Pages

Saturday, August 25, 2012

The Diary of a Young Girl "Anne Frank"



THE DIARY OF A YOUNG GIRL

“Aku ingin terus ‘HIDUP’, bahkan setelah aku mati” – Anne Frank



WHO IS ANNE FRANK?

12 Juni 1942. Seorang gadis belia mendapatkan buku harian sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-13. Sebulan kemudian, ia terpaksa meninggalkan masa remajanya dan memasuki dunia perang yang kejam; buku harian tsb menjadi sahabat terbaiknya sampai akhirnya dia tertangkap oleh Nazi.

Annelies Marie "Anne" Frank tak lepas dari Holocaust, peristiwa pemusnahan etnis Yahudi oleh Nazi Jerman di bawah Adolf Hitler saat Perang Dunia II. Lahir pada 12 Juni 1929 di Frankfurt, Jerman, Anne adalah anak kedua di keluarga Frank. Margot Frank, kakaknya, hanya dua tahun lebih tua darinya. Otto Frank, ayah mereka, adalah pengusaha yang selalu mendukung kedua putrinya untuk membaca.

THE DIARY of YOUNG GIRL

Anne dikenal karena tulisannya dalam sebuah buku harian ketika ia bersembunyi bersama keluarga dan empat orang lainnya di Achterhuis, Amsterdam semasa pendudukan Nazi di Belanda pada Perang Dunia II. Buku harian tsb mencatat rentetan dan narasi peristiwa-peristiwa penting dari 12 Juni 1942 hingga 1 Agustus 1944.

  
 


Awalnya buku tsb berisi catatan kehidupan remaja yang normal seputar teman dan sekolah, sebelum kemudian berubah menjadi kisah seorang korban perang. Bahkan dia juga menggambarkan perubahan yang terjadi setelah pendudukan Jerman. Misalnya, ia menuliskan tentang lencana atau bintang kuning yang secara terpaksa harus dipakai oleh semua orang Yahudi di depan publik. Selain itu, dia juga menceritakan pembatasan dan penganiayaan yang telah terjadi dalam kehidupan penduduk Yahudi Amsterdam. Ia juga menulis tentang ambisi dan perasaannya, dan kenyataan bahwa dia tidak bisa berdiskusi dengan siapa pun. Dia menulis secara teratur hingga karya terakhirnya pada 1 Agustus 1944.

Sejak awal, Anne hanya bermaksud untuk menulis bagi dirinya sendiri dan berharap tidak akan ada orang lain yang akan membacanya. Sampai suatu ketika ia mendengar pidato di radio pada 28 Maret 1944 Menteri Kabinet Belanda, Gerritt Bolkestein.

Bolkestein menyatakan: "Sejarah tidak dapat ditulis atas dasar keputusan resmi dan dokumen saja. Keturunan kita akan memahami sepenuhnya apa yang terjadi di jaman ini, apa yang diperjuangkan oleh sebuah bangsa, apa arti sebuah kemerdekaan; jika kita menyatukan dokumen biasa - buku harian, surat-surat dari seorang pekerja di Jerman, kumpulan khotbah yang diberikan oleh pendeta atau imam, sehingga menjadi sebuah gambaran realita peristiwa yang terjadi di jaman tsb.”

Terinspirasi dari pidato tsb, Anne mulai menulis ulang buku hariannya itu pada lembaran-lembaran kertas yang terpisah. Beberapa bagian dipersingkat, beberapa bagian lainnya dijelaskan dengan lebih detail, dan membuat daftar nama samaran (pseudonym).

Buku harian ini diterjemahkan dari bahasa Belanda ke berbagai bahasa dan menjadi salah satu buku yang paling banyak dibaca di dunia. Beberapa produksi teater dan film juga mengangkat tema ini. Buku harian yang digambarkan sebagai karya yang dewasa dan berwawasan ini menyodorkan potret kehidupan sehari-hari yang mencekam di bawah kekuasaan Nazi.


