fun time. The Entertainer adalah sebuah ragtime yang paling terkenal dari Scott Joplin.
Scott Joplin juga dikenal sebagai “King of Ragtime”. Ia menorehkan namanya sebagai pionir dari sebuah era Ragtime (1897 – 1917) dalam sejarah Musik Jazz. Sebuah gaya musik nasional pertama Amerika. Itu merupakan pencapaian yang luar biasa bagi seorang African-American, dimana terjadi diskriminasi rasial bagi komunitas Afrika-Amerika di masa itu. Ragtime adalah media bagi seorang Afrika-Amerika dalam kebebasan berbicara dan menyerukan identitasnya.
Sebuah citra, semestinya terbebas dari segala cacat cela. Sebuah citra semestinya jernih, bening dengan makna nyaris tak berbatas. Sebuah citra kadang lugas membahasakan dirinya. Itulah yang diusung oleh Kelvin Andreas. Seorang Drummer dan Composer lulusan Berklee, Boston, USA, dalam album perdana nya “VIVID IMAGERY”. Album ini dirilis dan di launching pada April 2019. Judul Album menyiratkan makna sebuah Citra yang VIVID. Bening, tegas, lugas, nyaris telanjang dan apa adanya. Cover Album dikerjakan oleh Meilissa Johana dalam sebuah sketsa dengan guratan kuat menyirat makna.
Dapat dikatakan, Kelvin Andreas sangat serius menggarap album perdananya. Musisi yang digandengnya berasal dari latar belakang kultur yang beragam. Nathan See pada Alto Sax, Takeru Saito pada Piano, Ioseb ‘Soso’ Gelovani pada Bass, dan Kelvin Andreas sendiri pada Drums.
Jika Anda mempelajari piano klasik dengan rezim tradisi latihan jari ala Czerny, Hanon, Duvernoy, dan Pischna; pasti nama Burgmüller menjadi tidak asing lagi dalam menu latihan Anda. Walau banyak latihan jari lain yang luar biasa selain Burgmüller, karya-karyanya seperti: Studi Op. 68, 76, 97, 100, dan 105, telah menjadi andalan dan referensi repertoar étude dasar bagi banyak generasi dalam bentuk miniatur – bahkan hingga detik ini. Pada artikel kali ini akan dibahas latihan jari ala Burgmüller dan beberapa repertoar nya yang melegenda.
Burgmüller ditulis oleh pianis dan komposer asal Jerman, yakni Johann Friedrich Franz Burgmüller (1806-1874). Ia lahir dan besar di kalangan keluarga musisi. Ayahnya Johann August Franz Burgmüller adalah seorang organis dan konduktor di Teater Weimar, Jerman (1766-1824) dan kakak laki-lakinya Norbert Burgmüller adalah seorang komposer dan pianis Jerman (1810-1836).
Johann pindah ke Paris pada 1832, saat ia berusia 26 tahun. Dimana ia menjadi guru piano sampai akhir hayatnya, mengadopsi musik Perancis, dan mengembangkan ciri khas nya – gaya bermain yang ringan.
Apa yang terbersit di benak Anda ketika mendengar tentang kata
‘SONATA’?
Beethoven? Piano? Moonlight
Sonata? Yang jelas sonata bukan seperti potongan romantis film seri Korea ‘Winter Sonata’. Bagi beberapa pianis,
mungkin sonata terdengar seperti peta jalan dengan banyak istilah aneh,
seperti: “EXPOSITION”, “RECAPITULATION” & “CODA”. Bertahun-tahun
mereka berlatih sonata, tanpa tahu apa itu sonata, dan mengapa sih mereka harus berlatih sonata? Tapi
semoga kali ini, sonata akan memiliki makna yang lebih berarti dan jauh dari
kesan mengerikan maupun membosankan.
APA ITU SONATA?
Sonata ini awalnya merupakan
sebuah potongan musik. Sonata berasal dari Bahasa Latin ‘sonare’, yang berarti terdengar (to sound); Jadi sonata adalah bunyi yang terdengar oleh instrumen
(piano, biola, flute, dll.). Berlawanan dengan cantata, yang merupakan
komposisi vokal yang dinyanyikan dengan iringan instrumen; dari Bahasa Itali ‘cantare’, yang berarti dinyanyikan (to sing). Dalam perkembangannya sonata
menjadi sebuah GENRE karya musik yang terdiri dari beberapa gerakan (3-4 movements) untuk instrumen solo. Seperti
sebuah album yang memiliki beberapa lagu mini yang berbeda.
