Pages

Thursday, May 31, 2012

Humorous Musical Quotations

HUMOROUS MUSICAL QUOTATIONS 


JS. BACH
"You want something by Bach? 
Which one, Johann Sebastian or Jacques Offen?"
Victor Borge (b. 1909), Danish-born American musical humorist

"There's no reason we can't be friends. 
We both play Bach. You in your way, I in his."
Wanda  Landawska  (1877-1959),  Polish concert keyboardist, to a rival (attr.)


A quarter note walks into a bar.
He sees a dotted half note and says to her:
"Baby, you make me whole"

BAD MUSIC
"There is a lot of bad music in every age, 
and there is no reason why this one should be an exception."
 Harold C. Schonberg (b. 1915), American music critic, 
in the New York Times (March 26, 1961)

"Of course the music is a great difficulty. 
You see, if one plays good music, people don't listen, 
and if one plays bad music, people don't talk."
Oscar Wilde (1854-1900), Irish playwright and novelist

"There are more bad musicians than there is bad music."
 Isaac  Stern (b. 1920), Russian-born  American  violinist

ADVICE
"When  a  piece  gets  difficult,  make faces"
Artur  Schnabel (1882-1951),  Austrian  pianist, 

 giving  advice  to  fellow  pianist  Vladimir  Horowitz


 AUDIENCE

"Flint  must  be  an  extremely  wealthy  town:
 I  see  that  each  of  you  bought  two  or  three  seats."
Victor  Borge (b. 1909),  Danish-born  American  musical  humorist,  

speaking  to  a  half-full  house  in  Flint, Michigan.


Furtwangler  was  once told in  Berlin  that  the  people  in  the  back  seats  were  complaining  
that  they  could  not  hear some of   his  soft  passages.
 ''It   does  not  matter,'' He  said, "they  do  not  pay  so  much."
Neville  Cardus,  British  music  critic, in  The  Manchester  Guardian  (1935)



J. BRAHMS
"If   there  is  anyone  here  whom  I  have  not  insulted, I  beg  his  pardon."
Johannes  Brahms (1833-97),  German  composer,  on  leaving  a  party  of  friends.



COMPOSER  & COMPOSING
When  I  was  young,  people  used  to  say  to  me: 

"Wait  until  you're  fifty,  you'll  see.... I  am  fifty. I  haven't  seen  anything."
Erik  Satie  (1866-1925),  French  composer.


"My  music  is  not  modern,  it  is  only  badly  played."
Arnold  Schoenberg  (1874-1951),  Austrian-born  American  composer.


"In  order  to  compose, 
 all  you  need  to  do  is  remember  a  tune  that  nobody  else  has  thought  of."
Robert  Schumann  (1810-1856),  German  composer.


"That's  the  worst  of  my  reputation  as  a  modern  composer. 
Everyone  must  have  thought  I  meant  it." 
Igor  Stravinsky  (1882-1971),  Russian-born  American  composer, 
 on  a  misprint  in  one  of  his  scores.

"Ah,  Mozart!  He  was  happily  married  but  his  wife  wasn't."
 Victor  Borge  (b. 1909),  Danish-born  American  musical  humorist

"Rossini  would  have  been  a  great  composer  ,
if  his  teacher  had  spanked  him  enough  on  his  backside." 
Ludwig  van  Beethoven (1770-1827),  German  composer.

"[Stravinsky's  music  is]  Bach  on  the  wrong  notes."
 Sergei  Prokofiev  (1891-1953),  Russian  composer.



CONDUCTOR  &  CONDUCTING
"Can't  you  read?  
The  score  demands  con  amore,  and  what  are  you  doing? 
You  are  playing  it  like  married  men!"
Arturo Toscanini (1867-1957),  Italian  conductor,  to  an  orchestra.


PIANIST  &  PIANO
" I  always  make  sure  that  the  lid  over  the  keyboard  is  open  before  I  start  to  play."
Artur  Schnabel (1882-1951),  Austrian  pianist,  

asked  the  secret  of  piano  playing.
 

