Showing posts with label jazz. Show all posts
Showing posts with label jazz. Show all posts

Wednesday, June 5, 2019

VIVID IMAGERY | Kelvin Andreas' New Album

“CITRA BENING”
VIVID IMAGERY 
Kelvin Andreas' New Album

KELVIN ANDREAS, drummer & composer
(foto: kremolens)

Sebuah citra, semestinya terbebas dari segala cacat cela. Sebuah citra semestinya jernih, bening dengan makna nyaris tak berbatas. Sebuah citra kadang lugas membahasakan dirinya. Itulah yang diusung oleh Kelvin Andreas. Seorang Drummer dan Composer lulusan Berklee, Boston, USA, dalam album perdana nya “VIVID IMAGERY”. Album ini dirilis dan di launching pada April 2019. Judul Album menyiratkan makna sebuah Citra yang VIVID. Bening, tegas, lugas, nyaris telanjang dan apa adanya. Cover Album dikerjakan oleh Meilissa Johana dalam sebuah sketsa dengan guratan kuat menyirat makna.


Dapat dikatakan, Kelvin Andreas sangat serius menggarap album perdananya. Musisi yang digandengnya berasal dari latar belakang kultur yang beragam. Nathan See pada Alto Sax, Takeru Saito pada Piano, Ioseb ‘Soso’ Gelovani pada Bass, dan Kelvin Andreas sendiri pada Drums.

Monday, April 1, 2019

3 COOL PIECES FOR BOYS - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, April 2019)

“3 COOL PIANO PIECES FOR BOYS”
by: Jelia Megawati Heru
(Staccato, April 2019)


STEREOTYPE ANAK LAKI-LAKI
Belajar piano itu tidak mudah, khususnya bagi anak laki-laki. Memainkan “Minuet in G” di piano mungkin bukan merupakan hal yang bisa mereka banggakan kepada teman-temannya. Malah mungkin ide laki-laki bermain piano adalah hal yang tidak keren. Laki-laki akan terlihat cool, jika memainkan bola basket, sepak bola, dan tenis. Macho, berotot, dan atletis – itulah anggapan banyak orang tentang ide seorang laki-laki yang keren. Image itulah yang ditawarkan banyak iklan.  

Well, oh well… kuno! Wake up! Kita sekarang hidup di abad ke-21, bukan zaman Siti Nurbaya. Stereotype semacam itu sudah tidak berlaku lagi. Anak laki-laki zaman now mungkin lebih suka main games daripada lari-lari keringatan di lapangan atau main basket. Mungkin jadi social media influencer, seperti youtuber atau vlogger malah bisa dibilang cool-er. And yes, laki-laki bisa menjadi seorang penari. Laki-laki bisa menjadi fashion stylist dan seorang supermodel. Apakah laki-laki bisa jadi seorang pianis? Oh hell, yeah!

Batasan antara laki-laki dan perempuan di abad ke-21 menjadi semakin blur. Apapun yang dilakukan oleh laki-laki bisa juga dilakukan oleh perempuan, dan juga sebaliknya. 

Tuesday, April 5, 2016

PENGANTAR PIANO JAZZ: "TIDAK SEKEDAR HITAM PUTIH" - by: Jelia Megawati Heru (Staccato, April 2016)

"TIDAK SEKEDAR HITAM PUTIH"
PENGANTAR PIANO JAZZ
by: Jelia Megawati Heru
Staccato, April 2016


“Wow mainnya piano nya keren banget, bro!
Chord nya miring-miring gitu, kedengeran Jazzy!”

Banyak opini seputar main piano Jazz. Ada yang bilang susaaah banget seperti Mission Impossible. Sudah belajar piano susah, apalagi ditambah embel-embel Jazz? Hadew, latihan seumur hidup juga nggak bakal cukup deh! Hanya segelintir orang saja yang bisa memainkan piano Jazz dengan tata gramatik dan idiom Musik Jazz sejati. Yaitu pemusik kulit hitam yang terlahir dengan akar budaya Jazz, seperti Art Tatum dan Thelonious Monk. It’s in the blood!

Ada juga yang menggampangkan seolah-olah tidak perlu latihan seperti piano klasik yang super lama plus boring bak obat tidur, tidak perlu baca not balok, tidak perlu teori, cukup pake feeling aja man! Makin ribet dan dissonant chord nya, makin kedengeran kayak Jazz! Benarkah Jazz adalah musik intuitif? Apakah karena bisa memainkan “Autumn Leaves” dan main beberapa chord yang ada 7th nya sudah bisa dibilang Jazz?

 Thelonious Monk

MENGAPA BELAJAR JAZZ?
Sudah tidak lagi zamannya mengkotak-kotakkan musik menjadi Klasik maupun Jazz. Musik itu berakar pada rasa dan rasa itu adalah passion bagi pemusiknya. Dalam esensinya, Jazz dapat dikatakan sebagai musik komunal yang sangat terbuka terhadap dialog dan unsur budaya manapun. Jazz mempunyai satu keistimewaan dibandingkan dengan genre musik yang lain, yaitu dimana pemainnya dapat saling bekerja sama sambil mengolah jati dirinya di saat yang bersamaan. Jazz melatih dan memberikan asupan pada karsa kita. Bagaimana Jazz secara fleksibel dapat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya tanpa melupakan siapa diri kita dan darimana kita berasal. Musik yang mengedepankan individualitas dan orisinalitas. Belajar Jazz adalah belajar seni kehidupan. Inilah warisan Musik Jazz.