DAYA TARIK SONATA
APA YANG MEMBUAT SONATA MENARIK?
1. KESEIMBANGAN (BALANCE) & PROPORSIONAL
Pada umumnya sonata terdiri
dari tiga bagian besar, yaitu: 1st
movement (cepat), 2nd
movement (lambat), dan 3rd
movement (sangat cepat). Setiap bagian dapat memiliki struktur yang berbeda-beda,
namun tetap proporsional. Misalnya: dua bagian (Binary form)II:A:II:B:II,
tiga bagian (Ternary form)II:A:II:B:IIAII, dan Rondo/rounded form A-B-A-C. Ternary
form juga merupakan bentuk komposisi yang paling populer digunakan dalam Musik
Pop Modern. Umumnya bagian A dan B diulang masing-masing dua kali, sehingga
polanya menjadi A-A-B-B-A.
TheNokiaringtoneisprobablytheworld'smostheardandrecognizedtune.Ever. Anditwillprobablycontinuetobesoforalongtime.The melody used as a ringtone (jingle) in
Nokia mobile phones, called as “Nokia
Tune”. This tune, which you have heard nineteen times this week, goes
something like: “yada da da, yada da da,
yada da da daah.” Derived from bars 13-16 of Gran Vals by Francisco
Tárrega (from 1902).
On September 4, 2007, Nokia received U.S.
Trademark Registration No. 3,288,274 for "a sound comprising a C eighth note, E flat eight note, B flat
eighth note, G quarter note, C eighth note and C quarter note."The
last note is different from the original. Nokiachangedthelastnoteofthephrasetogiveitasenseofcompleteness,sothephraseissaidto'resolve'itself.Thisallowsittostand aloneasamusicalstatementoridea.
Listen to the real Tarrega "Grand Waltz" in guitar:
Known as "The
Sarasate of
the Guitar," Tárrega is considered to have laid the foundations for
20th century classical guitar and for increasing interest in the guitar as a
recital instrument. Andrés Segovia used much of Tárrega's work when
he took classical guitar into concert halls of Europe.
Alice Herz Sommer is a 109-yr old pianist (oldest living pianist)
and oldest living Holocaust survivor!
Music saved her life!
Alice Herz-Sommer also known as Alice Sommer, (born 26 November 1903) is a Jewish pianist and music teacher from Bohemia, and a survivor of the Theresienstadt concentration camp. Herz-Sommer has lived in North London, United Kingdom since 1986, and is the world’s oldest known Holocaust survivor.
At age 108, Holocaust survivor Alice Herz Sommer still practices piano
for three hours every day. At age 104, she had a book written about her
life: "A Garden Of Eden In Hell."
JELIA MEGAWATI HERU music educator, lecturer, pianist, and writer to see profile, please click HERE
MICHAEL GUNADI WIDJAJA composer, writer, and music worker
Begin to recognize the piano at age 5 through the guidance of his mother, Marta Suryani Tanjung. At the age 9 started to learn the classical guitar. His passion of music makes him learn music theory, compositorical study, contrapuntal and orchestration under guidance of Slamet Abdul Sjukur. Studied Jazz, Jazz orchestration and improvisation technique under guidance of Jack Lesmana. He gets scholarship in Perth Conservatory, Australia (1989 – 1991) to study New Music and contemporary music landscape with Prof. Dr. Heinz Holliger and attends masterclass of John Williams.
Michael Gunadi Widjaja represents Indonesia at The Asian Composer League in New Zealand for his composition “Processual Procession” for chamber orchestra and gamelan orchestra (1999) and in Manila, Philippines “Reb” for guitar and chamber orchestra (2002). He makes a collaboration CD of mixed culture dialogue between Music and poem featuring Sosiawan Leak, Indonesian poem writer. The CD is collected by deutsche indonesische Gesellschaft Berlin, Germany (2011).