LATAR BELAKANG KEHIDUPAN PADA TAHUN 1933

Pada tahun 1933, ketika Hitler dan partai Nazi memenangkan pemilu di Jerman, keluarga Otto Frank beserta 300.000 orang Yahudi-Jerman melarikan diri dari Jerman ke Amsterdam, Belanda. Namun, pada tahun 1940, Nazi menduduki Belanda, Margot, sang kakak mendapat “panggilan” dari kantor pusat emigrasi Yahudi (Zentralstelle für jüdische Auswanderung). Ini berarti, Margot dan keluarganya akan dikirim ke kamp konsentrasi.

ACTERHUIS – ruang rahasia di balik rak buku

Pada 5 Juli 1942, Otto langsung memboyong keluarganya ke tempat persembunyian yang telah ia siapkan di bagian belakang gedung kantornya. Tempat yang terhubung melalui tangga rahasia di balik rak buku itu disebut Achterhuis, alias “rumah di belakang” dalam bahasa Belanda yang menunjukkan bagian belakang rumah, diterjemahkan sebagai "Lampiran Rahasia" dalam edisi bahasa Inggris. Pintu masuk Achterhuis tertutup oleh sebuah rak buku.

 


Apartemen terdahulu mereka ditinggalkan dalam keadaan berantakan untuk menciptakan kesan bahwa mereka telah pergi tiba-tiba, dan Otto Frank meninggalkan catatan yang mengisyaratkan mereka akan pergi ke Swiss. Pada masa itu, orang Yahudi tidak diizinkan untuk menggunakan angkutan umum sehingga mereka terpaksa berjalan beberapa kilometer dari rumah mereka, dengan mengenakan beberapa lapis pakaian karena mereka tidak berani terlihat membawa koper.

KEHIDUPAN di ACHTERHUIS

Di achterhuis, Anne menempati kamar mungil di loteng. Disini, ia menghabiskan sebagian besar waktu dengan belajar dan menulis buku harian.

Meski Anne menulis bahwa achterhuis adalah tempat persembunyian yang paling nyaman di seluruh Belanda, catatan di buku hariannya menunjukkan berbagai pergulatan yang ia alami. Bahwa Anne kerap bertengkar dengan ibunya dan Margot, dan hanya bisa akur dengan sang ayah. Anne juga sadar bahwa ia tidak bisa meninggalkan achterhuis, sehingga kebebasan hanya merupakan sebuah impian yang mustahil baginya. Walaupun demikian, dia tetap bermimpi tentang kebebasan dan menuliskan hal-hal yang akan dilakukannya apabila ia bebas.

Hanya ada empat karyawan Otto yang mengetahui tempat persembunyiaan keluarga Frank, yaitu Victor Kugler, Johannes Kleiman, Miep Gies, dan Bep Voskuijl. Mereka merupakan kontak antara dunia luar dan penghuni rumah, dan mereka terus memberi informasi tentang perang dan perkembangan politik. Mereka menyediakan semua kebutuhan mereka, memastikan keselamatan mereka, dan memasok makanan. Anne menulis tentang dedikasi dan upaya mereka dalam melakukan tindakan berbahaya dengan melindungi mereka. Semua sadar bahwa jika persembunyian tersebut terbongkar, mereka akan tertangkap dan mungkin menghadapi hukuman mati karena melindungi orang Yahudi.

Pada akhir Juli 1942, keluarga van Pels yang terdiri dari pasangan Hermann dan Auguste, serta putranya yang berumur 16 tahun, Peter, bergabung dengan keluarga Frank dalam persembunyian mereka di achterhuis. Pada November tahun yang sama, Fritz Pfeffer, seorang dokter gigi dan teman keluarga Frank juga bergabung dengan mereka.