"When  she  started  to  play,  
Steinway  himself  came  down  personally  and  rubbed  his  name  off  the  piano."
Bob  Hope  (b. 1903),  American  comedian



"I  never  practice,  I  always  play."
Wanda  Landawska  (1877-1959),  Polish  concert  pianist.


"I'm  a  concert  pianist. 

That's  a  pretentious  way of  saying:  I'm  unemployed  at  the  moment."
Oscar  Levant  (1906-72),  American  actor, composer  and  pianist,  in  An  American  in  Paris  (1951). 



A PIANIST, SINGER & AUTUMN LEAVES

A pianist and singer are rehearsing "AUTUMN LEAVES"
for a concert and the pianist says:

"OK. We will start in G minor and then on the third bar,
modulate to B major and go into 5/4.
When you get to the bridge,
modulate back down to F# minor
and alternate a 4/4 bar with a 7/4 bar.
On the last A section go into double time
and slowly modulate back to G minor."

The singer says: "Wow, I don't think I can remember all of that."
The pianist says: "Well, that's what you did last time."


FINDING THE RIGHT KEY
Q: "If you were locked in a room with only a piano,
how would you get out?"
A: "Play the piano until you find the right key."

PIANO PLAYER GOT ARRESTED

Q: Why was the piano player arrested?
A: Because he got into treble.




TEACHER
"Time  is  a  great  teacher,  but  unfortunately  it  kills  all  its  pupils."
Hector  Berlioz  (1803-69),  French  composer.



 VIOLIN

"You  see,  our  fingers  are  circumcised, 
which  gives  it  a  very  good  dexterity,  you  know,  particularly  the  pinky."
Itzhak  Perlman (b. 1945),  Israeli  violinist,  

replying  to  a  comment  that  so  many  great  violinists  are  Jewish.

Tuesday, May 29, 2012

Quotes About Practice Art

QUOTES ABOUT PRACTICE ART


The Three D's to Succeed:
Desire, Discipline, Dedication...

To practice any art, no matter how well or badly
Is a way to make your soul grow

"It's okay to make mistake when you've tried
But it's a mistake not to try"

- Lori Jungers -

"We are what we repeatedly do.
Excellence then, is not an act but a habit."

- Aristotle -

Thursday, May 24, 2012

Menumbuhkan Minat Seni Anak

MENUMBUHKAN MINAT SENI ANAK

 
 
Berkesenian adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas, 
 karena seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. 
Seni juga ampuh untuk mengembangkan aspek kognitif, sosial dan emosionalnya. 

Seni dalam pendidikan di Indonesia bagaikan anak tiri. 
Berapa besar porsi pendidikan seni bagi anak yang disediakan di sekolah setiap minggunya? 
Bandingkanlah dengan mata pelajaran lain,
 - seperti matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dsb. 
Bidang-bidang apa sajakah yang mendapat porsi dan penekanan yang lebih besar? 
Jawabannya, pasti bukan seni!


Setidaknya hal itulah yang dilihat oleh Dinastuti, MSi, Psi, pengajar Psikologi Seni di Unika Atma Jaya. 

“Pendidikan seni yang bisa memajukan kreativitas, ekstra kurikuler yang bisa membuat anak berpikir berbeda, kritis, dan unik, sama sekali tidak ditekankan,”

Hal itu menurutnya bisa dilihat dari kurikulum sekolah yang sedari dulu penekanannya adalah pada mata pelajaran eksakta, bahasa dan lainnya yang dianggap lebih penting.

Penekanan pada mata pelajaran tertentu di sekolah juga mempengaruhi kegiatan anak di luar sekolah. Les anak yag notabene lepas dengan kegiatan sekolah, sebagian besar pun berupa pelajaran tambahan yang sifatnya mendukung pelajaran di sekolah, seperti les matematika dan Bahasa Inggris. ”Itu semua bagus, tetapi tidak diimbangi dengan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi hal-hal yang bersifat seni,” katanya.