He composes the choreographical music for Dance Department of ISI (Institut Seni Indonesia) Yogyakarta for 5 years (1997-2002), composes music documentaries especially for local government projects. Establish The Shining Star Enrichment Center - the one and only music learning centre in Tegal, Central Java.
In 2004 – 2012 he was the head of music department in City Art Council of Tegal.
In 2008 – 2012 he was also a member of Performance Department in Province Art Council of Central Java.
Currently he is the chairman of creativity, music, traditional art and art development in City Art Council of Tegal. Since 1998 until now, he still becomes one of the contributor and writer in AUDIOPRO magazine. Since this year becomes one of the writer of STACCATO music magazine for Jazz rubric and share his musical ideas through his blog: www.imajiner07.blogspot.com
“Aku ingin terus ‘HIDUP’, bahkan setelah aku mati” –
Anne Frank
WHO IS ANNE FRANK?
12 Juni 1942. Seorang gadis belia mendapatkan buku harian sebagai hadiah
ulang tahunnya yang ke-13. Sebulan kemudian, ia terpaksa meninggalkan masa
remajanya dan memasuki dunia perang yang kejam; buku harian tsb menjadi sahabat
terbaiknya sampai akhirnya dia tertangkap oleh Nazi.
Annelies Marie "Anne"
Frank tak lepas dari Holocaust, peristiwa pemusnahan etnis
Yahudi oleh Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler saat Perang Dunia II. Lahir pada 12 Juni1929 di Frankfurt, Jerman,
Anne adalah anak kedua di keluarga Frank. Margot
Frank, kakaknya, hanya dua tahun lebih tua darinya. Otto Frank, ayah mereka, adalah pengusaha yang selalu mendukung
kedua putrinya untuk membaca.
THE DIARY of YOUNG GIRL
Anne dikenal karena
tulisannya dalam sebuah buku harian ketika ia bersembunyi bersama
keluarga dan empat orang lainnya di Achterhuis,
Amsterdam
semasa pendudukan Nazi
di Belanda
pada Perang Dunia II. Buku harian tsb mencatat rentetan dan narasi peristiwa-peristiwa
penting dari 12 Juni1942 hingga 1 Agustus1944.
Awalnya buku tsb berisi
catatan kehidupan remaja yang normal seputar teman dan sekolah, sebelum
kemudian berubah menjadi kisah seorang korban perang. Bahkan dia juga
menggambarkan perubahan yang terjadi setelah pendudukan Jerman. Misalnya, ia
menuliskan tentang lencana atau bintang kuning yang secara terpaksa harus
dipakai oleh semua orang Yahudi di depan publik. Selain itu, dia juga
menceritakan pembatasan dan penganiayaan yang telah terjadi dalam kehidupan
penduduk Yahudi Amsterdam. Ia juga menulis tentang ambisi dan perasaannya, dan
kenyataan bahwa dia tidak bisa berdiskusi dengan siapa pun. Dia menulis secara
teratur hingga karya terakhirnya pada 1 Agustus1944.
Sejak awal, Annehanya bermaksud untuk menulis bagi dirinya sendiri dan berharap
tidak akan ada orang lain yang akan membacanya. Sampai suatu ketika ia
mendengar pidato di radio pada 28 Maret1944 MenteriKabinetBelanda,GerrittBolkestein.
Bolkesteinmenyatakan:
"Sejarah tidakdapat ditulisatas dasarkeputusanresmi dandokumensaja.Keturunankita
akan memahami sepenuhnyaapa yang terjadi di jaman ini,
apa yang diperjuangkan oleh sebuah bangsa, apa arti sebuah kemerdekaan; jika kita menyatukan dokumenbiasa-buku harian, surat-surat
dariseorang pekerjadi Jerman,kumpulankhotbahyang
diberikanolehpendetaatau imam, sehingga menjadi sebuah gambaran realita peristiwa
yang terjadi di jaman tsb.”
Terinspirasidari
pidato tsb, Annemulaimenulis ulang buku hariannya itupada lembaran-lembarankertas yang terpisah.
Beberapa bagian dipersingkat, beberapa bagian lainnya
dijelaskan dengan lebih detail,danmembuat daftarnama samaran (pseudonym).
