Pages

Wednesday, April 4, 2012

Liputan Majalah STACCATO (edisi April 2012)

Liputan Majalah STACCATO (edisi April 2012)
"THE GOLDEN FINGERS PIANO ENSEMBLES 
GOES TO TEGAL"


Tegal adalah sebuah kota pantai di Jawa Tengah. Dari luas wilayahnya, kota Tegal tergolong kecil. Namun demikian potensi kesenian yang ada di Tegal layak diperhitungkan. Dalam seni sastra, Tegal adalah salah satu barometer perkembangan sastra di tanah air kita. Untuk seni musik pun, kota Tegal nampaknya mulai menggeliat.

Geliat kesenian di Tegal disikapi dengan sangat positif oleh Pemerintah Kota Tegal. Sebagai ajang apresiasi seni, Pemkot Tegal membangun kawasan Taman Budaya Tegal atau TBT. Dalam kawasan TBT tersebut terdapat Teater Arena. Sebuah gedung pertunjukan yang sangat representatif berkapasitas 1000 orang. Dengan desain arsitektural dan interior yang sangat tidak kalah dengan gedung pertunjukan kelas atas di Jakarta dan kota besar lainnya. Tanggal 4 Maret yang lalu, diadakan soft opening bagi Teater Arena dan sebagai laskar seni pertama yang diberi kehormatan oleh Pemkot Tegal dan masyarakat seni di kota Tegal, adalah THE GOLDEN FINGERS PIANO ENSEMBLES directed by JELIA MEGAWATI HERU,M.Mus.Edu.

Konser ensembel piano Golden Fingers terselenggara atas prakarsa Komite Musik Dewan Kesenian Kota Tegal. Dalam keberadaannya, Golden Fingers bukanlah sebuah group musisi. Golden Fingers adalah sebuah proyek edukasi dari Jelia Megawati Heru. Jelia sendiri adalah seorang music educator dan pianis alumnus Jerman. Pemikirannya tentang edukasi musik senantiasa cemerlang. Ulasannya pun sangat tajam dan menggagas. The Golden Fingers digagas sebagai perwujudan konsep “Music from Passion.” - menjadikan musik sebagai bagian terdalam relung jiwa dan sublim dalam setiap nuansa kehidupan sehari-hari. Oleh karenanya, The Golden Fingers memang bukan ensembel biasa. The Golden Fingers adalah perwujudan musik dalam karya dan karsa.

Dalam setiap konsernya, The Golden Fingers senantiasa melakukan update pada situs jejaring sosialnya, yakni dalam www.jeliaedu.blogspot.com dan www.piano-ensembles.blogspot.com Update tersebut berupa rekaman rehearsal, kesaksian para personelnya, news update, artikel, dan telaah repertoire yang ditampilkan. Hal ini menggoreskan makna yang layak diketahui publik, bahwa sebuah pertunjukan musik dalam esensinya adalah sebuah passionate moment. Peristiwa yang sungguh menyatu dalam kehidupan itu sendiri. Dan dalam ranah semacam itulah konser The Golden Fingers di Tegal.

Konser diawali dengan performance piano oleh Walikota Tegal - Pak Ikmal Jaya, SE. Ak. membawakan “The Harebell”. Sebuah wujud nyata apresiasi seorang pimpinan pemerintahan terhadap musik seni. Ditengah kepusingan sebagai orang nomor satu di sebuah kota, Pak Ikmal Jaya masih menyempatkan diri mengasah ketajaman nurani estetisnya dengan berpiano. Hadirin memberikan applause dan apresiasi yang tinggi. Bukan karena walikota bermain piano. Namun karena permainan musik Ikmal Jaya adalah jujur dari nurani estetisnya.


 
Berikutnya adalah performance dari Michael Gunadi Widjaja, komite seni musik Dewan Kesenian Tegal, yang berduet dengan Jelia membawakan dua nomor dengan passionate dan sangat romantis. Sebuah Waltz dan satu karya Christopher Norton bernafaskan Jazz. Mereka berdua seakan ingin berujar pada publik, bahwa passion tidaklah selalu vulgar. Passion bisa dalam wujud romantis yang anggun, estetis, pas, namun tetap terasa auranya.



The Golden Fingers tampil prima dan sangat memukau. Mereka terdiri dari dara-dara jelita: Angelica Liviana, Patricia Trisnawati, Keniawati, Christine Paulina, Clarissa Rachel dan Miss Jelia Megawati Heru. Repertoire yang dibawakan malam itu sangat beragam - dari mulai Klasik, Pop, Semi Jazz, tradisional, dan bahkan Dang Dut.

Diawali dengan “CHAMPAGNE TOCCATA” karya William Gillock. Sebagai nomor perdana, “Champagne Toccata” sudah menebarkan aroma champagne yang mulai merasuk hadirin untuk sedikit bergoyang.



Saat membawakan “THE SCARLET CAPE” Ralph Federer. Jelia memasukkan unsur teatrikal dan dansa tango bersama Liviana. Hadirin terpukau dan terkesima saat Scarlet Cape hadir dengan gerakan tubuh Jelia dan Liviana dalam nuansa Tango yang eksotis. Juga karya Leroy Anderson “THE TYPEWRITER” dibawakan dengan memanggil audiens untuk berinteraksi menggunakan note bell. Sebagai imitasi bunyi denting mesin ketik kuno. 

"THE SCARLET CAPE"


"THE TYPEWRITER"


Dibawakan pula sebuah nomor etnik karya Michael Gunadi Widjaja. “KEMBEN” untuk dua piano 8 tangan. Dalam komposisi ini terdapat frase Dang Dut. Spontan audiens bertepuk tangan megikuti irama Dang Dut, yang nampaknya untuk pertama kalinya tersaji sebagai musik piano. “KEMBEN" adalah sebuah komposisi yang sarat dengan muatan erotisme. Dan Golden Fingers memainkan karya ini dengan berbusana kebaya. Kebaya yang sangat eksotis dalam erotisme yang tetap sopan.



Juga komposisi Michael Gunadi berupa olahan medley lagu-lagu daerah. Selain bertepuk tangan seirama, hadirin juga terkejut dan senyum-senyum saat bagian akhir komposisi ini menyertakan “lick phrase” dari soundtrack film Mission Impossible.



Malam itu kota Tegal diguyur hujan sangat lebat. Namun tak mengurangi masyarakat Tegal untuk datang mengapresiasi konser The Golden Fingers. Semua anggota Dewan Perwakilan Rakyat kota Tegal hadir. Demikian pula Walikota Tegal H.Ikmal Jaya,SE.Ak. Tak terkecuali Kapolresta Tegal dan semua pejabat kota Tegal. Sebuah bentuk kepedulian dan peran serta yang aktif dari pemkot terhadap seni musik.


Dalam sambutannya, Michael Gunadi Widjaja, Ketua Komite Seni Musik Dewan Kesenian Kota Tegal mengatakan:  

“Adalah hak setiap orang,termasuk warga Tegal,
untuk mendapatkan sajian musik yang bermutu, 
dan hak tersebut telah diberikan oleh Dewan Kesenian Kota Tegal”.

The Golden Fingers telah secara nyata menyemburatkan bahwa musik piano tak harus kaku angker dan sombong. Musik piano dapat menjadi sangat passionate. Dan unsur itulah yang agaknya mendorong pemerintah kota Tegal untuk berapresiasi secara total. Sebuah fenomena tentang harmonisnya relasi birokrat, seniman, dan masyarakat kebanyakan.