Namun Dinastuti tidak memungkiri, ada juga orangtua yang sudah berpikiran untuk mengarahkan anaknya kursus di bidang seni, misalnya kursus melukis, menari, memainkan alat musik, dsb. Tapi sayangnya, minat untuk menyalurkan anak untuk berkesenian itu kerap berbenturan dengan biaya, mengingat harga yang dibanderol tempat kursus biasanya relatif mahal. Belum lagi peralatannya yang umumnya harus disediakan sendiri. “Seberapa banyak sih yang punya uang atau bisa memberikan fasilitas itu pada anaknya?“ kata Dinastuti mempertanyakan. Padahal, seni memberikan manfaat yang tidak sedikit bagi anak, tak hanya dari bagi kreativitas juga sisi kognitif, emosi dan sosial.


MAKANAN OTAK
 
Pakar kreativitas dari pusat pengembangan kreativitas, Qurius, Kayee Man memaparkan, seni sangat bermanfaat untuk mengaktifkan otak kanan anak. Mengutip pendapat Edwards, Kayee menjelaskan bahwa otak kiri manusia tidak menyukai aktivitas yang tidak bisa diekspresikan dengan kata-kata, karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk diproses. Atau dengan kata lain, otak kiri membenci aktivitas yang ada hubungannya dengan seni.

Berbeda dengan otak kanan yang bekerja kebalikannya. Seperti diindikasikan oleh Hausner dan Scholsberg, Kayee mengutip, banyak ilmuwan yang setuju bahwa seni adalah cara terbaik untuk mengembangkan kreativitas karena melaluinya seseorang dapat mengekspresikan emosinya secara nonverbal. 

KREATIVITAS:
bagaimana menemukan ide baru yang efektif dan etis?

Untuk menjadi kreatif seseorang harus berpikiran terbuka, mau berimajinasi dan mengambil risiko terhadap hal-hal baru. “Akan lebih mudah bagi seseorang untuk kreatif jika dia berada dalam lingkungan yang mendukungnya untuk menjadi kreatif yaitu lingkungan yang mendukungnya untuk berimajinasi, terbuka terhadap hal baru, dan ide-ide yang tidak biasa tanpa takut melakukan kesalahan,” urai Kayee.


Dengan membuat karya seni, tambahnya, anak dapat mengembangkan imajinasi, mencoba berbagai cara baru, dan menentukan ide-ide apa yang harus digunakan dan tidak perlu digunakan. 

“Seni membuka berbagai kemungkinan untuk munculnya kreativitas,”

Kemampuan untuk berpikir dan berimajinasi inilah yang kemudian akan menyebar ke area lain dalam otak/pikiran anak sehingga anak akan mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menyelesaikan masalah, memahami bacaan, dan berpikir analitis.

Selain itu dari segi kognitif, Kayee berpendapat aktivitas seni baik untuk mengembangkan aspek kognitif anak karena sifatnya yang multidisiplin. Kayee mencontohkan, melalui aktivitas seni membuat bentuk menggunakan tanah liat, anak dapat belajar bahwa beberapa objek dapat mengapung atau tenggelam di dalam air. Mereka dapat bereksperimen bagaimana bentuk dan berat suatu objek dapat mempengaruhi hal tersebut. Dengan demikian, “Seni dapat digunakan untuk mengeksplorasi disiplin ilmu lain, memperoleh suatu pengetahuan baru ataupun memperdalam suatu hal yang sudah diketahui,” terang peraih gelar master studi kreativitas dari International Center of Creative Studies di Buffalo State University , New York ini.