Buku harian ini diterjemahkan
dari bahasa Belanda ke berbagai bahasa dan menjadi
salah satu buku yang paling banyak dibaca di dunia. Beberapa produksi teater
dan film juga mengangkat tema ini. Buku harian yang digambarkan sebagai karya
yang dewasa dan berwawasan ini menyodorkan potret kehidupan sehari-hari yang
mencekam di bawah kekuasaan Nazi.
LATAR BELAKANG KEHIDUPAN PADA TAHUN 1933
Pada tahun 1933, ketika Hitler
dan partai Nazi memenangkan pemilu di Jerman, keluarga Otto Frank beserta
300.000 orang Yahudi-Jerman melarikan diri dari Jerman ke Amsterdam, Belanda.
Namun, pada tahun 1940, Nazi menduduki Belanda, Margot, sang kakak mendapat
“panggilan” dari kantor pusat emigrasi Yahudi (Zentralstelle für jüdische
Auswanderung). Ini berarti, Margot dan keluarganya akan dikirim ke kamp
konsentrasi.
ACTERHUIS – ruang rahasia di balik rak buku
Pada 5 Juli1942, Otto langsung
memboyong keluarganya ke tempat persembunyian yang telah ia siapkan di bagian
belakang gedung kantornya. Tempat yang terhubung melalui tangga rahasia di
balik rak buku itu disebut Achterhuis, alias “rumah di belakang” dalam bahasa Belandayang menunjukkan bagian belakang rumah,
diterjemahkan sebagai "Lampiran Rahasia" dalam edisi bahasa Inggris. Pintu
masuk Achterhuis tertutup oleh
sebuah rak buku.
Apartemen terdahulu
mereka ditinggalkan dalam keadaan berantakan untuk menciptakan kesan bahwa
mereka telah pergi tiba-tiba, dan Otto Frank meninggalkan catatan yang
mengisyaratkan mereka akan pergi ke Swiss. Pada masa itu, orang Yahudi tidak diizinkan untuk
menggunakan angkutan umum sehingga mereka terpaksa berjalan
beberapa kilometer dari rumah mereka, dengan mengenakan beberapa lapis pakaian
karena mereka tidak berani terlihat membawa koper.
KEHIDUPAN di ACHTERHUIS
Di achterhuis, Anne menempati kamar mungil di loteng. Disini, ia
menghabiskan sebagian besar waktu dengan belajar dan menulis buku harian.
Meski Anne menulis bahwa
achterhuis adalah tempat
persembunyian yang paling nyaman di seluruh Belanda, catatan di buku hariannya
menunjukkan berbagai pergulatan yang ia alami. Bahwa Anne kerap bertengkar
dengan ibunya dan Margot, dan hanya bisa akur dengan sang ayah. Anne juga sadar
bahwa ia tidak bisa meninggalkan achterhuis,
sehingga kebebasan hanya merupakan sebuah impian yang mustahil baginya.
Walaupun demikian, dia tetap bermimpi tentang kebebasan dan menuliskan hal-hal
yang akan dilakukannya apabila ia bebas.
Hanya ada empat karyawan
Otto yang mengetahui tempat persembunyiaan keluarga Frank, yaitu Victor Kugler, Johannes Kleiman, Miep Gies, dan Bep Voskuijl. Mereka
merupakan kontak antara dunia luar dan penghuni rumah, dan mereka terus memberi
informasi tentang perang dan perkembangan politik. Mereka menyediakan semua
kebutuhan mereka, memastikan keselamatan mereka, dan memasok makanan. Anne
menulis tentang dedikasi dan upaya mereka dalam melakukan tindakan berbahaya
dengan melindungi mereka. Semua sadar bahwa jika persembunyian tersebut
terbongkar, mereka akan tertangkap dan mungkin menghadapi hukuman mati
karena melindungi orang Yahudi.
Pada akhir Juli 1942,
keluarga van Pels yang terdiri dari
pasangan Hermann dan Auguste, serta
putranya yang berumur 16 tahun, Peter, bergabung
dengan keluarga Frank dalam persembunyian mereka di achterhuis. Pada
November tahun yang sama, Fritz Pfeffer,
seorang dokter gigi dan teman keluarga Frank juga bergabung dengan mereka.