Pada awalnya, Anne merasa senang dengan kehadiran orang baru, namun ketegangan cepat berkembang dalam kelompok yang hidup dalam keterbatasan tersebut. Anne kerap terlibat pertengkaran dengan penghuni achterhuis. Dia tidak terlalu senang berbagi kamar dengan Fritz Pfeffer yang membuatnya terganggu dan Anne juga berselisih dengan Auguste yang dia anggap bodoh. Selain itu, Anne juga menceritakan hubungannya yang semula canggung dengan Peter berubahan menjadi kedekatan asmara.

 


Di buku hariannya, Anne menulis bahwa mereka selalu dicekam ketakutan akan ditangkap, namun sekaligus bosan karena terpenjara. Kita juga bisa membaca dengan jelas pemikiran remaja yang hidup di tengah perang. Meski masih anak-anak, Anne kerap menunjukkan kedewasaan  dengan mempertanyakan tujuan dari perang, dan menegaskan bahwa biaya perang lebih baik dialihkan untuk bantuan kesehatan dan orang miskin.

Pada pertengahan 1943, tulisan Anne semakin suram seiring dengan meningkatnya kefrustrasian, amarah, dan kecemasannya terhadap perang yang kian besar; terutama ketika serangan udara terdengar begitu mengerikan.

Pada Maret 1944, perang bertambah parah, membuat para penghuni kehilangan harapan untuk menghirup kebebasan. Anne menulis pada 5 April 1944: “Ketika aku menulis, aku bisa melepaskan seluruh kekhawatiranku” dan pada 11 April 1944: “Jika Tuhan membiarkanku hidup, aku akan membuat suaraku didengar orang”

Setelah bersembunyi selama dua tahun, pada pagi hari 4 Agustus 1944 achterhuis diserbu Gestapo. Rupanya ada yang berkhianat, seluruh keluarga dibawa ke kamp konsentrasi. Setelah beberapa bulan menjalani hidup yang keras di kamp konsentrasi, seluruh keluarga tewas karena wabah tipus yang menewaskan 17.000 tahanan Yahudi lainnya di Auschwitz, kecuali Otto Frank, ayah Anne. Kematian Anne hanya berjarak beberapa minggu dari kedatangan tentara sekutu.

Saat Otto kembali ke Amsterdam pada tahun 1945, asistennya yang bernama Miep Gies menyerahkan buku harian Anne yang ditemukannya. Mengetahui harapan putrinya untuk menjadi seorang penulis, Otto Frank mempublikasikan dan menerbitkan buku harian tsb pada tahun 1947 di Belanda dengan judul “Het Achterhuis”.  Di Amerika terbit pada tahun 1952 dengan judul “The Diary of a Young Girl” dan dijadikan buku bacaan wajib para siswa di sekolah umum. John F. Kennedy, Hillary Clinton, dan Nelson Mandela adalah beberapa tokoh besar yang mengaku mendapatkan kekuatan dan inspirasi dengan membaca buku harian Anne Frank. Buku harian ini membantu Nelson untuk tetap tegar dan kuat di saat aktivis anti-apartheid itu dipenjara.


 


Majalah TIME menobatkan Anne Frank sebagai salah satu dari 100 orang terpenting di abad ke-20. Pada 9 Maret 2012, Museum Madame Tussaud di Berlin merilis patung lilin Anne Frank, dengan pose duduk menulis buku harian di mejanya, di dalam ruangan yang dibuat semirip mungkin dengan kamarnya. Achterhuis sekarang diabadikan sebagai museum “Anne Frank House” di Amsterdam.
Trailer of Anne Frank Movie

ANNE’s INSPIRING QUOTES

Kisah dan kata-kata Anne di dalam buku hariannya telah banyak menginspirasi orang untuk tetap menulis dan belajar untuk menghargai kehidupan, dimana tidak ada lagi harapan dan hanya ada kesedihan yang mendalam, kesepian, penderitaan, tekanan, ketakutan, kematian yang menghantui, kekecewaan, mencekam, serta keputusasaan.