Menurut Kayee, seni juga dapat menjadi media yang sangat baik untuk anak belajar mengasosiasikan sesuatu secara bebas dan tidak biasa. Misalnya, dalam aktivitas seni dengan tema “Metamorfosis”, anak tak hanya bisa belajar pengetahuan dasar tentang proses metamorfosis, tetapi juga ditantang untuk menciptakan karya seni yang ada kaitannya dengan proses tersebut. Anak bisa saja membuat pensil ‘berubah’ menjadi dompet yang tak hanya hasil dari sebuah karya seni tetapi juga mendorong mereka untuk memiliki pemahaman yang berbeda tentang konsep metamorfosis. “Di sinilah seni mampu menyatukan berbagai disiplin ilmu menjadi sebuah media yang efektif untuk melatih anak membuat asosiasi yang tidak biasa, yang sebenarnya merupakan elemen kunci dari berpikir kreatif,” jelas Kayee lagi.

Kemampuan observasi anak pun bisa dikembangkan melalui seni. Sebagai contoh, tambah Kayee, dalam sebuah aktivitas seni yang menggunakan daun, anak dapat diminta untuk mengekplorasi bentuk, bau, tekstur, dan struktur dari berbagai macam daun. Kemudian anak dapat diminta untuk mengelompokkan daun-daun tersebut berdasarkan kategori tertentu dan membuat sebuah kreasi seni yang berkaitan dengan hal tersebut. Hasilnya, anak mungkin dapat mengasosiasiasikan bau daun dan membentuknya menjadi bunga. Atau, mengasosiasikan bentuk daun untuk membuat karya seni berbentuk kucing.


MAKANAN JIWA

Dinastuti menambahkan, ketika seseorang berkesenian, berarti dia sedang mengekspresikan dirinya. Ia tak hanya mengekpresikan dirinya tetapi juga bagian-bagian dari dirinya, apa yang dia pikirkan dan apa yang dia rasakan. 

“Ketika mengekspresikan dirinya, 
anak harus tahu dulu apa sebenarnya yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Anak pun jadi belajar untuk mengenal dirinya sendiri,”

Anak yang bisa mengenal dirinya sendiri, menurut Dinastuti tahu siapa dirinya, tahu apa yang disukainya, dan apa yang tidak disukainya.

Sependapat dengan Dinastuti, Kayee mengatakan, seni dapat menjadi suatu medium yang baik bagi anak-anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Bahkan untuk anak yang belum bisa menggambar dengan bagus pun bisa menceritakan apa yang coba disampaikannya melalui gambar dengan memancingnya melalui pertanyaan. Kayee mencontohkan anak 5 tahun yang menggambar gadis kecil dengan plester di bagian dagu karena ingin menceritakan bahwa dia baru saja jatuh. 

 “Anak dapat menunjukkan hal penting yang terjadi pada dirinya 
melalui sebuah karya seni,”

Menurut Dinastuti, ketika anak belajar seni, sebenarnya ia tengah mengasah sisi sensitivitasnya. Anak jadi lebih peka terhadap pemikirannya sendiri, perasaannya sendiri. Hal itulah yang menurut Dinastuti dapat membantu anak untuk juga memahami perasaan dan pemikiran orang lain. 

“Orang-orang yang belajar seni biasanya lebih peka, 
lebih sensitif, lebih bisa merasakan perasaan dan ekspresi orang lain, ”

Dari sisi sosial, menurut Kayee, seni juga dapat menjadi medium yang sangat baik bagi anak untuk berkolaborasi dan bekerja sama dengan orang lain, mulai dari merencanakan suatu proyek, membagi tugas dan tanggung jawab dan menjadi bagian dari tim untuk menyelesaikan keseluruhan proyek dengan baik. Misalnya, sekelompok anak yang mendapat tugas untuk membuat drama singkat tentang dongeng Putri Salju. Anak belajar untuk merencanakan penampilan, berbagi tugas dan tanggung jawab serta menjalankan setiap perannya sebaik-baiknya.

Selain itu, buat anak-anak, menciptakan suatu hasil karya seni yang orisinil dapat memperoduksi kepuasan bagi jiwanya, yang tentunya sangat baik untuk meningkatkan rasa percaya diri anak.