Pada awalnya, Anne
merasa senang dengan kehadiran orang baru, namun ketegangan cepat berkembang
dalam kelompok yang hidup dalam keterbatasan tersebut. Anne kerap terlibat
pertengkaran dengan penghuni achterhuis.
Dia tidak terlalu senang berbagi kamar dengan Fritz Pfeffer yang membuatnya
terganggu dan Anne juga berselisih dengan Auguste yang dia anggap bodoh. Selain
itu, Anne juga menceritakan hubungannya yang semula canggung dengan Peter
berubahan menjadi kedekatan asmara.
Di buku hariannya, Anne
menulis bahwa mereka selalu dicekam ketakutan akan ditangkap, namun sekaligus
bosan karena terpenjara. Kita juga bisa membaca dengan jelas pemikiran remaja
yang hidup di tengah perang. Meski masih anak-anak, Anne kerap menunjukkan
kedewasaandengan mempertanyakan tujuan
dari perang, dan menegaskan bahwa biaya perang lebih baik dialihkan untuk
bantuan kesehatan dan orang miskin.
Pada pertengahan 1943,
tulisan Anne semakin suram seiring dengan meningkatnya kefrustrasian, amarah,
dan kecemasannya terhadap perang yang kian besar; terutama ketika serangan
udara terdengar begitu mengerikan.
Pada Maret 1944, perang
bertambah parah, membuat para penghuni kehilangan harapan untuk menghirup
kebebasan. Anne menulis pada 5 April 1944: “Ketika
aku menulis, aku bisa melepaskan seluruh kekhawatiranku” dan pada 11 April
1944: “Jika Tuhan membiarkanku hidup, aku
akan membuat suaraku didengar orang”
Setelah bersembunyi
selama dua tahun, pada pagi hari 4 Agustus 1944 achterhuis diserbu Gestapo.
Rupanya ada yang berkhianat, seluruh keluarga dibawa ke kamp
konsentrasi. Setelah beberapa bulan menjalani hidup yang keras di
kamp konsentrasi, seluruh keluarga tewas karena wabah tipus yang menewaskan
17.000 tahanan Yahudi lainnya di Auschwitz, kecuali Otto Frank, ayah Anne. Kematian
Anne hanya berjarak beberapa minggu dari kedatangan tentara sekutu.
Saat Otto kembali ke
Amsterdam pada tahun 1945, asistennya yang bernama Miep Gies menyerahkan buku harian Anne yang ditemukannya. Mengetahui
harapan putrinya untuk menjadi seorang penulis, Otto Frank mempublikasikan dan
menerbitkan buku harian tsb pada tahun 1947 di Belanda dengan judul “Het
Achterhuis”.Di Amerika terbit
pada tahun 1952 dengan judul “The Diary of a Young Girl” dan
dijadikan buku bacaan wajib para siswa di sekolah umum. John F. Kennedy, Hillary Clinton, dan Nelson Mandela adalah beberapa tokoh besar yang mengaku mendapatkan
kekuatan dan inspirasi dengan membaca buku harian Anne Frank. Buku harian ini
membantu Nelson untuk tetap tegar dan kuat di saat aktivis anti-apartheid itu
dipenjara.
Majalah TIME menobatkan Anne Frank sebagai salah
satu dari 100 orang terpenting di abad ke-20. Pada 9 Maret 2012, Museum Madame Tussaud di Berlin merilis
patung lilin Anne Frank, dengan pose duduk menulis buku harian di mejanya, di
dalam ruangan yang dibuat semirip mungkin dengan kamarnya. Achterhuis sekarang diabadikan sebagai museum “Anne Frank House” di Amsterdam.
Trailer of Anne Frank Movie
ANNE’s INSPIRING QUOTES
Kisah dan kata-kata Anne
di dalam buku hariannya telah banyak menginspirasi orang untuk tetap menulis dan
belajar untuk menghargai kehidupan, dimana tidak ada lagi harapan dan hanya ada
kesedihan yang mendalam, kesepian, penderitaan, tekanan, ketakutan, kematian
yang menghantui, kekecewaan, mencekam, serta keputusasaan.