Saturday, October 10, 2015

CONCERT CANCELLATION "BUT FIRST, PIANO TIME!"; Sunday, 29th November 2015

CONCERT CANCELLATION
"BUT FIRST, PIANO TIME!"

Dear Sir/Madame,

Allow me to convey important matters in connection with
"BUT FIRST, PIANO TIME!" concert. 
As planned before, the concert will take place on Sunday, 29th November 2015 
at the Jakarta Arts Building.

Yesterday afternoon, in connection with the transitional status of the Jakarta Arts Building stewardship of the Jakarta Arts Center to the Department of Youth and Sports of Jakarta, 
there has been mess schedule of event. 
Because of that the concert had to be cancelled.

With this post, allow me and the entire committee, 
to apologize for this inconvenience.
Thank you.

Best Regards,


Jelia's Piano Studio

FURTHER INFORMATION
 Michael 0818 288 006

Saturday, July 4, 2015

MILESTONE: "BATU LOMPATAN DALAM PENDIDIKAN MUSIK" (Staccato, July 2015)

MILESTONE: 
"BATU LOMPATAN DALAM PENDIDIKAN MUSIK
 & BERBAGI PENGALAMAN ESTETIS"
Liputan Konser Tim Staccato
Staccato, Juli 2015


Konser berjudul "MILESTONE" telah digelar pada 17 Mei 2015. Bertempat di TEATER KECIL, TAMAN ISMAIL MARZUKI JAKARTA. Konser tersebut adalah sebuah kolaborasi budaya antara PUSAT KESENIAN JAKARTA TAMAN ISMAIL MARZUKI (PKJ-TIM,) DEWAN KESENIAN KOTA TEGAL, dan JELIA MUSIC PLAYGROUND. Konser berlangsung sejak jam 3 sore hari hingga jam 6 petang. Konser Milestone dipadati oleh pengunjung dari berbagai usia. Termasuk beberapa Duta Besar Negara sahabat dan beberapa perwakilan Diplomatik. Yang menarik dalam konser Milestone adalah hadirnya sebuah kelompok ensembles Gamelan Jawa "CANANGAN," yang menawarkan format dan pendekatan gramatik baru akan Musik Gamelan.

Tuesday, March 3, 2015

PROFILE OF YOSEPH SITOMPUL & HIS ALBUM "MENUNGGUMU" (2014)

PROFILE OF YOSEPH SITOMPUL

Source: MostlyJazzJKT

Yoseph Sitompul learned Electone organ at the age of 6 in a wide variety of music courses (JVC, Kawai and Yamaha). At the age of 9, he has started playing music in church in genres Pop, Rock, R 'n B, and Gospel. He worked as an architect after graduating from Parahyangan Architecture Bandung in 2003.

Four years later (2007) after worked as an architect, he decided to pursue his passion in music especially in Jazz. He studied at Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) for two years. He got his first classical piano lessons at IMDI with Jelia Megawati Heru. ​​He participated in a lot of workshops, especially Porch Jazz at the GoetheHaus.

Friday, August 29, 2014

Margie Segers "The Lady of Jazz"

MARGIE SEGERS


PROFILE OF MARGIE SEGERS

Ask any Jazz musician in Indonesia about the history of Jazz in their country and the name Margie Segers will surely come into the conversation. Widely acknowledged as the songstress who started the Indonesian Jazz trend during the '70s.

Those with an ear for Jazz have compared Segers with Eva Cassidy and Dinah Washington. That being said, Segers is actually in a league of her own. Her original compositions and interpretations of familiar Pop songs or dynamic Jazz tunes has enraptured Jazz lovers across generations.

"SEMUA BISA BILANG"
(Tribute to Jack Lesmana)

Wednesday, August 27, 2014

Chaka Priambudi "Lantun Orchestra" (2014)

CHAKA PRIAMBUDI
"LANTUN ORCHESTRA"


PROFILE OF CHAKA PRIAMBUDI

Chaka Priambudi Wicaksono is a Double Bass player from Jakarta, Indonesia. He studied music at Institute Music Daya Indonesia from 2006-2010, majoring in double bass with Donny Sundjoyo and Piano as a minor instrument with Jelia Megawati Heru.

Currently Chaka is emerging as the current generation of young bassist potential. He began to frequently appear everywhere, supports many musicians and bands. Among others, he appeared with Robert MR, ranging from the guitarist's solo album, Gratitude, in 2012 he also supports group Monica Tahalea & The Nightingales, from the album Songs of Praise in 2013.

Tuesday, August 26, 2014

Julian Abraham Marantika "The Beginning of an End" (2014)

 JULIAN ABRAHAM MARANTIKA
"THE BEGINNING OF AN END"


PROFILE OF JULIAN ABRAHAM MARANTIKA

Julian Abraham Marantika, or Joy started by learning classical piano when he was 14 years old by studied from Getih Indra Sunaryo, but then got his encounter with Jazz when he learned it from Benny Likumahuwa for Music Theory and Saxophone. He then took his number one Jazz Piano lesson from Riza Arshad and Krishna Balagita.

In 2004 he enrolled to the Institut Musik Daya Degree program under Tjut Nyak Deviana Daudsjah, Ivonne Atmojo, Aksan Sjuman, Masako Hamamura, Mark Isaac, and Jelia Megawati Heru. Julian graduated in 2007 holding Bachelor of Music in Performance.