CARA MENUMBUHKAN MINAT ANAK TERHADAP SENI
  • Ajak anak menonton pertunjukan, atau pameran hasil karya seni sambil mendiskusikan apa yang dilihat dan menanyakan padanya hal apa yang menurutnya menarik dan membuatnya tertarik.

  • Anda pun dituntut untuk juga menjadi seorang penggemar seni, agar si kecil tertarik dengan seni. Salah satu cara untuk menunjukkannya pada anak adalah dengan menjadikan seni sebagai bahan obrolan atau topik pembicaraan sehari-hari. Anda bisa menceritakan lukisan yang digantung di rumah dan alasan mengapa Anda menyukainya, film yang Anda tonton, karya seni yang dibuat si kecil, alunan musik yang didengar dalam perjalanan di mobil dan lain sebagainya.

  • Stimulasi si kecil dengan seni yang bagus dan bermutu tinggi, apapun itu. Cobalah untuk memajang lukisan bagus, patung-patung artistik atau memperdengarkan musik-musik indah. Selain dapat menjadi elemen dekoratif yang indah, karya-karya tersebut juga dapat menjadi rangsangan yang baik bagi si kecil.

  • Sediakan sarana dan peralatan seni yang sederhana yang mudah didapat dan tanpa perlu menguras kantong. Untuk anak batita misalnya, Anda dapat menyediakan peralatan dasar yang seperti finger paint, lilin mainan dan krayon. Untuk anak pra sekolah, Anda bisa menambahkannya dengan lem, selotip, gunting dan kuas. Makin besar anak dan makin eksploratif dia, Anda mungkin dapat menambahkannya dengan berbagai peralatan lain.

  • Biarkan si kecil berekspresi dengan bebas. Jangan batasi kebebasan anak dengan mendikte bagaimana seharusnya suatu objek dibentuk dan diberi warna. Jika si kecil membuat suatu hal yang tidak biasa menurut Anda, cobalah untuk merangsangnya mengungkapkan cerita di balik hasil karyanya.

  • Daripada melarang anak mencorat-coret tembok, lebih baik lapisi dinding rumah Anda dengan kertas atau memberinya pojok khusus untuk berekspresi dengan seni tanpa harus dimarahi. Memarahi anak yang tengah berekspresi, menurut Dinastuti dapat membuat anak berhenti berekspresi, karena menganggap apa yang dilakukannya dinilai salah oleh orang lain.

  • Buatlah karya seni bersama si kecil. “Anda tak harus menjadi seorang seniman untuk bisa menggambar ,” kata Kayee. Ambil saja pensil, gambarlah sesuatu dan berceritalah tentangnya. Si kecil pasti akan terpancing untuk juga melakukannya.

  • Doronglah si kecil untuk berekspresi dengan media yang berbeda-beda. Jika selama ini media yang digunakan adalah media yang konvensional, ajaklah si kecil untuk mencoba menemukan cara baru dalam menggunakan suatu media.

  • Dorong si kecil untuk kreatif. Hal ini dapat Anda lakukan salah satunya dengan membacakan sebuah awal cerita, kemudian mintalah si kecil untuk membuat gambar yang menceritakan bagaimana akhir dari cerita tersebut nantinya. Atau, dengan membuat sedikit coretan di kertas, mintalah si kecil mengembangkannya menjadi bentuk yang ia inginkan.

  • Jangan takut kotor. Dengan bermain kotor si kecil bebas berekspresi tanpa harus dibatasi oleh larangan dan omelan dari orangtuanya yang tak ingin baju, tangan dan wajah si kecil kotor. Yang penting, si kecil membersihkan tubuh sesudahnya dan pastikan kotoran tersebut tidak masuk ke dalam mulutnya.

  • Jangan hanya memasukkan si kecil ke tempat kursus tanpa mendukungnya dengan menciptakan lingkungan yang kondusif untuk si kecil berekspresi juga di rumah. Misalnya, jika si kecil mengambil kursus piano, sediakanlah juga CD musik yang bagus untuk diperdengarkan atau coba dimainkan.