Sungguh mengherankan,
justru ketika seseorang berada di titik nadirnya, dia bisa menjadi luar biasa
dan tidak terbayangkan. Entah darimana datangnya kekuatan, sensitivitas, dan
kebijaksanaan yang tertuang kata demi kata dalam diri Anne yang berusia 13
tahun itu. Dalam situasi dimana kematian terus mengintai sewaktu-waktu, Anne
masih terus bersyukur dan ingin terus bertahan hidup hingga ajal menjemputnya,
bahkan ia ingin “hidup” setelah ia mati.
“I don't want to live in vain like most people.
I want to be useful or bring enjoyment to all people, even those I've never
met.
I want to go on living even after my
death!”
Jika Anne masih hidup
dan selamat dari perang, mungkin Anne telah menulis banyak buku, menjadi
seorang aktivis, humanis, dan mungkin menjadi blogger seperti saya. Kisah Anne Frank dan tulisannya dan buku
hariannya akan membuat kita berkaca, merefleksikan tentang kehidupan kita
sendiri. Bagaimana jika saya berada dalam situasi seperti Anne, dimana semua
idealisme saya hancur, tidak ada lagi harga diri, tidak ada lagi rasa hormat,
tidak ada lagi yang bisa dirasakan, tidak tahu lagi mana yang benar mana yang
salah? Jika saya hanya punya waktu satu hari lagi atau beberapa jam lagi untuk
hidup, apakah yang akan saya lakukan? Apakah saya akan siap menghadapi
kematian? Apakah itu kebahagiaan? Apakah Tuhan itu adil? Begitu banyak
pertanyaan yang muncul di kepala kita... Di tengah situasi seperti itu, Anne
menemukan jawabannya dalam tulisan-tulisannya.
Berikut ini beberapa
kutipan yang ada di dalam buku harian Anne:
“And
therefore I am grateful to God for giving me this gift,
this
possibility of developing myself and of writing, of expressing all that is in
me.”
“I've
learned one thing: you only really get to know a person after a fight.
Only then
can you judge their true character!”
“Because
paper has more patience than people. ”
“Sometimes I
think God is trying to test me, both now and in the future.
I'll have to
become a good person on my own,
without
anyone to serve as a model or advise me,
but it'll
make me stronger in the end.”
“Mother has
said that she sees us more as friends than as daughters.
That's all
very nice, of course, except that a friend can't take the place of a mother.
I need my
mother to set a good example and be a person I can respect,
but in most
matters she's an example of what not
to do.”
“Riches,
prestige, everything can be lost.
But the
happiness in your own heart can only be dimmed;
it will
always be there, as long as you live, to make you happy again.”
“I want
friends, not admirers.
People who
respect me for my character and my deeds, not my flattering smile.
The circle
around me would be much smaller,
but what
does that matter, as long as they're sincere?”
“I'm honest
and tell people right to their faces what I think, even when it's not very
flattering.
I want to be
honest; I think it gets you further and also makes you feel better about
yourself.”
“I've asked
myself again and again whether it wouldn't have been better
if we hadn't
gone into hiding, if we were dead now and didn't have to go through this
misery, especially so that the others could be spared the burden.
"But we all
shrink from this thought.
We still
love life, we haven't yet forgotten the voice of nature,
and we keep
hoping, hoping for . . . everything.”
“To be
honest, I can't imagine how anyone could say "I'm weak" and then stay
that way.
If you know
that about yourself, why not fight it, why not develop your character?”
“We have
many reasons to hope for great happiness, but . . . we have to earn it.
And that's
something you can't achieve by taking the easy way out.
Earning
happiness means doing good and working, not speculating and being lazy.
Laziness may
look inviting, but only work
gives you true satisfaction.”
“It's a
wonder I haven't abandoned all my ideals,
they seem so
absurd and impractical.
Yet I cling
to them because I still believe, in spite of everything,
that people
are truly good at heart”
“Think of
all the beauty still left around you and be happy.”
“I don't
think of all the misery, but of the beauty that still remains.”
“Look at how
a single candle can both defy and define the darkness.”
“Human greatness does not lie in wealth or power, but in character and
goodness.
People are
just people, and all people have faults and shortcomings,