Sungguh mengherankan, justru ketika seseorang berada di titik nadirnya, dia bisa menjadi luar biasa dan tidak terbayangkan. Entah darimana datangnya kekuatan, sensitivitas, dan kebijaksanaan yang tertuang kata demi kata dalam diri Anne yang berusia 13 tahun itu. Dalam situasi dimana kematian terus mengintai sewaktu-waktu, Anne masih terus bersyukur dan ingin terus bertahan hidup hingga ajal menjemputnya, bahkan ia ingin “hidup” setelah ia mati.

“I don't want to live in vain like most people.
I want to be useful or bring enjoyment to all people, even those I've never met.
I want to go on living even after my death!

Jika Anne masih hidup dan selamat dari perang, mungkin Anne telah menulis banyak buku, menjadi seorang aktivis, humanis, dan mungkin menjadi blogger seperti saya. Kisah Anne Frank dan tulisannya dan buku hariannya akan membuat kita berkaca, merefleksikan tentang kehidupan kita sendiri. Bagaimana jika saya berada dalam situasi seperti Anne, dimana semua idealisme saya hancur, tidak ada lagi harga diri, tidak ada lagi rasa hormat, tidak ada lagi yang bisa dirasakan, tidak tahu lagi mana yang benar mana yang salah? Jika saya hanya punya waktu satu hari lagi atau beberapa jam lagi untuk hidup, apakah yang akan saya lakukan? Apakah saya akan siap menghadapi kematian? Apakah itu kebahagiaan? Apakah Tuhan itu adil? Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala kita... Di tengah situasi seperti itu, Anne menemukan jawabannya dalam tulisan-tulisannya.

Berikut ini beberapa kutipan yang ada di dalam buku harian Anne:

“And therefore I am grateful to God for giving me this gift,
this possibility of developing myself and of writing, of expressing all that is in me.”

“I've learned one thing: you only really get to know a person after a fight.
Only then can you judge their true character!”

“Because paper has more patience than people. ”

“Sometimes I think God is trying to test me, both now and in the future.
I'll have to become a good person on my own,
without anyone to serve as a model or advise me,
but it'll make me stronger in the end.”

“Mother has said that she sees us more as friends than as daughters.
That's all very nice, of course, except that a friend can't take the place of a mother.
I need my mother to set a good example and be a person I can respect,
but in most matters she's an example of what not to do.”

“Riches, prestige, everything can be lost.
But the happiness in your own heart can only be dimmed;
it will always be there, as long as you live, to make you happy again.”

“I want friends, not admirers.
People who respect me for my character and my deeds, not my flattering smile.
The circle around me would be much smaller,
but what does that matter, as long as they're sincere?”

“I'm honest and tell people right to their faces what I think, even when it's not very flattering.
I want to be honest; I think it gets you further and also makes you feel better about yourself.”

“I've asked myself again and again whether it wouldn't have been better
if we hadn't gone into hiding, if we were dead now and didn't have to go through this misery, especially so that the others could be spared the burden.

"But we all shrink from this thought.
We still love life, we haven't yet forgotten the voice of nature,
and we keep hoping, hoping for . . . everything.”

“To be honest, I can't imagine how anyone could say "I'm weak" and then stay that way.
If you know that about yourself, why not fight it, why not develop your character?”

“We have many reasons to hope for great happiness, but . . . we have to earn it.
And that's something you can't achieve by taking the easy way out.
Earning happiness means doing good and working, not speculating and being lazy.
Laziness may look inviting, but only work gives you true satisfaction.”

“It's a wonder I haven't abandoned all my ideals,
they seem so absurd and impractical.
Yet I cling to them because I still believe, in spite of everything,
that people are truly good at heart”

“Think of all the beauty still left around you and be happy.”
“I don't think of all the misery, but of the beauty that still remains.”

“Look at how a single candle can both defy and define the darkness.”

“Human greatness does not lie in wealth or power, but in character and goodness.
People are just people, and all people have faults and shortcomings,
but all of us are born with a basic goodness.”