  • Pajang dan dokumentasikanlah hasil karya seninya agar si kecil bertambah rasa pencaya dirinya dan makin terpacu untuk lebih ekspresif dan eksploratif lagi dengan seni.
Sumber: 
http://ibudanbalita.com/pojokcerdas/menumbuhkan-minat-seni-anak
Inspired Kids Magazine Issue 46/March 2009

Thursday, May 17, 2012

AMAZING MUSIC JOGJA - Music Seminars & Festival

 AMAZING MUSIC JOGJA 
- Music Seminars & Festival -
Saturday, July 14, 2012


AMAZING MUSIC JOGJA
in cooperation with
DINAS PEMPROV DIY
the Department of Education,Youth and Sports Provincial Government of DIY
cordially invited you to participate in the Music Seminar & Festival 

in Special Spirit of Jogjakarta
to socialize a good quality music and evoke the spirit of achievement for young generations

VENUE

AMAZING MUSIC JOGJA
- Music Seminars & Festival -

Saturday, July 14, 2012
1st Session (Seminars): 10 am - 1 pm
2nd Session (Festival): 2 pm - finished

Auditorium Sasana Krida Dinas Pemprov. DIY
Jln. Cendana No. 9  - Jogjakarta


MUSIC SEMINARS

10:00 - 11:30
"The Actualization of Music Education in 21st Century"
by: Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu

11:30 - 13:00
"The Influence of Gamelan in 20th Century Music"
by: Henk Mak van Dijk (Netherlands)
 

ABOUT THE KEY-NOTE SPEAKER



Jelia Megawati Heru, M.Mus.Edu. 
Music Educator, Lecturer, Music Advisor, and Pianist  

Jelia Megawati Heru started learning the piano at the age of 5. She continued learning Classical Piano with different music teachers in Jakarta, such as: Helen Gumanti, BA (USA) and Angelita Chandra, M.Mus. (Belgian).  

In 2001, studied piano with Jongky Goei, Master of Performing Arts, Chairman and Stage Art Manager of Marcia Haydée Ballet in Stuttgart, Germany.  

Then in 2002, she started her study in Music Education for Instrument (Instrumental Pädagogik) at Fachhochschule Osnabrück Konservatorium, Institut für Musikpädagogik – Germany, majoring in Classical Piano with Prof. Ljuba Dimowa-Florian (Hungaria), minor Vocal with Torsten Meyer, Dipl. Mus. (Hochschule für Musik u. Theater Hannover, Germany) and  Jazz Piano with Wolfang Mechsner, Dipl. Mus. (Hochschule Vechta & Münster, Germany).  

During her stay in Germany, besides actively performing and teaching music, Jelia attended many seminars and forum, such as: Forum Musikpädagogik I with Prof. Dr. Hans Günther Sebastian (Frankfurt am Main University); studied Solmisation Technique and Kodàly Technique from Prof. Dr. Malte Heygster (conductor of symphony orchestra Recklinghausen & Bielefeld, head master of Bielefeld music school, chapel master of chamber orchestra Köln and also an author for “Hand Book of Relative Solmisation” – Schott).  

She became an active participant in various chamber music and master class in Germany and other countries, such as: Chamber Music - Prof.  Gerard Chenuet (Nantes, France), Conducting for Ensemble and Choir - Prof. Folker Schramm (UDK, Berlin), Contemporary Music – Prof. Imgard Brockmann (Osnabrück, Germany), Choir Studio, Chamber Choir, Acapella and Arrangement – Prof. Michael Schmoll (Dean of FH. Osnabrück Konservatorium, lecturer, composer and conductor).  

Then she received her Master Degree in Music Education (as Master of Music Education – Dipl. Mus. Pedägogin) in 2005 from FH. Osnabrück Konservatorium with cum laude. In the same year, became an active performer for “Benefit Concert Tour for Aceh” in Hannover, Münster and Braunschweig - Germany.  

In 2006 Jelia went back for good to her homeland Indonesia, was a keynote speaker in Universitas Negeri Jakarta (UNJ, Rawamangun) for Comparison Study of Education System in Indonesia, active as an educator in Deutsche Internationale Schule (DIS – German School, BSD Tangerang) and joined Institut Musik Daya Indonesia since then as lecturer for subjects, such as: Music Education, Music History, History of Music Instruments, Ear Training, Music Theory and Major Piano.  

In 2007, she was a Dean of Institut Musik Daya Indonesia (IMDI) and Faculty of Music Pedagogy & Head of Piano Department. 

In 2008, She's a member of the National Music Ministry of National Education Consortium, which is tasked to develop music education curriculum for music schools in Indonesia. In cooperation with Tjut Nyak Deviana Daudsjah designed and developed Curriculum of National Standarization for Music School in Indonesia (validation by the Federal Government of National Education, known as DEPDIKNAS.  

In 2009, to contribute for the development of music education in Indonesia, she wrote books in cooperation with DEPDIKNAS “Piano Teaching’s Guide: Note-Reading and Piano for Beginner” and “Basic Music Theory (for all Instruments)” as guideline books for general music course in Indonesia. 

Now she is active as a music educator and academic advisor/consultant in various music schools - for updating & upgrading music school curriculum standard, conducting workshops to build & develop music teachers competencies, and conduct teacher’s concert (chamber music and piano ensembles).

Also active as seminator in various cities in Indonesia, performer in collaboration for music education’s sake, director of piano ensembles projects „Golden Fingers“, writer articles in MKI (Musik Klasik Indonesia) – the biggest classical music group in Indonesia, STACCATO - the first classical music magazine in Indonesia), and her blogs (www.jeliaedu.blogspot.com & www.piano-ensembles.blogspot.com) – to shares thoughts and point of view about actualization & the importance of music education to teachers, practitioners, musicians, music lovers, students, and parents; so people could appreciate music more, feel the enjoyment of music, and get inspired by the power of music… “Music from Passion & Music for Life”  

PROFILE SLIDESHOW (Part 1)

PROFILE SLIDESHOW (Part 2)

more about Jelia Megawati Heru: 


 


Henk Mak van Dijk

A graduate of the Royal Conservatory in Den Haag, Utrecht anthropology of the university. Year 1990-1992 a visiting professor at the Faculty Arts, Music Department of ISI Jogjakarta.

Mak Henk van Dijk is a versatile pianist with a strong classical base, trained at the conservatories of Rotterdam and The Hague. Seeking adventure, he rightly Java where he worked some time as a pianist at the Conservatory of Jogjakarta and gave concerts in Java and Sulawesi. After several years he was associated with conservatories in the Netherlands, where he played chamber music intensively. He played for Dutch radio and television, acting as pianist, both as a soloist, chamber music and in song recitals in very varied repertoire and maintains lecture-recitals on Indian music.

In collaboration with the Dutch Music Institute, Henk van Dijk Mak together with the soprano Renate Arends a CD with songs by Indian composer (angin gelombang Timur Barat) and he gave a series of concerts in The Hague under the Indian Summer, at the Pasar Malam Besar and at the Festival Classique. He has written the book appeared in 2007, The east wind is blowing toward the west, India on Indian composers and compositions (KITLV Press, Leiden). On the occasion of the fiftieth Pasar Malam Besar, he the great World Exhibition - 1870-1945 on Indian classical music together. Unique is discovered by him and revived opera Attima of Constant van de Wall, specially for the anniversary of the Pasar in the Royal Theatre was staged.


more about Henk Mak van Dijk:

CONTRIBUTION of PARTICIPANT

A. MUSIC SEMINARS
 
Early Bird (until May 28, 2012)         : IDR 175.000, -
Normal Price (after May 28, 2012)    : IDR 200.000, -
 
*Music festival participants get 50% discount
Registration deadline: July 5, 2012
 
B. MUSIC FESTIVAL

Requirements:
  • Age ≥ 5 years old until 25 years old
  • Skills ≥ grade 2 for a single participant
  • Include certificate of birth, pass photo (3R) & biodata
  • Submit 1 (one) piece of songs in the form of MP3 & the music sheets (duration:2-5 min.) 
  • Genre: Modern, Western, Classical, Indonesian Traditional (Keroncong & Folk Songs)
EARLY BIRD (before May 28, 2012)
- IDR 250,000, -: Solo Category
- IDR 150.000, -: Duet & Trio Category
- IDR 400.000, -: Ensemble / Vocal Group Category (5-10 persons)
      
After May 28, 2012: each category plus IDR 50.000, - 
Registration Deadline: June 30, 2012  
Audition results: July 1 - July 5, 2012
 
The contribution fee could be transferred to the following bank account:
Venny Pungus
BCA Acc. No. 802 008 6387
Jln. Sam Ratulangi No. 2A - Jogjakarta

Compensation for the participants:
  • Seminar & festival participants will receive a certificate signed by the Department of Education,Youth and Sports Provincial Government of DIY & Amazing Music Jogja
  • Trophy (for the participant, that participates in both seminar & festival)
  • 1 lunch box for seminar participants
  • 1 snack box for festival participants
More Information
Nanik K. Ohmar
0815 6893931/0812 279 22632/0888 270 4036
www.jogjaamazingmusic.blogspot.com
Email: amzjog@yahoo.co.id
BB PIN: 2937 F0AF

Wednesday, May 16, 2012

10 Music Apps for iPad & iPhone

10 MUSIC APPS for iPad & iPhone


Using technology to learn music, why not? 
Here's some MUSIC APPS for iPad & iPhone...
  
1. MusDiction – a handy dictionary of over 400 definitions of common musical terms, in alphabetical order. 

2. Music Theory Pro – very useful tool for amateurs and professional musicians.

Practice by sight: note names, key signatures, chords, intervals. Practice by ear: tempos, intervals, chords, scales. Settings allow you to set your own difficulty level.

Nota – “…..a set of indispensable tools for musicians at any level. It has a piano chord and scale browser, a piano and staff note locator, a note quiz and a reference library with over 100 symbols” (from Nota website)

3. Piano Street – online free scores site now has a mobile application, offering thousands of copyright-free classical piano scores to download and view or print on your mobile.

*Direct your mobile device to www.m.pianostreet.com and then add to your home screen. You need a Piano Street account to access this site.

4. Musician’s Practice Journal – manage your daily practice routine and track your progress. Easily log practice time and speed.

5. Metronome – there are various metronome apps available. I use a free one which looks like a traditional metronome. It is very basic. Metronome Tempo 2 has favorable reviews and is more sophisticated.

6. forScore2 – this powerful app allows you to download PDFs of scores direct from the web to view on your iPad.

Annotation tool, enabling you to mark up your own scores, including highlighting tricky sections, notes to self, and other annotations.

Other features:
visual metronome, metadata (allowing for easy organisation of scores), half-page turns, bookmark function. Mac utility allows you to edit some PDF file metadata for use with mobile app. Other extras include bluetooth and wired page turners.

7. iTalk – voice memo app for recording yourself playing. It is imperfect, in many ways, as the sound quality is not great. However, sound files can be synced to my Mac, edited using a music editing suite, and then stored in iTunes.

 
SILLY & FUN APPS

8. Ocarina – turn your iPhone into an ocarina and make your own music. See the Stanford University ‘mobile phone orchestra’ in action here

9. Cat Piano – a mini piano keyboard and a variety of “kitty voices”, including ‘angelic meow’, ‘furball’, ‘asthmatic kitty’ and ‘forlorn’

10. Bloom – “Developed by ambient pioneer Brian Eno and musician / software designer Peter Chilvers, Bloom explores uncharted territory in the realm of applications for the iPhone and iPod touch. Part instrument, part composition and part artwork, Bloom’s innovative controls allow anyone to create elaborate patterns and unique melodies by simply tapping the screen”.